JawaPos.com - Keputusan FIFA menerapkan jeda minum selama tiga menit di setiap babak pertandingan Piala Dunia 2026 menuai kritik dari Juergen Klopp.
Mantan pelatih Liverpool itu mempertanyakan apakah aturan tersebut benar-benar dibuat demi pemain atau justru demi kepentingan komersial.
Pada turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu, para pemain mendapat waktu istirahat sekitar menit ke-22 setiap babak untuk minum dan mendinginkan tubuh, terutama karena beberapa pertandingan berlangsung dalam suhu yang cukup tinggi.
Baca Juga: Bukan Mourinho, Enrique Riquelme Ingin Jurgen Klopp Jadi Pelatih Baru Real Madrid
Namun, melansir Metro Sport, Klopp melihat adanya sisi lain dari kebijakan tersebut.
"Ketika saya melihat para pemain hanya berdiri di sana selama jeda pertandingan karena cuaca panas sementara jeda iklan TV mengatur ritme pertandingan, saya tidak bisa tidak bertanya pada diri sendiri: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari Piala Dunia? Para penggemar? Para pemain? Atau para pengiklan?" kata Klopp kepada stasiun televisi Jerman ZDF.
Pelatih asal Jerman itu bahkan menggunakan analogi yang cukup tajam untuk menggambarkan situasi tersebut.
"Pertandingan Piala Dunia seharusnya mengalir seperti sungai. Sebaliknya, kita membangun bendungan tepat di tengahnya agar iklan bisa lewat."
Baca Juga: Usai Tinggalkan Manchester City, Pep Guardiola Kenang Duel Berat Lawan Juergen Klopp
Klopp juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa sepak bola perlahan kehilangan esensinya.
"Dulu sepak bola adalah acara utama, tetapi sekarang berisiko menjadi musik latar untuk sebuah acara iklan."
Ia menambahkan bahwa sepak bola saat ini semakin dikendalikan oleh kepentingan bisnis.
"Sepak bola sedang disandera oleh para eksekutif yang berdiam di kantor-kantor ber-AC."
Menurut Klopp, jeda tiga menit tersebut tidak lebih dari "sangkar emas yang dibangun untuk sponsor", meskipun banyak pihak memujinya sebagai langkah penting untuk melindungi pemain dari tekanan cuaca ekstrem.
FIFA: Jeda Minum Demi Kesehatan Pemain
Sebelumnya, FIFA menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fisik para pemain selama turnamen.
Dalam pernyataannya, badan sepak bola dunia itu mengatakan:
"Penggunaan jeda minum air merupakan bagian dari upaya terfokus untuk memastikan kondisi terbaik bagi para pemain, dengan mengambil pelajaran dari pengalaman turnamen sebelumnya, termasuk Piala Dunia Antarklub FIFA yang berlangsung di Amerika Serikat musim panas lalu."
Baca Juga: Jurgen Klopp Pernah Puji Andoni Iraola, Kandidat Pengganti Arne Slot di Liverpool
Meski demikian, sejumlah stasiun televisi di Amerika Serikat memanfaatkan jeda tersebut untuk menayangkan tambahan iklan. FOX Sports bahkan sempat mendapat kritik karena menampilkan iklan layar penuh saat pertandingan dihentikan.
Komentator senior Ian Darke sempat menyinggung hal tersebut secara terbuka ketika memandu pertandingan pembuka Piala Dunia.
"Istirahat minum ini didukung oleh Powerade."
Mauricio Pochettino Juga Tidak Setuju
Pelatih timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, ternyata memiliki pandangan yang hampir serupa dengan Klopp. Menurut mantan pelatih Tottenham dan Chelsea itu, jeda pertandingan hanya diperlukan jika kondisi cuaca benar-benar ekstrem.
"Saya tidak menyukainya," ujar Pochettino.
"Saya hanya menyukainya ketika kondisinya ekstrem. Tetapi ketika kondisinya baik, itu tidak perlu."
Di sisi lain, penyiar televisi justru melihat Piala Dunia 2026 sebagai peluang bisnis yang sangat besar. Direktur komersial ITV, Kelly Williams, bahkan menyebut turnamen ini sebagai momen paling menguntungkan dalam sejarah mereka.
"Ini akan menjadi turnamen kami yang paling sukses secara komersial."
"Ini bukan hanya satu pertandingan, tetapi enam minggu dengan jumlah penonton TV yang sangat besar. Ini pada dasarnya adalah momen Super Bowl musim panas kami selama enam minggu."
Perdebatan mengenai jeda minum kemungkinan masih akan terus berlanjut sepanjang turnamen. Di satu sisi, FIFA menekankan aspek kesehatan pemain, tetapi di sisi lain, kritik seperti yang disampaikan Klopp memunculkan pertanyaan apakah sepak bola modern mulai terlalu tunduk pada kepentingan komersial.