JawaPos.com — Piala Dunia 1970 di Meksiko bukan sekadar panggung kejayaan Brasil meraih gelar dunia ketiga. Bagi legenda Brasil Roberto Rivellino, turnamen itu menyimpan cerita unik tentang dukungan rakyat Meksiko, keajaiban Pele, hingga momen tak terlupakan saat suporter menyerbu lapangan dan memasangkan sombrero khas Meksiko di kepala sang Raja Sepak Bola.
Turnamen yang digelar di Meksiko itu dikenang sebagai salah satu edisi terbaik dalam sejarah sepak bola.
Brasil tampil sempurna dengan memenangi seluruh enam pertandingan yang mereka jalani sebelum akhirnya menghancurkan Italia 4-1 pada partai final di Stadion Azteca yang dipadati sekitar 100 ribu penonton.
Bagaimana Brasil Menjadi Tim Kesayangan Publik Meksiko?
Menurut Rivellino, hubungan spesial antara tim Brasil dan masyarakat Meksiko sudah terjalin jauh sebelum laga final dimainkan.
Selama turnamen berlangsung, Brasil bermarkas di Guadalajara dan terus bertahan di kota tersebut karena selalu menang di setiap pertandingan.
“Kami memiliki pengalaman luar biasa di Meksiko pada 1970 karena kami tinggal di Guadalajara hingga berangkat untuk memainkan final. Kami terus menang dan menang, jadi kami tetap berada di kota yang sama sepanjang turnamen. Itu membuat semuanya sangat spesial,” kenang Rivellino dikutip dari laman FIFA, Selasa (9/6/2026).
Kedekatan itu semakin kuat setelah tim tuan rumah Meksiko tersingkir di babak perempat final.
Alih-alih kehilangan antusiasme, publik Meksiko justru mengalihkan dukungan mereka kepada Brasil yang saat itu menampilkan permainan menyerang dan atraktif.
“Ketika Meksiko tersingkir dari Piala Dunia, masyarakat Meksiko merangkul tim Brasil. Itu karena cara kami bermain, keajaiban sepak bola kami, dan semua hal lainnya. Mereka benar-benar mendukung kami. Itulah mengapa semuanya menjadi sebuah pertunjukan yang luar biasa,” ujar Rivellino.
Dukungan tersebut menjadi suntikan motivasi tambahan bagi skuad Brasil yang diperkuat Pele, Tostao, Gerson, Jairzinho, dan Rivellino. Kombinasi para bintang itu menghasilkan salah satu tim terbaik yang pernah tampil di ajang Piala Dunia.
Baca Juga: 5 Pemain Sorotan di Grup L Piala Dunia 2026: Ketajaman Harry Kane Hingga Last Dance Luka Modric
Mengapa Rivellino Menilai Final Melawan Italia Justru yang Paling Mudah?
Pernyataan Rivellino mungkin terdengar mengejutkan.
Meski Italia datang sebagai salah satu kekuatan terbesar dunia, mantan gelandang kreatif itu justru menganggap partai final sebagai pertandingan paling tenang sepanjang perjalanan Brasil di turnamen.
Menurutnya, performa Brasil meningkat dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Kepercayaan diri yang terus bertambah membuat para pemain merasa hampir tidak mungkin dikalahkan.
“Di setiap pertandingan, Brasil bermain semakin baik. Bahkan jika masih ada dua atau tiga pertandingan lagi, saya tidak berpikir ada yang bisa mengalahkan tim itu. Kami berkembang di setiap laga. Ditambah lagi, kami memiliki Raja Pele di pihak kami. Siapa yang tidak ingin menyaksikan itu?” katanya.
Pada final yang berlangsung di Stadion Azteca, Pele membuka keunggulan Brasil sebelum Roberto Boninsegna menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Namun setelah jeda, Brasil menunjukkan kelasnya.
Gol dari Gerson, Jairzinho, dan Carlos Alberto memastikan kemenangan telak 4-1 sekaligus mengantar Brasil mengangkat trofi Jules Rimet untuk ketiga kalinya. Rivellino bahkan merasa timnya bisa mencetak lebih banyak gol.
