← Beranda
Dewi Sartika: Sosok Pejuang Pendidikan Bagi Kaum Perempuan
Abdul RahmanSelasa, 21 April 2026 | 18.55 WIB
Dewi Sartika. (istimewa)

 

JawaPos.com - Dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Selasa (21/4), kisah perjuangan Dewi Sartika menjadi salah satu inspirasi penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia.

Sosoknya dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi kaum perempuan di Tanah Air, khususnya di wilayah Pasundan, ketika akses pendidikan bagi kaum perempuan pada masa itu masih sangat terbatas.

Dewi Sartika mendapat keistimewaan mengakses pendidikan karena berada dari keluarga terpandang.

Dia lahir dari keluarga Sunda ternama yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas. Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884.

Baca Juga: Bangganya Atta Halilintar Difollow Legenda Sepak Bola Dunia Ronaldo Nazario

Kecintaannya pada pendidikan sudah terlihat sejak masih usia anak-anak. Pada saat itu, Dewi Sartika selalu bermain peran menjadi guru usai menimba ilmu di bangku sekolah bersama teman-temannya.

Pada awal abad ke-20, perempuan di Indonesia umumnya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal. Kondisi ini mendorong Dewi Sartika untuk mengambil langkah berani mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan.

Dewi Sartika percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan derajat dan kemandirian perempuan dalam kehidupan sosial maupun keluarga.

Pada tahun 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah bernama Sakola Istri di Bandung.Pada tahun 1910, Sekolah Istri berganti nama menjadi Sakola Kaoetamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).

Sekolah tersebut kemudian berkembang pesat menjadi cikal bakal lembaga pendidikan perempuan di berbagai daerah. Di sekolah ini, para siswi tidak hanya diajarkan membaca dan menulis, tapi juga dibekali keterampilan praktis seperti menjahit, memasak, dan tata krama.

Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, kemudian berkembang menjadi satu sekolah di tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sakola Radén Déwi.

Langkah Dewi Sartika saat itu terbilang revolusioner.karena menentang pandangan masyarakat yang menganggap perempuan cukup berada di ranah domestik. Dengan keberanian dan keteguhan hatinya, dia berhasil membuka jalan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Pada zaman penjajahan Jepang, ada kebijakan semua sekolah dasar diubah namanya menjadi Sekolah Rakyat. Sekolah Raden Dewi turut dibubah namanya menjadi Sekolah Rakyat Gadis No.29.

Perjuangan Dewi Sartika memberikan dampak besar terhadap perkembangan pendidikan perempuan di Indonesia. Sekolah yang ia dirikan berkembang menjadi jaringan sekolah perempuan di berbagai wilayah Jawa Barat. Keberhasilannya juga menginspirasi tokoh-tokoh perempuan lain untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan.

Atas jasa-jasanya dalam bidang pendidikan, Dewi Sartika dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan, sekolah, hingga institusi pendidikan di berbagai daerah.

Semangat perjuangannya sejalan dengan cita-cita emansipasi perempuan yang juga diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini, sehingga keduanya sering dikenang bersama setiap peringatan Hari Kartini.

Nilai-Nilai Perjuangan Dewi Sartika yang Relevan di Era Modern

Memperingati Hari Kartini bukan hanya sekadar mengenang sejarah, tapi juga meneladani nilai-nilai perjuangan tokoh perempuan seperti Dewi Sartika.

Ada beberapa nilai penting yang masih relevan hingga saat ini yang dapat dipetik antara lain; pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa dan keberanian melawan keterbatasan sosial demi perubahan yang lebih baik.

Selain itu, nilai penting lainnya yang dapat dipetik dari Dewi Sartika yaitu kemandirian dan keterampilan hidup sebagai bekal dalam menghadapi tantangan zaman.

Di era modern, akses pendidikan bagi perempuan memang sudah jauh lebih terbuka. Namun, semangat Dewi Sartika tetap relevan sebagai pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak lepas dari perjuangan panjang sejumlah tokoh terdahulu.

Baca Juga: Profil Yoyo Padi: Salah Satu Drummer Terbaik dengan Permainan yang Mengagumkan

Dalam momentum Hari Kartini, kisah Dewi Sartika menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan memberdayakan perempuan melalui ilmu pengetahuan.

Dengan meneladani semangat Dewi Sartika, masyarakat dapat menyadari bahwa pendidikan adalah hak setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Perjuangan tersebut menjadi warisan berharga yang patut dikenang dan dilanjutkan sepanjang masa.

EDITOR: Abdul Rahman