JawaPos.com — Paraguay kembali ke Piala Dunia 2026 setelah absen sejak 2010 dan datang dengan ambisi besar untuk membuat kejutan di Amerika Utara. Dipimpin Gustavo Alfaro serta diperkuat Miguel Almirón, Julio Enciso, dan Diego Gómez, La Albirroja diyakini mampu menjadi ancaman serius di Grup D sekaligus mengulang pencapaian perempat final seperti 16 tahun lalu.
Setelah hampir dua dekade tenggelam dalam performa inkonsisten, Paraguay akhirnya menemukan kembali identitasnya sebagai tim keras kepala khas Amerika Selatan.
Kombinasi pemain senior dan generasi muda membuat optimisme publik meningkat jelang turnamen terbesar dunia tersebut.
Baca Juga: Kejutan Lionel Scaloni di Skuad Argentina Piala Dunia 2026! Buendia dan Soule Berpeluang Dipanggil
Mengapa Paraguay Bisa Jadi Kuda Hitam Piala Dunia 2026?
Paraguay lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 dengan catatan tujuh kemenangan, tujuh imbang, dan empat kekalahan di kualifikasi CONMEBOL.
Mereka mencetak 14 gol dan hanya kebobolan 10 kali, menegaskan identitas sebagai salah satu tim paling disiplin di Amerika Selatan.
Situasi sempat sulit ketika Paraguay hanya mengumpulkan lima poin dari enam pertandingan awal.
Namun kehadiran Gustavo Alfaro sejak 2024 langsung mengubah mentalitas tim, termasuk kemenangan besar atas Brasil dan Argentina yang menjadi titik balik kebangkitan La Albirroja.
Pelatih asal Argentina itu dikenal defensif, tetapi sangat piawai membangun motivasi tim. Di bawah Alfaro, Paraguay tidak terkalahkan dalam 11 dari 12 laga kualifikasi dengan tujuh clean sheet dan cuma kalah dari Brasil.
Gaya bermain Paraguay mungkin tidak atraktif, tetapi sangat efektif di turnamen pendek seperti Piala Dunia. Mereka mengandalkan organisasi pertahanan rapi, transisi cepat, serta duel fisik untuk merusak ritme lawan.
Baca Juga: Skuad Mesir di Piala Dunia 2026: Era Baru Salah dkk, Wonderkid Barcelona Masuk Daftar
Trio Almirón, Enciso, dan Diego Gómez Jadi Penentu
Miguel Almirón menjadi figur paling penting dalam skuad Paraguay di Piala Dunia 2026.
Pemain yang dulu hanya menjadi penonton saat Paraguay tampil di Piala Dunia 2010 kini memimpin generasi baru dengan kreativitas dan pengalaman internasionalnya.
Peran Almirón bakal sangat vital karena Paraguay bukan tim dengan produktivitas tinggi. Jika pemain sayap itu gagal tampil maksimal, serangan Paraguay berpotensi kehilangan arah dan ketajaman.
Selain Almirón, perhatian juga tertuju kepada Julio Enciso dan Diego Gómez.
Enciso dikenal eksplosif dalam duel satu lawan satu, sedangkan Diego Gómez berkembang pesat setelah menjadi bagian Brighton & Hove Albion di Premier League.
Diego Gómez bahkan disebut sebagai rising star terbesar Paraguay saat ini. Energi besar, kemampuan teknik tinggi, serta tendangan jarak jauhnya membuat gelandang muda tersebut bisa menjadi pembeda di pertandingan ketat.
Di lini depan, Antonio Sanabria tetap dipercaya sebagai target man utama.
Meski hanya mencetak empat gol selama kualifikasi, kontribusinya dalam menahan bola dan membuka ruang dianggap sangat penting untuk skema serangan balik Paraguay.
Baca Juga: Prediksi Uruguay di Grup H Piala Dunia 2026: Generasi Baru La Celeste Siap Bikin Kejutan
Pertahanan Paraguay Jadi Modal Utama
Kekuatan terbesar Paraguay ada di sektor belakang yang dihuni Gustavo Gómez dan Omar Alderete. Duet bek tengah tersebut menjadi tulang punggung pertahanan salah satu tim paling sulit ditembus di zona CONMEBOL.
Kehadiran Júnior Alonso dan Juan José Cáceres di sisi sayap membuat lini belakang Paraguay semakin solid. Chemistry antarpemain bertahan berkembang sangat baik selama era Gustavo Alfaro.
Di lini tengah, Andrés Cubas dan Damián Bobadilla diprediksi menjadi jangkar utama dalam formasi 4-2-3-1 atau 4-4-2.
Keduanya memiliki karakter pekerja keras dan agresif untuk memutus serangan lawan sebelum masuk area berbahaya.
Paraguay memang jarang menguasai bola dalam waktu lama. Namun saat bertahan, mereka sangat disiplin menjaga bentuk permainan dan menutup ruang antarlini dengan rapat.
Filosofi inilah yang membuat Paraguay berbahaya di turnamen besar. Lawan bisa frustrasi karena sulit menciptakan peluang bersih, sementara Paraguay hanya membutuhkan satu momen untuk menghukum lewat serangan balik cepat.
Jadwal Berat Paraguay dan Misi Ganggu Tuan Rumah
Paraguay tergabung di Grup D bersama Amerika Serikat, Türkiye, dan Australia. Laga pembuka melawan tuan rumah Amerika Serikat di SoFi Stadium pada 12 Juni disebut sebagai pertandingan paling menentukan.
Jika mampu mengalahkan Amerika Serikat, kepercayaan diri Paraguay diprediksi meningkat drastis. Banyak pendukung percaya kemenangan atas tuan rumah bisa menjadi sinyal jika Paraguay memang layak disebut kandidat kuda hitam.
Pertandingan kedua melawan Türkiye pada 19 Juni juga diperkirakan berjalan sulit. Tim asal Eropa itu dikenal agresif dan memiliki kualitas individu tinggi di lini serang.
Sementara laga terakhir menghadapi Australia pada 25 Juni bisa menjadi duel hidup mati perebutan tiket fase gugur. Paraguay tetap diunggulkan karena kualitas pertahanan dan pengalaman pemainnya lebih matang.
Target realistis Paraguay adalah lolos ke babak knockout. Namun hasil undian grup yang relatif seimbang membuat publik mulai bermimpi mengulang pencapaian perempat final seperti di Piala Dunia 2010.
Dukungan Fanatik dan Mental Pantang Menyerah
Atmosfer pendukung Paraguay dipastikan menjadi warna tersendiri di Piala Dunia 2026. Sekitar 10 ribu suporter datang ke Afrika Selatan pada 2010 dan jumlah itu diprediksi meningkat tajam di Amerika Utara.
Pendukung Paraguay terkenal sangat loyal dengan atribut merah-putih khas La Albirroja. Tabuhan drum, hujan konfeti, dan nyanyian “dale, dale, dale La Albirroja” selalu menjadi ciri khas mereka di stadion.
Di atas lapangan, Paraguay juga dikenal sebagai tim yang tidak pernah menyerah. Bahkan ketika kualitas individu kalah dari lawan, mereka tetap mampu memaksakan duel keras hingga menit akhir pertandingan.
Mentalitas tersebut menjadi alasan banyak pengamat mulai melirik Paraguay sebagai ancaman tersembunyi di Piala Dunia 2026. Mereka mungkin tidak difavoritkan, tetapi jelas bukan lawan yang mudah dikalahkan.
Jika serangan Paraguay mampu tampil lebih efektif, perjalanan panjang di turnamen bukan hal mustahil. Namun jika lini depan kembali tumpul, La Albirroja bisa gagal memenuhi ekspektasi besar publiknya.