JawaPos.com — Spanyol datang menghadapi Belgia pada perempat final Piala Dunia 2026 dengan modal luar biasa berupa pertahanan yang belum pernah kebobolan.
Duel di Los Angeles Stadium, Sabtu (11/7/2026) pukul 02.00 WIB itu menjadi peluang La Roja melangkah ke semifinal sekaligus menjaga rekor sempurna yang belum mampu dipatahkan lawan sepanjang turnamen.
Sorotan publik memang tertuju kepada Lamine Yamal sejak sebelum turnamen dimulai. Penyerang muda Barcelona itu digadang-gadang menjadi pembeda setelah tampil gemilang sepanjang musim lalu.
Namun, perjalanan Spanyol menuju delapan besar justru menunjukkan cerita berbeda. Kekuatan utama La Roja bukan terletak pada lini depan, melainkan organisasi pertahanan yang tampil nyaris tanpa cela.
Mengapa Lamine Yamal Belum Menjadi Pembeda?
Lamine Yamal memang berhasil masuk skuad Spanyol setelah sempat diragukan tampil akibat cedera yang dialaminya bersama Barcelona pada akhir musim lalu.
Meski begitu, performanya sepanjang Piala Dunia 2026 belum memenuhi ekspektasi besar yang mengiringi namanya.
Dari lima pertandingan, pemain berusia 18 tahun tersebut baru mencetak satu gol tanpa menyumbang assist. Kontribusinya juga belum terlalu menonjol ketika Spanyol menyingkirkan Portugal pada babak 16 besar.
Ekspektasi terhadap Yamal memang sangat tinggi sejak kemunculannya sebagai salah satu talenta terbaik dunia.
Namun, performa Spanyol sepanjang turnamen memperlihatkan keberhasilan tim dibangun melalui kolektivitas, bukan ketergantungan terhadap satu pemain.
Kondisi itu justru menjadi keuntungan bagi pelatih Spanyol. Ketika lawan terlalu fokus mengantisipasi Yamal, kekuatan sebenarnya muncul dari keseimbangan permainan dan disiplin seluruh lini.
Pertahanan Spanyol Jadi Senjata Paling Mematikan
Hingga mencapai babak perempat final, Spanyol belum sekali pun kebobolan. Catatan tersebut menjadi modal yang membuat La Roja layak disebut sebagai tim dengan pertahanan terbaik di Piala Dunia 2026.
Kiper Unai Simon bahkan mencatat sejarah baru. Penjaga gawang utama Spanyol itu kini membukukan 609 menit tanpa kebobolan, menjadi rekor durasi clean sheet terpanjang dalam sejarah Piala Dunia.
Persaingan di posisi penjaga gawang sebenarnya berlangsung ketat.
David Raya datang dengan performa impresif bersama Arsenal sepanjang musim lalu, tetapi Simon kembali membuktikan dirinya pantas menjadi pilihan utama melalui sederet penyelamatan penting.
Di depan Simon, empat bek utama tampil sangat konsisten.
Pedro Porro mengawal sisi kanan dengan disiplin, sementara Marc Cucurella memberikan keseimbangan di sektor kiri melalui kombinasi agresivitas dan kemampuan bertahan.
Duet bek tengah Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte juga menjadi fondasi kokoh. Kolaborasi pemain muda dan senior tersebut mampu memutus berbagai serangan lawan sehingga Spanyol tampil sangat sulit ditembus.
Rodri dan Pau Cubarsi Jadi Fondasi Permainan La Roja
Pau Cubarsi menjadi salah satu pemain dengan perkembangan paling mencolok sepanjang turnamen. Bek berusia 19 tahun itu menunjukkan kematangan bermain yang jauh melampaui usianya.
Kemampuan membaca permainan, memenangi duel udara, hingga distribusi bola dari belakang membuat Cubarsi semakin layak disebut sebagai salah satu bek muda terbaik dunia.
Pengalamannya dipadukan dengan ketenangan Aymeric Laporte menghasilkan duet yang sangat solid.
Peran penting lainnya datang dari Rodri. Gelandang Manchester City tersebut kembali menjadi penjaga keseimbangan permainan dengan kemampuan memutus serangan lawan sebelum memasuki area berbahaya.
Rodri juga membantu proses membangun serangan sejak dari belakang. Kehadirannya membuat tekanan lawan sering kali gagal berkembang menjadi peluang berbahaya.
Kombinasi Simon, Cubarsi, Laporte, Porro, Cucurella, dan Rodri membentuk sistem pertahanan yang sangat sulit ditembus.
Hingga babak delapan besar, mereka sukses menjaga gawang tetap bersih saat menghadapi Cape Verde, Arab Saudi, Uruguay, Austria, dan Portugal.
Belgia Hadapi Tantangan Terberat untuk Menembus Tembok La Roja
Belgia datang dengan kualitas lini depan yang mampu merepotkan siapa pun. Namun, mereka akan menghadapi ujian paling berat saat mencoba menjadi tim pertama yang membobol gawang Spanyol pada turnamen ini.
Setan Merah harus menemukan cara melewati organisasi pertahanan La Roja yang tampil disiplin selama lima pertandingan.
Sedikit saja kehilangan konsentrasi, Spanyol memiliki kemampuan melakukan transisi cepat untuk menghukum lawan.
Kepercayaan diri skuad Spanyol juga terus meningkat seiring bertambahnya jumlah clean sheet. Rekor yang mereka bangun menjadi dorongan moral besar menghadapi pertandingan-pertandingan penentuan.
Bagi Belgia, mencetak satu gol saja sudah menjadi tantangan tersendiri. Sebaliknya, Spanyol hanya membutuhkan efektivitas di lini depan karena sektor pertahanan sudah memberikan jaminan stabilitas sepanjang turnamen.
La Roja Berpeluang Mencetak Sejarah Baru
Belum pernah ada negara yang berhasil menjadi juara Piala Dunia tanpa kebobolan sepanjang kompetisi.
Rekor pertahanan terbaik masih dipegang Prancis pada 1998, Italia pada 2006, dan Spanyol pada 2010, yang sama-sama hanya kemasukan dua gol.
Kini, La Roja memiliki peluang besar melampaui pencapaian tersebut. Selama mampu mempertahankan konsistensi hingga laga terakhir, mereka bisa menorehkan sejarah baru yang belum pernah dicapai negara mana pun.
Jika berhasil mengalahkan Belgia, Spanyol berpotensi menghadapi Prancis pada babak semifinal. Setelah itu, partai final kemungkinan mempertemukan mereka dengan Argentina atau Inggris.
Tantangan memang semakin berat, tetapi kualitas pertahanan yang diperlihatkan sepanjang turnamen membuat peluang Spanyol meraih gelar juara dunia kedua tetap terbuka lebar.
Bukan Lamine Yamal yang menjadi kekuatan terbesar La Roja saat ini, melainkan tembok pertahanan yang belum mampu ditembus siapa pun.