← Beranda
Prediksi Tunisia di Piala Dunia 2026: Diremehkan di Grup Neraka! Elang Kartago Tetap Datang dengan Mental Baja
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 22 Mei 2026 | 23.40 WIB
Pemain Tunisia merayakan kemenangan saat kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan rekor tanpa kebobolan. (Instagram/@ftf.tn)

 

JawaPos.com — Timnas Tunisia datang ke Piala Dunia 2026 dengan status underdog di Grup F yang dihuni Swedia, Jepang, dan Belanda. Meski jadi tim dengan ranking FIFA terendah di grup tersebut, Eagles of Carthage tetap percaya diri memberi kejutan dan memburu sejarah lolos pertama ke fase gugur.

Tunisia akan memainkan dua laga awal di Meksiko melawan Swedia dan Jepang sebelum menghadapi Belanda di Kansas City, Amerika Serikat.

Format baru Piala Dunia yang membuka peluang lebih besar ke fase knockout membuat asa Tunisia tetap hidup meski tantangannya sangat berat.

Baca Juga: Skuad Tunisia Piala Dunia 2026 Resmi Dirilis, Sabri Lamouchi Siap Tantang Belanda

Sepanjang sejarah, Tunisia sudah tampil tujuh kali di Piala Dunia termasuk edisi 2026. Namun dari enam partisipasi sebelumnya, mereka belum pernah sekalipun lolos dari fase grup.

Rekor Kualifikasi Nyaris Sempurna Jadi Modal Besar

Tunisia lolos ke Piala Dunia 2026 dengan performa impresif sepanjang babak kualifikasi zona Afrika. Mereka mencatat sembilan kemenangan, satu hasil imbang, tanpa kekalahan, serta hanya kebobolan nol gol dari 10 pertandingan.

Baca Juga: Adik Legenda Jerman Sami Khedira, Rani Khedira Resmi Perkuat Tunisia di Piala Dunia 2026

Produktivitas memang belum terlalu meledak karena Tunisia hanya mencetak 22 gol selama kualifikasi. Namun kekuatan utama mereka terlihat jelas dari organisasi pertahanan yang disiplin dan sulit ditembus lawan.

Empat kemenangan Tunisia bahkan baru dipastikan pada 10 menit akhir pertandingan.

Situasi itu menunjukkan mentalitas kuat sekaligus memperlihatkan masalah klasik mereka dalam membongkar pertahanan lawan sejak awal laga.

Mohamed Ali Ben Romdhane menjadi top skor Tunisia di kualifikasi dengan empat gol. Sementara Ali Abdi dan Naïm Sliti sama-sama menyumbang tiga assist.

Sabri Lamouchi Datang Membawa Perubahan

Federasi Tunisia menunjuk Sabri Lamouchi sebagai pelatih baru sejak Januari 2026 setelah kegagalan di Piala Afrika. Eks pelatih Pantai Gading pada Piala Dunia 2014 itu kembali ke sepak bola internasional setelah 12 tahun.

Penunjukan Lamouchi cukup menarik karena ia lahir di Prancis tetapi memiliki darah Tunisia dari orang tuanya. Sebelum ini, ia belum pernah bermain maupun melatih langsung di Tunisia.

Lamouchi langsung membuat kejutan saat pemanggilan pemain Maret lalu. Sejumlah nama senior tidak dipanggil, sementara beberapa wajah baru mendapat kesempatan demi mencari komposisi terbaik menuju Piala Dunia.

Baca Juga: Liga Tunisia Tuai Sorotan: Jadwal Pertandingan Justru Digelar Siang Hari Selama Ramadan

“Saya berharap Ferjani Sassi siap untuk Piala Dunia. Tapi saya akan menyusun daftar final demi kepentingan tim nasional,” kata Lamouchi kepada wartawan.

Keputusan itu memunculkan tanda tanya besar di kalangan suporter Tunisia. Namun Lamouchi tampak ingin membangun skuad yang lebih segar dan kompetitif meski waktunya cukup mepet.

Bertahan Total dan Mengandalkan Serangan Balik

Tunisia diprediksi tetap memakai formasi dasar 4-3-3 atau 4-2-3-1 sepanjang Piala Dunia 2026. Gaya bermain mereka sangat identik dengan pertahanan rapat dan serangan balik cepat.

Melawan lawan yang lebih kuat seperti Belanda atau Jepang, Tunisia kemungkinan membiarkan penguasaan bola dikuasai lawan. Fokus utama mereka ialah menutup ruang dan menjaga area penalti tetap aman.

Baca Juga: Nigeria Menang Dramatis 3-2 atas Tunisia, Pelatih Eric Chelle Dapat Kritik Tajam!

Kelebihan Tunisia ada pada organisasi permainan dan efektivitas bola mati. Namun kreativitas serta ketajaman lini depan masih menjadi kelemahan paling nyata.

Statistik juga memperlihatkan masalah tersebut sangat serius. Sepanjang tahun 2026, Tunisia belum pernah mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan.

Kondisi itu membuat mereka wajib mencetak gol lebih dulu jika ingin meraih poin. Sebab ketika tertinggal, Tunisia tidak memiliki daya ledak ofensif yang cukup untuk membalikkan keadaan.

Elias Achouri Jadi Harapan Utama Tunisia

Nama yang paling diharapkan bersinar di Piala Dunia nanti adalah Elias Achouri. Winger FC Copenhagen itu dikenal cepat, kuat, dan nyaman memakai kedua kaki.

Dalam dua setengah musim terakhir bersama klub Denmark tersebut, Achouri menghasilkan total 37 kontribusi gol dan assist. Kreativitasnya akan sangat dibutuhkan Tunisia saat menghadapi pertahanan disiplin lawan-lawan Grup F.

Selain Achouri, perhatian juga tertuju kepada Ismaël Gharbi. Gelandang jebolan akademi Paris Saint-Germain itu punya kemampuan dribel dan umpan progresif yang sangat baik.

Baca Juga: Elias Achouri Tampil Gemilang, Tunisia Tutup Laga dengan Kemenangan 3-1 atas Uganda

Meski bertubuh tidak terlalu tinggi, Gharbi dinilai mampu memberi dimensi berbeda di lini tengah Tunisia. Musim 2025/2026 menjadi ajang pembuktian penting baginya setelah dipinjamkan Braga.

Sementara itu, Hannibal Mejbri diprediksi menjadi motor permainan di belakang striker. Pemain yang pernah memperkuat Manchester United tersebut diharapkan memberi kreativitas tambahan yang selama ini minim dimiliki Tunisia.

Jadwal Berat Menentukan Nasib Tunisia

Tunisia langsung menghadapi ujian berat pada laga pertama melawan Swedia di Estadio BBVA, Minggu 14 Juni 2026. Pertandingan itu sangat penting karena hasil positif bisa membuka peluang lolos lebih besar.

Enam hari kemudian, Tunisia menghadapi Jepang di stadion yang sama. Jepang dikenal memiliki permainan cepat dan teknik tinggi yang bisa merepotkan lini pertahanan Tunisia.

Laga terakhir fase grup melawan Belanda kemungkinan menjadi pertandingan paling sulit. Duel itu digelar di Arrowhead Stadium, Kansas City, pada 25 Juni 2026.

Jika mampu mengumpulkan empat poin seperti pada Piala Dunia 2022, Tunisia punya peluang besar lolos ke babak berikutnya lewat format baru turnamen.

Namun melihat kekuatan lawan di Grup F, target tersebut tetap terasa sangat berat.

Suporter Tunisia Siap Menghidupkan Atmosfer Stadion

Dukungan suporter Tunisia dipastikan tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar tim ini di Piala Dunia. Warna merah putih dan budaya ultras khas sepak bola Tunisia selalu menciptakan atmosfer luar biasa.

Pada FIFA Club World Cup musim panas lalu, fans Espérance de Tunis bahkan disebut sebagai salah satu kelompok suporter terbaik turnamen.

Mereka memenuhi jalanan kota Philadelphia dengan nyanyian dan koreografi khas Afrika Utara.

Tantangan terbesar justru ada pada laga di Amerika Serikat. Tunisia masuk daftar negara yang mewajibkan warganya membayar deposit visa wisata sebesar USD 15 ribu.

Meski begitu, semangat para pendukung Tunisia diyakini tidak akan surut. Mereka tetap berharap Eagles of Carthage akhirnya mampu memecahkan kutukan fase grup yang sudah berlangsung selama 48 tahun.

EDITOR: Edi Yulianto