JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa sudah berbicara baik-baik kepada anak, tetapi seolah-olah tidak didengar?
“Sudah, matikan TV-nya.”
Tidak ada respons.
“Ayo, waktunya mandi.”
Anak tetap bermain.
“Berapa kali Mama bilang? Jangan begitu!”
Bukannya menurut, anak justru menangis, berteriak, membantah, atau semakin keras kepala.
Pada titik tertentu, orang tua bisa kehilangan kesabaran.
Suara mulai meninggi.
Ancaman mulai keluar.
“Kalau tidak menurut, HP-nya Mama ambil!”
“Kalau masih begitu, kamu tidak boleh main!”
“Kenapa sih kamu susah sekali dibilangin?”
Namun, semakin keras kita berbicara, terkadang anak justru semakin melawan.
Bukan selalu karena anak “nakal”.
Bukan pula berarti orang tua gagal mendidik.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), dalam banyak situasi, perilaku anak yang tampak sulit diatur sebenarnya berkaitan dengan kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi, memahami konsekuensi, menghadapi perubahan aktivitas, dan merespons batasan.
Karena itu, sebelum menaikkan volume suara, ada pendekatan komunikasi yang bisa dicoba.
Salah satunya adalah menggunakan tiga kata sederhana:
“Kamu mau?”
Tiga kata ini terdengar sangat sederhana.
Tetapi jika digunakan dengan tepat, pertanyaan tersebut dapat membantu mengubah pola interaksi dari perintah versus perlawanan menjadi komunikasi dan pilihan.
Namun, tentu saja, bukan berarti setiap kali anak sulit diatur kita cukup mengatakan “kamu mau?” lalu semuanya langsung beres.
Psikologi tidak bekerja seperti sulap.
Yang lebih penting adalah cara kita memberikan pilihan, batasan, dan kesempatan kepada anak untuk merasa memiliki kendali.
Mengapa Anak Sering Melawan Ketika Diperintah?
Bayangkan kamu sedang melakukan sesuatu yang kamu sukai.
Tiba-tiba seseorang berkata:
“Berhenti sekarang.”
“Jangan begitu.”
“Lakukan ini.”
“Sekarang juga.”
Walaupun permintaannya masuk akal, ada kemungkinan muncul dorongan dalam diri:
“Kenapa aku harus menurut?”
Anak pun bisa mengalami hal serupa.
Terutama ketika mereka sedang asyik bermain, menonton sesuatu, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Ketika orang tua tiba-tiba memberikan perintah, anak bukan hanya menghadapi tugas baru.
Mereka juga harus melakukan perpindahan mental dari aktivitas yang sedang mereka nikmati menuju aktivitas yang diminta orang tua.
Bagi anak kecil, kemampuan untuk melakukan transisi seperti ini masih berkembang.
Itulah sebabnya kalimat:
“Matikan mainannya sekarang!”
bisa memicu reaksi besar.
Bukan semata-mata karena anak tidak menghormati orang tua.
Bisa jadi karena otaknya belum siap berpindah secepat yang diharapkan orang dewasa.
Di sinilah “3 Magic Words” Bisa Digunakan
Cobalah mengganti pola:
“Kamu harus…”
menjadi:
“Kamu mau…?”
Misalnya:
“Sekarang waktunya mandi.”
bisa diubah menjadi:
“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama memberikan perintah.
Kalimat kedua memberikan pilihan dalam batas yang tetap ditentukan orang tua.
Anak tidak diberi pilihan apakah mandi atau tidak.
Mandi tetap menjadi bagian dari rutinitas.
Yang diberikan adalah pilihan mengenai kapan atau bagaimana melakukannya.
Ini penting.
Karena memberikan pilihan bukan berarti membiarkan anak menjadi “bos” di rumah.
Justru orang tua tetap memegang batas.
Anak hanya mendapatkan ruang untuk berpartisipasi.
1. “Kamu Mau…?” Membantu Anak Merasa Memiliki Kendali
Salah satu alasan anak sering menolak adalah karena mereka merasa hampir semua hal ditentukan oleh orang dewasa.
Bangun ditentukan orang tua.
Makan ditentukan orang tua.
Mandi ditentukan orang tua.
Tidur ditentukan orang tua.
Berangkat sekolah ditentukan orang tua.
Bahkan pakaian pun terkadang dipilihkan.
Tentu saja anak memang membutuhkan struktur.
Tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan sederhana.
Misalnya:
“Kamu mau pakai baju biru atau merah?”
“Kamu mau gosok gigi sebelum membaca buku atau setelah membaca satu buku?”
“Kamu mau membereskan mobil-mobilan dulu atau boneka dulu?”
Pilihan-pilihan kecil seperti ini dapat memberikan pengalaman:
“Aku punya kendali atas sesuatu.”
Dan pengalaman tersebut bisa membuat anak lebih kooperatif terhadap hal-hal yang memang tidak bisa dinegosiasikan.
2. Jangan Memberikan Pilihan yang Sebenarnya Tidak Ada
Ini bagian yang sangat penting.
Jika kamu bertanya:
“Kamu mau mandi atau tidak?”
lalu anak menjawab:
“Tidak!”
Apa yang akan kamu lakukan?
Kalau sebenarnya anak memang harus mandi, maka pertanyaan tersebut justru menciptakan perdebatan baru.
Karena itu, berikan pilihan yang keduanya tetap dapat diterima oleh orang tua.
Misalnya:
“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
Jika anak menjawab:
“Lima menit!”
Orang tua dapat mengatakan:
“Baik. Lima menit lagi kita mandi.”
Atau:
“Kamu mau mandi pakai sabun yang wangi apel atau jeruk?”
Bukan:
“Kamu mau mandi atau tidak?”
Perbedaannya kecil, tetapi efek komunikasinya bisa sangat berbeda.
3. Anak Membutuhkan Batas, Bukan Kebebasan Tanpa Batas
Ada kesalahpahaman bahwa parenting yang lembut berarti anak boleh menentukan semuanya.
Tidak.
Anak justru membutuhkan batas yang jelas.
Anak perlu tahu:
“Ada hal yang boleh aku pilih, dan ada hal yang memang harus dilakukan.”
Misalnya:
“Sekarang waktunya tidur.”
Anak berkata:
“Aku belum mau!”
Orang tua dapat merespons:
“Bunda tahu kamu masih ingin bermain. Tapi sekarang waktunya tidur. Kamu mau baca satu cerita atau langsung tidur?”
Perhatikan struktur kalimatnya.
Pertama, orang tua mengakui perasaan anak.
Kedua, orang tua mempertahankan batas.
Ketiga, orang tua memberikan pilihan.
Ini jauh lebih sehat daripada:
“Pokoknya tidur! Jangan banyak alasan!”
4. Jangan Gunakan Pertanyaan Jika Kamu Sedang Marah
Ada satu kesalahan yang sering terjadi.
Orang tua sebenarnya tidak sedang memberikan pilihan.
Mereka sedang memberikan ancaman dalam bentuk pertanyaan.
Misalnya:
“Kamu mau Mama marah?”
“Kamu mau dihukum?”
“Kamu mau HP kamu Mama buang?”
Ini bukan pilihan yang sehat.
Anak justru menangkap pesan:
“Orang tuaku sedang marah dan aku sedang berada dalam ancaman.”
Tujuan dari memberikan pilihan bukan untuk menakut-nakuti anak.
Tujuannya adalah membantu anak belajar mengambil keputusan dalam batas yang aman.
5. Coba Gunakan “Pilihan Terbatas”
Dalam psikologi perkembangan, anak membutuhkan kesempatan untuk melatih kemandirian.
Tetapi anak kecil belum selalu mampu membuat keputusan yang kompleks.
Karena itu, pilihan yang diberikan sebaiknya sederhana.
Misalnya:
“Mau pakai sepatu sendiri atau Ayah bantu?”
“Mau makan pisang dulu atau telur dulu?”
“Mau bereskan mainan sambil nyanyi atau sambil menghitung?”
“Mau tidur sekarang atau lima menit lagi?”
Dua pilihan biasanya cukup.
Jangan memberikan terlalu banyak pilihan.
Kalau kamu berkata:
“Besok mau pakai baju apa? Mau yang ini, itu, atau yang di lemari? Mau celana ini atau itu? Mau sepatu yang mana?”
Anak malah bisa semakin bingung.
6. Gunakan Nada Suara yang Tenang
Kata-kata yang tepat bisa kehilangan pengaruh jika disampaikan dengan nada yang penuh kemarahan.
Bandingkan:
“KAMU MAU MANDI SEKARANG ATAU LIMA MENIT LAGI?!”
dengan:
“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
Pesannya sama.
Tetapi pengalaman emosional anak berbeda.
Ketika orang tua berbicara dengan tenang, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk memproses informasi tanpa merasa sedang diserang.
Ini bukan berarti orang tua harus selalu tenang.
Orang tua juga manusia.
Bisa lelah.
Bisa frustrasi.
Bisa kehilangan kesabaran.
Tetapi ketika memungkinkan, tenangkan diri terlebih dahulu sebelum mencoba mengoreksi perilaku anak.
7. Validasi Perasaan, Bukan Berarti Membenarkan Perilaku
Ini juga sangat penting.
Misalnya anak menangis karena waktu bermain selesai.
Orang tua dapat mengatakan:
“Bunda tahu kamu masih ingin bermain.”
Kalimat ini bukan berarti:
“Bunda membolehkan kamu bermain terus.”
Batas tetap ada:
“Memang menyenangkan bermain, tetapi sekarang waktunya berhenti.”
Kemudian:
“Kamu mau membereskan mainan sendiri atau Bunda bantu?”
Dengan demikian, anak mendapatkan dua pesan sekaligus:
“Perasaanku dipahami.”
dan
“Aturan tetap berlaku.”
Keduanya bisa berjalan bersama.
8. Bagaimana Jika Anak Tetap Menolak?
Ini pertanyaan yang sangat penting.
Bagaimana jika sudah diberi pilihan tetapi anak tetap berkata:
“Enggak mau!”
Jangan langsung menganggap metode ini gagal.
Anak tetap boleh menolak.
Tujuan parenting bukan membuat anak selalu berkata “iya”.
Tujuannya adalah membantu anak belajar mengelola keinginan, emosi, dan batasan.
Misalnya:
“Tidak mau mandi!”
Orang tua:
“Kamu tidak mau mandi. Kamu masih ingin bermain.”
Anak:
“Iya!”
Orang tua:
“Bunda mengerti. Tapi sekarang waktunya mandi. Kamu mau mandi sendiri atau Bunda bantu?”
Jika anak masih menolak:
“Enggak mau!”
Orang tua tetap tenang:
“Baik, kamu belum mau memilih. Bunda akan bantu kamu sekarang.”
Tidak perlu berdebat panjang.
Tidak perlu memberikan sepuluh ancaman.
Tidak perlu berteriak.
Batas tetap dijalankan.
9. Anak Tidak Harus Selalu Setuju dengan Orang Tua
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat penting.
Anak yang sehat secara emosional bukan anak yang selalu menurut.
Anak bisa berkata:
“Aku enggak mau.”
“Aku kesal.”
“Aku tidak suka.”
“Aku mau sendiri.”
Tugas orang tua bukan menghilangkan semua bentuk penolakan tersebut.
Tugas orang tua adalah mengajarkan anak cara menyampaikan penolakan tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Anak boleh marah.
Tetapi tidak boleh memukul.
Anak boleh kecewa.
Tetapi tidak boleh menghina.
Anak boleh tidak setuju.
Tetapi tetap perlu mengikuti aturan tertentu yang berkaitan dengan keselamatan dan tanggung jawab.
Inilah proses belajar regulasi emosi.
10. Jangan Terjebak dalam Perdebatan Panjang
Ketika anak mulai tantrum, orang tua terkadang justru ikut masuk ke dalam “arena debat”.
Anak berkata:
“Kenapa harus tidur?”
Orang tua menjelaskan panjang.
“Karena besok sekolah.”
“Kenapa sekolah?”
“Karena kamu harus belajar.”
“Kenapa harus belajar?”
“Karena…”
Dan seterusnya.
Pada kondisi emosi tinggi, penjelasan panjang belum tentu membantu.
Gunakan kalimat pendek.
“Aku tahu kamu tidak suka.”
“Sekarang waktunya tidur.”
“Kamu mau cerita satu halaman atau dua halaman?”
Singkat.
Jelas.
Tenang.
11. Gunakan Pilihan untuk Hal-Hal Kecil Sehari-hari
Jangan hanya menggunakan strategi ini ketika anak sedang bermasalah.
Justru latihan terbaik dilakukan dalam situasi sehari-hari.
Misalnya pagi hari:
“Pakai baju dulu atau sarapan dulu?”
Saat makan:
“Mau duduk di sini atau di sana?”
Saat bermain:
“Mau mulai dari puzzle atau balok?”
Saat membereskan kamar:
“Mau membereskan buku atau mainan dulu?”
Semakin sering anak mendapatkan kesempatan mengambil keputusan sederhana, semakin terbiasa mereka dengan konsep tanggung jawab dan konsekuensi.
12. Namun, Ada Situasi yang Tidak Perlu Dinegosiasikan
Tidak semua hal harus diberi pilihan.
Jika menyangkut keselamatan, orang tua perlu tegas.
Misalnya:
“Pegang tangan Ayah saat menyeberang.”
