JawaPos.com — Turki datang ke Piala Dunia 2026 dengan status kuda hitam berbahaya setelah lolos lewat playoff UEFA dan masuk grup bersama Amerika Serikat, Paraguay, serta Australia. Dipimpin Vincenzo Montella, tim berjuluk Crescent-Stars itu membawa kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda seperti Arda Güler serta Kenan Yıldız untuk memburu tiket fase gugur.
Turki memang bukan langganan Piala Dunia, tetapi sejarah mereka selalu meninggalkan cerita unik.
Setelah hanya tampil pada 1954 dan finis ketiga pada edisi 2002 di Jepang-Korea Selatan, kini mereka kembali mencoba membuktikan diri di panggung terbesar sepak bola dunia.
Baca Juga: Prediksi Cape Verde di Grup H Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Debutan
Mengapa Turki Disebut Kuda Hitam Berbahaya?
Turki lolos ke Piala Dunia 2026 dengan catatan impresif enam kemenangan, sekali imbang, dan sekali kalah sepanjang kualifikasi serta playoff.
Mereka mencetak 19 gol dan kebobolan 12 kali, dengan Kenan Yıldız dan Kerem Aktürkoğlu menjadi top skor tim lewat torehan tiga gol.
Satu-satunya kekalahan Turki terjadi saat dihajar Spanyol 0-6 di kandang sendiri pada fase grup.
Namun, respons mereka sangat positif karena mampu menahan Spanyol pada pertemuan kedua lalu menyapu bersih kemenangan melawan Georgia dan Bulgaria.
Di babak playoff, Turki menang tipis 1-0 atas Rumania dan Kosovo. Meski skor terlihat ketat, dominasi permainan mereka sebenarnya cukup jelas karena lawan kesulitan menciptakan peluang berbahaya.
Kekuatan terbesar Turki ada pada keseimbangan permainan. Mereka disiplin saat bertahan, tetapi tetap nyaman menguasai bola ketika menyerang.
Vincenzo Montella Membawa Identitas Baru
Vincenzo Montella menjadi sosok penting di balik kebangkitan Turki sejak ditunjuk pada 2023.
Mantan pelatih klub-klub Italia seperti AC Milan, Fiorentina, dan Sampdoria itu sukses mengantar Turki kembali ke Piala Dunia setelah penantian 24 tahun.
Montella juga membawa Turki promosi ke UEFA Nations League A. Persentase kemenangan mendekati 60 persen menunjukkan sentuhan taktiknya langsung terasa di ruang ganti Crescent-Stars.
Pelatih asal Italia itu memakai pola 4-2-3-1 yang fleksibel dan berbasis penguasaan bola.
Ketika bertahan, Turki bermain rapat dan agresif menutup ruang, sedangkan saat menyerang mereka tampil kreatif lewat kombinasi pemain muda dan senior.
Hakan Çalhanoğlu menjadi pusat permainan dari lini tengah. Gelandang senior itu bertugas mengatur tempo sekaligus membuka ruang untuk Arda Güler dan Kenan Yıldız di lini depan.
Montella juga mampu membuat pemain bekerja kolektif tanpa bola. Hampir seluruh pemain aktif membantu pertahanan ketika kehilangan penguasaan.
Baca Juga: Prediksi Australia di Piala Dunia 2026: Socceroos yang Teguh Siap Melampaui Harapan!
Arda Güler dan Kenan Yıldız Jadi Senjata Utama
Nama Arda Güler menjadi pusat perhatian menjelang Piala Dunia 2026. Di usia 21 tahun, dia sudah dianggap sebagai otak permainan Turki berkat kreativitas, visi umpan, dan kemampuan mencetak gol dari luar kotak penalti.
Arda Güler juga menjadi pemimpin assist Turki sepanjang kualifikasi dengan empat assist bersama Çalhanoğlu. Kemampuannya bermain di tengah maupun sisi lapangan membuat Montella memiliki banyak opsi menyerang.
Selain Arda Güler, Kenan Yıldız juga diprediksi menjadi ancaman besar bagi lawan-lawan Turki. Penyerang muda itu tampil tajam selama kualifikasi dan punya kemampuan duel satu lawan satu yang sulit dihentikan.
Nama lain yang patut diperhatikan ialah Barış Alper Yılmaz. Penampilannya mungkin belum terlalu disorot secara global, tetapi kontribusinya di level klub membuat banyak pengamat yakin reputasinya bakal melonjak di Piala Dunia 2026.
Turki juga memiliki lini belakang cukup solid lewat Merih Demiral dan Abdülkerim Bardakcı. Di bawah mistar, Uğurcan Çakır menjadi pilihan utama yang tampil konsisten sepanjang fase kualifikasi.
Baca Juga: Kejutan Lionel Scaloni di Skuad Argentina Piala Dunia 2026! Buendia dan Soule Berpeluang Dipanggil
Jadwal Grup Turki Tidak Mustahil Ditaklukkan
Turki mendapat grup yang relatif bersahabat dibanding beberapa negara Eropa lain. Mereka akan menghadapi Australia pada 13 Juni di BC Place sebelum bertemu Paraguay di Levi’s Stadium pada 19 Juni.
Laga terakhir grup mempertemukan Turki melawan tuan rumah Amerika Serikat di SoFi Stadium pada 25 Juni. Pertandingan itu diprediksi menjadi duel penentu juara grup sekaligus tiket otomatis ke fase gugur.
Melihat kualitas skuad saat ini, banyak pendukung Turki optimistis tim mereka minimal bisa lolos ke babak 16 besar.
Bahkan, bukan tidak mungkin Crescent-Stars mengulang kejutan seperti 2002 jika para pemain muda tampil konsisten.
Namun, ada satu kelemahan yang masih menghantui Turki. Mereka belum memiliki striker murni kelas dunia yang benar-benar tajam di depan gawang.
Kerem Aktürkoğlu memang diperkirakan menjadi ujung tombak utama, tetapi posisi nomor sembilan tetap dianggap titik lemah.
Hal itu terlihat saat playoff ketika Turki menciptakan banyak peluang tetapi kesulitan mengubahnya menjadi gol.
Dukungan Suporter Bisa Jadi Energi Tambahan
Atmosfer pendukung Turki selalu dikenal fanatik dan emosional. Setelah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026, ribuan suporter turun ke jalan di Istanbul sambil membawa bendera, menyalakan flare, dan bernyanyi sepanjang malam.
Energi itu dipastikan ikut terbawa ke Amerika Utara saat turnamen berlangsung. Dukungan masif dari tribun bisa menjadi faktor tambahan yang membantu mental para pemain muda Turki menghadapi tekanan laga besar.
Secara statistik, Turki juga hanya kalah dua kali sejak awal 2025. Catatan tersebut memperlihatkan konsistensi mereka mulai terbentuk menjelang turnamen terbesar dunia.
Masalah pengalaman memang masih menjadi tanda tanya karena mayoritas pemain belum pernah tampil di Piala Dunia. Namun, kualitas individu dan fleksibilitas taktik membuat Turki tidak bisa dipandang sekadar pelengkap grup.
Jika mampu tampil efektif di depan gawang, Turki berpotensi menjadi salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2026. Dunia mungkin kembali melihat Crescent-Stars melaju jauh seperti dongeng indah mereka pada 2002.