← Beranda
Piala Dunia 2026 Diterpa Isu Politik dan Komersialisasi, Benarkah Esensi Sepak Bola Memudar?
Andre Rizal HanafiMinggu, 21 Juni 2026 | 21.59 WIB
Presiden AS Donal Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Piala Dunia selalu hadir sebagai panggung terbesar sepak bola dunia. Setiap empat tahun sekali, turnamen ini menjadi momen ketika jutaan orang dari berbagai negara, budaya, bahasa, dan latar belakang berkumpul dalam satu semangat yang sama yaitu menikmati sepak bola.

Namun, sejak sebelum kick-off pertama Piala Dunia 2026 digelar, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pertandingan di lapangan. Berbagai isu di luar sepak bola justru ikut menjadi bahan perbincangan yang cukup besar.

Mulai dari kebijakan imigrasi Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah, kekhawatiran mengenai proses visa bagi suporter dan delegasi dari sejumlah negara, hingga seruan boikot yang sempat ramai di media sosial. Situasi tersebut membuat sebagian pihak menilai bahwa Piala Dunia 2026 menjadi salah satu edisi yang paling banyak dibayangi isu politik dibandingkan edisi Piala Dunia beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Prediksi Timnas Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Adu Ketajaman Lukaku dan Taremi Penentu Laga

Selain itu, sejumlah penggemar juga menyoroti pengalaman mereka selama turnamen berlangsung. Harga tiket yang dinilai cukup tinggi, biaya perjalanan dan akomodasi yang mahal, serta kesan komersialisasi yang dilakukan penyelenggara dan FIFA semakin kuat menjadi topik yang terus dibicarakan oleh penggemar sepak bola.

Tidak sedikit yang merasa atmosfer Piala Dunia kali ini berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil dan berbagai konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia, antusiasme sebagian suporter disebut tidak sebesar seperti yang diharapkan.

Meski demikian, muncul pula pandangan berbeda dari kelompok penggemar lainnya. Mereka menilai kritik terhadap penyelenggaraan turnamen memang sah untuk disampaikan, tetapi tidak serta-merta mengurangi nilai Piala Dunia sebagai ajang olahraga terbesar di dunia.

Baca Juga: Prediksi Timnas Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Jaga Peluang Lolos Babak 32 Besar

Perdebatan ini pada akhirnya melahirkan dua sudut pandang yang cukup jelas. Di satu sisi, ada yang menilai FIFA terlalu berorientasi pada ekspansi bisnis dan keuntungan finansial. 

Di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa Piala Dunia tetap menjadi peristiwa olahraga yang mampu menyatukan perhatian miliaran orang di seluruh dunia.

Jika melihat sejarah, sebenarnya sepak bola dan politik bukanlah dua hal yang benar-benar terpisah. Berbagai edisi Piala Dunia sebelumnya juga pernah menghadapi situasi serupa.

Piala Dunia 1934 dan 1938 berlangsung saat Eropa berada dalam ketegangan politik yang tinggi. Piala Dunia 1978 di Argentina dibayangi kontroversi yang berkaitan dengan kondisi politik domestik negara tersebut. 

Saat Rusia menjadi tuan rumah pada 2018, isu geopolitik juga menjadi bagian dari perbincangan Dunia. Begitu pula dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang memunculkan diskusi panjang mengenai hak asasi manusia dan berbagai isu sosial lainnya.

Perbedaannya saat ini terletak pada perkembangan teknologi dan media sosial. Informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Sebuah isu dapat menjadi viral hanya dalam hitungan menit dan terkadang mendapatkan perhatian yang sama besar, bahkan lebih besar, dibandingkan hasil pertandingan itu sendiri.

Baca Juga: Gacor di Piala Dunia 2026! Eloy Room Cetak 15 Penyelamatan, Bawa Curacao Ukir Sejarah Lawan Ekuador

Meski berbagai kontroversi terus bermunculan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa daya tarik sepak bola masih sangat kuat. Piala Dunia 2026 tetap menghadirkan berbagai cerita yang menjadi alasan mengapa turnamen ini selalu dinantikan.

Penampilan para bintang dunia masih menjadi magnet utama. Momen-momen penting yang melibatkan pemain legendaris seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo terus menarik perhatian diseluruh dunia.

Selain itu, sejumlah negara debutan juga berhasil menciptakan kisah bersejarah yang memberi warna baru bagi kompetisi Piala Dunia tahun ini. Drama pertandingan, gol-gol spektakuler, kejutan hasil laga, hingga emosi yang muncul di setiap pertandingan tetap menjadi bagian yang tidak tergantikan. 

Baca Juga: Kisah Ali Al-Hamadi: Dari Keluarga Pengungsi di Liverpool hingga Antar Timnas Irak ke Piala Dunia 2026

Jutaan orang masih rela meluangkan waktu untuk menonton, berdiskusi, dan mengikuti perkembangan turnamen setiap hari. Hal itu menunjukkan bahwa di tengah berbagai kritik dan perdebatan, esensi utama Piala Dunia masih bertahan. Penggemar mungkin berbeda pendapat soal penyelenggaraan, kebijakan, atau arah perkembangan sepak bola modern. 

Namun perhatian yang terus diberikan menunjukkan bahwa olahraga ini tetap memiliki tempat yang istimewa. Piala Dunia 2026 mungkin bukan turnamen yang sempurna. Berbagai isu di luar lapangan memang menjadi bagian dari cerita yang menyertainya. 

Namun selama sepak bola masih mampu menghadirkan momen yang membuat jutaan orang bersorak pada waktu yang sama, daya tariknya belum akan hilang. Pada akhirnya, isu politik akan terus datang dan berganti. Sementara itu, sepak bola tampaknya akan selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap menjadi pusat perhatian dunia.

Baca Juga: Perjalanan Deniz Undav, Supersub Jerman yang Memimpin Comeback: Dari Buruh Pabrik hingga Bintang Piala Dunia

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah