← Beranda
Pelatih Tanjung Verde Tegaskan Timnya Tak Gentar Hadapi Timnas Spanyol di Debut Piala Dunia 
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 16 Juni 2026 | 02.29 WIB
Pelatih Tanjung Verde Bubista tegaskan tak takut jalani debut bersejarah di Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. (ig @futafitii) 

 

JawaPos.com - Tanjung Verde siap menorehkan sejarah saat menghadapi timnas Spanyol dalam laga pertama mereka di Piala Dunia 2026. Meski akan berhadapan dengan salah satu favorit juara dan pemegang gelar Euro, pelatih Bubista memastikan timnya tidak datang hanya untuk menjadi pelengkap turnamen.

Jelang pertandingan Tanjung Verde vs Timnas Spanyol di Atlanta pada Senin, Bubista menegaskan, para pemainnya akan tampil dengan penuh keberanian dalam penampilan perdana negara kepulauan Afrika tersebut di panggung sepak bola terbesar, piala dunia.

"Kami ingin menikmati pertandingan-pertandingan ini. Kualifikasi berarti lebih dari sekadar sepak bola, ini adalah pencapaian budaya. Kami ingin menunjukkan negara kami kepada dunia," kata Bubista.

Baca Juga: Gol Maroko ke Gawang Timnas Brasil Disebut Tak Lepas dari Blunder Alisson Becker

Debut Bersejarah Tanjung Verde

Laga melawan Spanyol akan menjadi pertandingan Piala Dunia pertama sepanjang sejarah Tanjung Verde. Sementara itu, lawan mereka datang dengan status juara Eropa dan termasuk salah satu kandidat kuat untuk melangkah jauh di turnamen.

Melansir ESPN, meski perbedaan pengalaman kedua tim sangat mencolok, Bubista menegaskan anak asuhnya tidak akan bermain dengan rasa takut.

"Kami adalah tim yang bermain tanpa rasa takut. Ketika kami berbicara tentang identitas kami, kami berbicara tentang siapa kami sebagai suatu bangsa. Kami menyukai tantangan, karena kami suka mengatasi kesulitan," ujar Bubista.

Baca Juga: FIFA Larang Logo Levi’s Tampil di Stadion selama Piala Dunia 2026, Respons Levi’s di Instagram Tuai Pujian Warganet

"Kami ingin menunjukkan identitas kami sebagai sebuah tim, yang berarti berani saat menguasai bola dalam serangan," imbuh dia.

Bubista mengakui tekanan dan rasa gugup merupakan ancaman yang wajar bagi tim yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia. Namun, pelatih berusia 55 tahun itu menegaskan bahwa Tanjung Verde tidak datang hanya untuk menikmati suasana.

"Kami tahu ini sulit. Kami tahu kualitas Spanyol, dengan beberapa pemain terbaik di dunia. Tapi kami juga akan menciptakan masalah bagi Spanyol, tanpa ragu," ungkap Bubista.

Pernyataan tersebut mencerminkan kepercayaan diri tim yang berhasil lolos ke putaran final dengan mengungguli Kamerun di babak kualifikasi.

Menanggapi Kritik terhadap Format Piala Dunia

Menjelang pertandingan, muncul perdebatan mengenai format Piala Dunia yang diperluas menjadi 48 peserta. Presiden UEFA Aleksander Ceferin dilaporkan menyebut sebagian pertandingan di turnamen ini sama sekali tidak menarik, yang memicu reaksi dari sejumlah federasi sepak bola negara peserta, termasuk Tanjung Verde.

Namun, Bubista memilih untuk melihat kehadiran tim-tim yang lebih kecil sebagai peluang besar bagi perkembangan sepak bola dunia.

Baca Juga: Prediksi Timnas Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Taremi Jadi Andalan, Chris Wood Siap Bikin Kejutan

"Saya belum membaca pernyataan itu. Saya percaya ini adalah kesempatan bagi tim dan negara-negara kecil untuk memiliki peluang, untuk berpartisipasi, untuk bermain, untuk berkompetisi. Kami di sini berdasarkan prestasi," tandas Bubista.

Bagi Bubista, keikutsertaan Tanjung Verde di Piala Dunia memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Turnamen ini menjadi kesempatan bagi negaranya untuk memperkenalkan identitas dan budaya mereka kepada panggung internasional.

Menghadapi Spanyol memang menjadi ujian yang sangat berat. Namun, semangat tanpa rasa takut yang diusung Bubista bisa menjadikan Tanjung Verde sebagai salah satu tim yang menarik perhatian pada Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Timnas Belanda Ditahan Imbang Jepang, Tijjani Reijnders Senang dengan Kerja Sama dengan Ryan Gravenberch

Jika ada satu hal yang ingin ditunjukkan oleh tim berjuluk Blue Sharks tersebut, itu adalah bahwa mereka datang ke Amerika Utara bukan hanya untuk mengisi daftar peserta, melainkan untuk membuktikan bahwa mereka pantas berada di sana.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah