JawaPos.com — Skotlandia akhirnya kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun. Timnas Skotlandia memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 usai menundukkan Denmark 4-2 dalam laga dramatis Grup C Kualifikasi UEFA di Hampden Park. Kemenangan itu mengantar pasukan Steve Clarke kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia untuk pertama kalinya sejak 1998 sekaligus membawa harapan baru bagi Tartan Army.
Namun tantangan besar langsung menanti. Skotlandia tergabung bersama Brasil, Maroko, dan Haiti di Grup C, grup yang diprediksi menjadi salah satu grup paling berat di turnamen.
Situasi itu membuat ambisi Skotlandia lolos dari fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah terasa seperti misi yang sangat sulit.
Jalan Panjang Skotlandia Menuju Amerika Utara
Skotlandia lolos dengan catatan empat kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan sepanjang babak kualifikasi.
Mereka mencetak 13 gol dan kebobolan tujuh kali, dengan Che Adams, Scott McTominay, dan Ryan Christie sama-sama menyumbang dua gol.
Perjalanan mereka sebenarnya nyaris tergelincir usai kalah 2-3 dari Yunani pada Matchday kelima.
Situasi itu membuat laga terakhir kontra Denmark menjadi duel hidup mati, sebelum akhirnya Skotlandia bangkit lewat dua gol tambahan waktu yang dicetak Kieran Tierney dan Kenny McLean.
Mentalitas pantang menyerah menjadi kekuatan utama tim ini. Meski tidak mendominasi permainan, Skotlandia mampu menunjukkan disiplin dan keberanian bertarung hingga menit terakhir.
Steve Clarke dan Fondasi Disiplin ala Mourinho
Steve Clarke menjadi manajer pertama dalam sejarah Skotlandia yang membawa negaranya lolos ke tiga turnamen besar beruntun, yakni Euro 2020, Euro 2024, dan Piala Dunia 2026.
Pelatih berusia 62 tahun itu juga sukses mengantar Skotlandia promosi ke UEFA Nations League A pada musim 2022-2023.
Clarke dikenal sebagai pelatih pragmatis yang lebih mengutamakan organisasi permainan dibanding gaya atraktif.
Pengalaman bekerja bersama José Mourinho di Chelsea membentuk karakter kepelatihannya yang disiplin, keras, dan sangat mengandalkan kolektivitas tim.
Pendekatan itu memang tidak selalu disukai suporter. Namun Clarke terbukti mampu membangun tim yang punya daya juang tinggi dan solid dalam pertandingan-pertandingan sulit.
Gaya Bermain Fisik yang Bisa Merepotkan Lawan
Skotlandia diprediksi tetap menggunakan formasi 4-2-3-1 selama Piala Dunia 2026. Pola permainan mereka sangat direct, mengandalkan duel fisik, crossing cepat, dan agresivitas lini tengah.
Scott McTominay menjadi pusat permainan sekaligus ancaman utama dari lini kedua. Gelandang Napoli itu berkembang drastis dari sekadar gelandang bertahan menjadi pemain box-to-box yang produktif mencetak gol.
Selain McTominay, pergerakan John McGinn dan Ryan Christie juga menjadi senjata penting. Ketiganya punya mobilitas tinggi dan sering bertukar posisi untuk membongkar pertahanan lawan.
Di sisi sayap, Andrew Robertson dan Aaron Hickey aktif membantu serangan lewat overlap cepat. Skotlandia juga sangat berbahaya dalam situasi bola mati, terutama lewat duel udara Grant Hanley dan John Souttar.
Meski begitu, kelemahan mereka cukup jelas. Lini belakang mulai menua, sementara transisi bertahan kerap bermasalah saat fullback terlalu maju membantu serangan.
Kondisi itu berpotensi dimanfaatkan Brasil dan Maroko yang memiliki kualitas teknik serta kecepatan serangan jauh lebih baik. Jika tidak disiplin menjaga ruang, Skotlandia bisa kesulitan menghadapi tekanan dua tim favorit tersebut.
Scott McTominay Jadi Harapan Utama Tartan Army
Nama Scott McTominay dipastikan menjadi sorotan utama Skotlandia di Piala Dunia 2026. Pemain yang sebelumnya berkarier di Manchester United itu tampil luar biasa bersama Napoli dan berubah menjadi mesin gol dari lini tengah.
Kemampuan datang dari lini kedua menjadi keunggulan terbesar McTominay. Ia juga punya mental besar dalam pertandingan penting, sesuatu yang sangat dibutuhkan Skotlandia di grup berat seperti ini.
Selain McTominay, pemain muda Ben Gannon-Doak layak dinanti.
Winger 20 tahun itu memiliki kecepatan, keberanian duel satu lawan satu, dan kemampuan menusuk yang bisa merepotkan pertahanan lawan saat masuk sebagai supersub.
Di lini depan, Ché Adams diprediksi tetap menjadi pilihan utama. Pengalamannya bermain di level tertinggi memberi nilai lebih dibanding Lyndon Dykes.
Jadwal Berat dan Ancaman Rekor Buruk
Skotlandia akan membuka perjalanan melawan Haiti pada 13 Juni di Gillette Stadium. Pertandingan itu wajib dimenangkan jika mereka ingin menjaga peluang lolos.
Setelah itu, Skotlandia menghadapi Maroko pada 19 Juni sebelum menutup fase grup kontra Brasil pada 24 Juni di Hard Rock Stadium. Dua pertandingan terakhir diprediksi menjadi ujian terbesar Steve Clarke.
Baca Juga: Siasat Ancelotti Bawa Neymar ke Piala Dunia 2026, Ini Syaratnya
Secara sejarah, Skotlandia belum pernah lolos dari fase grup dalam delapan penampilan sebelumnya di Piala Dunia. Bahkan, mereka belum pernah mengalahkan Brasil maupun Maroko sepanjang sejarah sepak bola internasional.
Jika kembali tersingkir di fase grup, Skotlandia akan mencatat rekor sebagai tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal lolos dari grup sebanyak sembilan kali. Statistik itu menjadi bayang-bayang besar yang sulit diabaikan.
Optimisme Tinggi, Tapi Realitas Tak Semudah Itu
Atmosfer optimisme sedang menyelimuti Skotlandia. Keberhasilan kembali ke Piala Dunia setelah absen hampir tiga dekade membuat Tartan Army percaya tim ini mampu menciptakan kejutan.
Namun hasil uji coba terbaru justru menimbulkan kekhawatiran. Skotlandia kalah 0-1 dari Jepang dan Pantai Gading dalam dua laga persahabatan terakhir mereka.
Hasil tersebut menunjukkan masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Steve Clarke sebelum turnamen dimulai. Konsistensi permainan dan efektivitas menyerang menjadi dua masalah utama yang wajib dibenahi.
Meski bukan unggulan, Skotlandia tetap berpotensi menyulitkan siapa pun lewat permainan fisik, determinasi tinggi, dan dukungan luar biasa Tartan Army.
Jika mampu mencuri poin dari Maroko atau Brasil, mimpi mencetak sejarah bukan sesuatu yang mustahil.