JawaPos.com — Norwegia dan Inggris kembali bertemu pada perempat final Piala Dunia 2026 di Miami, Sabtu (12/7/2026), membawa rivalitas yang tak hanya soal sepak bola, tetapi juga sejarah pidato legendaris komentator Bjorge Lillelien pada 1981.
Momen itu masih dikenang hingga kini karena menyindir tokoh politik Inggris setelah kemenangan mengejutkan Norwegia atas The Three Lions.
Pertemuan kali ini mempertemukan dua generasi berbeda.
Kini, perhatian tertuju pada Erling Haaland dan Jude Bellingham, tetapi sejarah menunjukkan duel Norwegia kontra Inggris selalu memiliki cerita yang melampaui pertandingan di atas lapangan.
Mengapa Pidato Bjorge Lillelien Menjadi Legenda?
Nama Bjorge Lillelien melekat dalam sejarah sepak bola Norwegia setelah komentarnya usai kemenangan 2-1 atas Inggris pada laga kualifikasi Piala Dunia di Stadion Ullevaal, Oslo, September 1981.
Saat itu, kemenangan tersebut dianggap sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa.
Inggris datang dengan skuad bertabur bintang seperti Bryan Robson, Glenn Hoddle, Kevin Keegan, dan Trevor Francis.
Sebaliknya, Norwegia belum dipandang sebagai kekuatan besar sehingga kemenangan itu menjadi kebanggaan nasional.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Lillelien melontarkan komentar emosional yang kemudian menjadi ikon.
Ia lebih dulu menyebut sejumlah tokoh Inggris, mulai Lord Nelson, Sir Winston Churchill, hingga Lady Diana, sebelum mengucapkan kalimat yang paling dikenang.
"Maggie Thatcher. Can you hear me? We have a message for you. We have knocked your boys out of the World Cup. Your boys took a hell of a beating."
Kalimat terakhir, "Your boys took a hell of a beating", terus dikenang dan bahkan kerap dimodifikasi dalam berbagai kesempatan ketika Norwegia menghadapi Inggris.
Bagaimana Politik Ikut Mewarnai Rivalitas Norwegia dan Inggris?
Komentar Lillelien menjadi kontroversial karena secara langsung menyebut Perdana Menteri Inggris saat itu, Margaret Thatcher.
Sindiran tersebut membuat kemenangan Norwegia terasa bukan sekadar keberhasilan olahraga, melainkan juga simbol kebanggaan nasional di tengah perbedaan politik dan budaya kedua negara.
Sebelum melontarkan pidato legendarisnya, Lillelien bahkan sempat mengkritik wasit asal Polandia, Jerzy Kacprzak.
Ia menilai tambahan waktu terlalu panjang dan berseloroh wasit itu hampir layak mendapat kewarganegaraan Inggris karena dianggap menguntungkan tim tamu.
Menariknya, klaim Lillelien Inggris tersingkir dari Piala Dunia sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Inggris tetap berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 1982 di Spanyol, tetapi fakta tersebut tidak mengurangi popularitas pidatonya.
Lillelien sendiri dikenal sebagai pribadi yang pendiam di luar pekerjaannya sebagai komentator.
Putranya, Marius Lillelien, mengungkapkan dalam dokumenter NRK sang ayah selalu membangun emosinya layaknya seorang seniman yang sedang bersiap tampil di atas panggung.
Mantan striker Norwegia, Egil Ostenstad, juga menggambarkan Lillelien sebagai sosok yang tidak biasa bagi masyarakat Norwegia.
Menurutnya, kemampuan Lillelien mengekspresikan emosi membuat komentarnya tetap hidup meski telah berlalu puluhan tahun.
Mengapa Rivalitas Ini Tetap Hidup hingga Piala Dunia 2026?
Lebih dari empat dekade setelah pidato tersebut, hubungan sepak bola Norwegia dan Inggris justru semakin erat. Hampir 100 pemain Norwegia pernah berkarier di Premier League sejak kompetisi itu dimulai.
Nama-nama seperti Jan Age Fjortoft, Morten Gamst Pedersen, John Carew, Ole Gunnar Solskjaer, Martin Odegaard, hingga Erling Haaland menjadi bukti kuatnya hubungan kedua negara di dunia sepak bola.
Banyak pemain Norwegia berkembang melalui kompetisi Inggris sebelum menjadi bintang internasional.
Secara statistik, Inggris hanya meraih satu kemenangan, sekali imbang, dan dua kali kalah dalam empat pertemuan kompetitif melawan Norwegia.
Catatan itu membuat duel kedua negara selalu menarik untuk disimak meski tidak terlalu sering terjadi.
Tim nasional putra Norwegia dan Inggris juga belum pernah bertemu di putaran final turnamen besar sebelum Piala Dunia 2026.
Pertandingan di Miami menjadi pertemuan pertama mereka dalam ajang sebesar ini sekaligus laga pertama setelah 12 tahun tidak saling berhadapan.
Rivalitas itu sempat kembali mencuat pada Piala Dunia Wanita 2015.
Baca Juga: Timnas Prancis Menolak Paranoid, Wasit Asal Argentina Jadi Teori Konspirasi Juara Piala Dunia 2026
Menjelang laga babak 16 besar, surat kabar Norwegia VG Sporten menggunakan kembali kalimat terkenal Lillelien dengan bertanya apakah Inggris "siap menerima pukulan telak", meski akhirnya Inggris menang 2-1.
Kini, sejarah kembali dipanggil saat Norwegia dan Inggris berebut tiket semifinal Piala Dunia 2026.
Sorotan memang tertuju pada Haaland dan Bellingham, tetapi nama Bjorge Lillelien hampir dipastikan kembali disebut sebagai bagian dari rivalitas yang tak lekang oleh waktu.
Bagi publik Norwegia, pidato tersebut menjadi simbol keberanian dan kebanggaan nasional.
Sebaliknya, bagi Inggris, komentar emosional Lillelien tetap menjadi pengingat salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola mereka.