JawaPos.com - Kontroversi kembali mewarnai Piala Dunia 2026. Kali ini, sorotan tertuju pada keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman kartu merah striker timnas Amerika Serikat Folarin Balogun, sehingga tetap bisa tampil di babak 16 besar melawan Belgia.
Keputusan tersebut memicu perdebatan panas, termasuk di studio FOX Sports. Dua mantan pemain ternama Thierry Henry dan Alexi Lalas terlibat adu argumen mengenai apakah FIFA telah mengambil keputusan yang tepat.
Folarin Balogun sebelumnya menerima kartu merah langsung pada menit ke-64 saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0 di babak 32 besar. Pelanggaran terhadap bek Tarik Muharemovic semula membuatnya dipastikan absen pada laga berikutnya.
Namun, beberapa hari kemudian FIFA mengumumkan bahwa hukuman larangan satu pertandingan terhadap Balogun ditangguhkan selama satu tahun. Komite Disiplin FIFA menyatakan keputusan itu mengacu pada Pasal 27 dalam Kode Disiplin FIFA.
Langkah tersebut langsung memancing kritik luas, terutama karena muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut melakukan intervensi. Melansir Sport Bible, Henry menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik keputusan tersebut. Meski dia mengaku tidak menganggap tekel Balogun layak diganjar kartu merah, legenda Prancis itu menilai cara FIFA membatalkan hukuman tersebut tetap tidak bisa dibenarkan.
"Apa yang saya katakan, saya rasa orang-orang tidak mengerti, ketika saya menyebutkan Pasal 27, itu adalah sindiran. Saya pikir orang-orang akan mengerti itu, tetapi mereka tidak mengerti," ujar Henry.
Baca Juga: GBLA Diinspeksi AFF dan Sportfive, Persib Matangkan Persiapan Jelang Shopee Cup 2026/27
"Saya setuju bahwa itu bukan kartu merah, karena jika saya seorang pemain, saya tidak akan menerimanya. Saya tidak setuju dengan cara mereka membatalkan kartu merah itu. Apa yang dilakukan FIFA itu tidak benar. Seharusnya itu diputuskan di lapangan, bukan setelah tiga atau empat hari. Saya sama sekali tidak setuju dengan itu," lanjut dia.
Pernyataan Henry langsung ditanggapi Alexi Lalas yang mempertanyakan alasan di balik kritik tersebut.
"Mengapa itu tidak benar?" tanya Lalas.
Henry kembali menegaskan pendapatnya.
"Karena itu tidak benar. Pasal 27 tidak mengatakan demikian. Itu pendapat saya. Apa yang dilakukan FIFA tidak benar. Itu bukan kartu merah, tetapi cara FIFA menanganinya membangkitkan semangat Belgia," jawab Henry.
Lalas kemudian membandingkan kasus Balogun dengan Cristiano Ronaldo yang juga pernah mendapat keringanan hukuman menjelang Piala Dunia.
"Jadi Ronaldo seharusnya tidak bermain di Piala Dunia juga?" ujar Lalas.
Henry memilih untuk tetap fokus pada kasus Balogun.
"Tidak, katakan apa pun yang ingin Anda katakan. Saya sedang membicarakan situasi Balogun," ucap dia.
Baca Juga: Resmi Berpisah, Alex Martins Tinggalkan Dewa United setelah Tiga Musim dengan Torehan 67 Gol
Perdebatan semakin memanas ketika Lalas menegaskan bahwa FIFA tidak melanggar aturan apa pun.
"FIFA tidak melanggar aturan atau peraturan apa pun," kata Lalas.
Namun Henry tetap bersikeras bahwa keputusan tersebut tidak semestinya diambil dengan cara seperti itu.
"Itu pendapat saya," jawabnya singkat.
Lalas akhirnya menyimpulkan bahwa keputusan yang diambil mungkin benar, tetapi prosesnya memang dapat diperdebatkan.
"Keputusan yang benar pun diambil dengan cara yang salah, bahkan dalam kasus Cristiano Ronaldo," tutur dia.
Henry menutup perdebatan dengan mengatakan, itu terserah orang untuk membicarakannya.
Terlepas dari kontroversi tersebut, kehadiran Balogun ternyata tidak mampu menyelamatkan Amerika Serikat. Striker AS Monaco itu gagal mencetak gol saat timnya dibantai Belgia 4-1 dan tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Usai pertandingan, Balogun menegaskan dirinya tidak memiliki peran apa pun dalam proses pembatalan hukumannya.
"Tentu saja, hal itu kontroversial ketika keputusan tersebut dibatalkan. Kami menerima keputusan itu ketika saya melihat kartu merah, dan kami menerima keputusan itu ketika kami diberi tahu bahwa saya bisa bermain. Saya tidak terlibat dalam proses tersebut. Itu tidak ada hubungannya dengan saya secara pribadi," tandas dia.
Kontroversi ini diperkirakan masih akan menjadi bahan perdebatan, terutama terkait penerapan aturan disiplin FIFA dan proses pengambilan keputusan yang mengizinkan Balogun tampil di laga krusial babak gugur.