JawaPos.com — Kepastian akhirnya datang dari pucuk tertinggi sepak bola dunia soal Iran. Bos FIFA, Gianni Infantino memastikan Iran tetap akan tampil di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat meski situasi politik memanas.
Pernyataan itu disampaikan langsung dalam kongres FIFA yang berlangsung di Vancouver. Infantino menegaskan tidak ada perubahan rencana, sekaligus meredam spekulasi yang berkembang dalam beberapa pekan terakhir.
Keraguan sempat mencuat setelah meningkatnya ketegangan geopolitik. Serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu membuat partisipasi negara tersebut dipertanyakan.
Baca Juga: Dulu Ahmad Nufiandani, Kini Mikael Tata! Regenerasi Supersub Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Situasi semakin rumit ketika delegasi Federasi Sepak Bola Iran tidak sepenuhnya hadir dalam kongres FIFA. Dari tiga perwakilan yang berangkat ke Kanada, satu orang ditolak masuk dan dua lainnya memilih absen sebagai bentuk protes.
Media Iran melaporkan Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, ditolak masuk di Bandara Pearson Toronto. Padahal sebelumnya ia telah mengantongi izin perjalanan resmi.
FIFA menyebut insiden itu sebagai situasi yang disayangkan. Namun, mereka menegaskan keputusan masuk atau tidaknya seseorang ke suatu negara sepenuhnya berada di tangan otoritas setempat.
Baca Juga: Ambisi Jefferson Silva Meledak! Gol Perdana Sinyal Bahaya Jelang Persebaya Surabaya Lawan PSBS Biak
Di tengah polemik tersebut, Infantino justru tampil tegas dan lugas. Ia memastikan Iran tetap menjadi bagian dari turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
“Izinkan saya memulai dengan langsung mengkonfirmasi, bagi mereka yang mungkin ingin mengatakan sesuatu yang lain atau menulis sesuatu yang lain, bahwa tentu saja Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026,” kata Infantino.
Ia juga menekankan pentingnya sepak bola sebagai alat pemersatu dunia. Dalam pidatonya, Infantino menyebut dunia saat ini justru membutuhkan lebih banyak momen kebersamaan, bukan perpecahan.
“Dan tentu saja, Iran akan bermain di Amerika Serikat. Alasannya sederhana, karena kita harus bersatu. Kita harus menyatukan orang-orang."
“Ada cukup banyak masalah di seluruh dunia. Ada cukup banyak orang yang mencoba memecah belah di seluruh dunia. Jika tidak ada yang mencoba untuk bersatu, apa yang akan terjadi pada dunia kita?”
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal kuat FIFA tidak ingin ajang sepak bola terbesar ini terdampak konflik politik. Sepak bola, menurutnya, harus tetap berada di jalurnya sebagai jembatan antarbangsa.
Secara jadwal, Iran akan memulai perjalanan mereka di Grup G. Mereka dijadwalkan menghadapi Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni 2026.
Laga berikutnya akan mempertemukan Iran dengan Belgia pada 21 Juni di kota yang sama. Setelah itu, mereka akan menutup fase grup melawan Mesir di Seattle.
Menariknya, potensi duel panas juga bisa terjadi di fase gugur. Jika Iran dan Amerika Serikat sama-sama finis di posisi runner-up grup, keduanya bisa bertemu di babak 32 besar di Dallas.
Pertemuan itu tentu akan menyita perhatian dunia. Mengingat kedua negara punya sejarah tensi politik panjang, laga tersebut berpotensi menjadi salah satu pertandingan paling emosional di turnamen.
Meski Infantino sudah memberikan kepastian, kekhawatiran belum sepenuhnya hilang. Masalah imigrasi masih menjadi isu krusial yang bisa memengaruhi kehadiran beberapa pihak dari Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan pemain Iran tetap akan diterima. Namun, ia memberi sinyal tidak semua anggota delegasi mendapat perlakuan yang sama.
“Masalah dengan Iran adalah beberapa orang lain yang ingin mereka bawa, beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan IRGC,” kata Rubio.
Nama Mehdi Taj kembali menjadi sorotan dalam konteks ini. Ia diketahui memiliki latar belakang sebagai mantan komandan di IRGC yang telah ditetapkan sebagai entitas teroris oleh Kanada sejak 2024.
Pemerintah Kanada sebelumnya sempat memberikan izin tinggal sementara kepada Taj. Namun, izin tersebut kemudian dilaporkan dicabut sebelum ia masuk ke wilayah negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, mengonfirmasi adanya pencabutan izin tersebut. Hal ini semakin menambah kompleksitas situasi yang dihadapi Iran.
Baca Juga: Bungkam Denmark 3-1, Indonesia Tantang Korea Selatan di Semifinal Uber Cup 2026
Di luar isu Iran, Infantino juga menyinggung hal lain yang tak kalah menarik. Ia membela kebijakan penjualan tiket FIFA yang menuai kritik karena harga yang dinilai terlalu mahal.
Menurutnya, minat terhadap Piala Dunia 2026 sangat luar biasa. FIFA bahkan menerima sekitar 500 juta permintaan tiket, angka yang jauh melampaui dua edisi sebelumnya.
“Kami telah menerima 500 juta permintaan tiket. Dalam dua Piala Dunia terakhir, total permintaan mencapai 50 juta,” ujar Infantino.
Ia menambahkan 90 persen tiket sudah terjual. Sisa tiket sengaja disimpan untuk penjualan tahap berikutnya agar tetap memberi kesempatan bagi penggemar.
Baca Juga: Pertarungan Chelsea vs AC Milan di Indonesia: Memori Pembantaian 8-1 dan 8-0 di 8 Agustus
Tak hanya itu, Infantino juga mengungkapkan proyeksi pendapatan FIFA yang meningkat signifikan. Untuk siklus 2023–2026, pendapatan diperkirakan mencapai 14 miliar dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 20 persen dibandingkan periode sebelumnya. Infantino menegaskan seluruh pendapatan akan kembali diinvestasikan untuk pengembangan sepak bola global.
Menutup kongres, Infantino membuat pengumuman penting lainnya. Ia secara resmi menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode berikutnya.
Langkah itu membuka peluang bagi pria Swiss-Italia tersebut memimpin FIFA lebih lama. Jika terpilih kembali, ia berpotensi menjabat hingga 15 tahun sejak pertama kali terpilih pada 2016.
“Saya ingin mengkonfirmasi bahwa saya akan menjadi kandidat untuk pemilihan presiden FIFA tahun depan,” ujarnya.
Keputusan itu menandai babak baru dalam kepemimpinan FIFA. Di tengah berbagai dinamika global, Infantino tampak ingin memastikan stabilitas dan arah sepak bola dunia tetap terjaga.