← Beranda
Pantai Gading Diprediksi Lolos dari Fase Grup Piala Dunia 2026, Ini Tujuh Alasannya
M Shofyan Dwi Kurniawan• Rabu, 17 Juni 2026 | 00.14 WIB
Amad Diallo merayakan gol kemenangan Pantai Gading ke gawang Ekuador pada laga Grup E Piala Dunia 2026 di Stadion Lincoln Financial. (CAF)

 

JawaPos.com - Pantai Gading mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan cara yang sempurna. Gol Amad pada menit ke-90 memastikan kemenangan 1-0 atas Ekuador di Philadelphia, sekaligus menandai kemenangan pertama mereka di turnamen ini sejak 2014.

Hasil tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa The Elephants akhirnya mampu mematahkan kutukan masa lalu dan melangkah ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. 

Melansir ESPN, berikut tujuh alasan mengapa Pantai Gading diprediksi mampu lolos dari fase grup.

Baca Juga: Sambil Menangis, Hajime Moriyasu Minta Maaf kepada Wataru Endo yang Pensiun dari Timnas Jepang

1. Mental Jauh Lebih Kuat

Salah satu kelemahan terbesar generasi-generasi sebelumnya adalah kecenderungan runtuh ketika tekanan meningkat. Namun, tim asuhan Emerse Faé menunjukkan karakter berbeda saat menghadapi Ekuador.

Setelah sempat tertekan di babak pertama dan melihat lawan dua kali membentur tiang gawang, Pantai Gading tidak kehilangan ketenangan. Mereka justru tampil lebih berani di babak kedua dan berhasil mencuri kemenangan di menit akhir.

"Kami terlihat tegang. Ada keraguan dalam tim, sedikit rasa takut ketika harus mengambil risiko," ujar Faé.

Namun pelatih berusia 41 tahun itu melihat perubahan signifikan setelah turun minum.

"Kami mengambil lebih banyak risiko, lebih fokus, dan membuat lebih sedikit kesalahan individu."

Baca Juga: Gagal Menjaga Keunggulan Lawan Jepang di Piala Dunia 2026, Virgil van Dijk Dihujani Kritik Media Belanda!

2. Beban Masa Lalu Sudah Hilang

Berbeda dengan Generasi Emas yang selalu dibebani ekspektasi besar, skuad saat ini datang tanpa trauma kegagalan Piala Dunia sebelumnya.

Bagi mayoritas pemain, ini merupakan pengalaman pertama mereka tampil di turnamen terbesar dunia. Kemenangan atas Ekuador menjadi suntikan kepercayaan diri yang sangat berharga untuk melangkah lebih jauh.

Baca Juga: Timnas Korea Selatan Boikot Media Lokal di Piala Dunia 2026 Gara-gara Ejek Son Heung-min Soal Wajib Militer

3. Pengalaman Juara AFCON 2024 Jadi Modal Besar

Keajaiban yang mereka ciptakan di Piala Afrika 2024 masih membekas.

Saat itu Pantai Gading sempat dipermalukan Guinea Khatulistiwa 4-0 di fase grup dan memecat pelatih Jean-Louis Gasset. Namun secara luar biasa mereka bangkit dan akhirnya keluar sebagai juara.

Pengalaman bangkit dari keterpurukan tersebut membuat para pemain dan Emerse Faé memahami bahwa mereka tidak boleh menyerah dalam situasi apa pun.

Baca Juga: Mohamed Salah Dikritik Usai Tertangkap Kamera Marah kepada Pelatih Mesir di Piala Dunia 2026

4. Stabilitas Tim Menjadi Kunci

Tidak seperti era sebelumnya yang kerap diwarnai pergantian pelatih menjelang turnamen besar, Pantai Gading kini menikmati stabilitas yang lebih baik.

Faé sudah mengenal skuad dengan sangat baik sejak menjadi asisten pelatih. Hubungan antara pemain dan staf juga terjalin erat.

"Para pemain senang, mereka menikmati kebersamaan, dan mereka memiliki hubungan yang baik dengan staf," kata Faé.

Kontinuitas ini membuat identitas permainan Pantai Gading semakin jelas.

Baca Juga: Serba-serbi Piala Dunia 2026: Mengapa Bendera Arab Saudi Tidak Diletakkan di Tanah? Ini Alasan dan Maknanya!

5. Keberuntungan Mulai Berpihak

Dalam turnamen besar, faktor keberuntungan tak bisa diabaikan.

Pada masa lalu, Pantai Gading kerap mendapat grup yang sangat berat dan beberapa momen krusial selalu berakhir tidak berpihak kepada mereka.

Namun saat menghadapi Ekuador, keberuntungan akhirnya datang. Lawan dua kali membentur tiang gawang sebelum Amad mencetak gol kemenangan di penghujung pertandingan.

Kembalinya Franck Kessie dari cedera juga menjadi tambahan penting bagi keseimbangan tim.

Baca Juga: 4 Imbang dan 2 Menang! Tim Asia Belum Terkalahkan di Piala Dunia 2026

6. Memiliki Kiper yang Bisa Diandalkan

Selama bertahun-tahun posisi penjaga gawang dianggap sebagai titik lemah Pantai Gading. Kini, mereka memiliki Yahia Fofana.

Kiper berusia 25 tahun itu tampil luar biasa saat menghadapi Ekuador. Beberapa penyelamatan penting yang dilakukannya membantu menjaga tim tetap hidup sebelum akhirnya meraih kemenangan.

Kehadiran sosok yang tenang dan dapat dipercaya di bawah mistar menjadi aset berharga dalam turnamen sekelas Piala Dunia.

Baca Juga: Iran Curi Perhatian di Piala Dunia 2026 Lewat Dukungan Suporter dan Selebrasi Kontroversial Mohammed Mohebbi

7. Momentum Sedang Berpihak

Kepercayaan diri Pantai Gading sedang berada di titik tertinggi.

Sebelum Piala Dunia dimulai, mereka berhasil mengalahkan Korea Selatan, Skotlandia, dan bahkan menumbangkan Prancis dalam laga persahabatan.

Kemenangan atas Ekuador membuat tren positif tersebut berlanjut. Dalam sepuluh pertandingan terakhir, mereka hanya sekali menelan kekalahan.

"Kami datang ke Amerika Serikat dengan ambisi dan harapan tinggi. Kami tidak datang hanya untuk berkunjung lalu pulang," tegas Faé.

Momentum, kepercayaan diri, dan hasil positif merupakan kombinasi yang sangat penting dalam turnamen singkat seperti Piala Dunia.

Kesempatan Terbaik Sepanjang Sejarah

Generasi Didier Drogba, Yaya Toure, dan Gervinho gagal membawa Pantai Gading menembus fase gugur meski dihuni banyak pemain bintang.

Kini, tanpa nama-nama sebesar era tersebut, The Elephants justru terlihat lebih solid, lebih matang, dan lebih siap menghadapi tekanan.

Jika mampu mempertahankan performa seperti saat mengalahkan Ekuador, Piala Dunia 2026 bisa menjadi momen bersejarah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh sepak bola Pantai Gading.

EDITOR: Banu Adikara