JawaPos.com - Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Ada anak yang sejak kecil terlihat sangat cepat memahami angka, ada yang memiliki kemampuan bahasa luar biasa, ada yang mudah membuat sesuatu dengan tangannya, ada pula yang tampak sangat peka terhadap perasaan orang lain.
Ketika orang tua melihat kemampuan istimewa tersebut, biasanya muncul satu harapan: “Bagaimana caranya supaya bakat anak ini bisa berkembang secara maksimal?”
Namun, mengembangkan anak berbakat tidak sesederhana memasukkan mereka ke berbagai les atau memberikan latihan sebanyak mungkin.
Dalam psikologi perkembangan, potensi anak bukan hanya soal seberapa tinggi kemampuan yang mereka miliki saat ini. Potensi juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan membantu mereka belajar, mencoba, gagal, mendapatkan umpan balik, membangun motivasi, dan menemukan bidang yang benar-benar mereka sukai.
Anak yang berbakat pun tetap membutuhkan kesempatan untuk menjadi anak-anak. Mereka membutuhkan waktu bermain, hubungan yang hangat dengan orang tua, ruang untuk melakukan kesalahan, dan kebebasan untuk menemukan siapa diri mereka.
Karena itu, jika kamu melihat anakmu memiliki kemampuan yang menonjol, jangan buru-buru berpikir bahwa tugasmu adalah membuatnya menjadi “hebat” secepat mungkin.
Tugas orang tua justru adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan kemampuan tersebut tumbuh dengan sehat.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan.
1. Kenali bakat anak tanpa buru-buru memberi label
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengamati anak secara konsisten.
Jangan hanya melihat hasil akhirnya. Perhatikan juga proses ketika anak melakukan sesuatu.
Misalnya, seorang anak mungkin sangat menikmati menggambar. Namun, apakah yang menarik baginya benar-benar menggambar? Atau justru ia senang menciptakan cerita melalui gambar? Bisa jadi ia memiliki ketertarikan pada desain, visual storytelling, animasi, atau bahkan dunia konstruksi.
Begitu pula dengan anak yang senang bermain angka. Ketertarikannya mungkin bukan sekadar matematika. Ia mungkin menikmati pola, pemecahan masalah, strategi, atau permainan logika.
Inilah mengapa orang tua sebaiknya tidak terlalu cepat mengatakan:
“Kamu memang anak matematika.”
atau:
“Kamu berbakat menggambar.”
Label yang terlalu cepat dapat membuat anak merasa harus terus membuktikan dirinya sesuai dengan label tersebut.
Lebih baik gunakan kalimat yang menggambarkan perilaku:
“Ayah lihat kamu sangat menikmati mencari cara untuk menyelesaikan soal ini.”
atau:
“Kamu kelihatan sangat fokus ketika sedang menggambar.”
Dengan cara ini, anak belajar mengenali minat dan proses belajarnya sendiri, bukan sekadar mengidentifikasi dirinya berdasarkan sebuah label.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Cobalah membuat catatan sederhana mengenai aktivitas anak selama beberapa minggu.
Perhatikan:
Aktivitas apa yang membuatnya lupa waktu?
Hal apa yang sering ia tanyakan?
Masalah seperti apa yang senang ia pecahkan?
Kapan ia terlihat sangat fokus?
Aktivitas apa yang tetap ia lakukan meskipun tidak disuruh?
Apa yang membuatnya penasaran?
Apakah ia lebih menikmati proses daripada hasil?
Dari sana, orang tua dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih baik mengenai potensi anak.
2. Berikan tantangan yang sedikit lebih sulit dari kemampuan saat ini
Anak tidak berkembang hanya karena terus melakukan sesuatu yang sudah mereka kuasai.
Jika tantangannya terlalu mudah, anak bisa merasa bosan.
Sebaliknya, jika tantangannya terlalu sulit, anak dapat merasa frustrasi dan akhirnya berpikir bahwa dirinya tidak mampu.
Karena itu, orang tua perlu mencari tingkat tantangan yang tepat.
Misalnya, anak sudah mampu membaca buku sederhana. Jangan hanya memberinya buku yang sama berulang kali. Perlahan berikan cerita yang sedikit lebih kompleks.
Jika anak sudah mampu bermain alat musik dengan beberapa lagu sederhana, berikan kesempatan untuk mempelajari teknik baru.
Jika anak senang membuat robot sederhana, mungkin berikutnya ia bisa diperkenalkan pada proyek yang membutuhkan pemecahan masalah lebih kompleks.
Prinsipnya adalah:
Jangan membuat anak selalu nyaman, tetapi jangan pula membuatnya terus-menerus kewalahan.
Ketika anak menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuannya, mereka belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan usaha.
Orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban
Ini salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mendampingi anak berbakat.
Karena ingin membantu, orang tua langsung memberikan solusi.
Padahal, sesekali jauh lebih bermanfaat jika orang tua berkata:
“Menurutmu, ada cara lain untuk menyelesaikannya?”
atau:
“Kalau cara ini tidak berhasil, apa yang bisa kita coba berikutnya?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir mandiri.
3. Puji proses, bukan hanya kecerdasan atau hasil
Anak tentu membutuhkan apresiasi.
Namun, cara kita memberikan pujian juga penting.
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Kamu pintar sekali!”
dengan:
“Kamu terus mencoba meskipun tadi sempat kesulitan.”
Pujian pertama berfokus pada identitas dan kemampuan bawaan.
Pujian kedua berfokus pada proses.
Mengapa ini penting?
Karena jika anak terlalu sering mendapatkan pesan bahwa dirinya “pintar”, ia bisa menjadi takut melakukan kesalahan. Kesalahan kemudian terasa seperti ancaman terhadap identitasnya.
Sebaliknya, ketika anak terbiasa mendapatkan apresiasi terhadap usaha, strategi, ketekunan, dan keberanian mencoba, ia lebih mudah memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap.
Ini sejalan dengan gagasan growth mindset, yaitu pandangan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, strategi yang tepat, dan dukungan.
Namun, bukan berarti orang tua harus memberikan pujian kosong.
Jangan mengatakan:
“Hebat banget!”
untuk setiap hal kecil tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya diapresiasi.
Lebih baik spesifik:
“Kamu tadi mengubah caramu setelah percobaan pertama gagal. Itu strategi yang bagus.”
Dengan begitu, anak mengetahui perilaku apa yang membantu perkembangan dirinya.
4. Jangan jadikan bakat sebagai sumber tekanan
Ini mungkin salah satu hal paling penting dalam mendampingi anak berbakat.
Ketika anak menunjukkan kemampuan luar biasa, orang tua terkadang tanpa sadar mulai menaikkan ekspektasi.
Awalnya:
“Wah, kamu bagus sekali bermain piano.”
Lalu berubah menjadi:
“Kamu harus latihan setiap hari.”
Kemudian:
“Kamu kan sudah pintar, masa nilainya turun?”
Dan akhirnya:
“Kamu harus lebih baik daripada yang lain.”
Perlahan, sesuatu yang awalnya menyenangkan berubah menjadi sumber tekanan.
Anak tidak lagi bermain musik karena menyukainya. Ia bermain karena takut mengecewakan orang tua.
Ia tidak lagi belajar karena penasaran. Ia belajar karena takut nilainya turun.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat mengganggu motivasi intrinsik anak.
Karena itu, penting untuk membedakan antara mendorong anak dan menekan anak.
Mendorong berarti:
“Kalau kamu tertarik, kita cari cara supaya kamu bisa belajar lebih banyak.”
Menekan berarti:
“Karena kamu berbakat, kamu harus menjadi yang terbaik.”
Bakat seharusnya menjadi kesempatan untuk berkembang, bukan kewajiban untuk selalu unggul.
5. Berikan ruang untuk bermain dan mengeksplorasi
Kadang orang tua berpikir bahwa semakin banyak aktivitas terstruktur yang diberikan kepada anak, semakin besar pula peluang bakatnya berkembang.
Tidak selalu demikian.
Anak membutuhkan kesempatan untuk bermain bebas, bereksperimen, membuat kesalahan, dan menciptakan sesuatu tanpa tujuan yang terlalu jelas.
Misalnya, anak yang tertarik pada sains tidak harus selalu mengikuti kelas sains.
Sesekali biarkan ia membongkar benda yang aman, mengamati tanaman, membuat percobaan sederhana, bertanya, atau mencari tahu mengapa sesuatu terjadi.
Anak yang menyukai seni tidak harus selalu diberikan tugas menggambar.
Berikan kertas, alat gambar, benda-benda di sekitarnya, dan biarkan ia menciptakan sesuatu.
Eksplorasi seperti ini dapat membantu anak menemukan bahwa belajar tidak selalu berarti duduk, menghafal, dan mengikuti instruksi.
Belajar juga bisa berarti penasaran.
Dan rasa ingin tahu adalah salah satu bahan bakar penting dalam perkembangan kemampuan.
6. Temukan mentor dan lingkungan yang mendukung
Orang tua tidak harus menjadi satu-satunya guru bagi anak.
Jika anak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap bidang tertentu, carilah lingkungan yang dapat memperkaya pengalaman tersebut.
Misalnya:
guru musik yang sesuai dengan karakter anak,
klub olahraga,
komunitas membaca,
kelas seni,
kelompok coding,
kompetisi yang sehat,
perpustakaan,
museum,
laboratorium pendidikan,
atau komunitas yang mempertemukan anak dengan teman-teman yang memiliki minat serupa.
Mengapa lingkungan penting?
Karena perkembangan kemampuan terjadi melalui interaksi dengan orang lain dan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru.
Seorang mentor juga dapat membantu anak mendapatkan perspektif yang berbeda dari orang tua.
Namun, pilih lingkungan dengan hati-hati.
Jangan hanya mencari tempat yang menghasilkan banyak penghargaan.
Carilah lingkungan yang:
membuat anak merasa aman,
memberikan tantangan yang sesuai,
menghargai proses belajar,
tidak mempermalukan anak ketika gagal,
dan tetap mempertahankan rasa ingin tahu.
Anak berbakat tidak selalu membutuhkan lingkungan yang paling kompetitif.
Mereka membutuhkan lingkungan yang membantu mereka berkembang tanpa kehilangan kecintaan terhadap bidang yang mereka tekuni.
7. Ajarkan bahwa bakat bukan identitas—kemampuan harus tetap disertai karakter
Ini mungkin pelajaran yang paling penting.
Anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi tetap perlu belajar bekerja sama.
Anak yang memiliki kemampuan olahraga luar biasa tetap perlu belajar menerima kekalahan.
Anak yang sangat kreatif tetap perlu belajar disiplin.
Anak yang cepat memahami sesuatu tetap perlu belajar bersabar ketika berhadapan dengan orang lain yang membutuhkan waktu lebih lama.
Dengan kata lain, kemampuan hanyalah salah satu bagian dari perkembangan anak.
Orang tua juga perlu membantu anak mengembangkan:
ketekunan,
empati,
tanggung jawab,
kemampuan mengelola emosi,
komunikasi,
kemandirian,
kemampuan bekerja sama,
dan kemampuan menghadapi kegagalan.
Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan:
“Saya berharga karena saya pintar.”
Lebih sehat jika anak memahami:
“Saya berharga sebagai manusia, dan saya memiliki kemampuan yang bisa terus saya kembangkan.”
Perbedaan kalimat ini terlihat sederhana, tetapi dapat menghasilkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap kehidupan.
Jangan Terlalu Terobsesi dengan Potensi Anak
Ada satu jebakan yang perlu dihindari orang tua.
Ketika menyadari anak memiliki bakat, orang tua bisa terlalu fokus pada pertanyaan:
“Seberapa jauh anak saya bisa mencapai sesuatu?”
Padahal ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
“Apakah anak saya menikmati prosesnya?”
Anak tidak harus selalu mengubah bakat menjadi prestasi.
Tidak semua anak yang sangat pandai menggambar harus menjadi seniman.
Tidak semua anak yang pandai matematika harus menjadi matematikawan.
Tidak semua anak yang memiliki kemampuan bahasa harus menjadi penulis.
Bakat bisa menjadi bagian dari kehidupan anak tanpa harus menjadi profesinya kelak.
Tugas orang tua bukan merancang seluruh masa depan anak.
Tugas orang tua adalah membantu anak mengenali dirinya, mencoba berbagai hal, membangun keterampilan, dan memiliki keberanian untuk menentukan jalannya sendiri.
Pada Akhirnya, Anak Membutuhkan Orang Tua yang Hadir
Mengembangkan potensi anak bukan tentang menemukan formula sempurna.
Tidak ada tujuh langkah yang menjamin seorang anak akan menjadi jenius, juara, atau sukses.
Yang bisa dilakukan orang tua adalah menyediakan lingkungan yang kaya, aman, menantang, dan penuh dukungan.
Amati minatnya.
Berikan tantangan.
Hargai proses.
Biarkan ia gagal.
Berikan kesempatan bereksplorasi.
Temukan lingkungan yang tepat.
Dan yang paling penting, jangan membuat anak merasa bahwa kasih sayang orang tuanya bergantung pada prestasinya.
Karena pada akhirnya, anak bukanlah proyek yang harus disempurnakan.
Anak adalah manusia yang sedang bertumbuh.
Dan mungkin hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak berbakat bukanlah les tambahan, kompetisi, atau target prestasi.
Melainkan keyakinan:
“Kamu tidak harus menjadi sempurna untuk membuat kami bangga. Kami akan mendukungmu saat kamu belajar, mencoba, gagal, dan menemukan siapa dirimu.”
Dari rasa aman itulah potensi sering kali memiliki ruang terbaik untuk berkembang.