JawaPos.com — Lionel Messi kembali menjadi pembeda bagi Argentina di Piala Dunia 2026 meski sudah berusia 39 tahun.
Alih-alih mengandalkan sprint tanpa henti, sang kapten justru menunjukkan kejeniusan lewat cara bermain yang sederhana, yakni berjalan kaki hampir sepanjang pertandingan sebelum meledak dalam beberapa detik yang menentukan.
Mengapa Lionel Messi Lebih Banyak Berjalan?
Tak pernah ada pemain lapangan seusia Lionel Messi yang memberi dampak sebesar ini di sepanjang sejarah Piala Dunia.
Baca Juga: Hasil Argentina vs Swiss 3-1 di Piala Dunia 2026: Lolos Dramatis! Messi Pimpin Tango Tantang Inggris
Dalam lima pertandingan bersama Argentina (tidak termasuk menghadapi Swiss di perempat final), Messi tetap mampu menghancurkan pertahanan lawan dan menjadi sosok paling menentukan di turnamen.
Rahasia utamanya bukan terletak pada kecepatan ataupun stamina luar biasa, melainkan kemampuan membaca permainan.
Saat pemain lain terus berlari mengejar bola, Messi justru lebih sering berdiri atau berjalan sambil mengamati pergerakan lawan dan mencari celah terbaik.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bakat! Ini Kunci Lionel Messi Tetap Produktif di Piala Dunia 2026
Strategi tersebut membuat energinya tetap terjaga hingga momen-momen krusial. Ketika kesempatan datang, Messi hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah jalannya pertandingan.
Data FIFA menunjukkan Messi telah menempuh total 35.868 meter selama lima pertandingan di Piala Dunia 2026.
Dari jumlah tersebut, 22.958 meter atau sekitar 64 persen ditempuh pada kecepatan zona satu, yakni hanya 0 hingga 7 kilometer per jam.
Data Mengejutkan, Messi Jadi Pencetak Gol Terbanyak tetapi Pelari Paling Sedikit
Cara bermain Messi terasa bertolak belakang dengan tren sepak bola modern yang semakin menuntut intensitas fisik tinggi. Namun justru pendekatan itu membuatnya tetap menjadi pemain paling berbahaya di turnamen.
Baca Juga: Granit Xhaka: Sebuah Kehormatan Bisa Melawan Lionel Messi!
Pada fase grup, Messi menempati peringkat pertama sebagai pencetak gol terbanyak di antara 618 pemain lapangan yang tampil. Ironisnya, ia juga berada di posisi paling bawah dalam catatan jarak tempuh per 90 menit.
Artinya, Messi mampu menghasilkan gol lebih banyak dibanding pemain lain dengan usaha fisik yang jauh lebih sedikit. Efisiensi tersebut menjadi bukti kualitas membaca ruang dan memilih waktu terbaik untuk menyerang.
Eksperimen sederhana juga menunjukkan betapa hematnya Messi menggunakan tenaga.
Dalam laga babak 32 besar melawan Tanjung Verde, selama pengamatan 15 menit di babak kedua, total waktu Messi benar-benar berlari hanya 51 detik.
Jika dihitung sepanjang pertandingan, Messi diperkirakan hanya berlari sekitar lima menit dalam 90 menit permainan. Sisanya dihabiskan dengan berjalan santai sambil mengamati situasi di lapangan.
Ledakan Singkat yang Sulit Dihentikan Lawan
Meski lebih banyak berjalan, Messi tetap mampu menghasilkan aksi-aksi mematikan. Salah satu contoh terbaik terjadi saat menghadapi Tanjung Verde.
Gol pembuka Argentina lahir setelah Messi tiba-tiba bergerak menusuk ke belakang garis pertahanan lawan. Sejak mulai berlari hingga bola masuk ke gawang, seluruh proses hanya berlangsung sekitar tiga detik.
Tiga detik tersebut menjadi gambaran sempurna bagaimana Messi bermain pada usia 39 tahun. Ia tidak lagi mengandalkan akselerasi sepanjang laga, tetapi memilih satu momen yang benar-benar tepat.
Perubahan ritme juga terlihat saat Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar. Ketika timnya tertinggal 0-2, Messi mulai meningkatkan intensitas permainan dan bergerak lebih agresif dari sisi kanan.
Sejak menit ke-76 hingga laga berakhir, Messi menjadi pemain dengan sentuhan bola terbanyak, tembakan terbanyak, dribel terbanyak, sekaligus peluang terbanyak yang diciptakan dalam pertandingan tersebut.
Jika pada empat laga sebelumnya Messi hanya melakukan total 15 percobaan menggiring bola melewati lawan, maka saat melawan Mesir saja ia langsung mencoba sembilan dribel.
Setelah membawa Argentina bangkit, Messi bahkan tak kuasa menahan tangis akibat terkuras secara fisik maupun emosional.
Argentina Berlari untuk Messi
Cara bermain Messi hanya bisa berhasil karena seluruh tim Argentina bekerja keras menutupi minimnya pergerakan sang kapten.
Saat Messi beristirahat dengan berjalan kaki, sembilan pemain lapangan lainnya mengambil tanggung jawab bertahan lebih besar.
Baca Juga: Hossam Hassan Sindir FIFA dan Argentina: Mereka Ingin Messi Tetap Bertahan
Sosok yang paling menonjol menjalankan tugas itu adalah Rodrigo De Paul.
Gelandang enerjik tersebut selama ini bahkan dijuluki sebagai "bodyguard" Messi karena selalu berada di dekat sang kapten, baik saat bertahan maupun ketika terjadi pelanggaran.
Perbedaan intensitas keduanya terlihat jelas dari data FIFA. Jika Messi menghabiskan 64 persen waktunya di zona satu, De Paul hanya berada di angka 44 persen sehingga lebih sering berlari dengan kecepatan tinggi.
Messi menempuh 35.868 meter dalam 468 menit bermain. Sementara De Paul mencatat jarak 34.679 meter hanya dalam 347 menit, menunjukkan intensitas kerjanya jauh lebih besar.
Dua gelandang lainnya, Alexis Mac Allister dan Enzo Fernández, bahkan telah mencatat jarak tempuh sekitar 50.000 meter sepanjang turnamen.
Mereka menjadi fondasi yang memungkinkan Messi menghemat tenaga hingga momen-momen penentu.
Kedekatan De Paul dengan Messi juga terlihat di luar lapangan. Setelah lama menjadi pendamping Messi bersama tim nasional Argentina, De Paul bahkan ikut bergabung ke Inter Miami pada musim panas lalu.
Baca Juga: PM Israel Benjamin Netanyahu Dukung Argentina di Piala Dunia 2026, karena Lionel Messi?
Hingga perempat final Piala Dunia 2026, strategi tersebut terbukti sangat efektif. Messi telah mencetak delapan gol dan menyumbang satu assist hanya dalam lima pertandingan.
Di usia yang hampir menyentuh kepala empat, Lionel Messi membuktikan sepak bola bukan hanya soal siapa yang berlari paling jauh atau paling cepat.
Kecerdasan membaca permainan, efisiensi tenaga, dan kemampuan memilih momen telah menjadikan "jalan-jalan" Messi sebagai senjata paling mematikan Argentina dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026.