JawaPos.com - Kegagalan Timnas Argentina di Piala Dunia 2018 masih menjadi salah satu cerita paling mengecewakan dalam sejarah Albiceleste.
Datang ke Rusia dengan status unggulan dan diperkuat Lionel Messi, Argentina justru tampil inkonsisten sejak fase grup hingga akhirnya tersingkir di babak 16 besar usai kalah 3-4 dari Prancis yang kemudian keluar sebagai juara dunia.
Namun yang menarik, di balik sosok pelatih kepala Jorge Sampaoli saat itu, terdapat deretan staf pelatih dengan kualitas mumpuni.
Nama-nama seperti Lionel Scaloni, Sebastian Beccacece hingga pelatih kiper Martin Tocalli menjadi bagian penting dalam tim kepelatihan Argentina.
Baca Juga: Prediksi Turki di Piala Dunia 2026: Bukan Sekadar Pelengkap, Bulan Sabit Siap Bikin Geger!
Banyak pihak mempertanyakan mengapa skuad dengan jajaran staf berkualitas justru gagal total di Rusia. Salah satu dugaan yang terus muncul adalah gaya kepelatihan Sampaoli yang dianggap terlalu dominan sehingga ide-ide dari para asistennya tak berjalan maksimal.
Selepas Piala Dunia 2018, jalan karier mereka pun berubah drastis. Lionel Scaloni yang semula hanya dianggap pelatih sementara justru sukses membawa Argentina memasuki era emas baru.
Di bawah kepemimpinannya, Albiceleste berhasil meraih dua gelar Copa America dan satu trofi Piala Dunia.
Baca Juga: Prediksi Cape Verde di Grup H Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Debutan
Sementara itu, Sebastian Beccacece memilih membangun karier bersama Timnas Ekuador sejak 2024.
Perlahan namun pasti, pelatih berambut gondrong tersebut mampu mengubah La Tri menjadi salah satu kekuatan paling konsisten di zona CONMEBOL.
Ekuador kini berada di papan atas klasemen kualifikasi Piala Dunia 2026 dan terus membayangi Argentina milik Scaloni.
Performa mereka bahkan menjadi sorotan karena mampu tampil disiplin serta sulit dikalahkan tim-tim besar Amerika Selatan.
Sentuhan taktik Beccacece terlihat jelas dalam pola permainan Ekuador. Pergantian strategi yang fleksibel, pressing agresif, hingga organisasi pertahanan yang rapi membuat La Tri tampil berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Hasilnya pun cukup mengesankan. Dari 18 pertandingan bersama Ekuador, Beccacece baru menelan satu kekalahan dan sukses mencatatkan 12 clean sheet.
Tim-tim kuat seperti Kolombia, Uruguay, Maroko hingga Argentina gagal menumbangkan skuad asuhannya.
Kehadiran pemain-pemain muda seperti Willian Pacho semakin memperkuat fondasi Ekuador menuju Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Prediksi Australia di Piala Dunia 2026: Socceroos yang Teguh Siap Melampaui Harapan!
Jika mampu menjaga konsistensi, La Tri berpotensi menjadi salah satu kuda hitam paling berbahaya di turnamen nanti.
Kini publik mulai melihat bahwa kegagalan Argentina di 2018 bukan semata soal kualitas staf pelatih. Bisa jadi, masalah utamanya memang terletak pada bagaimana seluruh potensi hebat di ruang ganti saat itu tidak mampu berjalan dalam satu arah.Tagging: PialaDunia2026