JawaPos.com - Beberapa detik bisa mengubah nasib sebuah pertandingan. Itulah yang dialami bek muda Australia, Lucas Herrington, ketika dipercaya menjadi salah satu algojo adu penalti melawan Mesir pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Meski eksekusinya gagal, keberaniannya justru mendapat banyak apresiasi.
Australia harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Mesir melalui drama adu penalti.
Salah satu momen yang paling menjadi sorotan adalah keputusan tim pelatih menunjuk Lucas Herrington sebagai salah satu penendang.
Pemain yang baru berusia 18 tahun itu maju dengan penuh percaya diri. Namun, tendangan penalti yang dilepaskannya gagal berbuah gol sehingga membuat peluang Australia semakin berat sebelum akhirnya takluk dengan skor 2-4 dalam adu penalti.
Meski hasilnya mengecewakan, banyak pihak menilai kegagalan tersebut bukanlah sesuatu yang pantas dibebankan kepada Herrington.
Di usia yang masih sangat muda, ia justru menunjukkan mental berani dengan mengambil tanggung jawab di panggung sebesar Piala Dunia.
Baca Juga: Hasil Australia vs Mesir 2-4 di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Antar The Pharaohs Lolos 16 Besar
Tidak semua pemain berani maju ketika tekanan berada di titik tertinggi. Dalam situasi hidup-mati seperti adu penalti fase gugur, banyak pemain senior sekalipun memilih menghindar. Herrington justru menerima tantangan tersebut tanpa ragu.
Bek kelahiran Brisbane, Australia, pada 5 September 2007 itu memang sedang menikmati perkembangan karier yang sangat pesat.
Setelah menimba ilmu di akademi Taringa Rovers, Toowong FC, Brisbane City, hingga Brisbane Roar, ia berhasil menembus tim utama Brisbane Roar sebelum pindah ke klub Major League Soccer, Colorado Rapids, pada awal 2026.
Bersama Colorado Rapids, Herrington langsung menjadi pilihan utama di lini belakang. Hingga pertengahan musim MLS 2026, ia telah mencatatkan 15 penampilan, menyumbang satu gol dan satu assist, sekaligus memperlihatkan kematangan bermain meski usianya masih belia.
Penampilannya yang konsisten juga membuatnya mendapat panggilan ke Timnas Australia senior.
Setelah sebelumnya memperkuat Australia U-20, Herrington kini telah mengoleksi enam penampilan bersama Socceroos dan dipercaya tampil di Piala Dunia 2026.
Dengan postur mencapai 1,93 meter, Herrington dikenal sebagai bek tengah yang kuat dalam duel udara, tenang saat menguasai bola, serta mampu bermain sebagai bek kanan bila dibutuhkan.
Potensi besarnya bahkan mulai menarik perhatian sejumlah klub elite Eropa.
Berdasarkan berbagai laporan transfer, nama Herrington dikaitkan dengan sejumlah klub besar seperti AC Milan, Barcelona, hingga Napoli.
Nilai pasarnya pun terus meningkat seiring performa impresifnya di Amerika Serikat.
Kegagalan penalti melawan Mesir memang menjadi catatan yang menyakitkan dalam kariernya.
Namun bagi banyak pengamat, pengalaman tersebut justru dapat menjadi pelajaran berharga untuk perkembangan sang pemain.
Sepak bola selalu memiliki sisi yang kejam. Seorang pemain bisa menjadi pahlawan atau mendapat sorotan hanya dalam hitungan detik.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa banyak pemain hebat pernah gagal mengeksekusi penalti sebelum akhirnya bangkit menjadi bintang dunia.
Bagi Lucas Herrington, usia 18 tahun adalah awal perjalanan, bukan akhir dari segalanya. Dengan kualitas yang dimiliki serta keberanian mengambil tanggung jawab di momen besar, bek muda Australia itu masih memiliki masa depan yang sangat panjang di level internasional.