← Beranda
Membesarkan Si Kecil Menjadi Anak yang Pantang Menyerah? Lakukan 6 Cara Parenting Ini
Irfan FerdiansyahMinggu, 6 September 2026 | 05.45 WIB
seseorang yang memiliki anak yang pantang menyerah./Magnific/tirachardz

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Namun, anak yang pantang menyerah bukan berarti anak yang tidak pernah menangis, tidak pernah kecewa, atau selalu berhasil dalam segala hal.

Justru sebaliknya.

Anak yang memiliki daya juang biasanya adalah anak yang belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Mereka memahami bahwa sesuatu yang sulit boleh membuat kecewa, tetapi bukan berarti harus langsung ditinggalkan.

Kemampuan seperti ini tidak muncul begitu saja. Dalam psikologi perkembangan, ketekunan, kemampuan mengelola emosi, keyakinan terhadap kemampuan diri, dan cara anak memandang kegagalan merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang.

Kabar baiknya, orang tua dapat membantu membangun kemampuan tersebut sejak dini melalui pola pengasuhan sehari-hari.

Tidak harus dengan cara yang rumit.

Bahkan, kebiasaan sederhana seperti cara orang tua memberikan pujian, merespons kesalahan anak, atau berbicara ketika anak ingin menyerah dapat memberikan pengaruh besar terhadap cara anak menghadapi tantangan.

Dilansir dari PSychology Today pada Jumat (4/9), jika Anda ingin membesarkan si kecil menjadi anak yang lebih tangguh dan pantang menyerah, berikut enam cara parenting yang bisa mulai diterapkan di rumah.

1. Jangan Terlalu Cepat Membantu Ketika Anak Mengalami Kesulitan

Ketika melihat anak kesulitan memasang puzzle, mengikat tali sepatu, mengerjakan tugas, atau membangun sesuatu, naluri orang tua sering kali adalah langsung membantu.

"Sudah, sini Mama yang kerjakan."

"Begini caranya."

"Kasih sini, biar Ayah bantu."

Niatnya tentu baik. Orang tua ingin mengurangi rasa frustrasi anak.

Namun, jika dilakukan terlalu sering, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Bukan berarti orang tua harus membiarkan anak kesulitan sendirian. Yang lebih penting adalah memberikan bantuan secukupnya tanpa langsung mengambil alih.

Misalnya, ketika anak kesulitan menyusun balok, Anda bisa mengatakan:

"Coba lihat lagi, menurutmu bagian mana yang belum pas?"

Atau:

"Mau coba cara lain?"

Dengan cara tersebut, anak tetap mendapatkan dukungan, tetapi dirinya yang berusaha menemukan solusi.

Dalam psikologi, kesempatan untuk mencoba, gagal, mengevaluasi, lalu mencoba kembali merupakan bagian penting dari perkembangan kemampuan memecahkan masalah dan rasa kompeten.

Anak perlahan belajar satu hal penting:

"Aku mungkin belum bisa sekarang, tetapi aku bisa mencoba lagi."

Kalimat sederhana ini jauh lebih berharga daripada selalu mendapatkan solusi dari orang tua.

Jadi, ketika si kecil mengalami kesulitan, tahan sebentar keinginan untuk langsung turun tangan.

Berikan ruang untuk mencoba.

Jika anak benar-benar membutuhkan bantuan, berikan petunjuk kecil terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban atau mengambil alih.

Dengan begitu, anak belajar bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari.

2. Puji Proses dan Usahanya, Bukan Hanya Hasil Akhir

Anak tentu senang ketika mendapatkan pujian.

Namun, jenis pujian yang diberikan orang tua juga dapat memengaruhi cara anak memandang kemampuan dirinya.

Misalnya, ketika anak berhasil menyelesaikan sebuah tugas, orang tua mungkin berkata:

"Kamu memang pintar!"

Kalimat tersebut terdengar positif. Tetapi, jika anak terlalu sering mendapatkan pujian yang berfokus pada "kepintaran" atau kemampuan bawaan, ia bisa menjadi lebih takut ketika menghadapi sesuatu yang sulit.

Mengapa?

Karena anak dapat mulai menganggap bahwa menjadi "pintar" berarti harus selalu berhasil.

Ketika kemudian ia mengalami kegagalan, ia mungkin berpikir:

"Berarti aku tidak pintar."

Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan pujian yang lebih berfokus pada proses.

Contohnya:

"Kamu tadi terus mencoba meskipun sempat kesulitan."

"Kamu mencari cara lain ketika cara pertama belum berhasil."

"Kelihatannya kamu benar-benar berusaha menyelesaikannya."

"Kamu belum berhasil kali ini, tetapi kamu tidak langsung berhenti."

Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha, strategi, dan ketekunan merupakan bagian penting dari proses belajar.

Anak juga belajar bahwa kemampuan bukan sesuatu yang harus selalu sempurna sejak awal.

Ada proses di balik sebuah keberhasilan.

Dan ketika anak memahami hal tersebut, kegagalan tidak lagi terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Sebaliknya, kegagalan bisa dipandang sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih mampu.

3. Ajarkan Anak Bahwa "Belum Bisa" Bukan Berarti "Tidak Bisa"

Perhatikan bagaimana anak berbicara kepada dirinya sendiri ketika menghadapi kesulitan.

"Adik nggak bisa."

"Aku jelek menggambar."

"Aku memang nggak pintar matematika."

"Aku nggak akan pernah bisa."

Jika kalimat seperti ini sering muncul, orang tua dapat membantu mengubah cara anak memandang kemampuan dirinya.

Bukan dengan menyangkal perasaannya.

Misalnya, daripada langsung berkata:

"Ah, kamu pasti bisa!"

lebih baik akui dulu kesulitannya.

"Kamu merasa ini susah, ya?"

Setelah itu, tambahkan perspektif baru:

"Memang belum bisa sekarang. Kita coba pelan-pelan."

Kata "belum" terlihat sederhana, tetapi dapat membantu anak memahami bahwa kemampuan masih dapat berkembang.

Daripada mengatakan:

"Aku tidak bisa."

anak dapat dibimbing untuk mengatakan:

"Aku belum bisa."

Perbedaannya kecil, tetapi pesan psikologisnya berbeda.

Kalimat pertama terdengar seperti kesimpulan akhir.

Kalimat kedua menunjukkan bahwa masih ada kemungkinan untuk berkembang.

Orang tua juga dapat menggunakan pertanyaan yang membantu anak melihat kemajuan.

"Bagian mana yang sekarang sudah kamu bisa?"

"Apa yang berbeda dari percobaanmu yang tadi?"

"Menurutmu, apa yang bisa kita coba berikutnya?"

Dengan demikian, perhatian anak perlahan berpindah dari "Aku gagal" menjadi "Apa yang bisa aku pelajari dari ini?"

Inilah salah satu dasar penting dalam membangun ketekunan.

4. Biarkan Anak Mengalami Kegagalan Kecil

Sebagai orang tua, melihat anak kecewa memang tidak mudah.

Ketika anak kalah dalam permainan, gagal mendapatkan sesuatu, salah menjawab pertanyaan, atau hasil gambarnya tidak sesuai harapan, kita mungkin ingin segera menghibur.

Namun, anak juga perlu belajar mengalami rasa kecewa dalam dosis yang sesuai dengan usianya.

Mengapa?

Karena kehidupan tidak selalu memberikan hasil sesuai keinginan.

Anak yang selalu dilindungi dari setiap kegagalan dapat kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana menghadapi rasa kecewa.

Bukan berarti orang tua sengaja membuat anak gagal.

Yang dimaksud adalah tidak selalu menghilangkan setiap hambatan yang sebenarnya masih aman untuk dihadapi anak.

Misalnya, ketika anak kalah dalam permainan, jangan buru-buru mengatakan:

"Sudah, sebenarnya kamu menang kok."

Lebih baik katakan:

"Kamu kecewa karena kalah, ya. Wajar kalau kamu merasa sedih."

Setelah emosinya lebih tenang, ajak anak melihat apa yang dapat dipelajari.

"Kalau besok main lagi, kira-kira apa yang ingin kamu coba?"

Dengan cara ini, anak belajar dua hal sekaligus.

Pertama, kegagalan memang bisa terasa tidak menyenangkan.

Kedua, rasa kecewa tidak harus membuat seseorang berhenti mencoba.

Inilah keterampilan emosional yang sangat penting.

Anak tidak perlu diajarkan bahwa kegagalan itu menyenangkan.

Mereka justru perlu belajar bahwa kegagalan boleh terasa menyakitkan, tetapi kita tetap bisa bangkit setelah mengalaminya.

5. Jadilah Contoh Ketika Menghadapi Kesulitan

Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua.

Mereka juga mengamati apa yang dilakukan orang tua.

Karena itu, salah satu cara paling kuat untuk mengajarkan ketangguhan adalah dengan memperlihatkannya melalui perilaku sehari-hari.

Misalnya, ketika Anda melakukan kesalahan, hindari selalu berusaha terlihat sempurna di depan anak.

Anda bisa mengatakan:

"Wah, Mama salah. Tidak apa-apa, Mama coba lagi."

Atau ketika menghadapi sesuatu yang sulit:

"Ini ternyata lebih sulit dari yang Mama kira. Mama istirahat sebentar, lalu coba lagi."

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan kepada anak bahwa orang dewasa pun bisa mengalami kesulitan.

Namun, kesulitan bukan alasan untuk langsung menyerah.

Anak juga belajar bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Misalnya:

"Ayah belum tahu caranya. Kita cari tahu bersama, ya."

Ini merupakan pesan yang sangat sehat.

Sebab, menjadi pantang menyerah bukan berarti harus melakukan semuanya sendirian.

Anak yang tangguh juga perlu mengetahui kapan harus mencoba sendiri, kapan harus mengubah strategi, dan kapan harus meminta bantuan.

Dengan melihat orang tua menghadapi kesalahan dan tantangan secara sehat, anak mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana menghadapi masalah.

6. Ajarkan Anak Menghadapi Tantangan Secara Bertahap

Terkadang anak menyerah bukan karena malas, melainkan karena tantangan yang dihadapinya terasa terlalu besar.

Bayangkan seorang anak diminta langsung menyelesaikan sesuatu yang jauh di atas kemampuannya.

Ia mencoba.

Gagal.

Mencoba lagi.

Gagal lagi.

Jika pengalaman tersebut terus terjadi, anak bisa merasa bahwa dirinya memang tidak mampu.

Karena itu, orang tua dapat membantu anak memecah tantangan besar menjadi langkah-langkah kecil.

Misalnya, jika anak ingin belajar membaca, tidak perlu langsung menargetkan kemampuan membaca buku panjang.

Mulailah dari langkah yang sesuai dengan perkembangannya.

Begitu pula ketika anak belajar merapikan kamar, memakai pakaian sendiri, belajar berhitung, bermain alat musik, atau mengembangkan keterampilan lainnya.

Fokuskan perhatian pada satu langkah kecil yang dapat dilakukan anak.

Misalnya:

"Hari ini kita belajar membereskan mainan dulu."

Setelah berhasil, tantangannya dapat ditingkatkan secara bertahap.

Cara ini membantu anak merasakan pengalaman keberhasilan.

Dari keberhasilan kecil tersebut, rasa percaya diri dapat tumbuh.

Anak mulai memiliki pengalaman bahwa:

"Kalau aku mencoba dan berlatih, aku bisa menjadi lebih baik."

Pengalaman seperti ini sangat penting untuk membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.

Jangan Menuntut Anak Selalu Kuat

Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika orang tua ingin memiliki anak yang pantang menyerah.

Pantang menyerah bukan berarti anak harus selalu kuat.

Anak tetap boleh menangis.

Anak boleh kecewa.

Anak boleh mengatakan bahwa dirinya lelah.

Anak juga boleh meminta bantuan.

Ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami emosi negatif.

Justru anak perlu belajar mengenali emosinya, mengungkapkannya dengan cara yang sehat, kemudian perlahan menemukan cara untuk kembali menghadapi masalah.

Karena itu, ketika anak berkata:

"Aku capek."

tidak selalu perlu dijawab dengan:

"Jangan menyerah!"

Terkadang respons yang lebih tepat adalah:

"Kalau capek, kita istirahat dulu. Setelah lebih tenang, kita pikirkan lagi mau mencoba dengan cara apa."

Pesan tersebut mengajarkan bahwa beristirahat berbeda dengan menyerah.

Anak boleh berhenti sejenak untuk mengatur emosinya, lalu kembali mencoba ketika sudah siap.

Hindari Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Satu lagi kebiasaan yang sebaiknya dihindari adalah membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain.

"Temanmu saja bisa."

"Kakakmu dulu umur segini sudah bisa."

"Lihat adik, dia tidak mudah menyerah."

Mungkin orang tua bermaksud memotivasi.

Namun, perbandingan dapat membuat anak merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

Motivasi yang sehat sebaiknya lebih banyak berasal dari perkembangan dirinya sendiri.

Alih-alih membandingkan anak dengan orang lain, coba bandingkan dengan dirinya yang sebelumnya.

"Dulu kamu baru bisa menyusun dua balok, sekarang sudah bisa membuat bentuk yang lebih besar."

"Dulu kamu mudah marah ketika gagal, sekarang kamu sudah bisa mencoba lagi setelah tenang."

Dengan begitu, anak belajar melihat kemajuan dirinya sendiri.

Pada Akhirnya, Anak Belajar dari Cara Orang Tua Merespons Kegagalannya

Anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat panjang dari orang tua.

Namun, mereka dapat mengingat bagaimana perasaan mereka ketika melakukan kesalahan.

Apakah mereka merasa aman untuk mencoba lagi?

Apakah mereka merasa dicintai hanya ketika berhasil?

Apakah mereka takut dimarahi ketika gagal?

Atau justru mereka belajar bahwa rumah adalah tempat di mana mereka boleh mencoba, salah, belajar, dan mencoba lagi?

Inilah mengapa membesarkan anak yang pantang menyerah bukan tentang memaksa anak untuk selalu bertahan.

Ini tentang menciptakan lingkungan yang membuat anak berani mencoba.

Berikan kesempatan untuk berusaha.

Jangan terlalu cepat mengambil alih.

Hargai prosesnya.

Bantu anak memahami bahwa kemampuan dapat berkembang.

Biarkan mereka mengalami kegagalan yang sesuai dengan usianya.

Tunjukkan melalui contoh bahwa orang tua pun bisa salah dan mencoba lagi.

Dan yang tidak kalah penting, pastikan anak tahu bahwa nilai dirinya tidak pernah bergantung pada seberapa banyak ia berhasil.

Sebab, anak yang merasa aman untuk gagal akan lebih berani mencoba.

Anak yang tidak takut melakukan kesalahan akan lebih mudah belajar.

Dan anak yang memahami bahwa "belum bisa" bukan berarti "tidak bisa" akan memiliki kesempatan lebih besar untuk terus berkembang.

Jadi, jika ingin membesarkan si kecil menjadi anak yang pantang menyerah, tidak perlu menunggu sampai ia besar.

Mulailah dari hal-hal kecil yang terjadi hari ini.

Dari puzzle yang sulit disusun.

Dari sepatu yang belum bisa diikat.

Dari gambar yang tidak sesuai harapan.

Dari permainan yang membuatnya kalah.

Dari tugas yang membuatnya ingin menyerah.

Di momen-momen sederhana itulah, anak sedang belajar satu keterampilan hidup yang sangat berharga:

jatuh bukan berarti selesai—kadang kita hanya perlu beristirahat, mencoba cara lain, dan bangkit lagi.

EDITOR: Hanny Suwindari