← Beranda
Ingin Anak yang Sudah Dewasa Berkata Jujur? Lakukan 7 Strategi Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 15 Oktober 2026 | 06.31 WIB
seseorang yang berbicara jujur dengan anaknya./Magnific/prostooleh

JawaPos.com - Ada satu hal yang sering diinginkan orang tua ketika anaknya sudah dewasa: anak mau bercerita dengan jujur.

Bukan sekadar menceritakan kabar baik. Bukan hanya ketika semuanya berjalan lancar. Tetapi juga ketika ia sedang bingung, gagal, terluka, melakukan kesalahan, mengalami masalah dalam hubungan, mengalami tekanan pekerjaan, atau mengambil keputusan yang mungkin tidak disetujui orang tua.

Namun, semakin dewasa seorang anak, semakin banyak bagian kehidupannya yang menjadi milik pribadi.

Di sinilah hubungan orang tua dan anak mengalami perubahan.

Ketika anak masih kecil, orang tua bisa bertanya, “Kamu dari mana?” atau “Tadi di sekolah bagaimana?” dan anak biasanya masih mudah menjawab. Tetapi ketika anak sudah dewasa, pertanyaan yang sama bisa terasa berbeda.

Bukan karena ia tidak menyayangi orang tuanya.

Bisa jadi ia hanya mulai mempertimbangkan satu hal:

“Kalau aku jujur, apa yang akan terjadi setelahnya?”

Apakah saya akan dihakimi?

Apakah orang tua akan marah?

Apakah masalah saya akan dibesar-besarkan?

Apakah saya akan diberi nasihat yang sebenarnya tidak saya minta?

Atau apakah saya akan tetap diterima meskipun pilihan saya berbeda?

Menurut psikologi, rasa aman dalam hubungan sangat berpengaruh terhadap keterbukaan seseorang. Orang cenderung lebih mudah mengungkapkan sesuatu ketika mereka merasa didengarkan, dihargai, dan tidak langsung diserang atau dipermalukan.

Karena itu, jika Anda ingin anak yang sudah dewasa lebih jujur kepada Anda, solusinya bukan selalu bertanya lebih banyak.

Terkadang, solusinya adalah membuat anak merasa aman untuk menjawab.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (7/10), terdapat tujuh strategi yang dapat membantu.

1. Jangan langsung menghakimi ketika anak mengatakan sesuatu yang tidak Anda sukai

Ini mungkin salah satu strategi paling penting.

Bayangkan anak Anda akhirnya mengatakan:

“Aku sebenarnya tidak bahagia dengan pekerjaan ini.”

Atau:

“Aku sedang punya masalah dengan pasangan.”

Atau bahkan:

“Aku melakukan kesalahan besar.”

Respons pertama orang tua sangat menentukan apakah percakapan akan berlanjut atau berhenti.

Jika respons yang muncul adalah:

“Kan sudah Mama bilang.”

“Makanya jangan keras kepala.”

“Kamu memang dari dulu susah dinasihati.”

“Kalau saja kamu mendengarkan orang tua.”

Anak mungkin belajar satu hal:

“Lebih baik aku tidak cerita lagi.”

Secara psikologis, manusia cenderung menghindari situasi yang membuat mereka merasa malu, ditolak, atau diserang.

Bukan berarti orang tua tidak boleh tidak setuju.

Anda boleh tidak setuju.

Anda boleh khawatir.

Anda bahkan boleh mengatakan bahwa keputusan anak menurut Anda kurang tepat.

Namun, waktu dan cara menyampaikannya sangat penting.

Ketika anak baru saja membuka diri, cobalah menahan dorongan untuk langsung memberikan penilaian.

Anda bisa mengatakan:

“Terima kasih sudah mau cerita sama Ibu.”

Atau:

“Aku bisa membayangkan ini tidak mudah untuk kamu ceritakan.”

Kalimat seperti itu tidak berarti Anda menyetujui semua tindakan anak.

Anda hanya sedang menunjukkan bahwa kejujuran tidak akan langsung dibalas dengan hukuman emosional.

Dan itu sangat penting.

Jika anak belajar bahwa mengatakan kebenaran selalu membuatnya dimarahi, lama-kelamaan ia mungkin memilih menyembunyikan kebenaran.

Sebaliknya, jika ia mengalami bahwa kejujuran diterima dengan tenang, kemungkinan untuk terbuka kembali bisa menjadi lebih besar.

2. Dengarkan sampai selesai sebelum memberikan nasihat

Banyak orang tua sebenarnya memiliki niat baik.

Ketika anak bercerita tentang masalah, orang tua ingin membantu.

Maka begitu mendengar masalah, otak langsung mencari solusi.

“Kalau menurut Mama…”

“Kamu seharusnya…”

“Coba kamu…”

“Dulu waktu Mama seusiamu…”

Masalahnya, tidak semua cerita membutuhkan solusi.

Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan tempat yang aman untuk mengeluarkan isi pikirannya.

Anak yang sudah dewasa juga memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa dirinya didengar sebagai orang dewasa, bukan diperlakukan seperti anak kecil yang tidak mampu mengambil keputusan.

Karena itu, sebelum memberikan nasihat, cobalah bertanya:

“Kamu ingin Ibu dengarkan saja, atau kamu ingin pendapat Ibu?”

Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah suasana percakapan.

Jika anak menjawab, “Aku cuma ingin cerita,” maka cobalah menghormati itu.

Dengarkan.

Jangan buru-buru memperbaiki.

Jangan buru-buru membandingkan.

Jangan mengubah ceritanya menjadi ceramah.

Anda mungkin terkejut bahwa ketika seseorang merasa benar-benar didengarkan, ia justru menjadi lebih terbuka.

Mengapa?

Karena ia tidak lagi sibuk mempertahankan dirinya.

Ketika seseorang merasa harus membela diri dari kritik, sebagian besar energinya digunakan untuk melindungi diri.

Tetapi ketika ia merasa aman, ia dapat lebih bebas mengeksplorasi perasaannya sendiri.

Jadi, terkadang bentuk bantuan terbaik dari orang tua bukanlah memberikan jawaban.

Melainkan berkata:

“Ibu dengarkan.”

3. Berhenti menggunakan kejujuran anak sebagai senjata di kemudian hari

Ini adalah kesalahan yang mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar.

Misalnya anak pernah bercerita bahwa ia sedang mengalami masalah keuangan.

Beberapa bulan kemudian terjadi pertengkaran.

Lalu orang tua berkata:

“Pantas saja hidupmu berantakan. Waktu itu saja kamu sudah cerita punya masalah keuangan.”

Atau anak pernah mengakui bahwa hubungannya sedang bermasalah.

Kemudian ketika terjadi konflik keluarga, orang tua berkata:

“Dari dulu hubunganmu memang tidak benar.”

Jika pengalaman seperti ini berulang, anak dapat belajar bahwa keterbukaan memiliki risiko.

Ia mungkin berpikir:

“Kalau aku cerita sekarang, informasi ini bisa dipakai untuk menyerangku nanti.”

Akibatnya, ia menjadi lebih tertutup.

Karena itu, jika seorang anak mempercayakan sesuatu kepada Anda, perlakukan kepercayaan tersebut dengan hati-hati.

Tidak semua informasi yang Anda ketahui harus digunakan dalam setiap perdebatan.

Tidak semua kelemahan anak perlu diingatkan kembali.

Tidak semua pengakuan harus menjadi bukti bahwa Anda benar.

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman bahwa seseorang tidak akan terus-menerus dihukum karena pernah menunjukkan sisi rentannya.

Jika Anda ingin anak terus jujur, tunjukkan bahwa:

“Apa yang kamu ceritakan kepadaku tidak akan menjadi senjata untuk melawanmu.”

4. Hormati privasi anak yang sudah dewasa

Ada perbedaan antara peduli dan mengontrol.

Orang tua tentu tetap boleh bertanya.

Namun anak yang sudah dewasa juga berhak memiliki ruang pribadi.

Misalnya, anak tidak selalu harus menjelaskan setiap detail kehidupannya.

Ia mungkin tidak ingin menceritakan masalah hubungan secara lengkap.

Ia mungkin belum siap membicarakan kondisi keuangannya.

Ia mungkin masih memproses keputusan karier.

Atau ia mungkin hanya membutuhkan waktu sebelum membicarakan sesuatu.

Jika setiap “tidak ingin cerita” dianggap sebagai tanda bahwa anak tidak menghormati orang tua, hubungan dapat menjadi semakin tegang.

Cobalah mengganti:

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada Mama?”

dengan:

“Kalau suatu saat kamu ingin cerita, Mama ada.”

Perbedaannya sangat besar.

Kalimat pertama menciptakan tekanan.

Kalimat kedua menciptakan pintu.

Dan pintu yang terbuka tanpa paksaan sering kali lebih mudah dimasuki.

Anak dewasa mungkin tidak langsung bercerita hari ini.

Tetapi ia akan tahu bahwa ketika waktunya tiba, ada seseorang yang dapat ia datangi.

