JawaPos.com - Kemampuan matematika masih menjadi pekerjaan rumah terbesar pendidikan Indonesia.
Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025, survei kemampuan siswa yang digelar Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebanyak 83,07 persen siswa Indonesia belum mencapai kompetensi dasar matematika atau Level 2.
Skor matematika Indonesia dalam PISA 2025 juga turun dua poin dibandingkan hasil 2022, dari 366 menjadi 364.
Baca Juga: Fokus Pulihkan Mental Siswa Korban Bencana, Mendikdasmen Kerahkan Tim Trauma Healing
Sebaliknya, skor sains naik enam poin menjadi 389 dan membaca meningkat tujuh poin menjadi 365.
Meski ada perbaikan pada sains dan membaca, capaian Indonesia masih tertinggal cukup jauh dari rata-rata negara OECD.
Rata-rata skor OECD mencapai 482 untuk sains, 461 untuk membaca, dan 463 untuk matematika.
Baca Juga: MTQ Nasional XXXI Jadi Ruang Pertemuan Daerah dan Pengembangan Penyelenggaraan
Dari sisi peringkat, Indonesia berada di posisi 73 untuk sains, 74 untuk membaca, dan 78 untuk matematika dari 90–91 negara peserta.
Peringkat tersebut bahkan turun dibandingkan PISA 2022 karena sejumlah negara lain mencatat peningkatan lebih cepat.
Persoalan kemampuan dasar juga terlihat pada dua bidang lainnya. Sebanyak 63,2 persen siswa Indonesia belum mencapai Level 2 dalam sains.
Sementara pada membaca, proporsinya mencapai 72,89 persen.
Di sisi lain, siswa yang mampu mencapai Level 5 atau 6, atau kategori berprestasi tinggi, jumlahnya nyaris nol persen di tiga bidang tersebut.
Anggota Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP) Achmad Rizali mengatakan, hasil PISA 2025 tetap memberikan harapan.
Baca Juga: Menag: MTQ Nasional Punya Makna Sosial dan Kebangsaan yang Sangat Besar
Kenaikan skor membaca dan sains menunjukkan adanya sejumlah upaya pendidikan yang mulai memberikan dampak.
“Meski naiknya hanya tipis dan ada yang turun, masih ada harapan. Beberapa ikhtiar dari kementerian yang berdampak positif harus terus digenjot,” kata Achmad.
Namun, Achmad mengingatkan kenaikan skor tersebut belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya tren perbaikan jangka panjang.
Baca Juga: Pondok Pesantren Baitul Arqom Siap Sukseskan Asta Cita Presiden Prabowo Melalui Kemandirian Pangan
Terlebih, tantangan yang dihadapi Indonesia masih besar.
Matematika menjadi perhatian khusus karena berkaitan erat dengan kemampuan bernalar siswa.
Menurut Achmad, kemampuan bernalar sebenarnya sudah masuk dalam standar capaian pendidikan.
Baca Juga: Pertamina UMK Academy 2026 Resmi Dimulai, Lebih dari 1.500 Pelaku Usaha Terpilih
Persoalannya, penerapan di ruang kelas masih terkendala kemampuan guru dalam mempraktikkan pembelajaran yang mendorong penalaran.
Target PISA 2029 juga membuat pekerjaan tersebut semakin berat.
Skor matematika Indonesia ditargetkan mencapai 409 poin.
Dengan capaian 364 poin pada PISA 2025, masih ada selisih 45 poin yang harus dikejar.
Baca Juga: Resmi, BGN Coret 1.653 Sekolah Elite dari Daftar Penerima MBG
“Sains sekitar 35 dan membaca 37 poin. Bisakah rata-rata hanya naik 6 poin mencapai target itu? Sangat berat karena PISA 2029 akan diuji di 2027,” ujar Achmad Rizali.
Achmad menilai pemerintah perlu melakukan pembenahan yang lebih terarah.
Dia mengusulkan tiga langkah strategis untuk memperkuat fondasi pembelajaran.
Baca Juga: Airlangga Pribadi Dimakamkan di Pondok Ranggon Jaktim, Haris Azhar Kenang Pemikirannya
Pertama, pemerintah perlu menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Mutu SD/MI yang fokus pada penguatan sains, matematika, dan membaca.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menggerakkan berbagai sumber daya pemerintah dalam satu agenda yang sama.
“Inpres ini akan menghela semua sumber daya ke satu fokus pekerjaan seperti Inpres Penurunan Stunting yang sukses menurunkan rata-rata 2 persen setahun padahal awalnya dianggap ajaib,” paparnya.
Baca Juga: Kemendikasmen Revitalisasi 1.487 Sekolah di NTT, Kucurkan Dana Rp 1,2 Triliun
Kedua, program kementerian seperti Gerakan Nasional Numerasi (GNN) dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus dieksekusi hingga menyentuh proses pembelajaran di kelas.
Program tersebut, menurut Achmad, perlu dikelola sebagai gerakan nasional yang terintegrasi.
Ketiga, pemerintah perlu mengevaluasi mutu guru lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG), khususnya untuk PGSD, juga perlu dievaluasi.
Baca Juga: Alasan Kemendikdasmen Kirim TV Digital ke SDN Mboeng NTT Meski Tak Ada Listrik
Achmad juga menyoroti pentingnya Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berjalan selaras dengan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) atau akreditasi.
“Ketika skor PISA tidak membaik, artinya ada yang tidak mematuhi pelaksanaan SNP semisal standar proses dan isi. Atau justru SNP-nya sendiri yang harus dievaluasi karena tidak mendorong perbaikan skor PISA,” terang Achmad Rizali.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai hasil PISA 2025 juga menunjukkan adanya kemajuan dalam perluasan akses pendidikan.
Baca Juga: 5 Refleksi P2G Soal Kenaikan Skor PISA Indonesia 2025
Hal itu terlihat dari Coverage Index, yakni proporsi siswa usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal.
Pada PISA 2003, Coverage Index Indonesia berada di angka 0,46.
Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat menjadi 0,90 pada PISA 2025.
Baca Juga: Belajar Bahasa Tak Cukup di Kelas, Pengalaman Internasional Membentuk Kemandirian Siswa
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan capaian Indonesia perlu dilihat dalam konteks tren pendidikan global.
Selama 25 tahun terakhir, skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD cenderung menurun.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” kata Toni seperti dikutip dari situs Kemendikdasmen.
Kemendikdasmen telah menyiapkan empat pilar pembenahan.
Baca Juga: SDN Mboeng Hampir Roboh tapi Malah Dapat TV Digital, Kemendikdasmen Sebut akan Direvitalisasi
Di antaranya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis eksperimen, penguatan profesionalisme PPG, serta penguasaan koding dan kecerdasan artifisial.
Meski demikian, capaian PISA 2025 menunjukkan pekerjaan rumah terbesar tetap berada pada kemampuan dasar.
Kenaikan skor membaca dan sains menjadi sinyal positif, tetapi 83,07 persen siswa yang belum mencapai kompetensi dasar matematika menunjukkan penguatan numerasi masih menjadi agenda mendesak pendidikan Indonesia.
Baca Juga: Mendikdasmen Sarankan PJJ di Banten dan Lampung, Antisipasi Erupsi Anak Krakatau