← Beranda
Final Piala Dunia 1986: Saat Maradona Mengubah Sejarah Argentina Hanya dengan Satu Umpan
Andre Rizal HanafiSenin, 8 Juni 2026 | 15.40 WIB
Legenda sepak bola dunia Maradona bawa Timas Argentina raih tropi Piala Dunia 1986. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Final Piala Dunia 1986 antara Argentina dan Jerman Barat masih dikenang sebagai salah satu laga paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Pertandingan yang digelar di Stadion Azteca, Meksiko, itu menghadirkan hampir semua elemen yang membuat sepak bola dicintai yaitu gol, comeback, tekanan, pengorbanan, hingga momen kejeniusan yang menentukan hasil akhir.

Argentina datang ke partai puncak dengan status favorit berkat performa luar biasa Diego Maradona sepanjang turnamen. Namun, di laga final, sang kapten tidak mendapatkan kebebasan seperti biasanya. Gelandang Jerman Barat Lothar Matthaus, menjalankan tugas khusus untuk mengawal Maradona ke mana pun dia bergerak.

Sepanjang pertandingan, strategi tersebut cukup berhasil. Maradona tidak banyak menciptakan aksi individu yang menjadi ciri khasnya.

Baca Juga: Dari Pemain Pinjaman Jadi Legenda Ruang Ganti, Kisah Unik Scott Carson di Mancgester City

Meski demikian, Argentina tetap mampu membuka keunggulan pada menit ke-23 melalui Jose Luis Brown. Gol tersebut menjadi lebih istimewa karena Brown sebenarnya bermain dalam kondisi tidak ideal.

Bek tengah Argentina itu mengalami cedera bahu, tetapi tetap bertahan di lapangan demi membantu timnya meraih gelar juara dunia. Bertahun-tahun kemudian, Brown bahkan pernah mengatakan bahwa dirinya rela kehilangan satu lengan jika itu berarti bisa membawa Argentina menjadi juara.

Keunggulan Argentina bertambah pada menit ke-56 melalui Jorge Valdano. Saat skor berubah menjadi 2-0, banyak pihak mulai yakin trofi Piala Dunia akan segera menjadi milik Albiceleste.

Baca Juga: Cerita di Balik Bromance Lamine Yamal dan Nico Williams, Duo Maut Spanyol di Euro 2024

Namun, Jerman Barat belum menyerah. Tim asuhan Franz Beckenbauer menunjukkan karakter luar biasa dengan bangkit pada fase akhir pertandingan.

Karl-Heinz Rummenigge memperkecil ketertinggalan pada menit ke-74 sebelum Rudi Voller menyamakan kedudukan menjadi 2-2 tujuh menit kemudian.

Dalam sekejap, suasana pertandingan berubah total. Pendukung Jerman Barat kembali percaya, sementara publik Argentina dibuat cemas melihat keunggulan yang sebelumnya terlihat aman menghilang begitu saja.

Ketika laga tampak akan memasuki babak tambahan, momen yang menentukan sejarah akhirnya datang. Pada menit ke-84, Maradona yang sepanjang pertandingan dijaga ketat hanya membutuhkan satu sentuhan brilian untuk membuat perbedaan.

Melihat celah di pertahanan lawan, dia melepaskan umpan terukur yang membelah lini belakang Jerman Barat dan menemukan Jorge Burruchaga yang berlari dari sisi kanan. Burruchaga menyelesaikan peluang tersebut dengan tenang dan membawa Argentina kembali unggul 3-2.

Gol itu menjadi pukulan telak bagi Jerman Barat yang sebelumnya menyamakan kedudukan. Hingga peluit panjang berbunyi, skor tidak berubah. Argentina resmi menjadi juara dunia untuk kedua kalinya setelah sebelumnya meraih gelar pertama pada 1978.

Baca Juga: Bukan Ronaldo, Trio Gelandang Ini Jadi Kunci Timnas Portugal dalam Meraih Gelar Juara Piala Dunia 2026

Final Piala Dunia 1986 tidak hanya dikenang karena kemenangan Argentina, tetapi juga karena kisah yang menyertainya. Ada pengorbanan Brown yang bermain dengan cedera, kebangkitan luar biasa Jerman Barat, dan tentu saja sentuhan magis Maradona yang tidak membutuhkan banyak peluang untuk menentukan nasib sebuah pertandingan.

Delapan tahun setelah bintang pertama lahir di Buenos Aires, Maradona membawa Argentina menambahkan bintang kedua. Sebuah malam bersejarah yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan para pecinta sepak bola dunia.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah