← Beranda
7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tua Memutus Hubungan dengan Anak Mereka yang Sudah Dewasa
Irfan FerdiansyahRabu, 23 September 2026 | 03.30 WIB
seseorang yang memutus hubungan dengan anak./Magnific/namii9

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak sering dianggap sebagai ikatan yang akan bertahan seumur hidup. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ketika anak telah tumbuh dewasa, hubungan tersebut dapat mengalami perubahan besar. Ada orang tua dan anak yang semakin dekat, tetapi ada pula yang justru memilih menjaga jarak, mengurangi komunikasi, bahkan memutus hubungan untuk waktu yang panjang.

Fenomena ketika orang tua dan anak dewasa mengalami keterasingan atau estrangement bukanlah persoalan yang sederhana. Di balik keputusan untuk berhenti berkomunikasi biasanya terdapat sejarah hubungan yang panjang, konflik yang berulang, perbedaan nilai, luka emosional, atau pola interaksi yang tidak lagi dapat dipertahankan.

Penting untuk memahami bahwa keputusan memutus hubungan tidak selalu berarti salah satu pihak sepenuhnya benar dan pihak lainnya sepenuhnya salah. Setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Dalam beberapa kasus, jarak muncul setelah konflik bertahun-tahun. Dalam kasus lain, keputusan tersebut menjadi bentuk perlindungan diri setelah seseorang merasa hubungan yang dijalani terlalu menyakitkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), dari sudut pandang psikologi, terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang tua akhirnya memutus atau sangat membatasi hubungan dengan anak mereka yang sudah dewasa.

1. Konflik yang Berlangsung Bertahun-Tahun dan Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Salah satu penyebab yang dapat membuat hubungan orang tua dan anak dewasa menjadi renggang adalah konflik yang berlangsung dalam waktu lama.

Masalah keluarga jarang muncul hanya karena satu kejadian. Sering kali, konflik besar merupakan akumulasi dari banyak persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan.

Misalnya, orang tua merasa anak tidak menghargai mereka. Anak merasa orang tua terlalu mengontrol. Orang tua kemudian semakin sering memberikan nasihat, sementara anak semakin menjauh. Jarak tersebut kemudian dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian oleh orang tua, sehingga komunikasi menjadi semakin penuh ketegangan.

Siklus seperti ini dapat berlangsung bertahun-tahun.

Dalam psikologi hubungan, pola konflik yang terus berulang dapat membuat seseorang merasa bahwa setiap percakapan hanya akan menghasilkan masalah yang sama. Akhirnya, salah satu pihak mungkin memilih mengurangi kontak karena merasa tidak ada lagi cara untuk berkomunikasi secara sehat.

Pada titik tertentu, memutus komunikasi dapat dipandang oleh seseorang sebagai cara untuk menghentikan siklus konflik.

Namun, penting untuk membedakan antara konflik sesekali dan pola hubungan yang secara konsisten penuh konflik. Pertengkaran dalam keluarga tidak otomatis berarti hubungan tersebut harus berakhir.

Yang menjadi persoalan adalah ketika konflik tidak pernah mendapatkan penyelesaian dan setiap interaksi justru memperburuk keadaan.

2. Perbedaan Nilai yang Semakin Besar Setelah Anak Dewasa

Ketika anak masih kecil, orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara anak melihat dunia. Namun, ketika anak tumbuh dewasa, ia mulai membentuk identitas, nilai, keyakinan, dan gaya hidupnya sendiri.

Perubahan ini merupakan bagian normal dari perkembangan manusia.

Masalah dapat muncul ketika orang tua sulit menerima bahwa anak mereka sudah memiliki kehidupan dan keputusan sendiri.

Perbedaan tersebut bisa berkaitan dengan banyak hal, seperti:

pilihan pasangan hidup,
cara mengasuh anak,
pekerjaan,
tempat tinggal,
pengelolaan uang,
gaya hidup,
batasan dalam keluarga,
pendidikan,
atau keputusan-keputusan pribadi lainnya.

Bagi sebagian orang tua, perbedaan tersebut mungkin terasa seperti penolakan terhadap nilai-nilai yang selama ini mereka ajarkan.

Sementara bagi anak dewasa, mempertahankan pilihan hidupnya dapat menjadi bagian penting dari kemandirian.

Di sinilah konflik dapat terjadi.

Orang tua mungkin berkata, "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu."

Anak mungkin mendengar pesan yang berbeda: "Kamu tidak boleh mengambil keputusan sendiri."

Jika perbedaan nilai terus menjadi sumber pertengkaran, hubungan dapat semakin menjauh. Dalam situasi tertentu, salah satu pihak akhirnya memilih membatasi kontak karena merasa bahwa hubungan tersebut tidak memberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

3. Orang Tua Merasa Terus-Menerus Ditolak atau Tidak Dihargai

Alasan lain yang mungkin muncul adalah pengalaman subjektif orang tua bahwa mereka tidak lagi dihargai oleh anak.

Ketika anak telah dewasa, bentuk hubungan tentu berubah. Anak mungkin tidak lagi membutuhkan bantuan orang tua seperti ketika masih kecil.

Ia mungkin jarang menelepon, lebih sibuk dengan pekerjaan, memiliki pasangan, atau membangun keluarganya sendiri.

Perubahan tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian normal dari proses menjadi dewasa.

Namun, sebagian orang tua dapat mengalami perubahan itu sebagai kehilangan kedekatan.

Mereka mungkin berpikir:

"Dulu dia selalu membutuhkan saya. Sekarang dia bahkan jarang menghubungi saya."

Perasaan kehilangan tersebut dapat berkembang menjadi kekecewaan, kemarahan, atau rasa ditolak.

Jika komunikasi kemudian dipenuhi tuntutan seperti "Kamu sudah melupakan orang tua" atau "Kamu tidak pernah menghargai kami", anak dapat merasa semakin tertekan dan memilih menjauh.

Pada akhirnya, hubungan berubah menjadi pola saling terluka.

Orang tua merasa ditinggalkan.

Anak merasa dikendalikan.

Keduanya kemudian mengambil jarak.

Hal yang menarik adalah bahwa kedua pihak dapat memiliki pengalaman emosional yang sama-sama nyata meskipun mereka menafsirkan situasinya secara berbeda.

4. Luka Masa Lalu yang Tidak Pernah Dibicarakan

Hubungan orang tua dan anak dewasa juga dapat terpengaruh oleh pengalaman masa kecil.

Tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk membicarakan pengalaman sulit secara terbuka. Ada keluarga yang terbiasa menyimpan masalah, menghindari percakapan emosional, atau menganggap bahwa kejadian masa lalu seharusnya dilupakan begitu saja.

Namun, sesuatu yang tidak dibicarakan belum tentu hilang.

Anak yang telah dewasa mungkin masih membawa pengalaman seperti merasa tidak didengar, sering dibandingkan, diremehkan, terlalu dikontrol, atau tidak mendapatkan dukungan emosional yang ia butuhkan ketika tumbuh besar.

Ketika dewasa, ia mungkin mulai memahami pengalaman masa kecil tersebut dengan cara yang berbeda.

Hal ini dapat menjadi titik balik dalam hubungan.

Misalnya, seseorang yang dulu menganggap perlakuan tertentu sebagai "hal biasa dalam keluarga" mungkin setelah dewasa menyadari bahwa pengalaman tersebut sangat memengaruhi kepercayaan dirinya atau cara ia menjalani hubungan.

Ketika ia mencoba membicarakannya, orang tua mungkin tidak memiliki ingatan yang sama atau tidak menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang serius.

Di sinilah konflik dapat menjadi semakin dalam.

Anak merasa, "Saya akhirnya berani mengatakan apa yang saya rasakan."

Orang tua mungkin merasa, "Mengapa masalah yang sudah bertahun-tahun berlalu masih dipermasalahkan?"

Perbedaan perspektif seperti ini dapat membuat proses rekonsiliasi menjadi sangat sulit.

5. Kesulitan Menghormati Batasan Anak yang Sudah Dewasa

Salah satu perubahan penting dalam hubungan keluarga terjadi ketika anak mulai membangun kehidupan yang mandiri.

Sebagai orang dewasa, seseorang berhak memiliki batasan pribadi.

Contohnya, ia mungkin ingin menentukan sendiri:

kapan harus berkunjung,
bagaimana membesarkan anaknya,
bagaimana menggunakan uangnya,
siapa yang menjadi pasangannya,
pekerjaan apa yang dipilih,
atau seberapa sering berkomunikasi dengan keluarga.

Bagi sebagian orang tua, batasan tersebut dapat terasa seperti penolakan.

Mereka mungkin terbiasa dengan hubungan ketika keputusan keluarga banyak ditentukan oleh orang tua. Ketika anak mulai mengatakan "tidak", perubahan tersebut dapat terasa sangat besar.

Masalah muncul ketika batasan dianggap sebagai bentuk ketidaktaatan.

Contohnya:

Anak berkata, "Tolong jangan datang ke rumah tanpa memberi tahu terlebih dahulu."

Orang tua menganggapnya sebagai penghinaan.

Anak berkata, "Saya ingin mengambil keputusan sendiri mengenai pengasuhan anak saya."

Orang tua menganggap anak tidak menghargai pengalaman mereka.

Jika pola seperti ini terus berulang, hubungan dapat menjadi semakin tegang.

Dalam beberapa keluarga, akhirnya terjadi hubungan yang sangat terbatas karena kedua pihak tidak menemukan cara untuk berinteraksi tanpa melanggar batas masing-masing.

6. Hubungan yang Dipenuhi Rasa Bersalah, Manipulasi, atau Tekanan Emosional

Hubungan keluarga yang sehat tetap memungkinkan seseorang mengatakan tidak tanpa harus merasa bahwa dirinya adalah anak yang buruk.

Namun, dalam sebagian keluarga, rasa bersalah dapat menjadi alat komunikasi yang terus-menerus.

Misalnya:

"Kalau kamu benar-benar menyayangi orang tua, kamu pasti melakukan ini."

"Setelah semua yang kami lakukan untukmu, masa kamu tidak bisa memenuhi permintaan kami?"

"Kamu membuat kami kecewa."

Kalimat semacam itu mungkin muncul dalam situasi tertentu tanpa selalu bermaksud manipulatif. Tetapi apabila pola tersebut berlangsung terus-menerus, anak dewasa dapat merasa bahwa setiap keputusan pribadi akan diikuti oleh tekanan emosional.

Sebaliknya, orang tua juga dapat mengalami pola serupa dari anak mereka.

Misalnya, anak terus menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan bantuan, uang, perhatian, atau dukungan tertentu.

Jika salah satu pihak merasa terus-menerus dimanfaatkan atau dikendalikan, kepercayaan dalam hubungan dapat menurun.

Dalam kondisi tertentu, menjaga jarak menjadi cara untuk mengurangi tekanan tersebut.

Yang perlu dipahami adalah bahwa istilah seperti "manipulatif" sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk memberi label kepada seseorang. Lebih berguna untuk melihat perilaku spesifik, frekuensi, konteks, dan dampaknya terhadap hubungan.

7. Salah Satu Pihak Merasa Hubungan Tersebut Sudah Tidak Sehat

Pada akhirnya, sebagian orang tua mungkin memilih memutus hubungan karena mereka merasa interaksi dengan anak dewasa telah menjadi sangat merusak secara emosional.

Begitu pula sebaliknya.

Ada situasi ketika setiap pertemuan selalu berakhir dengan pertengkaran. Ada hubungan yang dipenuhi penghinaan, ancaman, tekanan, konflik mengenai uang, atau pelanggaran batas yang terus berulang.

Dalam kondisi seperti itu, menjaga jarak dapat menjadi keputusan yang dianggap perlu oleh salah satu pihak.

Namun, "tidak sehat" tidak selalu berarti bahwa seseorang harus menghilangkan seluruh kontak.

Bentuk jarak dapat berbeda-beda.

Ada yang memilih:

mengurangi frekuensi komunikasi,
hanya berkomunikasi melalui pesan,
menghindari topik tertentu,
bertemu dalam waktu yang lebih singkat,
menggunakan pihak ketiga ketika konflik terjadi,
atau mengambil jeda komunikasi sementara.

Jadi, keterasingan keluarga bukan selalu keputusan yang hitam-putih antara "berhubungan" dan "tidak berhubungan".

Ada banyak bentuk batasan di antara keduanya.

Mengapa Memutus Hubungan Bisa Terasa Sangat Berat?

Hubungan orang tua dan anak memiliki sejarah yang panjang. Karena itu, keterasingan dalam keluarga sering kali membawa emosi yang kompleks.

