← Beranda
Jelang Piala Dunia 2026, Ratusan Organisasi Sipil Keluarkan Peringatan Perjalanan ke Amerika Serikat
Aprillia JPJumat, 24 April 2026 | 22.08 WIB
Piala Dunia 2026. (FIFA)

 

JawaPos.com - Lebih dari 120 organisasi masyarakat sipil bersama kelompok suporter yang berafiliasi dengan liga sepak bola Amerika Serikat mengeluarkan peringatan perjalanan menjelang Piala Dunia 2026. Imbauan itu ditujukan kepada para penggemar, pemain, jurnalis, serta wisatawan yang berencana datang ke Amerika Serikat.

Dalam dokumen yang dipublikasikan pada Kamis (23/4), kelompok itu memperingatkan bahwa individu dari komunitas imigran, kelompok minoritas ras dan etnis, serta komunitas LGBTQ+ dinilai paling rentan terhadap risiko bahaya serius selama berada di Negeri Paman Sam. 

Menurut laporan The Athletic, organisasi itu menyerukan agar setiap pengunjung meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan rencana darurat di tengah situasi yang mereka sebut sebagai meningkatnya otoritarianisme dan kekerasan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Profil Timnas Australia di Piala Dunia 2026: Andalkan Pemain Berpengalaman

Peringatan itu didasarkan pada sejumlah temuan, termasuk laporan 48 kematian dalam tahanan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) sejak awal 2025. Selain itu, disebutkan adanya pembatasan masuk bagi pengunjung dari 39 negara, serta peningkatan kehadiran agen ICE di bandara-bandara dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah organisasi besar juga ikut menandatangani surat itu, di antaranya Amnesty International USA, Reporters Without Borders, American Civil Liberties Union (ACLU), serta National Association for the Advancement of Colored People (NAACP). Selain itu, sekitar 20 kelompok suporter dari liga sepak bola Amerika mencakup organisasi dari 11 kota tuan rumah Piala Dunia juga ikut menandatangani surat itu. 

Dalam imbauannya, mereka mengidentifikasi enam risiko utama yang dinilai melanggar kewajiban hak asasi manusia Amerika Serikat, baik secara domestik maupun internasional. Risiko itu meliputi penolakan masuk secara sewenang-wenang, ancaman penahanan atau deportasi, pembatasan perjalanan, pemeriksaan media sosial dan perangkat elektronik secara invasif, penegakan hukum imigrasi yang dinilai diskriminatif, pembatasan kebebasan berpendapat, hingga potensi perlakuan buruk di pusat detensi imigrasi.

Baca Juga: Lamine Yamal Cedera Hamstring, Barcelona Tak Lakukan Operasi dan Pastikan Tetap ke Piala Dunia 2026 Bersama Timnas Spanyol

Pengunjung juga disarankan untuk mengamankan perangkat elektronik, menghapus data sensitif, menonaktifkan fitur biometrik, serta memberi tahu keluarga atau teman terkait rencana perjalanan mereka ke Amerika.

Direktur program HAM ACLU Jamil Dakwar mengkritik sikap FIFA yang dinilai tidak cukup tegas. “FIFA hanya memberikan janji-janji terkait hak asasi manusia sambil tetap menjalin kedekatan dengan pemerintahan Trump, yang berpotensi menempatkan jutaan orang dalam risiko pelanggaran hak,” kata Dakwar.

Sementara itu, Jennifer Li dari koalisi Dignity 2026 menyoroti belum adanya komitmen publik dari FIFA maupun penyelenggara lokal terkait perlindungan bagi warga dan pengunjung. Menanggapi hal itu, FIFA membantah tudingan tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap hak asasi manusia. FIFA menyatakan telah mengembangkan berbagai strategi dan kerangka kerja, termasuk strategi keberlanjutan dan HAM untuk Piala Dunia 2026 serta pembentukan kelompok penasihat independen.

Pihak Gedung Putih juga menolak keras peringatan yang dibuat oleh kelompok organisasi tersebut. Direktur eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih Andrew Giuliani menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai ajang olahraga paling aman dan spektakuler dalam sejarah Amerika Serikat.

Senada dengan itu, juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menegaskan bahwa Amerika Serikat siap menyambut jutaan pengunjung dari seluruh dunia. Ingle menyebut berbagai kekhawatiran yang beredar sebagai upaya menakut-nakuti yang tidak berdasar.

Laporan The Athletic sebelumnya juga menyebut bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino sempat mempertimbangkan untuk meminta langsung kepada Presiden Trump agar menghentikan sementara operasi razia ICE selama turnamen berlangsung. Meskipun demikian, pihak ICE menyatakan akan berperan dalam aspek keamanan, terutama terkait investigasi keamanan dalam negeri. Namun, kekhawatiran tetap muncul bahwa operasi ICE dapat meluas ke penegakan imigrasi di sekitar acara Piala Dunia.

EDITOR: Banu Adikara