JawaPos.com - Perjalanan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 kembali berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Der Panzer harus angkat koper usai tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah dramatis dari Paraguay melalui adu penalti. Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk Jerman di ajang Piala Dunia dalam tiga edisi terakhir.
Sejak menjuarai Piala Dunia 2014, performa Jerman justru terus mengalami penurunan. Pada edisi 2018 di Rusia, mereka secara mengejutkan gagal lolos dari fase grup.
Baca Juga: Jerman Pulang Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026, Keputusan Nagelsmann Jadi Sasaran Kritik
Empat tahun kemudian di Qatar, nasib serupa kembali terjadi. Kini, di Piala Dunia 2026, Jerman memang mampu melewati fase grup, namun langkah mereka hanya sampai babak 32 besar.
Artinya, dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun, Jerman selalu gagal mencapai babak 16 besar. Sebuah catatan yang tentu jauh dari ekspektasi publik mengingat status mereka sebagai salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola dunia.
Kegagalan kali ini kembali memunculkan berbagai evaluasi terhadap proyek yang dibangun pelatih Julian Nagelsmann.
Baca Juga: Julian Nagelsmann Bicara Masa Depannya Usai Jerman Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Selain kualitas skuad yang dinilai belum sekuat generasi sebelumnya, keputusan-keputusan dalam pemilihan pemain dan strategi juga menjadi sorotan.
Di sisi lain, sebagian penggemar masih mengaitkan kemunduran Jerman dengan berbagai peristiwa di luar lapangan yang sempat menyita perhatian pada Piala Dunia 2022.
Salah satunya adalah aksi para pemain yang menutup mulut saat sesi foto sebelum laga melawan Jepang.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes setelah penggunaan ban kapten OneLove tidak diizinkan. Sebelumnya, FIFA juga memberikan peringatan mengenai potensi sanksi apabila aturan tersebut dilanggar.
Tak lama setelah aksi itu, Jerman justru kalah 1-2 dari Jepang pada pertandingan pembuka. Kekalahan tersebut menjadi awal kegagalan mereka melaju ke babak gugur.
Legenda Jerman, Lothar Matthaus, saat itu sempat mengkritik situasi tersebut. Menurutnya, terlalu banyak perhatian yang tercurah pada isu di luar sepak bola sehingga fokus tim ikut terganggu. Ia menilai konsentrasi pemain seharusnya sepenuhnya diarahkan kepada pertandingan.
Baca Juga: Orlando Gill Bangga usai Jadi Pahlawan Paraguay Singkirkan Jerman di Piala Dunia 2026
Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa performa Jerman memang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Tim yang dahulu dikenal sebagai spesialis turnamen kini justru beberapa kali gagal memenuhi ekspektasi sebagai unggulan.
Meski demikian, peluang untuk bangkit tetap terbuka. Jerman masih memiliki sejumlah pemain muda potensial yang bisa menjadi fondasi menuju Piala Dunia 2030.
Namun, proses regenerasi harus dibarengi dengan pembenahan strategi, stabilitas tim, serta kemampuan menjaga fokus selama turnamen berlangsung.
Empat tahun ke depan akan menjadi masa yang penting bagi sepak bola Jerman. Apakah Der Panzer mampu mengakhiri tren buruk dan kembali menjadi kekuatan yang ditakuti di Piala Dunia, atau justru kegagalan ini menjadi awal dari penurunan yang lebih panjang, hanya waktu yang akan menjawab.