JawaPos.com – MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey akan menjadi saksi laga pemungkas Piala Dunia 2026. Kualitas rumput pada stadion dengan kapasitas 80 ribu orang itu dianggap buruk.
Sepanjang Piala Dunia 2026 ini, MetLife Stadium menggelar tujuh laga. Termasuk laga final Spanyol kontra Argentina pada Senin (20/7) dini hari mendatang.
Selain laga final, stadium yang dibangun pada 2010 itu sudah menggelar partai 16 besar (Brasil vs Norwegia), partai 32 besar (Prancis vs Swedia), serta lima partai fase grup (Brasil vs Maroko, Prancis vs Senegal, Norwegia vs Senegal, Ekuador vs Jerman, dan Panama vs Inggris).
Baca Juga: Reaksi Penggemar Bikin Heboh Jelang Final Piala Dunia 2026, Sinyal Argentina bakal 'Dirampok' Wasit
Komplain paling awal datang dari pemakai pertama laga di MetLife Stadium yaitu pemain Brasil versus Maroko (13/6). Striker Brasil Vinicius Junior memberikan testimoni negatif pada kualitas lapangan di MetLife Stadium.
“Cuaca dan panasnya temperatur saat kami bertanding (lawan Maroko) membuat rumput cepat kering. Akibatnya permainan menjadi sangat lambat,” kata Vinicius Jr dikutip dari TNT Sports.
“(Rumput cepat kering) mempersulit keadaan karena kami ingin bermain dengan ritme cepat. Kami ingin mengalirkan bola dari satu sisi ke sisi lain dengan taktis dan ini mengganggu permainan kami,” ungkap pemain Real Madrid itu.
Baca Juga: 4 Pemain Argentina Terancam Disanksi FIFA, Sinyal Digembosi Jelang Final Piala Dunia 2026
“Tetapi kami harus beradaptasi karena saya yakin akan seperti ini sepanjang turnamen. Semua orang harus bermain di permukaan yang sama,” terang Vinicius.
Gelandang Prancis Adrien Rabiot dikutip dari L’Equipe malah lebih sarkas. Gelandang AC Milan itu mengatakan kalau lapangan itu tidak layak sama sekali untuk menggelar laga sepak bola.
“Lapangan (MetLife Stadium) itu, saya bahkan tidak tahu apakah pantas disebut lapangan. Lapangan itu rasanya seperti main di atas permukaan buatan. Tanahnya cukup keras dan cukup tandus,” beber Rabiot.
Rabiot pantas berkeluh kesah soal lapangan MetLife Stadium. Sebab Prancis tampil dua kali di lapangan itu. Yaitu fase grup lawan Senegal serta laga 32 besar lawan Swedia.
Pelatih Prancis Didier Deschamps pun setuju dengan komentar Rabiot. Menurut Deschamps, lapangan di MetLife Stadium memang tidak memadai.
“Mungkin ada lapisan semen di bawah rumput stadion (MetLife Stadium) ini. Rumput di sini juga sangatlah pendek,” ungkap pelatih yang membawa Prancis juara dunia 2018 itu.
Baca Juga: Takut Bawa Sial, Presiden Argentina Javier Milei Tolak Hadir Langsung ke Laga Final Piala Dunia 2026
FIFA Senior Pitch Management Manager Ferguson mengatakan memang banyak kritik soal lapangan yang akan menggelar laga final. Namun menurut Ferguson lapangan di New Jersey ini merupakan yang terbaik dibandingkan lapangan lain yang ada di AS.
“Kami melakukan segala yang kami bisa lakukan. Kami menggunakan penutup saat tidak dipakai bertandingan. Itu seperti selimut yang Anda letakkan di tempat tidur Anda selama musim dingin,” kata Ferguson.
“Kami tahu jika lapangan ini tidak sempurna. Tetapi saya pikir kami sudah mencapai 95 persen dari yang kami inginkan untuk partai final,” terang Ferguson.