JawaPos.com — Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mulai menjajaki kerja sama internasional dengan Hear The World Foundation (HTWF) dalam bidang pendidikan dan kesehatan anak. Diskusi yang digelar Senin (18/5/2026) itu membuka peluang pendirian program studi audiologi guna mendukung penanganan anak dengan gangguan pendengaran sejak dini.
Pendengaran menjadi salah satu faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Namun, tidak semua anak lahir dengan kondisi pendengaran normal sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus sejak awal kehidupan.
Mengapa UNUSA Mulai Melirik Program Studi Audiologi?
Keseriusan itu terlihat saat Hear The World Foundation (HTWF) mengunjungi kampus UNUSA pada Senin sore.
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama strategis dalam bidang pendidikan, khususnya pengembangan keilmuan audiologi.
Senior Program Manager HTWF, Jacqueline Drexler, memaparkan misi organisasinya yang fokus membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran melalui dukungan alat bantu dengar.
HTWF selama ini dikenal sebagai yayasan internasional yang aktif mendukung akses pendengaran bagi anak-anak di berbagai negara.
Wakil Rektor 3 UNUSA, Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, DEA., DVM., mengungkapkan kampusnya memang tengah merancang program studi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan ialah program studi audiologi.
Menurut Bambang, pembahasan bersama Jacqueline menjadi momentum penting karena audiologi sudah berkembang di sejumlah negara.
Ilmu tersebut dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung layanan kesehatan dan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Peran HTWF dalam Penyusunan Kurikulum UNUSA
Diskusi antara kedua pihak tidak berhenti pada penjajakan kerja sama formal semata. HTWF juga dilibatkan dalam memberikan masukan terkait arah pengembangan kurikulum apabila program studi audiologi benar-benar dibuka.
Jacqueline Drexler menyebut penyusunan kurikulum membutuhkan pendekatan multidisiplin dan tenaga ahli yang memahami bidang audiologi secara mendalam.
Karena itu, dirinya siap membantu menghubungkan UNUSA dengan rekan-rekan profesional yang lebih berpengalaman dalam pengembangan kurikulum internasional.
“Saya akan bantu mengarahkan ke rekan saya yang lebih mengerti mengenai kurikulum,” tegasnya.
Langkah ini dinilai penting agar kurikulum yang disusun UNUSA tidak hanya sesuai standar nasional, tetapi juga memiliki relevansi global.
Apalagi kebutuhan tenaga ahli audiologi terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan pendengaran anak.
Selain mendukung aspek akademik, keterlibatan HTWF juga membuka peluang kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat.
Hal tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi UNUSA untuk memperkuat kapasitas pendidikan berbasis kebutuhan sosial.
Gangguan Pendengaran Anak Jadi Perhatian Bersama
Gangguan pendengaran pada anak masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan.
Anak yang mengalami hambatan pendengaran berisiko mengalami keterlambatan bicara, kesulitan komunikasi, hingga hambatan perkembangan sosial apabila tidak mendapat penanganan tepat.
Karena itu, keberadaan tenaga ahli audiologi dinilai semakin dibutuhkan. Profesi ini berperan dalam deteksi dini, pemeriksaan fungsi pendengaran, hingga pendampingan penggunaan alat bantu dengar bagi anak.
UNUSA melihat isu tersebut bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab pendidikan dan kemanusiaan.
Kampus ingin menghadirkan kontribusi nyata melalui pengembangan keilmuan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kerja sama internasional seperti ini, UNUSA juga berharap mampu menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif.
Kampus tidak hanya fokus mencetak lulusan, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap kelompok anak dengan keterbatasan pendengaran.
UNUSA Perluas Jejaring Internasional Lewat Kolaborasi Strategis
Pertemuan bersama HTWF menjadi salah satu langkah strategis UNUSA dalam memperluas jejaring internasional.
Kampus terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai institusi global untuk mendukung penguatan akademik dan inovasi pendidikan.
Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan komitmen UNUSA dalam menghadirkan program-program yang memiliki dampak sosial langsung.
Isu kesehatan anak dan tumbuh kembang menjadi salah satu fokus yang mulai mendapat perhatian serius dari lingkungan kampus.
UNUSA berharap penjajakan kerja sama ini dapat berkembang menjadi program konkret dalam waktu mendatang.
Tidak hanya sebatas pertukaran gagasan, tetapi juga implementasi pendidikan, penelitian, dan layanan masyarakat secara berkelanjutan.
Ke depan, langkah tersebut diharapkan mampu menjadikan UNUSA sebagai kampus yang lebih aware terhadap tumbuh kembang anak dengan keterbatasan pendengaran.
Dukungan pendidikan dan kolaborasi internasional menjadi modal penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.