← Beranda
ITS Perluas Kerja Sama Internasional, Hovercraft Jadi Bidikan Kolaborasi dengan BTI Defence
Ardini Pramitha• Rabu, 21 Oktober 2026 | 16.56 WIB
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati kembali menjajaki peluang kerja sama dengan BTI Defence. (Humas ITS)

 

JawaPos.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menjajaki pasar internasional, dalam bidang kemaritiman dengan melanjutkan kerjasama bersama BTI Defence. 

Kolaborasi yang ditandai dengan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mempertemukan dua kekuatan, yakni kemampuan industri BTI Defence di bidang alutsista dan persenjataan, serta kekuatan sumber daya manusia dan riset ITS di teknologi kelautan.

Perjanjian itu dihadiri oleh Iridium Integrated Logistic Support (ILS) dan Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) Judha Nugraha. 

Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati mengatakan kerjasama yang dilakukan adalah pengembangan teknologi kelautan, inovasi produk, riset terapan, hingga industrialisasi pertahanan dan nautikal. 

“ITS punya kekuatan SDM di teknologi kelautan, termasuk perkapalan dan desain kapal. Ini ada kesempatan besar,” kata Bambang, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan ITS juga memiliki Pusat Studi Pertahanan yang telah bekerja sama dengan BTI Defence, dan Kementerian Pertahanan dalam pengembangan persenjataan. Kapasitas riset itu berpotensi dikembangkan bersama BTI Defence.

“Mereka dari industri, kami dari sisi penelitian. Apa yang kami wujudkan bisa dimasuki oleh BTI Defence karena mereka dari industri,” terang Bambang.

Ia mengungkapkan, salah satu rencana konkret yang dibahas adalah pengembangan kapal hovercraft bersama BTI Defence dan Iridium. 

Pihaknya mengklaim mengantongi pengalaman mendesain dan mewujudkan Hovercraft pada 2015 bersama Kementerian Pertahanan.

“BTI Defence berkolaborasi dengan Iridium membangun hovercraft. Kami punya pengalaman membangun hovercraft pada 2015, sudah mendesain dan diwujudkan oleh Kemenhan,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut, lanjut dia, dapat menjadi tahapan awal kolaborasi tiga pihak. Basis Iridium di UEA juga dinilai strategis karena pasar perusahaan tersebut cukup besar.

“Ini kesempatan besar karena Iridium basisnya ada di UEA. Di sana banyak hal yang bisa kita lakukan bersama,” pungkas Bambang.

Direktur BTI Defence Peter Tjahjono menjelaskan, kerja sama tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan alutsista tetapi melayani pemeliharaan, maupun perbaikan.

Peter menilai Indonesia memiliki peluang besar tidak hanya menjadi pasar bagi produk luar negeri, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan tenaga ahli.

Dalam kerja sama ini, BTI Defence berencana memenuhi kebutuhan tenaga ahli atau expertise, yang memiliki latar belakang lulusan dari ITS dan juga tenaga ahli berpengalaman di Angkatan Laut.

Baca Juga: ITS Siapkan Jalur Khusus untuk Mahasiswa Disabilitas pada 2027

“Harapannya bisa menyuplai tenaga teknisi yang memiliki skill set dari ITS dan juga dari Angkatan Laut. Lulusan D3 bisa mendapatkan peluang bekerja di sektor industri pertahanan,” tandasnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan