← Beranda
7 Alasan Mengapa Orang Tua yang Kritis Ternyata Dapat Menyakiti Anak-Anak Mereka Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 23 September 2026 | 02.46 WIB
seseorang yang menyakiti perasaan anaknya./Magnific/peoplecreations

JawaPos.com - Banyak orang tua mengkritik anak karena ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Nilai anak kurang bagus, dikritik.
Kamar berantakan, dikritik.
Cara berbicara dianggap kurang sopan, dikoreksi.
Anak mengambil keputusan yang tidak sesuai harapan, langsung diberi tahu bahwa pilihannya salah.

Pada awalnya, semua itu mungkin terlihat seperti bentuk perhatian.

Orang tua mungkin berpikir, “Kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?” atau “Saya keras karena saya ingin dia sukses.”

Namun, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa cara orang tua memberikan kritik dapat memengaruhi bagaimana seorang anak memandang dirinya sendiri, hubungannya dengan orang lain, bahkan cara ia menghadapi kesalahan ketika dewasa.

Perlu dibedakan antara memberikan koreksi terhadap perilaku dan membuat anak merasa dirinya sebagai pribadi yang buruk.

Kalimat seperti:

“Nilaimu kali ini kurang bagus. Mari kita cari tahu bagian mana yang belum kamu pahami.”

berbeda secara psikologis dengan:

“Kamu memang selalu malas. Begitu saja tidak bisa.”

Kalimat pertama mengevaluasi perilaku tertentu. Kalimat kedua berpotensi menyerang identitas anak.

Masalahnya bukan sekadar apakah orang tua boleh mengkritik anak. Tentu saja anak membutuhkan batasan, arahan, dan koreksi. Persoalannya adalah seberapa sering kritik diberikan, bagaimana kritik disampaikan, dan pesan apa yang akhirnya diterima anak tentang dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat tujuh alasan mengapa pola asuh yang terlalu kritis dapat menyakiti anak.

1. Anak Bisa Mulai Menganggap Kritik sebagai Gambaran tentang Dirinya

Anak kecil belum memiliki kemampuan yang sama seperti orang dewasa untuk memisahkan antara “Saya melakukan kesalahan” dan “Saya adalah orang yang buruk.”

Ketika seorang anak terus-menerus mendengar kritik terhadap dirinya, ia dapat mulai menginternalisasi pesan tersebut.

Jika setiap kesalahan disambut dengan:

“Kamu ceroboh.”
“Kamu memang susah diatur.”
“Kamu selalu mengecewakan.”
“Kenapa kamu tidak bisa seperti anak lain?”

lama-kelamaan anak mungkin tidak lagi melihat kalimat tersebut sebagai komentar tentang perilaku tertentu.

Ia dapat mulai menganggapnya sebagai identitas.

Inilah salah satu alasan mengapa kritik yang berulang bisa lebih berbahaya daripada satu kali teguran.

Anak mungkin mulai membangun keyakinan:

“Aku memang tidak cukup baik.”

Keyakinan seperti ini dapat terbawa hingga remaja dan dewasa.

Ketika mendapatkan nilai buruk, ia bukan hanya berpikir, “Aku kurang belajar.”

Ia mungkin berpikir:

“Aku bodoh.”

Ketika melakukan kesalahan di tempat kerja, ia bukan hanya berpikir:

“Aku perlu memperbaiki kesalahan ini.”

Melainkan:

“Aku memang tidak kompeten.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Anak yang belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses perkembangan akan lebih mudah memperbaiki diri.

Sebaliknya, anak yang belajar bahwa kesalahan membuktikan dirinya tidak berharga mungkin menjadi sangat takut melakukan kesalahan.

Karena itu, salah satu prinsip penting dalam komunikasi dengan anak adalah:

kritik perilakunya, bukan identitasnya.

Katakan:

“Perbuatanmu tadi membuat orang lain terluka.”

daripada:

“Kamu anak yang jahat.”

Dengan begitu, anak belajar bahwa perilakunya dapat diperbaiki tanpa harus membenci dirinya sendiri.