Bukan:
“Menurut kamu, kamu mau pegang tangan Ayah atau tidak?”
Jika anak berlari menuju jalan:
“Berhenti. Ayah akan pegang tanganmu.”
Tidak perlu memberikan pilihan yang membahayakan keselamatan.
Begitu juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, atau aturan penting keluarga.
Pilihan adalah alat komunikasi.
Bukan aturan bahwa anak harus selalu diberi pilihan.
13. Tiga Kata Ini Sebenarnya Bukan “Sihir”
Pada akhirnya, kekuatan sebenarnya bukan pada tiga kata:
“Kamu mau?”
Kekuatan sebenarnya ada pada prinsip di baliknya:
memberikan anak ruang untuk memiliki kendali dalam batas yang aman.
Anak bukan robot yang harus menerima setiap perintah.
Mereka adalah manusia yang sedang belajar memahami dunia.
Mereka sedang belajar:
mengatur emosi,
menunda keinginan,
mengambil keputusan,
menerima batas,
memahami konsekuensi,
dan berkomunikasi.
Karena itu, terkadang pertanyaan sederhana bisa lebih efektif daripada sepuluh perintah.
Bukan karena anak akhirnya “kalah”.
Tetapi karena anak merasa dirinya ikut terlibat dalam proses tersebut.
Coba Ubah 5 Kalimat Ini Mulai Hari Ini
Daripada:
“Cepat mandi!”
Coba:
“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”
Daripada:
“Beresi mainanmu sekarang!”
Coba:
“Kamu mau bereskan mobil dulu atau balok dulu?”
Daripada:
“Matikan TV!”
Coba:
“Kamu mau matikan TV sendiri atau Ayah bantu?”
Daripada:
“Pakai sepatu sekarang!”
Coba:
“Kamu mau pakai sepatu sendiri atau dibantu?”
Daripada:
“Ayo tidur, jangan banyak alasan!”
Coba:
“Kamu mau baca satu cerita atau langsung tidur?”
Kalimat-kalimat ini tidak menjamin anak langsung menurut.
Tetapi setidaknya, komunikasi berubah dari:
perintah → perlawanan
menjadi:
batas → pilihan → kerja sama.
Dan Ingat: Anak yang “Sulit Diatur” Belum Tentu Anak yang “Sulit”
Kadang-kadang label “sulit diatur” membuat kita hanya melihat perilakunya.
Anak berteriak.
Anak membantah.
Anak menangis.
Anak tidak mau berhenti bermain.
Anak tidak mau mandi.
Anak menolak tidur.
Tetapi di balik perilaku itu bisa ada kebutuhan yang belum mampu mereka sampaikan dengan baik.
Mungkin mereka lelah.
Mungkin lapar.
Mungkin terlalu banyak stimulasi.
Mungkin sedang kesulitan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Mungkin mereka membutuhkan koneksi dengan orang tua.
Atau mungkin mereka memang sedang menguji batas karena itu bagian dari proses perkembangan.
Tugas orang tua bukan mencari cara agar anak selalu patuh.
Tugas orang tua adalah membantu anak berkembang menjadi manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri.
Dan proses tersebut membutuhkan waktu.
Jadi, Saat Anak Mulai Melawan…
Tarik napas.
Jangan buru-buru menaikkan suara.
Dekati anak.
Validasi perasaannya.
Tetapkan batas.
Lalu, jika situasinya memungkinkan, berikan pilihan sederhana:
“Kamu mau…?”
Dua atau tiga kata sederhana.
Tetapi di baliknya ada pesan yang jauh lebih besar:
“Kamu punya suara. Kamu boleh memilih dalam batas yang aman. Dan Bunda/Ayah tetap akan membimbingmu.”
Mungkin tidak langsung berhasil hari ini.
Mungkin besok anak masih membantah.
Mungkin minggu depan kamu masih harus mengulanginya berkali-kali.
Tidak apa-apa.
Mendidik anak bukan tentang menemukan satu kalimat ajaib yang membuat mereka selalu menurut.
Parenting adalah proses panjang untuk mengajarkan anak mengendalikan dirinya sendiri—sampai suatu hari mereka tidak lagi membutuhkan kita untuk terus-menerus menyuruh.
Dan mungkin, itulah tujuan sebenarnya dari mendidik anak:
Bukan memiliki anak yang selalu berkata,
“Iya, aku menurut.”
Tetapi memiliki anak yang suatu hari mampu berkata,
“Aku tahu apa yang harus kulakukan, dan aku bisa memilih yang benar meskipun tidak ada yang menyuruhku.