← Beranda
Beasiswa Dongkrak IPK dan Kemampuan Bahasa Inggris Mahasiswa Indonesia Timur
Nanda PrayogaKamis, 2 Juli 2026 | 01.05 WIB
Ilustrasi mahasiswa Indonesia Timur. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Program beasiswa tidak hanya berperan sebagai bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, penerima beasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi akademik maupun keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Selain mendorong prestasi di bangku kuliah, program pengembangan mahasiswa kini juga banyak diarahkan untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan, literasi digital, pengelolaan keuangan, hingga kemampuan berbahasa asing. Bekal tersebut dinilai penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki daya saing yang lebih baik.

Salah satu program yang mencatatkan hasil tersebut adalah Beasiswa Eramet Beyond. Program yang dijalankan Eramet Indonesia bersama Kitong Bisa Foundation (KBF) itu menyebut ada peningkatan indeks prestasi kumulatif (IPK), kemampuan bahasa Inggris, hingga keterampilan kepemimpinan para mahasiswa penerima beasiswa dari Indonesia Timur.

Baca Juga: Wamendikdasmen Jelaskan Arah Kebijakan TKA, Pendidikan Nasional Harus Tepat Sasaran

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet mengatakan, investasi di bidang pendidikan merupakan langkah jangka panjang yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Pendidikan menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

"Kami ingin membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda berbakat untuk mengembangkan potensi mereka, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan menciptakan dampak positif di daerah asal," kata Jerome dalam acara penutupan Program Eramet Beyond di Jakarta.

Program yang diluncurkan pada November 2024 itu diikuti 41 mahasiswa asal Maluku, Sulawesi, dan Papua, yang terpilih dari lebih dari 500 pendaftar di seluruh Indonesia. Selama mengikuti program, peserta memperoleh 46 sesi pengembangan yang mencakup bahasa Inggris, project management, kepemimpinan, literasi keuangan, dan literasi digital.

Baca Juga: Ratusan Delegasi Anak Muda Indonesia Ikut Terlibat dalam Simulasi Sidang PBB, Bergabung dengan 19 Negara Lain

Seluruh proses pembelajaran disusun dalam empat tahap. Yakni Learn, Lead, Serve, dan Give Back, yang bertujuan mendorong peserta mengembangkan kapasitas diri sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Selama program berlangsung, sejumlah indikator menunjukkan peningkatan. Sebanyak 70 persen peserta mengalami kenaikan kemampuan bahasa Inggris setidaknya satu tingkat. Sementara itu, 73,2 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang project management.

Program tersebut juga meningkatkan pemahaman peserta mengenai pengelolaan keuangan. Sebanyak 73 persen peserta mengaku lebih memahami pentingnya dana darurat setelah mengikuti sesi literasi keuangan.

Dari sisi akademik, rata-rata IPK peserta meningkat dari 3,50 menjadi 3,63 atau naik sekitar 3,75 persen dari semester lima ke semester tujuh. Selain itu, 19 dari 41 mahasiswa atau sekitar 45 persen peserta juga aktif mengikuti organisasi, komunitas, maupun berbagai kegiatan sosial sepanjang 2026.

Sementara itu, CEO Kitong Bisa Foundation Mohammad Afif menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pencapaian akademik peserta, tetapi juga dari kontribusi yang dapat mereka berikan kepada masyarakat.

"Kami tidak hanya mendukung mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan mereka, tetapi juga membekali mereka dengan karakter kepemimpinan, semangat pengabdian, dan kemampuan untuk menciptakan dampak nyata," ujar Afif.

Baca Juga: Rektor Unika Atma Jaya Masuk Daftar 5 Persen Ilmuwan Terbaik Dunia Versi SciRank Global 2025

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah