JawaPos.com - Bagi Raul Jimenez, malam di Stadion Azteca pada laga pembuka Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan biasa. Itu adalah momen yang telah ia impikan sepanjang hidupnya, sekaligus sebuah pencapaian yang beberapa tahun lalu terasa hampir mustahil.
Striker berusia 35 tahun itu menjadi salah satu pahlawan kemenangan Meksiko 2-0 atas Afrika Selatan setelah mencetak gol kedua negaranya di depan sekitar 80 ribu pendukung yang memadati Stadion Azteca.
Gol tersebut lahir dari sundulan tajam yang memanfaatkan umpan Roberto Alvarado dari sisi kanan. Selepas bola bersarang di gawang, Jiménez melompat kegirangan sebelum menunjuk ke langit, sebuah gestur yang diyakini sebagai penghormatan untuk sang ayah, Raúl Jiménez Vega, yang meninggal dunia pada Maret lalu.
Di tengah euforia para pendukung dan rekan-rekan setim yang mengerubunginya, emosi akhirnya mengambil alih. Jiménez tak kuasa menahan air mata ketika menyadari arti besar dari momen tersebut.
"Kami benar-benar mengucapkan selamat kepadanya karena dia memberikan banyak kontribusi kepada tim," kata Julián Quiñones, pencetak gol pertama Meksiko dalam pertandingan tersebut.
"Menjadi bagian dari sebuah tim adalah kebanggaan kami dan sungguh luar biasa dia terus menambah gol dalam kariernya sebagai pemain di tim nasional kami."
Gol itu merupakan gol internasional ke-46 Jiménez dalam 125 penampilan bersama Meksiko. Catatan tersebut membuatnya menyamai jumlah gol Jared Borgetti dan hanya terpaut enam gol dari Javier Hernández, yang masih memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa El Tri.
Menariknya, pertandingan melawan Afrika Selatan juga menjadi kali pertama Jiménez tampil sebagai starter di putaran final Piala Dunia. Sebelumnya, ia enam kali masuk dari bangku cadangan dalam tiga edisi Piala Dunia berbeda.
Ia pun memastikan malam bersejarah itu berakhir sempurna dengan membawa Meksiko mengamankan tiga poin pertama di turnamen.
Melansir BBC, mantan bek Inggris Gary Neville bahkan menyebut momen tersebut sebagai salah satu puncak terbesar dalam kehidupan Jiménez.
"Itu kemungkinan akan menjadi momen terhebat dalam hidupnya dari perspektif sepak bola, mencetak gol di depan 80.000 penonton di stadion itu, di negara asalnya. Ini adalah momen yang luar biasa baginya."
Sementara Ian Wright menambahkan.
"Itu sangat emosional bagi Raul Jimenez. Jika itu saya, saya mungkin akan merasakan hal yang sama."
"Yang menarik adalah ketika dia mencetak gol dan berlari keluar lapangan, Anda bisa melihat kesadarannya, dan di situlah emosi muncul."
Baca Juga: Meksiko vs Afrika Selatan Diwarnai 3 Kartu Merah, Apakah Aturan Piala Dunia 2026 Makin Ketat?
Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Sebelum menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di Liga Primer, Jiménez telah membangun karier bersama Club América, Atletico Madrid, dan Benfica.
Namanya semakin bersinar setelah bergabung dengan Wolverhampton Wanderers pada musim 2018-19. Setelah tampil impresif selama masa peminjaman, Wolves mempermanenkan statusnya dengan nilai transfer sekitar 30 juta poundsterling, yang saat itu menjadi rekor klub.
Namun, semuanya berubah pada 29 November 2020.
Dalam pertandingan melawan Arsenal, Jiménez mengalami benturan kepala hebat dengan David Luiz. Insiden tersebut membuatnya tak sadarkan diri dan mengalami retak tengkorak yang mengancam nyawanya.
Momen itu menjadi salah satu kejadian paling mengerikan yang pernah terjadi di Liga Primer.
Pemulihannya berlangsung panjang dan penuh tantangan. Ia baru kembali bermain delapan bulan kemudian dan membutuhkan waktu untuk menemukan kembali ketajamannya.
Setelah membela Fulham selama tiga musim, Jiménez akhirnya memastikan kepulangannya ke Wolves pada awal pekan ini.
Baca Juga: Rating Pemain Meksiko vs Afrika Selatan: El Tri Patahkan Kutukan Laga Pembuka Piala Dunia!
Sosok Rendah Hati yang Dicintai Banyak Orang
Edu Rubio, mantan asisten pelatih Wolves, mengaku sangat bahagia melihat mantan anak asuhnya akhirnya bisa mencetak gol di Piala Dunia.
"Itu akan sangat berarti baginya," kata Rubio.
"Dia sangat bangga bermain untuk negaranya dan mencintai negaranya."
"Dia mengenakan nomor sembilan, negaranya adalah negara tuan rumah Piala Dunia ini, jadi semua elemen sudah ada untuknya."
"Ini pertandingan pertama, dengan penonton yang banyak, jadi ini akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan bagi dia dan keluarganya."
Rubio juga menilai Jiménez pantas mendapatkan momen istimewa tersebut setelah perjuangan panjang yang ia lalui.
"Setelah cedera kepala, butuh sedikit waktu untuk kembali berkarier."
"Bukan hanya masalah medis, tetapi juga apakah dia akan tetap menjadi pencetak gol yang mematikan? Dedikasinya luar biasa, dia pria yang baik, keluarganya cantik dan sangat mendukung, dan itu telah membantunya."
"Dia adalah sosok yang sangat mementingkan keluarga. Dia pemain besar tetapi tidak pernah bertindak seperti itu dan dia sangat rendah hati, dan saya sangat senang untuknya."
"Itu adalah cedera yang mengancam jiwa dan saya merasa takut untuknya. Saat itu dia sedang dalam performa terbaik, dia berada di puncak kariernya dan itu sangat sulit."
Meski masih harus mengenakan ikat kepala khusus untuk melindungi dirinya dari risiko cedera lanjutan, Jiménez berhasil membuktikan bahwa dirinya belum habis.
"Karena mengenalnya, saya bisa mengerti mengapa dia mampu kembali ke lapangan [setelah cedera] dan kembali ke performa terbaiknya," tambah Rubio.
"Dia seorang petarung. Saya bekerja dengannya di tahun terakhirnya di Wolves. Ada keraguan, bahkan dari dirinya sendiri, bahwa dia akan mampu kembali ke performa terbaiknya dan tahun terakhirnya di Wolves merupakan tahun yang penuh tantangan baginya."
"Namun, secara pribadi saya tidak ragu sedikit pun, saya selalu yakin dia akan kembali berprestasi. Saya telah bekerja dengan banyak profesional papan atas dan Anda dapat melihat bahwa dia memiliki ketahanan dan keluarga yang luar biasa yang mendukungnya."
"Semua orang di sana [di Wolves] menyukainya, seluruh klub ingin dia sukses dan seluruh klub mendukungnya untuk kembali, jadi ini sangat emosional, bukan hanya karena kariernya, tetapi juga karena dia adalah sosok yang sangat penyayang."
"Dia sangat terikat dengan klub, kota, dan keluarganya merasa tempat itu seperti rumah mereka sendiri, itulah sebabnya saya rasa mereka akan senang bisa kembali ke sana."
Kini, setelah berhasil melewati salah satu ujian terberat dalam hidupnya, Raúl Jiménez masih memiliki kesempatan untuk menambah kisah indahnya di Piala Dunia 2026.