← Beranda
Perjalanan Gabriel Martinelli dari Futsal Jadi Supersub Timnas Brasil di Piala Dunia 2026
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 3 Juli 2026 | 21.14 WIB
Gabriel Martinelli merayakan gol kemenangan Brasil atas Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah masuk sebagai pemain pengganti. (Instagram @gabriel.martinelli)

 

JawaPos.com - Gabriel Martinelli menjadi pahlawan Timnas Brasil saat menaklukkan Jepang 2-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah mencetak gol kemenangan sebagai pemain pengganti. Penyerang Arsenal itu membuktikan perjalanan panjangnya sejak bermain futsal bersama akademi Corinthians membentuk karakter yang kini membuatnya menjadi salah satu senjata andalan Carlo Ancelotti.

Bagaimana Gabriel Martinelli Menjadi Penentu Kemenangan Brasil?

Momen penting itu hadir pada menit ke-65 ketika pelatih timnas Brasil Carlo Ancelotti menarik keluar Matheus Cunha dan memasukkan Gabriel Martinelli. Saat skor masih imbang 1-1, keputusan itu mengubah jalannya pertandingan babak gugur piala dunia.

Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan yang memastikan timnas Brasil menang 2-1 atas Jepang sekaligus mengamankan tiket menuju babak 16 besar Piala Dunia 2026. Brasil kini bersiap menghadapi Norwegia pada pertandingan berikutnya.

Baca Juga: Usai Tinggalkan Persija, Hanif Sjahbandi Resmi Berlabuh ke PSS Sleman dan Siap Hadapi Liga 1 Musim 2026/27

Peran sebagai supersub sebenarnya bukan hal baru bagi Martinelli. Sepanjang musim 2025/2026 bersama Arsenal, pemain berusia 25 tahun itu tampil dalam 53 pertandingan dengan 25 kali menjadi starter, membantu The Gunners menjuarai Premier League sekaligus mencapai final Liga Champions.

Ancelotti pun memuji dampak besar yang diberikan pemainnya tersebut. "Dia bermain dengan intensitas luar biasa. Dia benar-benar membantu tim lewat golnya, dan dengan kehadirannya di lapangan, Vinicius Jr mendapat jauh lebih banyak ruang sehingga menjadi ancaman terus-menerus," ujar pelatih asal Italia itu.

Mengapa Latar Belakang Futsal Sangat Berpengaruh?

Jauh sebelum menjadi bintang di sepak bola Eropa, Martinelli mengawali perjalanan bersama tim futsal usia muda Corinthians. Dia bergabung saat baru berusia enam tahun dan bertahan hingga menginjak usia 13 atau 14 tahun sebelum sepenuhnya berpindah ke lapangan sepak bola.

Baca Juga: Alasan Striker Timnas Amerika Serikat Folarin Balogun Diganjar Kartu Merah Langsung saat Hadapi Bosnia dan Herzegovina

Daniel Magalhaes, pelatih Martinelli di akademi futsal Corinthians, masih mengingat karakter kompetitif anak didiknya tersebut. Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika Martinelli sudah mencetak dua gol, tetapi tetap marah karena ditarik keluar saat timnya unggul sekitar 4-1 atas Juventus da Mooca.

"Kami sudah unggul sekitar 4-1 dan saya menariknya keluar menjelang akhir pertandingan. Dia sangat marah. Saya bilang kepadanya, Tugasmu sudah selesai, sekarang beri kesempatan kepada pemain lain. Dia benar-benar tidak bisa menerimanya. Saya sampai harus mengajaknya berbicara pada pekan berikutnya. Dia sangat benci ditarik keluar," kenang Magalhaes sambil tertawa.

Menurut Magalhaes, Martinelli selalu menjadi pencetak gol terbanyak di setiap kelompok umur selama membela Corinthians. Kecepatan luar biasa yang dimilikinya bahkan sudah sangat menonjol meski bermain di lapangan futsal yang sempit.

"Gabriel bergabung dengan Corinthians saat berusia enam tahun dan bermain futsal bersama kami sampai usia 13 atau 14 tahun. Selain memenangkan banyak gelar, dia selalu menjadi top skor di setiap kelompok umur. Dia sangat cepat, bahkan luar biasa cepat untuk ukuran pemain futsal, dan itulah yang membuatnya berbeda," kata Magalhaes.

Bagaimana Martinelli Menarik Perhatian Klub-klub Besar?

Lahir pada 2001, Martinelli kemudian pindah bersama keluarganya dari wilayah metropolitan Sao Paulo menuju Kota Itu ketika berusia 14 tahun. Di sanalah dia bergabung dengan akademi Ituano dan mulai berkembang sebagai pemain lapangan.

Pelatih tim U-15 Ituano Thiago Badari, menilai Martinelli sudah berada jauh di atas pemain seusianya. Pada musim pertamanya di level U-15, dia mencetak 15 gol hanya dalam 16 pertandingan.

Baca Juga: Tren Sepatu Bola Merah Muda di Piala Dunia 2026: Gaya dan Kepercayaan Diri Pemain

"Dia selalu luar biasa, jauh melampaui pemain lainnya. Dia memiliki naluri mencetak gol yang sangat tajam di dalam kotak penalti. Meski tubuhnya tidak besar, dia sering dimainkan sebagai nomor sembilan. Dia bisa mencetak gol menggunakan kedua kaki, lewat bola bawah, bola udara, maupun sundulan kepala. Sejak saat itu dia sudah menunjukkan banyak kualitas," ungkap Badari.

Penampilan impresif tersebut membuat banyak klub Eropa mulai mengamatinya. Menariknya, Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang memberikan perhatian serius kepada Martinelli sebelum Arsenal datang.

Badari mengungkapkan Martinelli bahkan sempat mengikuti pemusatan latihan di Inggris. Sejak usia muda, ia sudah menunjukkan tekad besar untuk mencapai level tertinggi dalam sepak bola profesional.

Baca Juga: Pelatih Timnas Prancis Didier Deschamps Berterima Kasih atas Persembahan Gol dari Kylian Mbappe

Pada 2018, saat baru berusia 16 tahun, Martinelli menjalani debut bersama tim senior Ituano. Setahun kemudian, ia dinobatkan sebagai Pendatang Baru Terbaik di Campeonato Paulista sekaligus menjadi pemain paling menonjol dari klub di luar kekuatan tradisional negara bagian Sao Paulo.

Mengapa Arsenal Yakin Merekrut Martinelli?

Arsenal sebenarnya sudah lama memantau perkembangan Martinelli. Edu Gaspar yang baru bergabung sebagai direktur teknik Arsenal setelah meninggalkan jabatannya di Timnas Brasil menjadikan Martinelli sebagai salah satu rekrutan pertamanya pada 2019.

Awalnya Arsenal hanya merencanakan Martinelli bermain bersama tim U-23. Namun, semuanya berubah ketika pelatih Unai Emery melihat langsung kualitas sang pemain selama pramusim.

Baca Juga: Kesulitan Lawan Kongo, Timnas Inggris Disebut Bukan Ancaman bagi Timnas Prancis

"Rencananya dia memulai bersama tim U-23. Tetapi begitu tiba, Unai Emery langsung membawanya ke tim utama untuk pramusim. Sekitar sepuluh hari kemudian dia mengatakan kepada saya, Anak ini akan tetap bersama kami di tim utama. Martinelli merupakan bisnis yang luar biasa bagi Arsenal. Nilai transfernya sekitar lima juta euro dan itu bukan angka yang besar untuk ukuran Premier League," kenang Edu.

Edu menjelaskan Arsenal sejak awal melihat karakter permainan Martinelli sangat cocok dengan sepak bola Inggris. Kecepatan berlari, kemampuan menyerang ruang kosong, serta efektivitas saat melakukan transisi menjadi alasan utama klub berani berinvestasi.

"Gabriel memiliki kualitas yang sangat menarik. Dia mampu meledak dalam situasi transisi. Di Ituano dia pernah mencetak gol setelah membawa bola dari wilayah pertahanannya sendiri hingga mencetak gol. Hal serupa kemudian dia lakukan bersama Arsenal saat menghadapi Chelsea. Itu sudah cukup membuat kami yakin dia layak direkrut," jelas Edu.

Selama beberapa tahun terakhir, Edu ikut mengawal tiga kali perpanjangan kontrak Martinelli di Arsenal. Menurutnya, kualitas terbesar sang pemain bukan hanya kemampuan di lapangan, tetapi juga sikap profesional yang tidak pernah berubah.

Baca Juga: Fans Ingin Jurgen Klopp Gantikan Julian Nagelsmann sebagai Pelatih Timnas Jerman

"Dia tetap rendah hati, baik ketika menjadi starter maupun duduk di bangku cadangan. Saat semua orang membicarakannya ataupun ketika tidak ada yang membicarakannya, dia tetap bersikap sama. Tidak heran para pendukung Arsenal sangat mencintainya. Kesuksesan tidak pernah membuatnya berubah. Gabriel selalu siap membantu tim dalam situasi apa pun dan selalu memberikan kontribusi," tutup Edu.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah