← Beranda
8 Hal Diucapkan Orang Tua yang Membuat Anak yang Sudah Dewasa Merasa Lebih Dekat dengan Mereka
Irfan FerdiansyahSabtu, 5 September 2026 | 06.38 WIB
seseorang yang membuat anaknya merasa lebih dekat./Magnific/magnific

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika seorang anak meninggalkan rumah, menikah, memiliki pekerjaan, atau membangun keluarganya sendiri.

Justru, ketika anak sudah dewasa, hubungan tersebut memasuki fase yang berbeda.

Dulu, orang tua mungkin berperan sebagai orang yang mengatur jadwal tidur, memilih sekolah, menentukan aturan rumah, atau memastikan anak makan dengan benar. Namun ketika anak sudah dewasa, kebutuhan mereka terhadap orang tua berubah.

Mereka tidak selalu membutuhkan nasihat.

Mereka tidak selalu membutuhkan solusi.

Dan mereka tentu tidak selalu membutuhkan orang tua untuk mengambil keputusan bagi mereka.

Sering kali, yang mereka butuhkan adalah perasaan bahwa mereka masih diterima, dihargai, didengarkan, dan dicintai—bukan karena mereka memenuhi harapan tertentu, tetapi karena mereka adalah diri mereka sendiri.

Dalam psikologi hubungan, kedekatan emosional banyak dibangun melalui rasa aman, penerimaan, validasi, dan komunikasi yang tidak menghakimi. Karena itu, beberapa kalimat sederhana dari orang tua dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat delapan hal yang dapat diucapkan orang tua untuk membuat anak-anak mereka yang sudah dewasa merasa lebih dekat dengan mereka.

1. “Aku senang kamu cerita sama Ayah/Ibu.”

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi pesan emosional di baliknya sangat kuat.

Ketika anak dewasa menceritakan masalah pekerjaan, konflik dalam hubungan, kesalahan yang mereka lakukan, atau sesuatu yang membuat mereka khawatir, mereka sebenarnya sedang mengambil risiko emosional.

Mereka mungkin takut dianggap tidak dewasa.

Takut dinilai.

Takut dibandingkan.

Atau takut mendengar kalimat seperti, “Kan sudah Ibu bilang.”

Karena itu, ketika orang tua mengatakan, “Aku senang kamu cerita sama Ayah/Ibu,” anak menerima pesan bahwa keterbukaan mereka dihargai.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa hubungan yang dekat membutuhkan rasa aman untuk menjadi rentan. Seseorang akan lebih mudah membuka diri ketika mereka percaya bahwa kelemahan mereka tidak akan digunakan untuk mempermalukan atau menyerang mereka.

Bayangkan seorang anak dewasa pulang dan berkata:

“Di tempat kerja aku sedang kacau. Aku merasa tidak cukup bagus.”

Ada banyak respons yang mungkin diberikan orang tua.

“Makanya jangan terlalu banyak pilih-pilih pekerjaan.”

“Ya sudah, cari kerja lain.”

“Dulu Ayah juga pernah begitu.”

Tetapi ada respons yang jauh lebih menghubungkan:

“Aku senang kamu mau cerita. Ceritakan saja kalau kamu mau.”

Kalimat tersebut tidak menyelesaikan masalah.

Namun justru itulah kekuatannya.

Orang tua sedang mengatakan: “Kamu aman untuk menjadi manusia di depan kami.”

Dan bagi anak dewasa, perasaan seperti itu bisa menjadi salah satu bentuk kedekatan yang paling berharga.

2. “Aku percaya kamu bisa mengambil keputusanmu sendiri.”

Ketika anak masih kecil, orang tua memang harus mengambil banyak keputusan untuk mereka.

Namun ketika anak tumbuh dewasa, pola hubungan tersebut perlu berubah.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua tetap memperlakukan anak dewasa seperti anak kecil.

Mereka masih ingin menentukan pasangan yang tepat.

Masih ingin mengatur pekerjaan.

Masih mempertanyakan cara anak mengurus rumah tangga.

Masih memberikan nasihat bahkan ketika tidak diminta.

Tentu saja, sebagian besar orang tua melakukan ini karena peduli.

Tetapi dari sudut pandang anak, perhatian yang terus-menerus diberikan dalam bentuk kontrol dapat terasa seperti ketidakpercayaan.

Karena itu, kalimat seperti:

“Ayah/Ibu percaya kamu bisa mengambil keputusanmu sendiri.”

dapat memberikan efek yang sangat berbeda.

Pesannya bukan bahwa orang tua tidak peduli.

Sebaliknya, pesannya adalah:

“Aku peduli padamu, tetapi aku juga menghormati kemampuanmu sebagai orang dewasa.”

Ini penting karena kedekatan emosional tidak sama dengan ketergantungan.

Hubungan orang tua dan anak yang sehat ketika anak sudah dewasa bukanlah hubungan di mana orang tua selalu memiliki kendali. Hubungan tersebut lebih mirip hubungan antara dua orang dewasa yang saling menghormati.

Orang tua tetap boleh memberikan pendapat.

Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Kalau menurut Ibu, sebaiknya kamu melakukan ini.”

dan:

“Kalau kamu mau mendengar pendapat Ibu, Ibu akan dengan senang hati menyampaikannya.”

Kalimat kedua memberikan ruang.

Dan terkadang, memberikan ruang justru membuat anak ingin mendekat.

3. “Kamu tidak harus selalu baik-baik saja di depan kami.”

Anak-anak dewasa sering merasa bahwa mereka harus terlihat kuat.

Mereka sudah punya pekerjaan.

Mungkin sudah punya pasangan.

Mungkin sudah memiliki anak.

Mungkin mereka sendiri sekarang menjadi orang tua.

Akibatnya, mereka bisa merasa bahwa menunjukkan kesedihan atau kegagalan kepada orang tua berarti kembali menjadi “anak kecil”.

Padahal, kedewasaan tidak berarti seseorang tidak boleh membutuhkan dukungan.

Ketika orang tua berkata:

“Kamu tidak harus selalu kuat di depan kami.”

atau:

“Kalau kamu sedang capek, kamu boleh bilang.”

mereka sedang memberikan izin emosional.

Izin untuk tidak sempurna.

Izin untuk gagal.

Izin untuk merasa takut.

Izin untuk menangis.

Izin untuk mengatakan, “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Dalam hubungan yang aman, seseorang tidak perlu terus-menerus mempertahankan citra tertentu agar tetap dicintai.

Dan ini merupakan pesan yang sangat kuat bagi anak dewasa:

“Kamu tidak perlu berhasil dulu untuk mendapatkan kasih sayang kami.”

Bahkan ketika anak sudah berusia 30, 40, atau 50 tahun, mengetahui bahwa masih ada tempat untuk pulang secara emosional dapat memberikan rasa aman yang sangat dalam.

4. “Maaf kalau dulu ada hal yang membuatmu terluka.”

Ini mungkin salah satu kalimat yang paling sulit diucapkan oleh orang tua.

Bukan karena kata-katanya rumit.

Tetapi karena mengakui kesalahan kepada anak dapat terasa seperti kehilangan otoritas.

Sebagian orang tua tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tua harus selalu benar.

Namun hubungan yang matang tidak dibangun dari kesempurnaan.

Hubungan dibangun dari kemampuan memperbaiki kerusakan.

Anak dewasa mungkin masih membawa pengalaman masa kecil yang belum pernah dibicarakan. Bisa berupa kritik yang terlalu keras, perbandingan dengan saudara, kurangnya perhatian, konflik keluarga, atau keputusan orang tua yang dulu tidak mereka pahami.

Orang tua mungkin memiliki alasan.

Tetapi menjelaskan alasan tidak selalu sama dengan mengakui dampak.

Karena itu, kalimat sederhana seperti:

“Kalau ada hal yang dulu Ayah/Ibu lakukan dan ternyata melukaimu, Ayah/Ibu menyesal.”

dapat membuka pintu percakapan yang selama bertahun-tahun tertutup.

Permintaan maaf yang sehat tidak harus disertai pembelaan diri.

Bukan:

“Maaf kalau kamu merasa tersinggung, tapi sebenarnya Ibu melakukan itu demi kebaikanmu.”

Melainkan:

“Ayah/Ibu mungkin punya niat baik waktu itu, tetapi sekarang Ayah/Ibu bisa memahami bahwa cara kami mungkin membuatmu terluka. Maaf.”

Bagi seorang anak dewasa, mendengar orang tua mengakui pengalaman emosional mereka dapat menjadi pengalaman yang sangat melegakan.

Bukan karena masa lalu tiba-tiba berubah.

Tetapi karena akhirnya pengalaman mereka diakui.

5. “Aku bangga padamu, bukan hanya karena pencapaianmu.”

Anak-anak sering belajar sejak kecil bahwa keberhasilan mendatangkan pujian.

Nilai bagus dipuji.

Menang lomba dipuji.

Mendapat pekerjaan bagus dipuji.

Mendapat penghasilan tinggi dipuji.

Namun ketika seseorang tumbuh dewasa, standar keberhasilan menjadi semakin rumit.

Tidak semua orang mendapatkan pekerjaan impian.

Tidak semua pernikahan berjalan sempurna.

Tidak semua rencana hidup berhasil.

Jika kasih sayang orang tua terlalu erat dikaitkan dengan pencapaian, anak dapat secara tidak sadar merasa bahwa dirinya harus terus berprestasi agar tetap dihargai.

Karena itu, mengatakan:

“Ayah/Ibu bangga padamu sebagai pribadi, bukan hanya karena pekerjaan atau pencapaianmu.”

dapat menjadi sangat bermakna.

Orang tua juga dapat mengatakan:

“Ibu bangga melihat bagaimana kamu memperlakukan orang lain.”

“Ayah bangga kamu tetap berusaha meskipun keadaan sulit.”

“Ibu suka melihat kamu menjadi dirimu sendiri.”

Pujian seperti ini berfokus pada karakter, usaha, nilai, dan pertumbuhan—bukan sekadar hasil.

Anak dewasa kemudian mendapatkan pesan:

“Aku dicintai sebagai manusia, bukan sebagai daftar pencapaian.”

Dan ketika seseorang tidak merasa harus terus-menerus membuktikan dirinya, hubungan biasanya terasa lebih ringan.

6. “Aku ingin mendengarkan. Kamu mau aku kasih nasihat atau cukup didengarkan?”

Ini adalah salah satu pertanyaan kecil yang dapat mengubah kualitas komunikasi antara orang tua dan anak dewasa.

Orang tua sering kali mendengar masalah anak dan langsung ingin memperbaikinya.

Anak berkata:

“Aku sedang punya masalah dengan pasangan.”

Orang tua langsung menjawab:

“Putus saja.”

Anak berkata:

“Aku sedang bingung dengan pekerjaan.”

Orang tua menjawab:

“Cari pekerjaan lain.”

Anak berkata:

“Aku sedang kesal.”

Orang tua menjawab:

“Jangan dipikirkan.”

Niatnya mungkin baik.

Tetapi anak tidak selalu datang untuk mendapatkan solusi.

Kadang mereka hanya ingin didengarkan.

Pertanyaan:

“Kamu mau Ibu kasih pendapat, atau kamu ingin Ibu dengarkan dulu?”

menunjukkan bahwa orang tua menghormati kebutuhan emosional anak.

Ini juga mengurangi kemungkinan percakapan berubah menjadi ceramah.

Ketika anak merasa didengarkan tanpa langsung diperbaiki, mereka lebih mungkin kembali bercerita di kemudian hari.

Dan di sinilah kedekatan terbentuk.

Bukan melalui percakapan besar yang dramatis.

Tetapi melalui ratusan percakapan kecil di mana seseorang merasa:

“Aku didengar.”

7. “Tidak apa-apa kalau pilihan hidupmu berbeda dari yang dulu kami bayangkan.”

Ini mungkin sangat penting bagi keluarga yang memiliki ekspektasi kuat tentang masa depan anak.

Orang tua sering memiliki gambaran tentang kehidupan anak mereka.

Mereka mungkin membayangkan anak bekerja di bidang tertentu.

Menikah pada usia tertentu.

Tinggal dekat dengan keluarga.

Memiliki rumah.

Memiliki anak.

Mengikuti tradisi keluarga.

Tetapi anak dewasa adalah individu dengan kehidupan dan nilai-nilainya sendiri.

Ketika realitas berbeda dari harapan orang tua, hubungan dapat menjadi tegang.

Anak mungkin merasa:

“Kalau aku memilih hidupku sendiri, orang tuaku akan kecewa.”

Karena itu, kalimat:

“Yang penting kamu menjalani hidupmu dengan bertanggung jawab. Pilihanmu tidak harus sama dengan pilihan kami.”

dapat memberikan rasa lega.

Ini bukan berarti orang tua harus menyetujui semua keputusan anak.

Ada perbedaan antara menerima seseorang dan menyetujui setiap keputusan yang dibuatnya.

Orang tua masih boleh berkata:

“Kalau menurut Ayah, keputusan itu punya risiko.”

Tetapi setelah menyampaikan pendapat, mereka juga dapat berkata:

“Tetap saja, kamu yang akan menjalani hidupmu. Kami menghargai bahwa itu keputusanmu.”

Ketika anak merasa bahwa cinta orang tua tidak bergantung pada kepatuhan, hubungan dapat menjadi lebih jujur.

Ironisnya, semakin sedikit anak merasa harus menyembunyikan hidup mereka dari orang tua, semakin besar kemungkinan mereka benar-benar berbagi kehidupan dengan orang tua.

8. “Kapan pun kamu butuh kami, kamu boleh datang.”

Ada sesuatu yang sangat kuat dalam mengetahui bahwa pintu selalu terbuka.

Bukan berarti anak harus selalu bergantung kepada orang tua.

Bukan berarti orang tua harus menyelesaikan semua masalah anak.

Tetapi mengetahui bahwa dukungan tersedia dapat memberikan rasa aman.

Kalimat ini dapat disampaikan dengan sederhana:

“Kalau suatu hari kamu butuh tempat untuk bicara, datang saja.”

“Atau kalau kamu hanya ingin makan bersama dan tidak ingin membicarakan masalah, juga tidak apa-apa.”

“Kamu tidak perlu punya alasan khusus untuk menghubungi kami.”

Pesan seperti ini mengatakan:

“Hubungan kita tidak hanya ada ketika semuanya berjalan baik.”

Dan bagi anak dewasa, itu sangat berarti.

Karena kehidupan orang dewasa penuh dengan ketidakpastian.

Ada kegagalan.

Kehilangan.

Perubahan pekerjaan.

Masalah hubungan.

Kekecewaan.

Kesepian.

Pada saat-saat seperti itu, mengetahui bahwa masih ada orang yang menerima mereka dapat menjadi sumber kekuatan emosional.

Yang Sering Dilupakan: Kedekatan Tidak Dibangun Hanya dari Kata-Kata

Delapan kalimat di atas bukanlah “kalimat ajaib”.

Mengucapkannya sekali tidak otomatis memperbaiki hubungan yang selama bertahun-tahun penuh konflik.

Dalam psikologi, hubungan yang aman dibentuk oleh pola interaksi yang konsisten.

Karena itu, kata-kata akan menjadi lebih kuat ketika didukung oleh perilaku.

Jika orang tua mengatakan:

“Ayah percaya keputusanmu,”

tetapi kemudian terus mengkritik setiap keputusan anak, pesan yang diterima anak bukanlah kepercayaan.

Jika orang tua mengatakan:

“Kamu boleh cerita apa saja,”

tetapi kemudian menggunakan cerita tersebut sebagai bahan untuk menghakimi, anak akan belajar untuk menutup diri.

Jika orang tua mengatakan:

“Ibu bangga padamu,”

tetapi hanya menunjukkan kebanggaan ketika anak sukses, anak mungkin tetap merasa bahwa cintanya bersyarat.

Dengan kata lain, anak tidak hanya mendengarkan apa yang orang tua katakan. Mereka memperhatikan apa yang terjadi setelah mereka mengatakannya.

Ada Satu Perubahan Besar Ketika Anak Menjadi Dewasa

Mungkin salah satu perubahan terpenting dalam hubungan orang tua dan anak adalah pergeseran dari “mengasuh” menjadi “berhubungan.”

Ketika anak kecil, orang tua bertanya:

“Sudah makan?”

“Sudah belajar?”

“Pulang jam berapa?”

“Jangan lakukan itu.”

“Lakukan ini.”

Tetapi ketika anak sudah dewasa, bentuk perhatian yang sama mungkin tidak lagi terasa seperti kasih sayang.

Anak dewasa mungkin lebih membutuhkan:

“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?”

“Aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu sekarang.”

Perubahan ini tampak kecil.

Namun sebenarnya sangat besar.

Karena orang tua tidak lagi hanya melihat anak sebagai seseorang yang harus diarahkan.

Mereka mulai melihat anak sebagai orang dewasa yang ingin dikenal.

Dan ada perbedaan besar antara “mengurus seseorang” dan “mengenal seseorang.”

Pada Akhirnya, Anak Dewasa Ingin Merasa Diterima

Banyak orang tua mencintai anak mereka dengan sangat dalam.

Namun cinta dan pengalaman dicintai tidak selalu terasa sama.

Orang tua mungkin berpikir:

“Aku bekerja keras untuknya.”

“Aku selalu memberikan yang terbaik.”

“Aku mengkhawatirkannya karena aku sayang.”

Semua itu mungkin benar.

Tetapi anak juga membutuhkan bentuk cinta yang dapat mereka rasakan secara emosional.

Mereka ingin tahu:

“Apakah aku masih diterima ketika hidupku tidak sesuai harapan?”

“Apakah aku masih boleh gagal tanpa membuat orang tuaku kecewa?”

“Apakah pendapatku dihargai?”

“Apakah orang tuaku ingin mengenal diriku yang sekarang?”

“Apakah aku bisa pulang tanpa takut dihakimi?”

Jika jawabannya terasa “ya”, hubungan dapat berubah.

Bukan lagi hubungan antara orang tua yang mengontrol dan anak yang harus mengikuti.

Melainkan hubungan antara dua generasi yang berbeda, tetapi tetap memiliki tempat aman satu sama lain.

Dan mungkin, pada akhirnya, kedekatan orang tua dan anak dewasa bukanlah tentang seberapa sering mereka berbicara.

Bukan pula tentang seberapa sering mereka bertemu.

Melainkan tentang apa yang dirasakan seseorang ketika berbicara dengan orang tuanya:

“Aku bisa menjadi diriku sendiri di sini.”

Itulah salah satu hadiah emosional terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak mereka yang sudah dewasa.

EDITOR: Hanny Suwindari