JawaPos.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) fokus pada pemulihan mental siswa yang terdampak bencana alam. Kementerian mengerahkan tim trauma healing ke lokasi bencana.
Adapun sasaran siswa untuk program trauma healing ini berada di lokasi bencana besar. Seperti yang melanda Sumatera pada 2025 dan terbaru adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Kami sejak musibah di Sumatra, di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat itu selalu melibatkan tim trauma healing dari kementerian," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti, Sabtu (12/9).
Tim trauma healing yang dikirim berasal dari internal kementerian. Terdapat pula kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), hingga beberapa universitas nasional.
Baca Juga: Bukan Kebetulan, Nyamuk Ternyata Pilih-Pilih Saat Menggigit Seseorang, Simak Ini Alasannya
Kemendikdasmen menyatakan membuka ruang partisipasi kepada seluruh pihak yang ingin terlibat dalam pemulihan pasca bencana. Uluran tangan dari siapapun sangat dibutuhkan oleh para siswa.
"Murid-murid yang terdampak musibah ini supaya mereka memiliki mental yang kuat, semangat yang tinggi untuk mereka dapat bertahan dan dapat belajar sebagaimana mestinya," imbuhnya.
Di sisi lain, Mu'ti memastikan program revitalisasi sekolah terus berjalan. Pada tahun 2026 ini sekolah yang sudah dibangun sebanyak 11.744 satuan pendidikan. Kementerian juga mendapat alokasi tambahan anggaran untuk membangun 60.000 satuan pendidikan.
"Jadi tahun ini, 2026 itu kita rencanakan melakukan revitalisasi Kemendikdasmen dan juga kementerian terkait itu 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia," pungkasnya.
Jumlah tersebut bahkan berpotensi meningkat. Pasalnya terdapat sekolah yang bisa dilakukan efisiensi karena menerapkan sistem swakelola.