← Beranda
1.096 Siswa SMPK Penabur Belajar Kehidupan dan Budaya Suku Tengger di Bromo
Banu AdikaraJumat, 18 September 2026 | 03.10 WIB
Gunung Bromo di kawasan TNBTS, Jawa Timur. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Sebanyak 1.096 siswa SMPK PENABUR Jakarta mengikuti kegiatan Spirit of Adventure di Desa Tosari, kawasan kaki Gunung Bromo, Jawa Timur, pada 9–21 September 2026.

Selama kegiatan, para siswa tidak hanya belajar di luar kelas, tetapi juga tinggal bersama warga dan mengenal kehidupan serta budaya masyarakat Suku Tengger.

Kegiatan tersebut diikuti siswa kelas 8 dari 17 SMPK PENABUR Jakarta. Mereka melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Malang menggunakan kereta api sebelum melanjutkan kegiatan di Desa Tosari.

Baca Juga: 9 Siswa di Kediri Dilarikan ke RSUD Usai Santap MBG, Keluhkan Mual dan Pusing

Kepala Jenjang SMPK PENABUR Jakarta Ferry Marwanti mengatakan pengalaman hidup bersama masyarakat desa menjadi bagian penting dari pembelajaran.

“Bersyukur dengan cara belajar tinggal bersama penduduk di desa, jauh berbeda dengan kehidupan siswa yang tinggal di kota besar," katanya. 

"Pada kegiatan di desa, setiap siswa akan tinggal bersama dengan ayah dan ibu baru, di sini rasa simpati dan empati mereka dilatih, kemudian jiwa kemandirian turut diasah. Lalu, siswa diajak menghargai alam ciptaan Tuhan lewat renungan pagi di alam terbuka,” jelas Ferry.

Selama berada di Tosari, siswa tinggal di rumah penduduk, memanen kentang dan mengolahnya menjadi makanan, mengukur tanaman yang menyerap karbon dioksida, serta menyaksikan sejumlah kesenian seperti Monel, Reog Ponorogo, dan Bala Gandrung. Mereka juga diajak menikmati matahari terbit di kawasan Bromo.

Baca Juga: Kembali Terjadi, 17 Siswa dan Guru di Jepara Diduga Keracunan usai Santap MBG

Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mengembangkan kemandirian, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, berpikir kritis, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat. Kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa syukur melalui pengalaman langsung dengan alam dan masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Amelia Roberta, siswa SMPK PENABUR Summarecon Bekasi, misalnya, mengikuti kegiatan pengukuran tanaman untuk mengetahui kemampuan pohon menyerap karbon dioksida.

Sementara itu, Rachel Jefanya Naibaho dari SMPK 5 PENABUR mengaku pengalaman tinggal bersama warga desa memberikan perspektif berbeda dari kehidupan sehari-harinya di kota.

“Disini dinginnya alami kalau di rumah harus pakai AC,” ungkap Rachel.

Rachel juga menyebut kegiatan panen kentang sebagai pengalaman favoritnya. Ia bersama teman-teman dari sekolah berbeda bekerja sama menentukan makanan yang akan dibuat, membawa bahan, membagi tugas, hingga memasaknya.

“Jadi, menurutku ini kegiatan yang berguna, jika kita sudah besar nanti, kita jadi bisa mencari dan mengolah makanan untuk diri ketika sendiri,” tutupnya.

EDITOR: Banu Adikara