← Beranda
Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Marc Guehi Soroti Keputusan Thomas Tuchel Bermain Bertahan
Andre Rizal HanafiJumat, 17 Juli 2026 | 19.54 WIB
Thomas Tuchel. (instagram @england)

 

JawaPos.com - Harapan Timnas Inggris untuk mengakhiri puasa gelar Piala Dunia kembali pupus.

The Three Lions harus mengakui keunggulan Argentina dengan skor 1-2 pada semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Atlanta, Kamis (16/7).

Kekalahan tersebut tidak hanya memunculkan kritik dari para pengamat sepak bola Inggris, tetapi juga dari dalam skuad sendiri.

Baca Juga: Viral Lionel Messi Dikabarkan Dilarang Masuk Inggris usai Argentina Singkirkan The Three Lions, Benarkah?

Bek Inggris, Marc Guehi, secara terbuka mengaku kurang sependapat dengan pendekatan permainan yang diterapkan pelatih Thomas Tuchel setelah timnya unggul lebih dulu.

Inggris sebenarnya berada di atas angin ketika Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama.

Argentina perlahan mengambil alih jalannya pertandingan sebelum akhirnya membalikkan keadaan melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez, yang mencetak gol kemenangan pada masa injury time.

Baca Juga: Banner Provokatif, Pemain Argentina Bentangkan ”Las Malvinas son Argentinas” usai Kalahkan Inggris di Semifinal

Menurut Guehi, Inggris seharusnya tetap bermain agresif setelah membuka keunggulan. Ia menilai tim terlalu cepat memilih bertahan sehingga memberikan kesempatan kepada Argentina untuk menguasai pertandingan.

Bek berusia 26 tahun itu mengungkapkan bahwa setelah unggul, atmosfer di lapangan berubah. Para pemain lebih banyak bertahan daripada berusaha menambah gol, sesuatu yang menurutnya tidak cukup efektif ketika menghadapi tim sekelas Argentina.

Statistik pertandingan memperlihatkan perubahan drastis tersebut. Setelah Anthony Gordon membawa Inggris memimpin, penguasaan bola Inggris hanya berada di angka sekitar 12 persen hingga gol penentu Lautaro Martinez tercipta pada menit ke-92.

Dalam periode itu, Thomas Tuchel melakukan perubahan taktik dengan beralih ke formasi 5-4-1.

Ia memasukkan Ezri Konsa, Dan Burn, dan Nico O'Reilly untuk memperkuat lini pertahanan demi mempertahankan keunggulan.

Strategi tersebut justru menjadi sorotan. Sejumlah legenda sepak bola Inggris seperti Wayne Rooney, Joe Hart, Micah Richards, hingga Alan Shearer menilai keputusan Tuchel terlalu defensif dan membuat Argentina semakin leluasa mengendalikan permainan.

Wayne Rooney bahkan menyebut Inggris kehilangan keberanian setelah unggul. Menurut mantan kapten Manchester United itu, tim seharusnya tetap menekan dan mempertahankan intensitas permainan, bukan justru memberi ruang bagi Argentina untuk membangun serangan.

Di sisi lain, Guehi mengaku masih sulit menerima kekalahan tersebut. Saat ditanya mengenai peluang generasi Inggris saat ini untuk meraih gelar di turnamen berikutnya, ia memilih belum memikirkan masa depan.

Baginya, rasa kecewa akibat tersingkir di semifinal masih terlalu besar untuk membahas target jangka panjang.

Ia berharap pengalaman pahit ini menjadi pelajaran agar Inggris tampil lebih berani dalam pertandingan-pertandingan penting mendatang.

Sementara itu, Thomas Tuchel tetap menunjukkan sikap tenang menghadapi derasnya kritik.

Pelatih asal Jerman tersebut memastikan dirinya akan tetap melanjutkan pekerjaannya bersama Timnas Inggris sesuai kontrak yang berlaku hingga Euro 2028.

Tuchel menilai pencapaian semifinal tetap layak diapresiasi karena banyak negara unggulan gagal melangkah sejauh Inggris.

Meski demikian, ia memahami bahwa hasil tersebut belum mampu memuaskan publik yang berharap The Three Lions kembali tampil di final Piala Dunia.

Terlepas dari hasil mengecewakan di Atlanta, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dikabarkan masih memberikan dukungan penuh kepada Tuchel.

Sejak menangani Inggris, mantan pelatih Chelsea, Bayern Munchen, dan Paris Saint-Germain itu telah mencatatkan 16 kemenangan, dua hasil imbang, dan tiga kekalahan dari total 21 pertandingan.

Kini perhatian Inggris mulai beralih ke persiapan menuju Euro 2028. Namun, perdebatan mengenai keputusan taktik Thomas Tuchel saat menghadapi Argentina dipastikan masih akan menjadi topik hangat dalam beberapa waktu ke depan.

EDITOR: Banu Adikara