← Beranda
6 Alasan Mengapa Orang Tua dan Remaja Saling Mengeluh Satu Sama Lain Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 6 Oktober 2026 | 17.12 WIB
seseorang yang mengeluh kepada anaknya./Magnific/shurkin_son

JawaPos.com -  Hubungan antara orang tua dan remaja sering kali berada dalam situasi yang unik. Di satu sisi, keduanya saling menyayangi dan membutuhkan. Namun di sisi lain, mereka juga bisa menjadi dua pihak yang paling sering merasa kesal satu sama lain.

Orang tua mungkin mengeluh, “Anak sekarang susah sekali dinasihati.” Sementara remaja berpikir, “Orang tua tidak pernah mau mengerti aku.”

Keluhan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Orang tua merasa anak terlalu malas, terlalu sering bermain gawai, sulit diajak berbicara, atau tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, remaja merasa orang tua terlalu banyak mengatur, terlalu sering mengkritik, tidak memberikan kebebasan, atau selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.

Jika dilihat sekilas, masalah ini tampak seperti persoalan perilaku. Namun dari sudut pandang psikologi, konflik orang tua dan remaja sering kali berkaitan dengan perubahan kebutuhan, perkembangan identitas, komunikasi, ekspektasi, dan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Menariknya, orang tua dan remaja sebenarnya bisa mengeluhkan hal yang sama karena mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Berikut enam alasan mengapa orang tua dan remaja sering saling mengeluh satu sama lain.

1. Orang tua ingin melindungi, sementara remaja ingin mandiri

Salah satu sumber konflik terbesar dalam hubungan orang tua dan remaja adalah perubahan kebutuhan akan kemandirian.

Ketika anak masih kecil, orang tua memang memiliki kendali yang besar. Orang tua menentukan kapan anak makan, tidur, belajar, bermain, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.

Namun ketika memasuki masa remaja, kebutuhan psikologis mulai berubah.

Remaja mulai membangun identitasnya sendiri. Mereka mulai memiliki pendapat, nilai, pilihan, teman, minat, dan tujuan yang berbeda dari orang tua.

Dalam psikologi perkembangan, proses ini merupakan bagian penting dari perjalanan menuju kedewasaan.

Masalahnya, kebutuhan remaja untuk mandiri terkadang terlihat seperti pembangkangan dari sudut pandang orang tua.

Ketika remaja berkata, “Aku bisa mengurusnya sendiri,” orang tua mungkin mendengarnya sebagai, “Aku tidak membutuhkan kalian.”

Padahal, belum tentu itu maksudnya.

Remaja sebenarnya sedang mengatakan:

“Aku ingin dipercaya bahwa aku mampu belajar mengambil keputusan sendiri.”

Sebaliknya, ketika orang tua berkata, “Mama cuma mengingatkan,” atau “Ayah melakukan ini karena sayang,” remaja dapat merasakannya sebagai bentuk kontrol.

Di sinilah muncul lingkaran konflik.

Semakin orang tua merasa anak tidak mampu mengurus dirinya sendiri, semakin banyak aturan dan pengawasan diberikan. Semakin banyak pengawasan yang dirasakan remaja, semakin kuat pula keinginannya untuk mendapatkan kebebasan.

Akibatnya, kedua pihak sama-sama merasa frustrasi.

Orang tua berpikir:

“Kenapa anak ini tidak bisa dipercaya?”

Remaja berpikir:

“Kenapa orang tua tidak pernah percaya kepadaku?”

Padahal, keduanya sedang menghadapi kebutuhan yang berbeda.

Orang tua sedang berusaha menjaga keamanan anak. Remaja sedang belajar menjadi individu yang mandiri.

Karena itu, konflik mengenai kebebasan tidak selalu berarti hubungan mereka buruk. Dalam batas tertentu, konflik tersebut justru merupakan bagian normal dari proses perkembangan.

Yang menjadi masalah adalah ketika konflik tersebut tidak menghasilkan pembelajaran, melainkan hanya menghasilkan saling menyalahkan.

2. Orang tua sering memberikan solusi ketika remaja sebenarnya ingin didengarkan

Ini adalah salah satu penyebab keluhan yang sangat umum.

Remaja menceritakan masalah kepada orang tua.

Misalnya:

“Aku bertengkar sama teman.”

Respons orang tua mungkin langsung:

“Ya sudah, kamu minta maaf saja.”

Atau:

“Makanya jangan berteman terlalu dekat.”

Atau:

“Kamu juga pasti ada salahnya.”

Bagi orang tua, respons tersebut mungkin terasa masuk akal. Mereka sedang mencoba menyelesaikan masalah.

Namun bagi remaja, respons tersebut bisa terasa seperti tidak didengarkan.

Remaja mungkin sebenarnya tidak sedang meminta solusi. Mereka hanya ingin seseorang memahami apa yang sedang mereka rasakan.

Inilah perbedaan antara problem solving dan emotional validation.

Problem solving berfokus pada:

“Bagaimana masalah ini bisa diselesaikan?”

Sementara validasi emosional berfokus pada:

“Apa yang sedang kamu rasakan dan mengapa itu terasa berat bagimu?”

Keduanya penting, tetapi waktunya tidak selalu sama.

Ketika seseorang sedang emosional, nasihat yang terlalu cepat terkadang justru membuatnya merasa tidak dipahami.

Contohnya:

Remaja:

“Aku capek banget. Rasanya semua orang menyalahkan aku.”

Orang tua:

“Ya jangan dipikirkan. Kamu harus lebih kuat.”

Maksud orang tua mungkin baik.

Namun remaja bisa menerjemahkannya menjadi:

“Perasaanku tidak penting.”

Akibatnya, remaja mulai mengeluh bahwa orang tua tidak mengerti dirinya.

Sementara orang tua kemudian mengeluh:

“Sudah diberi nasihat, malah marah.”

Padahal masalah utamanya mungkin bukan nasihatnya, tetapi urutan responsnya.

Sering kali seseorang perlu merasa dipahami terlebih dahulu sebelum mampu menerima solusi.

Respons sederhana seperti:

“Kedengarannya kamu memang lagi berat.”

atau:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu kecewa.”

dapat membuat percakapan menjadi jauh lebih terbuka.

Bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui tindakan anak.

Memahami perasaan tidak sama dengan membenarkan semua perilaku.

Orang tua tetap dapat memberikan batasan setelah emosi lebih tenang dan komunikasi menjadi lebih terbuka.

3. Remaja sedang mengalami perubahan emosi, sementara orang tua mengharapkan kestabilan

Masa remaja merupakan periode perubahan yang sangat besar.

Tubuh berubah. Hubungan sosial berubah. Cara berpikir berkembang. Tekanan sekolah meningkat. Hubungan dengan teman menjadi semakin penting. Pada saat yang sama, remaja mulai memikirkan masa depan dan identitas dirinya.

Semua perubahan tersebut dapat membuat emosi terasa lebih intens.

Hal yang bagi orang dewasa terlihat kecil dapat terasa sangat besar bagi seorang remaja.

Misalnya, konflik dengan teman, komentar seseorang di media sosial, nilai ujian, atau penolakan dalam kelompok pertemanan dapat memengaruhi suasana hati secara signifikan.

Bukan berarti remaja sengaja bersikap dramatis.

Mereka sedang belajar mengatur emosi dalam situasi perkembangan yang kompleks.

Masalahnya, orang tua terkadang membandingkan reaksi remaja dengan cara mereka sendiri menghadapi masalah.

Orang tua mungkin berkata:

“Dulu waktu seusiamu, masalah seperti itu tidak pernah dipikirkan.”

Kalimat tersebut sebenarnya tidak selalu membantu.

Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan yang berbeda.

Remaja saat ini juga menghadapi bentuk tekanan yang berbeda, termasuk kehidupan sosial yang terus terhubung melalui teknologi dan media sosial.

Di sisi lain, orang tua juga memiliki batas kesabaran.

Setelah bekerja, mengurus rumah, menghadapi persoalan finansial, dan menjalankan berbagai tanggung jawab, mereka mungkin tidak memiliki energi emosional yang cukup untuk menghadapi perubahan mood anak.

Akibatnya, orang tua berkata:

“Kamu ini sedikit-sedikit marah.”

Remaja menjawab:

“Mama juga selalu marah.”

Akhirnya terjadi apa yang disebut sebagai emotional escalation atau peningkatan intensitas emosi dalam interaksi.

Satu pihak menaikkan nada bicara, pihak lain merespons dengan nada yang sama, kemudian konflik menjadi lebih besar daripada masalah awalnya.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa tidak semua perubahan suasana hati remaja merupakan serangan pribadi.

Demikian juga, remaja perlu memahami bahwa orang tua juga memiliki kapasitas emosional yang terbatas.

4. Keduanya memiliki ekspektasi yang berbeda tentang arti "bertanggung jawab"

Orang tua sering mengeluhkan:

“Anak saya tidak bertanggung jawab.”

Sementara remaja mungkin merasa:

“Aku sudah berusaha, tetapi apa pun yang kulakukan tetap dianggap kurang.”

Di sini terdapat masalah mengenai standar dan ekspektasi.

