← Beranda
Belajar Matematika dan IPA, Ajak Murid SD Belajar Langsung di Lab
Latu Ratri Mubyarsah• Sabtu, 17 Oktober 2026 | 04.37 WIB
Murid kelas V Sekolah Tarakanita Gading Serpong antusias belajar di laboratorium Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya BSD di Serpong, Jumat (16/10). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Mata pelajaran (mapel) matematika, fisika, dan rumpun IPA lainnya kerap dianggap menakutkan di kalangan murid.

Beragam cara digunakan untuk menghilangkan stigma negatif tersebut di antaranya dengan mengajak langsung murid-murid jenjang SD untuk belajar langsung di laboratorium.

Sekitar 150 murid kelas V SD dari Sekolah Tarakanita Gading Serpong berkesempatan keliling sejumlah laboratorium di laboratorium Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya BSD di Serpong (16/10).

Baca Juga: Angka Fatherless Capai 25,18 Persen, Ayah Mansuri Beri Pesan Para Ayah Kembali ke Dekapan

Kesempatan langka ini menjadi rangkaian pembukaan Sains Tecno Park Atma Jaya.

Di dalam laboratorium anak-anak belajar banyak hal.

Mulai dari mengamati bakteri, mencoba 3D printing, membuat aplikasi game, serta aktivitas lain terkait sains dan teknologi lainnya.

Baca Juga: Bonus Demografi 2030, Wamenkes Ungkap Risiko Pengangguran Masal jika SDM Tak Sehat

Selama mengikuti kegiatan, anak-anak dibimbing oleh dosen dan mahasiswa.

Rektor Unika Atma Jaya Prof. Yuda Taruna ikut mendampingi anak-anak SD tadi belajar di laboratorium.

”Mereka sangat antusias. Ilmu-ilmu alam yang selama ini hanya dipelajari di buku, bisa dipraktikkan langsung,” kata Yuda Taruna.

Yuda yang juga ahli saraf itu mengatakan, usia SD merupakan masa-masa penting dalam perkembangan otak.

Sehingga aktivitas mengajak anak-anak SD belajar di laboratorium sangat penting karena bisa memunculkan motivasi untuk menjadi ilmuan di masa mendatang.

Bagi Yuda, anak-anak itu nantinya bebas kuliah di manapun.

Baca Juga: Wamendikdasmen Minta Pengawas Melek Teknologi Awasi Penggunaan AI di Sekolah

”Tapi bisa jadi muncul motivasi ingin jadi ilmuan, ingin jadi peraih Nobel di bidang Biosains,” kata Yuda Taruna.

Ketika sudah muncul motivasi seperti itu, belajar matematika, fisika, biologi, kimia, dan sejenisnya tidak lagi menakutkan.

”Karena pada otak anak-anak ini sudah tertanam motivasi,” jelas Yuda Taruna.

Baca Juga: Minat Investasi Mahasiswa Tinggi, Literasi Keuangan Jadi Kunci Hindari Risiko

Yuda mencontohkan ketika ada anak-anak yang ingin jadi ahli jembatan, maka harus menguasai matematika, fisika, dan lainnya.

Dari titik ini, anak-anak bakal antusias mengikuti pelajaran matematika karena jika tidak didukung dengan kemampuan matematika, membuat jembatannya bisa roboh.

Begitupun ketika ada anak-anak yang ingin membudidayakan tanaman langka, harus menekuni pelajaran biologi.

Baca Juga: Rencana Kuliah PTN Gratis akan Hapuskan UKT dan IPI Jalur Mandiri

”Termasuk bagi yang ingin membuat makanan tidak cepat nasi, harus mempunyai ilmunya,” ujar Yuda Taruna.

Menurut Yuda, minat anak-anak Indonesia untuk menekuni bidang Biosains masih perlu didorong.

Karena ke depan keahlian Biosains sangat dibutuhkan. Pasalnya menyangkut hajat hidup orang banyak.

”Bagaimana menciptakan teknologi supaya makanan bisa awet, butuh keahlian Biosains,” tandas Yuda Taruna.

Baca Juga: Manfaatkan AI untuk Belajar, Siswa SMP Depok Raih Medali OSN 2026

Dekan FBTI Unika Atma Jaya Prof. Diana E. Waturangi mengatakan, mereka aktif melakukan berbagai inovasi, baik untuk pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Keberadaan Science Techno Park merupakan wujud nyata inovasi dan  kontribusi mereka.

Diharapkan bisa terus berkembang menjadi pusat perkembangan Sains dan Teknologi di Indonesia.

Baca Juga: Lima Siswa SMP di Surabaya Sulap Biji Kelabet Jadi Inovasi Gel untuk Rawat Luka Ringan

”Pada prinsipnya kami ingin menjadi tempat dimana segala usia dapat mengenal dan belajar secara langsung sains dan teknologi,” ungkap Diana E. Waturangi.

Dia menekankan Science Techno Park yang ada di FBTI, Unika Atma Jaya Kampus BSD dilengkapi dengan 32 unit laboratorium. Di dalamnya terdapat peralatan yang mumpuni untuk pembelajaran serta penelitian.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah