← Beranda
Juara di UNUGIRI! Mahasiswa UNUSA Ciptakan AI Chatbot Kesehatan Mental Berbasis Spiritualitas
ARMKamis, 21 Mei 2026 | 17.07 WIB
Mahasiswa UNUSA Neng Himatul Aliyah menunjukkan prestasi nasional lewat gagasan AI Chatbot kesehatan mental berbasis spiritualitas lokal. (UNUSA)

JawaPos.com — Mahasiswa Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Neng Himatul Aliyah, meraih Juara 2 lomba esai nasional di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro pada April lalu. Prestasi itu diraih lewat gagasan AI Chatbot kesehatan mental berbasis Behaviour Therapy yang memadukan teknologi, budaya lokal, dan spiritualitas untuk menjawab darurat kesehatan mental di Indonesia.

Prestasi tersebut menjadi bukti mahasiswa UNUSA mampu menghadirkan inovasi yang relevan dengan persoalan sosial saat ini.

Di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental hingga bunuh diri, ide yang dibawa Neng Himatul Aliyah dinilai menawarkan pendekatan baru yang lebih inklusif dan humanis.

AI Chatbot Jadi Solusi Pendampingan Mental

Gagasan yang diusung Neng Himatul Aliyah berfokus pada pengembangan aplikasi AI Chatbot berbasis Behaviour Therapy.

Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Unusa Jalani Wisuda, Salah Satunya Biarawati

Inovasi itu dirancang sebagai media “katarsis digital” yang memberi ruang aman bagi masyarakat untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi.

Aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi Natural Language Processing (NLP) untuk menciptakan interaksi yang lebih personal dan responsif.

Pendekatan ini membuat pengguna bisa memperoleh dukungan emosional secara lebih mudah dan fleksibel melalui platform digital.

Menariknya, konsep AI Chatbot itu tidak hanya mengedepankan kecanggihan teknologi modern.

 

Hima juga memasukkan unsur sosiokultural dan spiritual lokal agar pendampingan mental terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

“Gagasan ini bertujuan menghadirkan pendampingan mental yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi tetap membumi dengan menyentuh sisi spiritualitas dan budaya setempat,” ungkap gadis yang akrab disapa Hima itu.

Konsep tersebut mendapat perhatian dalam lomba esai tahunan yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling FKIP UNUGIRI Bojonegoro.

Tema besar kompetisi itu mengangkat generasi sadar mental, berdaya, dan berkarakter.

Berawal dari Kepedulian terhadap Darurat Mental

Ide pengembangan AI Chatbot kesehatan mental muncul dari keresahan terhadap fenomena darurat kesehatan mental di kalangan masyarakat.

Tingginya kasus depresi hingga bunuh diri menjadi perhatian serius yang mendorong Hima mencari solusi alternatif melalui pendekatan digital.

Menurutnya, masih banyak individu yang kesulitan mengakses layanan konseling profesional karena faktor biaya, stigma sosial, hingga keterbatasan tenaga ahli.

Kehadiran chatbot berbasis AI diharapkan mampu menjadi pendamping awal yang lebih mudah dijangkau masyarakat luas.

 

Pendekatan Behaviour Therapy dipilih karena memiliki fokus pada perubahan pola pikir dan perilaku negatif secara bertahap.

Dengan sistem percakapan berbasis AI, pengguna dapat memperoleh arahan dan respons yang mendukung kesehatan mental secara lebih praktis.

Hima juga melihat generasi muda kini semakin dekat dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pemanfaatan AI dinilai menjadi peluang besar untuk menghadirkan layanan kesehatan mental yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan teknologi tidak selalu bersifat dingin dan kaku.

Jika dirancang dengan pendekatan empati serta nilai budaya, teknologi justru dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kesehatan emosional masyarakat.

Konsisten Menulis hingga Berbuah Prestasi

Keberhasilan meraih Juara 2 bukan diraih secara instan oleh mahasiswa UNUSA tersebut. Ketertarikan Hima dalam dunia menulis dan penelitian sudah tumbuh sejak menempuh pendidikan di MAN 2 Tasikmalaya.

Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti kompetisi esai tingkat nasional dengan persaingan yang sangat ketat.

 

Pengalaman menghadapi kegagalan justru menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dan ide yang dimiliki.

Semangat pantang menyerah menjadi modal utama hingga akhirnya berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional. Konsistensi itu membuatnya semakin percaya diri untuk terus berkarya di bidang literasi dan inovasi kesehatan.

“Harapan saya, prestasi ini bisa memicu semangat untuk terus berkarya di masa depan. Tidak hanya untuk pribadi, tapi semoga bisa menginspirasi seluruh mahasiswa UNUSA agar tidak pernah lelah mencoba,” pungkasnya.

Capaian tersebut juga memperkuat citra UNUSA sebagai kampus yang mendorong lahirnya inovasi berbasis kepedulian sosial.

Mahasiswanya tidak hanya dibekali kompetensi akademik, tetapi juga kepekaan dalam menjawab persoalan kemanusiaan melalui pemanfaatan teknologi.

UNUSA Dorong Mahasiswa Aktif Berinovasi

Prestasi Neng Himatul Aliyah menjadi salah satu contoh keberhasilan mahasiswa UNUSA dalam mengembangkan gagasan kreatif yang berdampak nyata. Kampus terus memberi ruang bagi mahasiswa untuk aktif dalam penelitian, kompetisi, dan pengembangan inovasi sosial.

Ajang lomba esai nasional seperti yang digelar UNUGIRI juga menjadi wadah penting untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa dapat belajar menyusun solusi konkret terhadap berbagai persoalan bangsa.

Ke depan, inovasi AI Chatbot kesehatan mental itu diharapkan tidak berhenti sebatas gagasan lomba.

 

Konsep tersebut berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi platform nyata yang membantu masyarakat memperoleh akses pendampingan mental secara lebih luas.

Di era digital seperti sekarang, perpaduan teknologi dan nilai kemanusiaan menjadi kebutuhan penting dalam dunia kesehatan.

Prestasi mahasiswa UNUSA ini membuktikan generasi muda Indonesia mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya modern, tetapi juga penuh empati.

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin