← Beranda
Merosot Sejak Juara Piala Dunia 2014! Jerman Kembali Gagal Usai Kalah Adu Penalti Lawan Paraguay di 32 Besar Piala Dunia 2026
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 30 Juni 2026 | 15.48 WIB
Ekspresi kecewa para pemain Jerman setelah kalah adu penalti dari Paraguay pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. (Instagram @germanfootball_dfb)

 

JawaPos.com — Timnas Jerman kembali mengakhiri perjalanan lebih cepat di Piala Dunia 2026 setelah tersingkir dari Paraguay lewat adu penalti 3-4 pada babak 32 besar di Boston, Amerika Serikat.

Kekalahan itu memperpanjang tren buruk Der Panzer sejak menjuarai Piala Dunia 2014 sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai arah masa depan sepak bola Jerman di bawah pelatih Julian Nagelsmann.

Baca Juga: Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026: El Tri Difavoritkan Lolos ke 16 Besar!

Mengapa Jerman Masih Sulit Bangkit setelah Juara Dunia 2014?

Kegagalan di Piala Dunia 2026 menambah daftar panjang penurunan prestasi Jerman dalam satu dekade terakhir.

Meski berhasil lolos dari fase grup untuk pertama kalinya sejak menjadi juara dunia pada 2014, langkah mereka kembali terhenti lebih awal setelah kalah dramatis dari Paraguay.

Perjalanan Jerman sebenarnya diawali cukup meyakinkan dengan dua kemenangan di fase grup.

Bahkan kemenangan telak 7-1 atas Curaçao menjadi margin kemenangan terbesar sepanjang turnamen, tetapi hasil tersebut gagal menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh.

Kekalahan 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir fase grup menjadi titik balik yang mengubah momentum. Seusai pertandingan itu, muncul perbedaan pandangan di internal tim mengenai penyebab kekalahan tersebut.

Julian Nagelsmann menolak anggapan anak asuhnya kalah karena kurang memiliki semangat bertanding.

"Tidak, tolong, hentikan omong kosong ini," tegas Nagelsmann saat ditanya apakah Ekuador lebih menginginkan kemenangan dibanding Jerman dikutip dari The Guardian, Selasa (30/6/2026).

Namun, beberapa pemain justru menyampaikan pandangan berbeda.

Joshua Kimmich mengatakan lawan tampil dengan motivasi lebih besar, sementara Deniz Undav juga mengaku merasakan hal serupa ketika masuk sebagai pemain pengganti.

Perbedaan pendapat itu dianggap menjadi gambaran kondisi skuad Jerman saat ini. Tim memiliki kualitas individu yang mumpuni, tetapi belum sepenuhnya menyatu dalam satu visi dan identitas permainan.

Baca Juga: Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Harry Kane Cs Diprediksi Menang, Tapi Laga Berjalan Alot

Bayang-bayang Generasi Emas 2014 Belum Pernah Hilang

Salah satu persoalan terbesar Jerman bukan hanya terjadi di lapangan. Bayang-bayang generasi juara dunia 2014 masih begitu kuat memengaruhi persepsi publik terhadap tim nasional saat ini.

Nama Jürgen Klopp terus menjadi bahan pembicaraan sepanjang turnamen.

Mantan pelatih Liverpool itu tampil sebagai komentator televisi dan secara terbuka dianggap sebagai sosok yang berpotensi menggantikan Nagelsmann apabila kursi pelatih kembali berganti.

Selain Klopp, banyak mantan pemain juara dunia 2014 kini aktif mengomentari performa tim nasional.

Thomas Müller, Mats Hummels, Per Mertesacker, Christoph Kramer, Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos hingga Philipp Lahm terus memberikan analisis yang membentuk opini publik.

Situasi tersebut membuat setiap penampilan Jerman selalu dibandingkan dengan generasi emas satu dekade lalu.

Nostalgia terhadap masa ketika Bayern München dan Borussia Dortmund mendominasi Eropa membuat ekspektasi terhadap tim nasional semakin tinggi.

Akibatnya, setiap kegagalan selalu terasa lebih menyakitkan. Jerman seperti belum benar-benar mampu melepaskan diri dari bayang-bayang kejayaan 2014.

Baca Juga: Prediksi Skor Prancis vs Swedia di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Pimpin Les Bleus ke 16 Besar!

Kekalahan dari Paraguay Menjadi Puncak Kekecewaan

Babak 32 besar mempertemukan Jerman dengan Paraguay di Boston. Pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu sebelum Paraguay menang 4-3 melalui adu penalti.

Paraguay lebih dulu unggul lewat sundulan Julio Enciso setelah memanfaatkan situasi bola mati.

Jerman baru mampu menyamakan kedudukan melalui sundulan Kai Havertz setelah melakukan perubahan taktik dengan lebih sering mengirim umpan silang.

Gol Jonathan Tah pada babak tambahan waktu sempat memberi harapan bagi Jerman.

Namun gol tersebut dianulir karena pelanggaran dalam proses terjadinya gol, keputusan yang kemudian disebut Nagelsmann sebagai sesuatu yang "scandalous".

Drama berlanjut dalam adu penalti. Kai Havertz dan Nick Woltemade gagal menjalankan tugasnya, sementara Manuel Neuer sempat menjaga harapan dengan menggagalkan penalti Fabian Balbuena.

Harapan itu akhirnya pupus ketika Jonathan Tah gagal mengeksekusi penalti pada fase sudden death. Jose Canale kemudian memastikan kemenangan Paraguay sekaligus mengakhiri perjalanan Jerman di Piala Dunia 2026.

Seusai pertandingan, Kai Havertz menyampaikan permintaan maaf kepada publik Jerman. "Satu-satunya yang bisa kukatakan adalah aku minta maaf. Mengecewakan lagi bukanlah perasaan yang menyenangkan," ujarnya dikutip dari DW, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika

Masa Depan Julian Nagelsmann Kini Dipertanyakan

Kekalahan dari Paraguay kembali memunculkan evaluasi besar terhadap arah sepak bola Jerman. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Der Panzer gagal memenuhi ekspektasi di ajang Piala Dunia.

Nagelsmann sebelumnya menilai timnya membutuhkan mentalitas yang lebih tangguh agar mampu melangkah jauh. Namun, menurutnya, Jerman gagal menunjukkan karakter tersebut saat menghadapi Paraguay.

Perubahan besar juga diperkirakan akan terjadi dalam skuad.

Manuel Neuer yang telah berusia 40 tahun dinilai tak lagi berada pada performa terbaiknya, sementara sejumlah pemain senior seperti Antonio Rüdiger, Leon Goretzka dan Leroy Sané diperkirakan memasuki akhir perjalanan bersama tim nasional.

Joshua Kimmich yang kini berusia 31 tahun juga mulai menghadapi pertanyaan mengenai masa depannya bersama tim nasional.

Sementara itu, kontrak Julian Nagelsmann sebenarnya masih berlaku hingga 2028 setelah diperpanjang pada awal 2025.

Meski demikian, posisi sang pelatih dipastikan menjadi sorotan setelah kegagalan terbaru ini. Nagelsmann menegaskan dirinya tidak akan mundur secara sukarela.

"Saya di sini untuk bekerja dan jika DFB memutuskan sebaliknya, mereka harus memberi tahu saya. Saya bukan tipe orang yang lari," kata Nagelsmann.

Kini Jerman kembali memasuki fase evaluasi panjang seperti yang terjadi setelah kegagalan pada Piala Dunia 2018 dan 2022.

Negara yang pernah menjadi kekuatan utama sepak bola dunia itu kembali dihadapkan pada pekerjaan besar untuk menemukan identitas baru dan keluar dari bayang-bayang kejayaan generasi emas 2014.

EDITOR: Banu Adikara