Seseorang mungkin merasakan marah sekaligus sayang.

Merasa lega sekaligus bersalah.

Merasa terluka sekaligus masih berharap hubungan tersebut membaik.

Inilah yang membuat konflik keluarga berbeda dari banyak hubungan sosial lainnya.

Ketika seseorang memutus hubungan dengan teman, ia mungkin kehilangan hubungan yang sudah berlangsung beberapa tahun.

Namun, hubungan orang tua dan anak sering kali memiliki sejarah sejak masa kanak-kanak.

Kenangan, pengalaman keluarga, harapan, dan identitas pribadi semuanya dapat bercampur menjadi satu.

Karena itu, keputusan untuk mengambil jarak dapat menjadi proses emosional yang panjang.

Apakah Memutus Hubungan Selalu Berarti Orang Tua atau Anak Itu Jahat?

Tidak.

Hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada pembagian sederhana antara pihak yang benar dan pihak yang salah.

Dalam konflik keluarga, dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama dengan interpretasi berbeda.

Orang tua mungkin merasa sudah memberikan yang terbaik.

Anak mungkin merasa kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi.

Orang tua mungkin merasa anak tidak menghargai pengorbanan mereka.

Anak mungkin merasa pengorbanan tersebut sering digunakan sebagai alasan untuk mengontrol hidupnya.

Kedua pengalaman tersebut dapat dirasakan secara nyata oleh masing-masing pihak.

Karena itu, memahami keterasingan keluarga membutuhkan perhatian terhadap pola hubungan, bukan hanya satu kejadian.

Pertanyaan yang lebih membantu bukan sekadar:

"Siapa yang salah?"

Melainkan:

"Apa yang terjadi berulang kali sehingga hubungan ini sampai pada titik tersebut?"

Ketika Anak Sudah Dewasa, Hubungan Orang Tua dan Anak Memang Perlu Berubah

Salah satu tantangan terbesar dalam hubungan keluarga adalah menerima bahwa anak yang dahulu bergantung kepada orang tua akhirnya menjadi orang dewasa yang memiliki kehidupan sendiri.

Hubungan yang sehat pada tahap ini biasanya membutuhkan perubahan.

Orang tua tidak lagi hanya berperan sebagai pengarah.

Anak tidak lagi hanya berperan sebagai pihak yang mengikuti.

Keduanya perlu beradaptasi menjadi dua orang dewasa yang dapat berinteraksi dengan lebih setara.

Ini bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan nasihat.

Bukan pula berarti anak harus selalu mengikuti keinginannya sendiri.

Yang berubah adalah cara keduanya berhubungan.

Nasihat dapat diberikan tanpa memaksa.

Ketidaksetujuan dapat disampaikan tanpa penghinaan.

Batasan dapat dibuat tanpa harus menjadi permusuhan.

Dan perbedaan pendapat tidak selalu harus berakhir dengan putusnya hubungan.

Penutup

Ketika sebagian orang tua memutus hubungan dengan anak mereka yang sudah dewasa, penyebabnya biasanya tidak sesederhana satu pertengkaran atau satu keputusan.

Konflik yang berlangsung lama, perbedaan nilai, perasaan tidak dihargai, luka masa lalu, kesulitan menghormati batasan, tekanan emosional, dan hubungan yang dianggap tidak sehat dapat menjadi bagian dari dinamika tersebut.

Namun, setiap keluarga memiliki cerita yang berbeda.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menilai hubungan orang lain hanya berdasarkan potongan cerita yang terlihat dari luar.

Terkadang, menjaga hubungan membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan.

Terkadang, hubungan membutuhkan batasan.

Dan dalam situasi tertentu, mengambil jarak mungkin menjadi pilihan yang dianggap paling aman atau paling dapat dipertahankan oleh salah satu pihak.

Yang terpenting adalah memahami bahwa menjadi orang tua tidak otomatis membuat seseorang selalu benar, sebagaimana menjadi anak dewasa juga tidak otomatis membuat seseorang selalu benar.

Hubungan keluarga yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memungkinkan kedua pihak untuk berbeda, menyampaikan perasaan, menghormati batasan, dan tetap memperlakukan satu sama lain sebagai manusia yang memiliki kebutuhan serta pilihan masing-masing.

EDITOR: Hanny Suwindari