← Beranda
Ingin Membesarkan Anak yang Memiliki Kegigihan? Lakukan 6 Cara Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 6 Oktober 2026 | 16.57 WIB
seseorang yang membesarkan anak yang gigih./Magnific/bristekjegor

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Bukan hanya kuat ketika semuanya berjalan sesuai keinginan, tetapi juga mampu bertahan ketika menghadapi kegagalan, kesulitan, penolakan, atau sesuatu yang membutuhkan waktu lama untuk dikuasai.

Namun, kegigihan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja.

Ada anak yang ketika mengalami kesulitan langsung berkata, “Aku nggak bisa.” Ada pula anak yang mungkin kecewa ketika gagal, tetapi setelah menenangkan diri, ia mencoba lagi. Perbedaan ini tidak selalu berkaitan dengan siapa yang lebih pintar atau lebih berbakat. Salah satu faktor yang berperan adalah bagaimana anak belajar menghadapi tantangan sejak kecil.

Dalam psikologi, kemampuan untuk terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan sering berkaitan dengan konsep seperti self-efficacy, regulasi emosi, growth mindset, motivasi intrinsik, dan ketahanan psikologis.

Kabar baiknya, kegigihan bukan hanya soal “watak bawaan”. Lingkungan dan pola pengasuhan juga dapat membantu anak mengembangkan kebiasaan untuk tidak mudah menyerah.

Jadi, jika kamu ingin membesarkan anak yang memiliki kegigihan, bukan berarti kamu harus membuat hidupnya penuh kesulitan. Justru sebaliknya, kamu perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengalami kesulitan yang sesuai dengan usianya, belajar menyelesaikan masalah, dan merasakan bahwa usaha mereka memiliki arti.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (5/10), terdapat enam cara yang dapat dilakukan orang tua.

1. Jangan terlalu cepat menyelesaikan semua masalah anak

Naluri orang tua memang sering ingin melindungi.

Ketika anak kesulitan memakai sepatu, kita ingin langsung membantu. Ketika anak tidak bisa menyusun mainan, kita ingin menunjukkan caranya. Ketika anak mengerjakan tugas dan merasa kesulitan, kita mungkin tergoda untuk memberikan jawabannya.

Tujuannya baik.

Kita tidak ingin melihat anak frustrasi.

Namun, jika setiap kali menghadapi kesulitan anak selalu mendapatkan bantuan sebelum sempat mencoba, ia bisa kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa dirinya sebenarnya mampu mengatasi masalah.

Anak perlu mengalami pengalaman sederhana seperti:

“Ternyata aku bisa menyelesaikannya.”

Pengalaman seperti ini penting untuk membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.

Karena itu, ketika anak mengalami kesulitan, jangan selalu langsung mengambil alih.

Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan:

“Menurutmu, apa yang bisa kita coba?”

“Atau ada cara lain?”

“Bagian mana yang paling sulit?”

“Kalau kamu mencoba sekali lagi, apa yang ingin kamu lakukan berbeda?”

Pertanyaan seperti ini menggeser posisi orang tua dari “pemecah masalah” menjadi “pendamping”.

Tentu saja, bukan berarti orang tua harus membiarkan anak berjuang sendirian.

Jika masalah terlalu sulit atau anak sudah sangat kewalahan, bantuan tetap diperlukan. Bedanya, bantuan tersebut diberikan untuk mendukung proses belajar, bukan mengambil alih seluruh proses.

Misalnya, ketika anak sedang belajar mengikat tali sepatu, kamu tidak harus langsung mengikatkannya.

Kamu bisa berkata:

“Coba kamu buat simpulnya dulu. Kalau bagian ini sulit, Mama bantu sedikit.”

Dengan begitu, anak mendapatkan pesan:

“Aku tidak sendirian, tetapi aku juga mampu berusaha.”

Inilah kombinasi yang sehat untuk membangun kegigihan.

2. Puji usaha dan strategi, bukan hanya hasil akhirnya

Banyak orang tua memberikan pujian seperti:

“Kamu pintar sekali.”

“Memang kamu anak hebat.”

“Wah, kamu memang jago matematika.”

Pujian seperti ini terdengar positif. Namun, jika terlalu sering diberikan hanya pada kemampuan atau hasil, anak bisa mulai menganggap bahwa menjadi “pintar” adalah sesuatu yang harus selalu dipertahankan.

Akibatnya, ketika suatu hari ia menghadapi tugas yang sulit dan tidak langsung berhasil, ia mungkin takut terlihat tidak pintar.

Karena itu, orang tua dapat mengarahkan perhatian anak kepada proses.

Daripada hanya berkata:

“Kamu pintar karena mendapat nilai bagus.”

Cobalah:

“Kamu benar-benar berusaha memahami soal-soal yang sulit itu.”

Atau:

“Tadi kamu sempat salah, tetapi kamu mencoba cara lain sampai menemukan jawabannya.”

Atau:

“Kamu tidak langsung menyerah ketika bagian ini terasa sulit.”

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi pesan psikologisnya berbeda.

Anak belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang “aku pintar” atau “aku tidak pintar”.

Keberhasilan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang berusaha, memilih strategi, meminta bantuan, mengevaluasi kesalahan, lalu mencoba kembali.

Inilah yang membantu membangun pola pikir bahwa kemampuan dapat dikembangkan.

Namun, ada satu hal penting: jangan memberikan pujian secara otomatis.

Jika setiap tindakan anak selalu dipuji dengan “hebat!”, pujian dapat kehilangan makna.

Lebih baik berikan apresiasi yang spesifik.

Misalnya:

“Bagian ini tadi kamu ulang tiga kali sampai bisa.”

“Cara kamu membagi tugas menjadi beberapa bagian ternyata membantu.”

“Kamu kelihatan kecewa setelah gagal, tetapi kamu mengambil waktu untuk tenang lalu mencoba lagi.”

Pujian semacam ini membantu anak mengenali perilaku yang sebenarnya membuatnya berkembang.

3. Ajarkan anak bahwa gagal bukan berarti dirinya gagal

Salah satu alasan anak mudah menyerah adalah karena mereka belum mampu memisahkan antara kegagalan dalam melakukan sesuatu dan kegagalan sebagai pribadi.

Contohnya:

“Aku gagal menggambar.”

dapat berubah menjadi:

“Aku memang tidak bisa menggambar.”

Kemudian berkembang menjadi:

“Aku tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan baik.”

Padahal, satu kegagalan tidak pernah mendefinisikan seluruh kemampuan seseorang.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak menggunakan bahasa yang lebih tepat.

Ketika anak berkata:

“Aku bodoh. Aku nggak bisa.”

Kamu bisa menjawab:

“Kamu belum bisa melakukannya sekarang. Itu berbeda dengan tidak akan pernah bisa.”

Kalimat sederhana seperti “belum bisa” dapat membantu anak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang masih berkembang.

Namun, jangan pula memaksa anak untuk selalu melihat kegagalan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Kegagalan memang terkadang menyakitkan.

Anak boleh kecewa.

Anak boleh menangis.

Anak boleh mengatakan bahwa ia kesal.

Kegigihan bukan berarti seseorang tidak pernah merasa frustrasi.

Justru anak yang gigih adalah anak yang secara bertahap belajar bahwa rasa frustrasi tidak harus menjadi alasan untuk berhenti selamanya.

Karena itu, ketika anak gagal, jangan terburu-buru mengatakan:

“Sudah, jangan sedih.”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu pasti bisa.”

Meskipun maksudnya baik, kalimat tersebut kadang membuat emosi anak terasa seperti sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Cobalah terlebih dahulu mengakui perasaannya:

“Kamu kecewa karena sudah berusaha, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.”

Setelah anak merasa dipahami, barulah ajak ia melihat langkah berikutnya:

“Setelah kamu lebih tenang, kira-kira apa yang bisa kita coba?”

Dengan begitu, anak belajar sebuah pola penting:

merasakan emosi → menenangkan diri → memahami masalah → mencoba lagi.

Itulah salah satu dasar ketahanan psikologis.

4. Berikan tantangan yang cukup sulit, tetapi masih masuk akal

Kalau ingin anak menjadi gigih, jangan membuat semua hal terlalu mudah.

Tetapi jangan pula memberikan tantangan yang jauh di luar kemampuannya.

Anak membutuhkan pengalaman berada di zona di mana sesuatu terasa sulit tetapi masih mungkin dilakukan.

Misalnya, seorang anak yang baru belajar membaca mungkin tidak perlu langsung membaca buku yang sangat panjang. Namun, ia juga tidak akan berkembang jika hanya diminta membaca kata-kata yang sudah sangat dikuasainya.

Orang tua bisa meningkatkan tantangan sedikit demi sedikit.

Begitu juga dengan aktivitas lain.

Dalam olahraga, musik, matematika, menggambar, memasak, atau pekerjaan rumah, berikan anak kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sedikit lebih sulit daripada yang sudah ia kuasai.

Tujuannya bukan membuat anak kesulitan.

Tujuannya adalah memberikan pengalaman:

“Ini sulit, tetapi aku bisa mempelajarinya.”

Ketika anak berhasil melewati tantangan tersebut, ia mendapatkan pengalaman keberhasilan yang berasal dari usahanya sendiri.

Pengalaman seperti ini dapat membantu memperkuat keyakinan bahwa usaha dan strategi dapat menghasilkan kemajuan.

Yang juga penting adalah jangan membandingkan proses anak dengan anak lain.

Kalimat seperti:

“Lihat temanmu saja sudah bisa.”

“Kakakmu dulu seusiamu sudah bisa.”

“Kenapa kamu tidak seperti dia?”

mungkin dimaksudkan sebagai motivasi.

Namun, perbandingan seperti ini dapat membuat fokus anak berpindah dari proses belajar menjadi penilaian terhadap dirinya sendiri.

Lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri.

“Dulu kamu baru bisa membaca beberapa kata. Sekarang kamu sudah bisa membaca satu halaman.”

Perbandingan seperti ini menunjukkan bahwa perkembangan tidak harus selalu diukur berdasarkan orang lain.

Yang penting adalah bergerak maju.

5. Ajarkan anak memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil

Banyak hal terasa mustahil ketika dilihat sebagai satu masalah besar.

Anak mungkin berkata:

“Aku nggak akan pernah bisa mengerjakan ini.”

Kadang masalah sebenarnya bukan karena anak tidak mampu, tetapi karena ia belum tahu harus mulai dari mana.

Di sinilah orang tua dapat membantu anak belajar memecah masalah.

Misalnya, anak mendapat tugas besar yang harus selesai dalam beberapa hari.

Daripada berkata:

“Kerjakan saja sekarang sampai selesai.”

Bantu anak membuat langkah kecil:

“Bagian pertama apa?”

“Mana yang bisa kamu kerjakan hari ini?”

“Setelah itu, apa langkah berikutnya?”

Konsep sederhana ini sangat berguna dalam kehidupan.

Orang dewasa pun sering menggunakan prinsip yang sama ketika menghadapi pekerjaan besar.

Anak perlu belajar bahwa kegigihan tidak selalu berarti memaksa diri melakukan sesuatu terus-menerus tanpa berhenti.

Kadang kegigihan berarti menemukan cara yang lebih efektif untuk melanjutkan perjalanan.

Jika satu strategi tidak berhasil, cari strategi lain.

Jika tugas terlalu besar, pecah menjadi bagian kecil.

Jika tidak memahami sesuatu, bertanya.

Jika merasa lelah, beristirahat dan kemudian kembali.

Jika melakukan kesalahan, evaluasi.

Dengan demikian, anak tidak hanya belajar “jangan menyerah”, tetapi belajar bagaimana cara tidak menyerah dengan cerdas.

Ini penting karena kegigihan tanpa fleksibilitas dapat berubah menjadi keras kepala.

Anak yang sehat secara psikologis bukan anak yang terus memaksakan satu cara meskipun jelas tidak berhasil.

Ia adalah anak yang mampu berkata:

“Cara ini belum berhasil. Aku coba cara lain.”

6. Jadilah contoh bagaimana menghadapi kesulitan

Anak tidak hanya belajar dari nasihat.

Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua sering berkata:

“Ini susah sekali, aku nggak bisa.”

lalu langsung meninggalkan sesuatu ketika mengalami kesulitan, anak akan mendapatkan contoh bahwa menyerah adalah respons yang wajar terhadap frustrasi.

Sebaliknya, ketika anak melihat orang tuanya menghadapi kesulitan dengan cara yang sehat, ia mendapatkan model perilaku yang berharga.

Misalnya, ketika sedang memperbaiki sesuatu dan gagal, orang tua dapat berkata:

“Hmm, cara tadi ternyata belum berhasil. Aku coba cara lain.”

Atau:

“Aku agak kesal karena belum berhasil, jadi aku istirahat sebentar dulu.”

Kemudian:

“Oke, sekarang aku coba lagi.”

Perhatikan bahwa orang tua tidak harus selalu terlihat sempurna.

Justru anak perlu melihat bahwa orang dewasa juga bisa melakukan kesalahan, frustrasi, bingung, bahkan gagal.

Yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya.

Jika orang tua mampu mengatakan:

“Aku salah.”

“Aku perlu belajar lagi.”

“Aku belum tahu caranya.”

“Aku akan meminta bantuan.”

anak belajar bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah hal yang memalukan.

Meminta bantuan juga bukan tanda kelemahan.

Dan mengalami kegagalan bukan berarti seseorang harus berhenti.

Kegigihan Tidak Tumbuh dari Tekanan, tetapi dari Pengalaman

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Membesarkan anak yang gigih bukan berarti membuat anak terus ditekan agar tidak pernah menyerah.

Kegigihan yang sehat bukanlah:

“Pokoknya harus selesai!”

“Jangan cengeng!”

“Kalau gagal coba lagi terus!”

Tekanan seperti ini justru dapat membuat anak menganggap bahwa nilai dirinya bergantung pada keberhasilan.

Kegigihan yang sehat lebih dekat dengan kemampuan untuk mengatakan:

“Aku memang kecewa, tetapi aku bisa mencoba lagi.”

“Aku belum bisa, tetapi aku bisa belajar.”

“Cara tadi tidak berhasil, jadi aku akan mencari cara lain.”

“Aku membutuhkan bantuan, dan itu tidak apa-apa.”

Inilah jenis kegigihan yang kemungkinan besar akan berguna bukan hanya ketika anak masih kecil, tetapi juga ketika ia tumbuh dewasa.

Sebab kehidupan tidak selalu memberikan hasil sesuai rencana.

Akan ada ujian yang sulit.

Akan ada pekerjaan yang gagal.

Akan ada hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan.

Akan ada penolakan.

Akan ada kesempatan yang terlewat.

Anak yang sejak kecil belajar menghadapi kesulitan dengan cara yang sehat akan memiliki bekal psikologis untuk menghadapi berbagai situasi tersebut.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Selalu Menyelamatkannya

Tugas orang tua bukan memastikan anak tidak pernah mengalami kegagalan.

Tugas orang tua juga bukan membuat semua jalan menjadi mudah.

Yang lebih penting adalah memastikan anak memiliki tempat yang aman untuk kembali ketika hidup terasa sulit.

Anak perlu tahu:

“Aku boleh gagal.”

“Aku boleh meminta bantuan.”

“Aku boleh merasa kecewa.”

“Aku bisa belajar dari kesalahan.”

“Dan aku masih dicintai meskipun aku tidak berhasil.”

Dari rasa aman seperti itulah keberanian untuk mencoba dapat tumbuh.

Jadi, jika kamu ingin membesarkan anak yang memiliki kegigihan, mulailah dari hal-hal sederhana.

Jangan terlalu cepat menyelesaikan masalahnya.

Hargai usaha dan strategi, bukan hanya hasil.

Ajarkan bahwa gagal bukan berarti dirinya gagal.

Berikan tantangan yang sesuai dengan kemampuannya.

Bantu ia memecah masalah besar menjadi langkah kecil.

Dan yang tidak kalah penting, tunjukkan melalui perilakumu sendiri bagaimana menghadapi kesulitan.

Sebab pada akhirnya, anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang pernah kita berikan.

Tetapi mereka akan mengingat pengalaman yang membuat mereka percaya:

“Aku pernah mengalami kesulitan sebelumnya. Aku pernah gagal sebelumnya. Dan ternyata aku bisa melewatinya.”

Pengalaman-pengalaman kecil itulah yang perlahan membentuk seorang anak menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah—bukan karena ia tidak pernah merasa takut atau kecewa, tetapi karena ia tahu bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan.

EDITOR: Hanny Suwindari