JawaPos.com - Piala Dunia 2026 tinggal menghitung waktu menuju kick-off perdana pada Juni mendatang. Turnamen terbesar sepak bola dunia itu akan menjadi edisi bersejarah karena digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Selain itu, jumlah peserta juga bertambah menjadi 48 tim, menjadikannya Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah.
Namun di balik antusiasme tinggi para pencinta sepak bola dunia, berbagai persoalan mulai bermunculan menjelang turnamen dimulai.
Baca Juga: Hadiah Piala Dunia 2026 Naik Drastis! Tim Juara Bakal Kantongi Rp855 Miliar
Sejumlah isu bahkan memunculkan kekhawatiran dari berbagai pihak, mulai dari suporter, pemerintah lokal, hingga federasi sepak bola.
Masalah harga tiket yang dinilai terlalu mahal, ancaman keamanan di beberapa lokasi pertandingan, hingga kebijakan imigrasi Amerika Serikat menjadi sorotan serius. Situasi tersebut membuat persiapan Piala Dunia 2026 tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Salah satu isu yang paling banyak dibicarakan adalah ketidakpastian partisipasi Timnas Iran. Negara tersebut sebelumnya telah memastikan tiket ke putaran final, tetapi situasi geopolitik dan faktor keamanan membuat keikutsertaan mereka masih menjadi tanda tanya.
Pemerintah Iran disebut masih mempertimbangkan faktor keselamatan pemain dan ofisial selama berada di Amerika Serikat.
Kekhawatiran itu muncul di tengah meningkatnya tensi politik yang melibatkan kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
Meski FIFA berharap Iran tetap tampil di Piala Dunia 2026, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah dan otoritas keamanan negara tersebut. Jika situasi tidak membaik, bukan tidak mungkin Iran mengambil langkah drastis menjelang turnamen dimulai.
Selain persoalan geopolitik, masalah biaya perjalanan juga mulai memicu kritik. Sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat dilaporkan mengalami lonjakan tarif transportasi yang cukup tinggi menjelang Piala Dunia.
Harga tiket kereta menuju stadion bahkan disebut naik berkali-kali lipat dibanding tarif normal. Kondisi itu dikhawatirkan akan membebani suporter yang datang dari berbagai negara untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Sebagai contoh, perjalanan pulang-pergi yang sebelumnya hanya sekitar 12 dolar AS kini bisa melonjak hingga 150 dolar AS di beberapa wilayah tertentu. Kenaikan tersebut memunculkan perdebatan antara pemerintah daerah dan pihak penyelenggara.
Meski beberapa kota memilih menahan kenaikan tarif demi menjaga kenyamanan wisatawan dan suporter, tidak semua daerah mengambil kebijakan serupa.
Situasi ini membuat biaya menonton Piala Dunia secara langsung diperkirakan akan jauh lebih mahal dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Masalah berikutnya yang tidak kalah mendapat perhatian adalah harga tiket pertandingan. Banyak penggemar sepak bola menilai harga yang ditetapkan terlalu tinggi dan sulit dijangkau oleh penonton umum.
Untuk laga fase grup, tiket termurah disebut dibanderol mulai 60 dolar AS. Sementara itu, harga tiket final bisa mencapai lebih dari 10 ribu dolar AS atau setara ratusan juta rupiah.
Harga fantastis tersebut memicu kritik karena dianggap bertentangan dengan semangat sepak bola sebagai olahraga rakyat. Tidak sedikit suporter yang mengaku kesulitan mendapatkan tiket dengan harga terjangkau.
Bahkan, beberapa laporan menyebut minat penonton terhadap sejumlah pertandingan mulai menurun akibat mahalnya harga tiket.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi FIFA yang ingin menghadirkan atmosfer meriah di seluruh stadion.
Selain harga tiket dan transportasi, kebijakan imigrasi Amerika Serikat juga memunculkan kecemasan bagi calon penonton internasional.
Banyak suporter khawatir akan pemeriksaan ketat saat memasuki wilayah Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
Isu tersebut semakin ramai dibicarakan setelah muncul laporan mengenai pengawasan ketat aparat imigrasi dalam beberapa event olahraga sebelumnya.
Walau pemerintah Amerika Serikat membantah adanya perlakuan berlebihan, kekhawatiran tetap muncul di kalangan publik internasional.
Situasi ini membuat FIFA diharapkan mampu memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan bagi seluruh pendukung yang datang dari berbagai negara.
Sebab, Piala Dunia bukan hanya soal pertandingan sepak bola, tetapi juga perayaan budaya global yang melibatkan jutaan orang.
Di sisi lain, Meksiko juga menghadapi tantangan besar terkait keamanan. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah insiden kriminal dan penembakan terhadap wisatawan menjadi perhatian dunia internasional.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai keamanan suporter yang akan datang ke kota-kota tuan rumah di Meksiko.
Pemerintah setempat pun berjanji meningkatkan pengamanan secara besar-besaran menjelang Piala Dunia dimulai.
Langkah pengamanan tambahan disebut akan diterapkan di area stadion, pusat transportasi, hingga kawasan wisata yang diperkirakan dipadati wisatawan asing.
Pemerintah Meksiko menegaskan komitmennya untuk memastikan turnamen berlangsung aman dan lancar.
Meski dibayangi berbagai persoalan, antusiasme terhadap Piala Dunia 2026 sejatinya masih sangat besar. Turnamen ini tetap menjadi salah satu ajang olahraga paling ditunggu di dunia.
Format baru dengan 48 peserta diperkirakan akan menghadirkan lebih banyak pertandingan menarik dan membuka peluang bagi negara-negara baru untuk tampil di panggung terbesar sepak bola internasional.
Namun, FIFA dan seluruh pihak terkait harus bergerak cepat untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul.
Jika tidak ditangani dengan baik, persoalan tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan suporter dan citra turnamen secara keseluruhan.
Piala Dunia selalu identik dengan pesta sepak bola yang menyatukan berbagai bangsa. Karena itu, keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas bagi para penggemar menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
Dengan waktu yang semakin dekat menuju laga pembuka, publik kini menanti langkah konkret dari FIFA dan tiga negara tuan rumah untuk memastikan Piala Dunia 2026 benar-benar menjadi perayaan sepak bola yang aman, meriah, dan dapat dinikmati semua kalangan.