“Percaya atau tidak, pertandingan yang paling tenang dan paling mudah adalah final melawan Italia. Anda mendengarnya dan berpikir, ‘Bagaimana mungkin?’ Saya merasa kami bisa mencetak lima gol,” ungkapnya.
Ia juga mengingat satu momen ketika dirinya dijatuhkan pemain Italia di kotak penalti saat skor sudah 4-1. Namun wasit tidak memberikan hadiah penalti kepada Brasil.
Baca Juga: 5 Pemain Sorotan Grup K Piala Dunia 2026: Ronaldo Hingga Vitinha Sang Maestro
Apa yang Terjadi Setelah Peluit Akhir Dibunyikan?
Jika saat ini keamanan stadion sangat ketat, suasana sepak bola pada era 1970-an jauh berbeda.
Setelah peluit panjang berbunyi, ribuan pendukung langsung masuk ke lapangan untuk merayakan kemenangan Brasil bersama para pemain.
Momen itulah yang paling membekas dalam ingatan Rivellino. Stadion Azteca berubah menjadi lautan manusia yang dipenuhi kegembiraan, pelukan, dan euforia tanpa batas.
“Jika Anda ingat final itu, pertandingan berakhir dan para penggemar Meksiko menginvasi lapangan. Mereka memasangkan sombrero Meksiko di kepala Pele. Itu gila, benar-benar gila!” kenangnya sambil tertawa.
Baca Juga: 5 Pemain Penting Grup H Piala Dunia 2026: Lamine Yamal hingga Federico Valverde
Tidak hanya Pele yang menjadi pusat perhatian.
Rekan setimnya, Tostao, bahkan hampir kehilangan seluruh atribut pertandingan karena begitu banyak suporter yang berusaha mendekat dan merayakan kemenangan bersama para pemain Brasil.
“Sekarang situasinya tidak seperti itu lagi. Tetapi pada masa itu orang-orang bisa masuk ke lapangan. Tostao hampir tinggal mengenakan pakaian dalam. Itu benar-benar luar biasa,” tambahnya.
Foto Pele mengenakan sombrero Meksiko kemudian menjadi salah satu simbol ikonik yang merepresentasikan hubungan hangat antara Brasil dan masyarakat Meksiko pada Piala Dunia 1970.
Mengapa Rivellino Tak Sabar Kembali ke Stadion Azteca?
Hampir 56 tahun berlalu sejak malam bersejarah tersebut. Kini, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di kawasan Amerika Utara kembali membangkitkan kenangan lama Rivellino terhadap Meksiko.
Legenda yang dikenal memiliki tendangan kaki kiri mematikan dengan julukan Patada Atomica atau Tendangan Atom itu dijadwalkan hadir pada pertandingan pembukaan Piala Dunia 2026.
Kesempatan tersebut menjadi sangat spesial karena memberinya peluang untuk kembali menginjak stadion yang mengabadikan generasinya dalam sejarah sepak bola dunia.
Meski beberapa kali kembali ke Meksiko untuk menerima penghargaan, termasuk masuk Hall of Fame Sepak Bola Pachuca pada 2018 bersama Cafu, Rivellino mengaku belum pernah lagi mengunjungi lapangan tempat Brasil menjuarai dunia pada 1970.
Mantan gelandang tersebut bahkan pernah menerima salah satu kunci simbolis Kota Meksiko sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan Brasil yang menorehkan sejarah di negara itu.
“Ini akan menjadi momen yang luar biasa. Setelah hampir 56 tahun, saya tidak sabar untuk kembali menginjakkan kaki di sana lagi. Saya benar-benar tidak sabar,” tuturnya.
Bagi Rivellino, Stadion Azteca bukan hanya arena sepak bola.
Tempat itu menjadi saksi lahirnya salah satu tim terbaik sepanjang masa, kejayaan Pele, serta momen unik ketika ribuan warga Meksiko merayakan kemenangan Brasil seolah itu adalah kemenangan mereka sendiri.