2. Kritik Berlebihan Dapat Membuat Anak Mengembangkan Rasa Takut terhadap Kesalahan

Anak seharusnya belajar bahwa kesalahan adalah bagian normal dari kehidupan.

Ketika belajar naik sepeda, ia jatuh.

Ketika belajar matematika, ia salah menghitung.

Ketika belajar berkomunikasi, ia mungkin mengatakan sesuatu yang kurang tepat.

Ketika belajar mengambil keputusan, ia terkadang memilih sesuatu yang ternyata tidak berhasil.

Semua itu normal.

Namun, jika setiap kesalahan mendapatkan respons yang keras, anak dapat mulai mengasosiasikan kesalahan dengan rasa malu, kemarahan, atau penolakan.

Akibatnya, anak bukan lagi bertanya:

“Apa yang bisa kupelajari dari kesalahan ini?”

Tetapi:

“Bagaimana caranya agar aku tidak ketahuan melakukan kesalahan?”

Ini dapat menjadi masalah besar.

Anak mungkin mulai menyembunyikan nilai buruk.

Ia mungkin berbohong tentang pekerjaan sekolah.

Ia mungkin takut mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami masalah.

Bahkan ketika dewasa, ia bisa menjadi seseorang yang sangat takut mengambil risiko karena kegagalan terasa seperti ancaman terhadap harga dirinya.

Di sinilah kritik yang sebenarnya dimaksudkan untuk “mendidik” justru dapat menghasilkan efek yang berlawanan.

Orang tua ingin anak menjadi lebih bertanggung jawab.

Namun jika respons terhadap kesalahan selalu berupa penghukuman atau penghinaan, anak mungkin justru belajar menghindari kesalahan, menyembunyikan kesalahan, atau menyalahkan orang lain.

Anak membutuhkan pengalaman bahwa:

“Aku boleh salah, tetapi aku tetap harus bertanggung jawab dan memperbaikinya.”

Ini jauh berbeda dengan:

“Kalau aku salah, aku akan dianggap buruk.”

3. Anak Bisa Menjadi Terlalu Bergantung pada Validasi dari Orang Lain

Anak membutuhkan penerimaan dari orang-orang yang merawatnya.

Secara perkembangan, orang tua merupakan salah satu sumber penting bagi anak dalam memahami apakah dirinya aman, diterima, dan berharga.

Ketika anak lebih sering menerima kritik daripada penghargaan yang tulus, ia dapat menjadi sangat sensitif terhadap penilaian eksternal.

Ia mungkin terus mencari jawaban atas pertanyaan:

“Apakah aku sudah cukup baik?”

Nilai bagus membuatnya merasa berharga.

Pujian membuatnya merasa aman.

Persetujuan orang lain membuatnya merasa diterima.

Sebaliknya, kritik kecil dapat terasa sangat menyakitkan.

Ketika dewasa, pola ini dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Seseorang mungkin terlalu memikirkan pendapat orang lain.

Ia sulit mengatakan tidak.

Ia takut mengecewakan orang.

Ia merasa harus selalu membuktikan dirinya.

Ia bahkan mungkin sulit menikmati pencapaiannya sendiri karena pikirannya langsung berpindah pada kekurangan berikutnya.

Misalnya, seseorang mendapatkan nilai 95.

Alih-alih merasa puas, pikirannya langsung tertuju pada lima poin yang hilang.

Atau seseorang mendapatkan pujian dari atasannya, tetapi satu kritik kecil terus dipikirkannya selama berhari-hari.

Tentu, perilaku seperti itu tidak selalu berasal dari pola asuh yang kritis. Banyak faktor lain yang dapat berperan.

Namun, pengalaman masa kecil dapat menjadi salah satu bagian dari pola tersebut.

Anak perlu belajar bahwa nilai dirinya tidak hanya ditentukan oleh prestasi.

Ia berharga bukan hanya ketika mendapatkan nilai tinggi.

Ia tetap layak dihargai ketika sedang belajar.

4. Kritik yang Terus-Menerus Dapat Mengubah Cara Anak Berbicara kepada Dirinya Sendiri

Salah satu hal paling menarik dalam psikologi adalah bagaimana suara orang tua dapat perlahan menjadi suara internal anak.

Pada masa kanak-kanak, anak belum sepenuhnya memiliki sistem evaluasi diri yang matang.

Ia belajar banyak hal melalui bagaimana orang-orang terdekat memperlakukannya.

Jika seorang anak sering mendengar:

“Kamu harus lebih baik.”
“Itu saja tidak bisa.”
“Kok kamu selalu salah?”
“Lihat anak orang lain.”

maka ketika dewasa, suara tersebut dapat terasa seperti datang dari dalam dirinya sendiri.

Ia mungkin tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengkritiknya.

Ia sudah bisa melakukannya sendiri.

Ketika melakukan kesalahan, pikirannya otomatis berkata:

“Bodoh.”

Ketika gagal:

“Memang aku tidak mampu.”

Ketika beristirahat:

“Aku malas.”

Ketika mendapatkan hasil yang baik:

“Seharusnya bisa lebih bagus.”

Inilah yang sering disebut sebagai self-criticism, atau kecenderungan mengkritik diri sendiri secara berlebihan.

Menariknya, orang yang sangat kritis terhadap dirinya sendiri kadang terlihat sangat disiplin dari luar.

Mereka bekerja keras.

Mereka memiliki standar tinggi.

Mereka ingin melakukan semuanya dengan benar.

Namun, di dalam dirinya mungkin terdapat tekanan yang sangat besar.

Mereka bukan bekerja keras karena menikmati prosesnya.

Mereka bekerja keras karena takut merasa tidak cukup baik.

Karena itu, tujuan pengasuhan bukan membuat anak selalu merasa hebat.

Tujuannya adalah membantu anak memiliki suara batin yang realistis dan penuh kasih.

Bukan:

“Aku sempurna.”

Tetapi:

“Aku punya kekurangan, tetapi aku bisa belajar memperbaikinya.”

5. Anak Bisa Belajar Bahwa Cinta Harus Diperoleh melalui Prestasi

Salah satu pesan yang paling berbahaya bukan selalu berasal dari kalimat kasar.

Terkadang pesan tersebut muncul secara tidak langsung.

Misalnya, orang tua sangat hangat ketika anak mendapatkan prestasi, tetapi menjadi dingin ketika anak gagal.

Anak dapat mulai membuat hubungan antara dua hal:

prestasi = diterima

dan

kegagalan = kehilangan penerimaan.

Orang tua mungkin tidak pernah mengatakan:

“Kami hanya menyayangimu kalau kamu berprestasi.”

Namun anak bisa merasakan pesan tersebut dari pola interaksi yang berulang.

Akibatnya, ia mungkin tumbuh menjadi orang yang sangat berorientasi pada pencapaian.

Ia mengejar nilai.

Ia mengejar jabatan.

Ia mengejar pengakuan.

Ia mengejar kesempurnaan.

Tetapi setelah mendapatkan semuanya, ia masih merasa kosong.

Sebab kebutuhan yang sebenarnya tidak pernah hanya tentang prestasi.

Ada kebutuhan yang lebih mendasar:

“Apakah aku tetap diterima ketika aku gagal?”

Anak perlu mengetahui bahwa orang tua dapat tidak menyetujui perilakunya tanpa menarik kasih sayang mereka.

Orang tua bisa berkata:

“Kami tidak setuju dengan keputusanmu.”

tanpa mengatakan:

“Kami kecewa mempunyai anak seperti kamu.”

Perbedaan tersebut sangat penting.

Batasan tidak harus menghilangkan kehangatan.

Orang tua dapat tetap tegas sambil memberikan pesan:

“Perbuatanmu perlu diperbaiki, tetapi hubungan kita tetap aman.”

6. Kritik Berlebihan Dapat Membuat Hubungan Anak dan Orang Tua Menjadi Jauh

Ada titik ketika seorang anak mulai tidak lagi datang kepada orang tua untuk meminta bantuan.

Bukan karena ia tidak membutuhkan orang tua.

Tetapi karena ia takut dengan respons yang akan diterimanya.

Misalnya, seorang remaja mendapatkan masalah di sekolah.

Ia ingin bercerita.

Namun ia membayangkan respons:

“Makanya jangan macam-macam.”

atau:

“Kamu memang dari dulu tidak pernah mendengarkan.”

Akhirnya ia memilih diam.

Masalahnya tidak hilang.

Hanya saja, orang tua tidak lagi mengetahuinya.

Ini menjadi semakin penting ketika anak memasuki masa remaja dan dewasa muda.

Pada fase tersebut, anak mulai memiliki kehidupan yang lebih kompleks.

Ia menghadapi persahabatan, hubungan romantis, pendidikan, pekerjaan, identitas pribadi, dan berbagai keputusan yang semakin mandiri.

Jika sejak kecil ia belajar bahwa menceritakan masalah akan membuatnya dihakimi, ia mungkin memilih mencari tempat aman di luar rumah.

Teman.

Pasangan.

Internet.

Atau bahkan tidak bercerita kepada siapa pun.

Karena itu, hubungan yang aman bukan berarti orang tua selalu membenarkan anak.

Hubungan yang aman berarti anak tahu:

“Kalau aku mengalami masalah, aku masih bisa datang kepada orang tuaku.”

Kalimat sederhana ini memiliki nilai yang sangat besar.

7. Anak Dapat Membawa Pola Kritik Itu ke Hubungan Mereka Sendiri

Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua.

Mereka juga belajar dari cara hubungan dijalankan.

Jika kritik, penghinaan, perbandingan, dan penolakan menjadi pola komunikasi yang biasa di rumah, anak dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang normal dalam hubungan.

Ketika dewasa, ia mungkin tanpa sadar mengulang pola tersebut.

Ada yang menjadi sangat kritis terhadap pasangannya.

Ada yang mudah tersinggung ketika dikoreksi.

Ada yang memilih pasangan yang terus-menerus merendahkannya karena pola tersebut terasa familiar.

Ada pula yang menjadi sangat takut terhadap konflik dan selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Namun penting untuk berhati-hati dengan konsep ini.

Masa kecil bukanlah “takdir”.

Seseorang yang mengalami pola pengasuhan kritis tidak otomatis akan menjadi pasangan yang buruk atau selalu memilih hubungan yang tidak sehat.

Manusia dapat belajar.

Pengalaman baru dapat mengubah cara seseorang berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain.

Kesadaran merupakan salah satu langkah penting.

Ketika seseorang mulai menyadari:

“Mengapa setiap kali melakukan kesalahan aku langsung merasa tidak berharga?”

atau:

“Mengapa kritik kecil dari pasangan terasa seperti ancaman besar?”

ia dapat mulai memahami bahwa reaksinya mungkin memiliki sejarah yang lebih panjang.

Pemahaman tersebut dapat menjadi awal untuk membangun pola yang berbeda.

Kritik Tidak Selalu Buruk

Penting untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa orang tua seharusnya tidak pernah mengkritik anak.

Itu bukan tujuan dari pembahasan ini.

Anak membutuhkan aturan.

Anak membutuhkan konsekuensi.

Anak perlu mengetahui bahwa beberapa perilaku memang tidak dapat diterima.

Masalahnya adalah cara menyampaikan koreksi tersebut.

Ada perbedaan besar antara:

“Kamu bodoh.”

dan:

“Cara kamu mengerjakan tugas ini belum tepat. Mari kita lihat bagian yang perlu diperbaiki.”

Ada perbedaan antara:

“Kamu selalu membuat masalah.”

dan:

“Tindakanmu tadi membuat masalah. Menurutmu apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?”

Yang pertama menyerang identitas.

Yang kedua mengajarkan tanggung jawab.

Yang pertama membuat anak merasa dirinya adalah masalah.

Yang kedua membantu anak memahami bahwa ia memiliki masalah yang bisa diselesaikan.

Bagaimana Orang Tua Bisa Mengurangi Dampak Kritik?

Tidak ada orang tua yang sempurna.

Bahkan orang tua yang sangat mencintai anaknya dapat kehilangan kesabaran, mengatakan sesuatu yang terlalu keras, atau bereaksi secara emosional.

Yang penting bukan menciptakan rumah tanpa konflik.

Yang lebih realistis adalah membangun kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah konflik.

Orang tua dapat mulai dengan beberapa langkah sederhana.

1. Kritik perilaku, bukan karakter

Hindari:

“Kamu pemalas.”

Gunakan:

“Tugasmu belum selesai. Apa yang membuat kamu kesulitan mengerjakannya?”

2. Berikan kritik secara spesifik

Daripada:

“Kamu selalu berantakan.”

lebih baik:

“Tolong rapikan buku-buku yang kamu tinggalkan di ruang tamu.”

Semakin spesifik kritiknya, semakin mudah anak memahami apa yang perlu dilakukan.

3. Berikan ruang untuk memperbaiki kesalahan

Anak tidak hanya perlu mengetahui bahwa ia salah.

Ia perlu belajar bagaimana memperbaikinya.

Tanyakan:

“Menurutmu apa yang bisa dilakukan sekarang?”

Pertanyaan semacam ini membantu anak mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

4. Jangan jadikan perbandingan sebagai alat pendidikan

Kalimat:

“Lihat kakakmu, dia saja bisa.”

mungkin terlihat sebagai motivasi.

Tetapi bagi sebagian anak, itu justru menciptakan rasa malu dan persaingan.

Lebih baik fokus pada perkembangan anak itu sendiri.

“Kemarin kamu masih kesulitan dengan bagian ini. Sekarang sudah ada kemajuan.”

5. Tunjukkan bahwa kasih sayang tidak bergantung pada prestasi

Anak perlu mengalami bahwa orang tua tetap hadir ketika ia gagal.

Kalimat sederhana seperti:

“Kami kecewa dengan keputusanmu, tetapi kami tetap menyayangimu.”

dapat memberikan pesan yang sangat berbeda.

Anak belajar bahwa perilaku memiliki konsekuensi, tetapi cinta tidak harus menjadi hadiah yang hanya diberikan ketika ia sempurna.

Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Anak tidak membutuhkan orang tua yang tidak pernah marah.

Tidak membutuhkan orang tua yang selalu mengatakan hal yang benar.

Dan tidak membutuhkan rumah yang tidak pernah memiliki konflik.

Yang lebih dibutuhkan adalah orang tua yang mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih manusiawi:

memperbaiki hubungan.

Jika orang tua pernah berkata terlalu keras, mereka dapat meminta maaf.

Jika kritik mereka berlebihan, mereka dapat mengubah cara berbicara.

Jika selama ini mereka terlalu fokus pada kekurangan anak, mereka dapat mulai memperhatikan usaha dan proses anak.

Kalimat:

“Tadi Ayah/Ibu terlalu keras. Yang ingin Ayah/Ibu sampaikan sebenarnya adalah perilakumu perlu diperbaiki, bukan berarti kamu anak yang buruk.”

dapat menjadi pengalaman yang sangat berarti.

Sebab anak bukan hanya belajar dari kesalahan orang tua.

Anak juga belajar dari bagaimana orang tua bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan menciptakan anak yang tidak pernah salah.

Tujuannya adalah membantu anak tumbuh menjadi manusia yang mampu mengatakan:

“Aku bisa melakukan kesalahan tanpa membenci diriku sendiri.”

“Aku bisa menerima kritik tanpa merasa seluruh diriku ditolak.”

“Aku bisa memperbaiki kesalahan tanpa kehilangan rasa percaya pada diriku.”

Dan mungkin yang paling penting:

“Aku tidak harus sempurna untuk tetap layak dicintai.

EDITOR: Hanny Suwindari