Orang tua mungkin menganggap tanggung jawab berarti:

bangun tanpa disuruh,
membereskan kamar,
belajar secara konsisten,
membantu pekerjaan rumah,
mendapatkan nilai yang baik,
menggunakan uang dengan bijak,
mengatur waktu,
dan memikirkan masa depan.

Sementara remaja mungkin mendefinisikan tanggung jawab secara berbeda.

Mereka mungkin merasa sudah bertanggung jawab ketika menyelesaikan tugas sekolah, menjaga hubungan dengan teman, mengikuti kegiatan, atau mencoba menyelesaikan masalah pribadi sendiri.

Perbedaan definisi tersebut dapat menimbulkan konflik.

Lebih buruk lagi jika komunikasi yang digunakan berupa label.

Misalnya:

“Kamu memang malas.”

“Kamu tidak pernah bertanggung jawab.”

“Kamu memang tidak bisa diandalkan.”

Label seperti itu tidak menjelaskan perilaku yang perlu diperbaiki.

Remaja akhirnya bukan hanya mendengar kritik terhadap perilakunya, tetapi dapat merasa identitas dirinya sedang diserang.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Kamu malas.”

dengan:

“Tiga hari terakhir kamu belum menyelesaikan tugas yang sudah kita sepakati.”

Kalimat kedua jauh lebih spesifik.

Hal yang sama juga berlaku bagi remaja ketika mengeluhkan orang tua.

Daripada berkata:

“Ayah selalu mengatur.”

lebih konstruktif jika mengatakan:

“Aku merasa terlalu banyak aturan ketika memilih kegiatan sendiri. Bisa tidak kita bicarakan aturan mana yang memang penting?”

Dengan demikian, keluhan berubah menjadi komunikasi.

5. Keduanya membawa luka dan pengalaman masa lalu ke dalam percakapan baru

Tidak semua pertengkaran sebenarnya hanya tentang kejadian yang sedang terjadi.

Kadang-kadang konflik hari ini membawa akumulasi dari konflik sebelumnya.

Misalnya, seorang ibu meminta anaknya membersihkan kamar.

Permintaan itu sebenarnya sederhana.

Namun anak langsung merasa kesal karena sebelumnya ia pernah dimarahi mengenai hal yang sama.

Ibu kemudian melihat reaksi anak dan berpikir:

“Kenapa setiap kali diberi tahu selalu melawan?”

Anak berpikir:

“Pasti nanti aku dimarahi lagi.”

Akhirnya, keduanya bereaksi bukan hanya terhadap situasi saat ini, tetapi juga terhadap pengalaman emosional sebelumnya.

Dalam hubungan yang sering mengalami konflik, otak manusia dapat menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda ancaman.

Nada suara tertentu, ekspresi wajah, atau kalimat tertentu bisa langsung memicu reaksi defensif.

Akibatnya, komunikasi menjadi seperti pola otomatis.

Orang tua mengkritik → remaja defensif → orang tua semakin keras → remaja semakin tertutup → orang tua semakin frustrasi.

Pola tersebut dapat berlangsung berulang kali.

Yang menarik, kedua pihak mungkin sama-sama merasa sebagai korban.

Orang tua berkata:

“Saya sudah berusaha berbicara baik-baik.”

Remaja berkata:

“Aku sudah mencoba menjelaskan, tetapi tidak pernah didengar.”

Keduanya bisa saja benar dari sudut pandangnya masing-masing.

Karena itu, memperbaiki hubungan tidak cukup hanya dengan menentukan siapa yang benar.

Yang lebih penting adalah mengidentifikasi pola interaksi yang terus berulang.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Siapa yang memulai?”

tetapi:

“Apa yang biasanya terjadi setelah seseorang memulai?”

Ketika pola tersebut dikenali, orang tua dan remaja memiliki kesempatan untuk menghentikannya.

6. Keduanya sebenarnya membutuhkan hubungan yang dekat, tetapi takut menunjukkannya dengan cara yang tepat

Ini mungkin alasan yang paling menarik.

Di balik banyak keluhan orang tua terhadap remaja, sebenarnya terdapat kekhawatiran.

“Saya takut dia salah memilih teman.”

“Saya takut dia gagal.”

“Saya takut dia tidak punya masa depan.”

“Saya takut dia menjauh dari keluarga.”

Sementara di balik banyak keluhan remaja terhadap orang tua juga terdapat kebutuhan emosional.

“Aku ingin dipercaya.”

“Aku ingin didengar.”

“Aku ingin dianggap sudah bertumbuh.”

“Aku ingin tetap disayangi meskipun aku melakukan kesalahan.”

Dengan kata lain, keluhan terkadang merupakan bentuk komunikasi kebutuhan yang tidak tersampaikan secara langsung.

Orang tua mengatakan:

“Kamu ini susah sekali diatur!”

Padahal kebutuhan di baliknya mungkin:

“Saya ingin tahu bahwa kamu baik-baik saja.”

Remaja mengatakan:

“Mama cerewet banget!”

Padahal kebutuhan di baliknya mungkin:

“Aku ingin Mama percaya bahwa aku bisa belajar mengambil keputusan sendiri.”

Inilah sebabnya konflik keluarga terkadang terasa sangat emosional.

Orang yang paling mudah membuat kita marah sering kali adalah orang yang pendapatnya paling berarti bagi kita.

Jika hubungan tersebut tidak penting, seseorang mungkin tidak akan terlalu peduli.

Namun karena hubungan orang tua dan anak memiliki ikatan emosional yang kuat, komentar kecil pun dapat terasa sangat berarti.

Jadi, Mengapa Orang Tua dan Remaja Saling Mengeluh?

Jika keenam alasan di atas digabungkan, kita dapat melihat bahwa konflik orang tua dan remaja sering bukan sekadar masalah “anak nakal” atau “orang tua terlalu cerewet.”

Ada proses perkembangan yang sedang terjadi.

Remaja sedang bergerak dari ketergantungan menuju kemandirian.

Orang tua sedang bergerak dari peran sebagai pengendali menuju peran sebagai pembimbing.

Perubahan peran tersebut tidak selalu mudah.

Orang tua harus belajar bahwa anak yang tumbuh membutuhkan ruang untuk membuat keputusan dan melakukan kesalahan.

Remaja juga perlu belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

Karena itu, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memungkinkan konflik diselesaikan tanpa menghancurkan rasa aman dan penghargaan satu sama lain.

Bagaimana Agar Keluhan Tidak Berubah Menjadi Konflik?

Ada beberapa prinsip sederhana yang dapat membantu.

1. Kritik perilakunya, bukan identitasnya

Hindari:

“Kamu memang malas.”

Gunakan:

“Tugas ini belum selesai. Apa yang membuatmu kesulitan menyelesaikannya?”

2. Dengarkan sebelum memberi nasihat

Tidak setiap keluhan membutuhkan solusi langsung.

Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk bercerita.

3. Berikan kebebasan secara bertahap

Kemandirian tidak harus diberikan sekaligus.

Orang tua dapat memberikan kebebasan sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab yang ditunjukkan remaja.

4. Jangan menggunakan masa lalu sebagai senjata

Kesalahan sebelumnya boleh menjadi bahan evaluasi, tetapi jangan terus digunakan untuk mendefinisikan seseorang.

5. Belajar meminta maaf

Orang tua juga bisa salah.

Remaja juga bisa salah.

Meminta maaf tidak mengurangi kewibawaan orang tua dan tidak mengurangi harga diri remaja.

Justru sebaliknya, meminta maaf menunjukkan bahwa hubungan lebih penting daripada memenangkan argumen.

Penutup: Bukan Siapa yang Paling Benar, tetapi Siapa yang Mau Memahami

Orang tua dan remaja sering kali berdiri di dua sisi yang berbeda.

Orang tua melihat anak dari sudut pandang pengalaman.

Remaja melihat dirinya dari sudut pandang masa depan.

Orang tua berpikir tentang risiko.

Remaja berpikir tentang kesempatan.

Orang tua ingin melindungi.

Remaja ingin mencoba.

Orang tua takut anak melakukan kesalahan.

Remaja merasa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Tidak mengherankan jika keduanya sering bertabrakan.

Namun di balik perbedaan tersebut terdapat kebutuhan yang sama: keduanya ingin dicintai, dihargai, didengarkan, dan dianggap penting.

Karena itu, ketika orang tua merasa, “Anak saya tidak pernah mendengarkan,” dan remaja merasa, “Orang tua saya tidak pernah memahami saya,” mungkin masalah sebenarnya bukan karena salah satu pihak tidak peduli.

Bisa jadi keduanya justru terlalu peduli, tetapi belum menemukan cara berkomunikasi yang membuat kepedulian tersebut terasa sebagai kasih sayang, bukan tekanan.

Hubungan orang tua dan remaja tidak harus bebas dari pertengkaran.

Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar kembali berbicara setelah pertengkaran tersebut.

Sebab pada akhirnya, tujuan hubungan keluarga bukan membuat anak selalu menurut atau membuat orang tua selalu benar.

Tujuannya adalah menciptakan hubungan di mana seorang remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri tanpa kehilangan rasa aman, dan orang tua dapat melepaskan kendali sedikit demi sedikit tanpa kehilangan kedekatan dengan anaknya.

EDITOR: Hanny Suwindari