JawaPos.com - Kesuksesan Lionel Scaloni membawa Timnas Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 bukan hanya hasil kerja keras di pinggir lapangan.
Di balik pencapaian besar itu, ada kisah sederhana tentang pengorbanan seorang ayah yang terus mendorong putranya mengejar mimpi sejak masih tinggal di desa kecil.
Scaloni mengenang masa kecilnya di Pujato, Argentina, saat sepak bola belum menjadi sesuatu yang menjanjikan.
Ketika berusia 13 tahun, ia sudah memiliki mimpi besar untuk suatu hari tampil di Piala Dunia, meski lingkungan sekitarnya tidak banyak membicarakan hal tersebut.
Dalam sebuah cerita yang ia bagikan, Scaloni mengatakan lapangan pertamanya bukan stadion megah, melainkan sebuah garasi di rumah.
Meski saat itu membela akademi Newell's Old Boys, ia selalu mengenakan kaus Timnas Argentina sebagai simbol impian yang ingin diwujudkan.
Sosok yang paling berperan menjaga mimpi itu tetap hidup adalah sang ayah. Setiap hari, ayahnya bekerja keras sebagai sopir truk pengangkut batu dengan jam kerja yang panjang. Namun kelelahan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti mendampingi putranya berlatih.
"Ayahku baru pulang setelah mengemudikan truk penuh batu selama 10 jam, dan meski begitu dia turun dan berkata padaku, 'Ayo kita latihan, tidak ada waktu yang boleh disia-siakan'," kenang Scaloni.
Menurutnya, sang ayah selalu mengantar ke tempat latihan, menunggu hingga sesi selesai, lalu kembali bekerja. Bahkan, Scaloni merasa semangat ayahnya terhadap sepak bola lebih besar dibandingkan dirinya sendiri saat masih kecil.
Perjalanan karier Scaloni kemudian berkembang perlahan. Ia menjalani debut profesional pada usia 17 tahun sebelum akhirnya tampil di Piala Dunia sebagai pemain ketika berusia 29 tahun.
Puncak perjalanan itu terjadi pada usia 44 tahun saat ia berhasil membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia sebagai pelatih.
Namun, momen yang paling membekas baginya bukan ketika trofi diangkat, melainkan saat Gonzalo Montiel mencetak penalti penentu kemenangan di final.
Baca Juga: Ditarik Keluar usai Jadi Pembeda saat Prancis Bungkam Maroko, Kylian Mbape Alami Cedera Parah?
Di detik itu, pikirannya justru kembali ke masa kecilnya. Ia teringat garasi tempat berlatih, perjalanan panjang dari desa kecil, serta sosok ayah yang tak pernah lelah mengorbankan waktu dan tenaga demi mimpinya.
Kesuksesan tersebut juga menghadirkan pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Scaloni mengaku sejak Argentina menjadi juara dunia, ia hampir tidak pernah lagi membayar makanan ketika berada di negaranya sendiri.
Banyak orang datang memeluknya sambil mengucapkan terima kasih karena telah membawa kebahagiaan bagi rakyat Argentina.
Bagi Scaloni, penghargaan terbesar bukanlah perlakuan istimewa itu, melainkan keyakinan bahwa seluruh perjuangan keluarganya selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Kisah Lionel Scaloni menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju puncak sering kali dimulai dari tempat yang sederhana.
Di balik setiap keberhasilan, ada keluarga yang rela berkorban, bekerja tanpa lelah, dan terus percaya pada mimpi, bahkan ketika jalan menuju impian itu masih tampak begitu jauh.