5. Jangan membuat semua percakapan berubah menjadi sesi evaluasi

Ada orang tua yang setiap kali berbicara dengan anak selalu bertanya:

“Kerjamu bagaimana?”

“Kapan menikah?”

“Gajimu berapa?”

“Sudah punya rumah?”

“Kenapa belum punya anak?”

“Kenapa belum naik jabatan?”

“Berat badanmu naik?”

“Temanmu siapa saja?”

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin berasal dari kepedulian.

Namun jika hampir setiap percakapan berisi evaluasi, anak bisa mulai mengasosiasikan komunikasi dengan tekanan.

Akhirnya, setiap kali telepon dari orang tua masuk, yang muncul bukan rasa nyaman, melainkan:

“Aduh, nanti ditanya apa lagi?”

Cobalah membangun percakapan yang tidak selalu berorientasi pada pencapaian.

Tanyakan:

“Akhir-akhir ini apa yang membuat kamu senang?”

“Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”

“Minggu ini bagian terbaiknya apa?”

“Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?”

Pertanyaan seperti ini memberi ruang bagi anak untuk memilih arah percakapan.

Dan terkadang, justru dari percakapan ringan itulah hal-hal yang lebih dalam muncul secara alami.

Hubungan yang dekat tidak dibangun hanya melalui percakapan serius.

Ia juga dibangun melalui humor, makan bersama, cerita sehari-hari, pengalaman kecil, dan kehadiran tanpa tuntutan.

6. Belajar mengatakan, “Mungkin Ibu salah”

Ini mungkin salah satu kalimat paling sulit bagi sebagian orang tua.

Mengakui kesalahan tidak membuat orang tua kehilangan wibawa.

Justru sebaliknya.

Ketika orang tua mampu berkata:

“Tadi cara Ibu bicara terlalu keras. Maaf.”

atau:

“Setelah Ibu pikirkan lagi, mungkin Ibu terlalu cepat menilai.”

anak mendapatkan contoh bahwa orang dewasa juga bisa bertanggung jawab atas kesalahannya.

Hal ini penting karena kejujuran bukan hanya sesuatu yang kita tuntut dari anak.

Kejujuran juga harus menjadi sesuatu yang kita praktikkan dalam hubungan.

Bayangkan seorang anak diminta untuk mengakui kesalahan, sementara orang tua tidak pernah meminta maaf.

Pesan yang diterima bisa menjadi:

“Kejujuran hanya berlaku untuk saya.”

Sebaliknya, ketika orang tua berani mengatakan “Saya salah”, hubungan menjadi lebih setara secara emosional.

Anak tidak lagi melihat orang tua sebagai hakim yang selalu benar.

Ia melihat orang tua sebagai manusia.

Dan ketika seseorang merasa orang di depannya juga manusia yang dapat memahami kesalahan, ia mungkin merasa lebih aman untuk menunjukkan ketidaksempurnaannya sendiri.

7. Tunjukkan bahwa cinta Anda tidak bergantung pada keputusan anak

Ini mungkin strategi yang paling dalam.

Anak yang sudah dewasa akan mengambil keputusan sendiri.

Beberapa keputusan mungkin membuat Anda bangga.

Sebagian lainnya mungkin membuat Anda khawatir.

Ada pula keputusan yang benar-benar tidak Anda setujui.

Namun jika anak merasa bahwa penerimaan orang tua hanya muncul ketika ia mengikuti keinginan orang tua, ia dapat mulai menyembunyikan kehidupannya.

Ia mungkin berkata semuanya baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.

Ia mungkin mengatakan apa yang ingin Anda dengar.

Ia mungkin menghindari topik tertentu.

Bahkan mungkin membuat keputusan diam-diam karena takut menghadapi reaksi keluarga.

Karena itu, penting untuk menyampaikan pesan:

“Kamu boleh punya pilihan yang berbeda dari Ibu. Ibu mungkin tidak selalu setuju, tetapi kamu tetap anak Ibu.”

Kalimat seperti ini tidak berarti Anda harus menyetujui perilaku yang berbahaya atau merugikan.

Ada batas yang tetap perlu ditegakkan.

Namun ada perbedaan antara menolak sebuah tindakan dan menolak seseorang.

Anda bisa mengatakan:

“Ibu tidak setuju dengan keputusan itu.”

tanpa mengatakan:

“Ibu kecewa punya anak seperti kamu.”

Yang pertama membahas perilaku.

Yang kedua menyerang identitas.

Dan perbedaan tersebut sangat penting dalam hubungan orang tua dan anak dewasa.

Ketika anak yakin bahwa perbedaan pendapat tidak otomatis berarti kehilangan kasih sayang, ia memiliki lebih banyak ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Kejujuran Tidak Bisa Dipaksa

Ada satu hal yang perlu dipahami orang tua:

Anda tidak dapat memaksa anak dewasa untuk jujur.

Anda hanya dapat menciptakan kondisi yang membuat kejujuran terasa lebih aman.

Ini adalah perbedaan besar.

Memaksa anak berkata:

“Jujur saja!”

“Jangan bohong kepada orang tua!”

“Kamu harus cerita semuanya!”

belum tentu membuat anak lebih terbuka.

Bisa jadi justru sebaliknya.

Kejujuran yang sehat lebih sering tumbuh dari hubungan yang memiliki kepercayaan.

Karena itu, daripada terus bertanya:

“Kenapa anak saya tidak mau cerita?”

cobalah bertanya:

“Seperti apa pengalaman anak saya ketika ia mencoba bercerita kepada saya?”

Apakah ia merasa didengar?

Apakah ia merasa aman?

Apakah ia boleh berbeda pendapat?

Apakah kesalahannya digunakan untuk menghakimi?

Apakah privasinya dihormati?

Apakah orang tua langsung memberikan nasihat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak nyaman.

Tetapi justru di situlah perubahan dapat dimulai.

Jika Anak Sudah Terlanjur Menjauh, Apakah Masih Bisa Diperbaiki?

Bisa saja.

Hubungan manusia tidak selalu berubah dalam satu percakapan.

Jika selama bertahun-tahun anak terbiasa menutup diri, mungkin diperlukan waktu sebelum ia kembali percaya.

Jangan menuntut:

“Mulai sekarang kamu harus cerita semuanya kepada Mama.”

Lebih baik mulai dari perubahan kecil.

Misalnya:

“Mama sadar mungkin selama ini kalau kamu cerita, Mama terlalu cepat memberi nasihat.”

“Kalau selama ini kamu merasa tidak nyaman cerita kepada Mama, Mama minta maaf.”

“Mama sedang belajar untuk lebih banyak mendengarkan.”

Perhatikan bahwa kalimat tersebut tidak memaksa anak untuk langsung membuka diri.

Anda hanya menunjukkan perubahan.

Kemudian biarkan waktu membuktikannya.

Kepercayaan biasanya tidak dibangun melalui satu janji.

Kepercayaan dibangun melalui pola perilaku yang konsisten.

Jika selama beberapa bulan anak melihat bahwa Anda benar-benar lebih tenang ketika mendengar cerita, tidak menggunakan kelemahannya sebagai senjata, menghormati batasannya, dan tidak langsung menghakimi, ia mungkin perlahan-lahan merasa lebih aman.

Dan ketika rasa aman meningkat, keterbukaan dapat mengikuti.

Pada Akhirnya, Anak Dewasa Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Punya Semua Jawaban

Mereka mungkin membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

orang tua yang bisa menjadi tempat pulang tanpa membuat mereka merasa harus berpura-pura.

Tempat di mana mereka boleh mengatakan:

“Aku gagal.”

“Aku bingung.”

“Aku takut.”

“Aku salah.”

“Aku tidak bahagia.”

“Aku mengambil keputusan yang berbeda.”

Dan tetap mendengar:

“Terima kasih sudah mau cerita.”

Menjadi orang tua dari anak yang sudah dewasa berarti belajar melepaskan sebagian kendali tanpa melepaskan kasih sayang.

Anda tidak lagi bisa mengatur seluruh hidup mereka.

Tetapi Anda masih bisa menjadi seseorang yang mereka percaya.

Dan mungkin, itulah salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak yang sudah dewasa:

bukan kehidupan yang selalu benar menurut orang tua, melainkan hubungan yang cukup aman sehingga anak tidak perlu menyembunyikan kehidupannya.

Jadi, jika Anda ingin anak Anda yang sudah dewasa berkata jujur, mulailah bukan dengan menuntut lebih banyak cerita.

Mulailah dengan menciptakan alasan bagi mereka untuk merasa aman ketika bercerita.

Dengarkan tanpa langsung menghakimi.
Hormati privasi mereka.
Jangan gunakan kerentanan sebagai senjata.
Akui ketika Anda salah.
Dan tunjukkan bahwa perbedaan pilihan tidak menghapus kasih sayang.

Karena pada akhirnya, kejujuran bukan hanya tentang keberanian anak untuk berbicara.

Kejujuran juga tentang kepercayaan bahwa ketika ia berbicara, hubungan itu akan tetap aman.

EDITOR: Hanny Suwindari