← Beranda
Profil Roberto Lopes, Bintang Tanjung Verde yang Direkrut Lewat LinkedIn dan Kini Tampil di Piala Dunia
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 16 Juni 2026 | 04.52 WIB
Perjalanan inspiratif Roberto Lopes, bek Tanjung Verde, dari pegawai bank menuju Piala Dunia 2026. (ig @leagueofireland)

 

JawaPos.com - Tidak banyak pesepak bola yang bisa mengatakan bahwa karir internasional mereka dimulai dari sebuah pesan di LinkedIn. Namun, itulah kisah luar biasa Roberto Lopes.

Bek berusia 33 tahun yang dijuluki Pico itu kini bersiap tampil bersama Tanjung Verde di Piala Dunia 2026, sebuah perjalanan yang terasa seperti cerita film. Dari seorang pegawai bank di Dublin hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah sepak bola negaranya, Lopes membuktikan bahwa jalan menuju mimpi tidak selalu lurus.

Dari Penasihat Hipotek Menjadi Pesepak Bola Profesional

Melansir BBC, sekitar satu dekade lalu, Lopes masih menjalani kehidupan yang jauh dari gemerlap sepak bola internasional. Ia bekerja sebagai penasihat hipotek di Republik Irlandia sambil bermain secara paruh waktu bersama Bohemians di Liga Irlandia.

Baca Juga: Pemain Timnas Spanyol yang Kurang Disorot Ini Bisa Jadi Kunci Kesuksesan di Piala Dunia 2026

"Saya tidak menikmati pekerjaan itu," kenang Lopes.

Kesempatan besar datang pada 2017 ketika Shamrock Rovers menawarkan kontrak profesional kepadanya. Tawaran itu membuatnya meninggalkan pekerjaan kantoran dan fokus sepenuhnya pada sepak bola.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah hidupnya.

Baca Juga: Gianni Infantino Bikin Kontroversi Lagi, FIFA Ingin Gelar Laga Israel vs Palestina di Turnamen U-15

Direkrut Tanjung Verde Lewat LinkedIn

Kisah semakin menarik pada 2019. Pelatih Tanjung Verde saat itu, Rui Aguas, mengetahui bahwa ayah Lopes, Carlos, berasal dari negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat tersebut.

Alih-alih menghubunginya melalui agen atau federasi sepak bola, Aguas justru mengirim pesan melalui LinkedIn. Masalahnya, pesan itu ditulis dalam bahasa Portugis dan Lopes mengira itu hanya spam.

"Saya kira itu pesan spam dan saya tidak memperhatikannya," kata dia kepada BBC Sport.

Sembilan bulan kemudian, Aguas kembali menghubunginya. "Aku merasa sangat tidak sopan karena tidak membalas pesannya berbulan-bulan sebelumnya," ujar dia.

Setelah menerjemahkan isi pesan menggunakan Google Translate, Lopes baru menyadari bahwa dirinya diajak membela tim nasional Tanjung Verde. "Saya sangat gembira mendengarnya. Saya langsung berpikir, 'Ya, 100 persen saya ingin menjadi bagian dari tim ini," papar dia.

Menjadi Andalan Blue Sharks

Sejak debutnya pada 2019, Lopes berkembang menjadi pemain penting bagi Blue Sharks. Selama tujuh tahun terakhir, ia menjadi salah satu pilar utama yang membantu Tanjung Verde mencapai pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola mereka: lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Baca Juga: David Raya Siap Bersaing Demi Posisi Kiper Utama Timnas Spanyol di Piala Dunia

Dan momen bahagia itu datang hampir bersamaan dengan kebahagiaan lain dalam hidupnya. Beberapa hari setelah memastikan tiket ke Piala Dunia, istrinya, Leah, melahirkan anak pertama mereka, Diego.

"Sejak saya masih kecil, dan saya membayangkan setiap calon pemain sepak bola ketika mereka masih muda, mereka ingin bermain di level tertinggi yang mungkin, dan bagi saya, tidak ada yang lebih tinggi dari Piala Dunia," ujar Lopes.

"Mampu mewakili keluarga saya dengan bermain untuk tim nasional dan mampu mengharumkan nama keluarga kami di salah satu ajang olahraga terbesar di dunia membuat saya sangat bangga," imbuh dia.

Baca Juga: Kaka Percaya Carlo Ancelotti Akan Membalikkan Keadaan Timnas Brasil di Piala Dunia 2026

Bukti Bahwa Mimpi Bisa Datang dari Mana Saja

Roberto Lopes mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pesan yang sempat ia abaikan di LinkedIn akan membawanya menuju Piala Dunia. Dari mantan pegawai bank yang bermain sepak bola paruh waktu, menjadi bek andalan Tanjung Verde di turnamen terbesar dunia, kisah "Pico" adalah salah satu cerita paling unik dan menghangatkan hati di Piala Dunia 2026.

Dan siapa sangka, perjalanan menuju panggung terbesar sepak bola dunia ternyata bisa dimulai dari sebuah notifikasi yang nyaris dianggap spam.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah