← Beranda
8 Hal yang Paling Diingat Anak Sudah Dewasa tentang Orang Tua yang Membuat Mereka Merasa Dipahami
Irfan FerdiansyahJumat, 4 September 2026 | 06.58 WIB
seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup./Magnific/user25451090

JawaPos.com - Ada satu hal yang sering baru disadari seseorang ketika dirinya sudah dewasa: ternyata yang paling membekas dari masa kecil bukan selalu hadiah mahal, liburan mewah, atau seberapa besar uang yang dikeluarkan orang tua.

Yang sering tinggal jauh lebih lama justru adalah perasaan.

Perasaan ketika seorang anak merasa didengar.

Perasaan ketika ia sedang sedih dan tidak langsung dimarahi.

Perasaan ketika ia melakukan kesalahan tetapi tetap merasa dicintai.

Perasaan ketika orang tua mampu melihat bahwa di balik perilaku seorang anak, ada sesuatu yang sedang ia rasakan.

Dalam psikologi perkembangan, pengalaman seperti ini penting karena hubungan anak dengan pengasuh utama ikut membentuk cara anak memahami dirinya sendiri, orang lain, dan hubungan sosial. Anak yang merasa respons emosionalnya diterima dan dipahami cenderung memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan rasa aman, regulasi emosi, dan kepercayaan dalam hubungan.

Menariknya, ketika anak itu tumbuh dewasa, ia mungkin tidak mengingat semua nasihat orang tuanya.

Ia mungkin lupa berapa kali dibelikan mainan.

Ia mungkin lupa menu makanan yang sering dibuat.

Ia bahkan mungkin lupa detail-detail kecil dari masa sekolahnya.

Tetapi ia sering mengingat bagaimana rasanya berada di dekat orang tuanya.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat delapan hal yang kemungkinan besar paling diingat oleh anak yang sudah dewasa ketika orang tuanya berhasil membuat mereka merasa benar-benar dipahami.

1. Orang tua yang mau mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi

Salah satu pengalaman paling kuat bagi seorang anak adalah ketika ia berbicara dan merasa bahwa orang tuanya benar-benar mendengarkan.

Bukan sekadar mendengar suara, tetapi berusaha memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Ketika seorang anak berkata, "Aku nggak mau sekolah hari ini," orang tua mungkin langsung berpikir bahwa anak tersebut malas.

Namun, orang tua yang berusaha memahami mungkin bertanya:

"Ada sesuatu yang terjadi di sekolah?"

Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuka pintu yang sangat besar.

Mungkin ternyata anak sedang takut menghadapi seorang guru.

Mungkin ia sedang dijauhi teman.

Mungkin ia merasa gagal dalam pelajaran.

Atau mungkin ia hanya sedang mengalami hari yang sangat berat.

Anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan emosinya dengan jelas. Karena itu, respons orang tua menjadi sangat penting.

Anak yang sering mengalami percakapan seperti ini dapat membawa sebuah memori emosional hingga dewasa:

"Kalau aku punya masalah, aku boleh cerita."

Itulah salah satu bentuk rasa aman yang sangat berharga.

Sebaliknya, jika setiap cerita selalu dijawab dengan:

"Kamu begitu saja menangis."

"Masalah kecil kok dipikirkan."

"Orang tua dulu lebih susah."

"Kamu harusnya bersyukur."

anak dapat belajar bahwa perasaannya tidak penting.

Ketika dewasa, ia mungkin menjadi seseorang yang kesulitan meminta bantuan, menyimpan masalah sendiri, atau merasa bersalah ketika membutuhkan dukungan.

Karena itu, mendengarkan bukan berarti selalu setuju dengan anak.

Mendengarkan berarti memberi pesan:

"Aku ingin memahami apa yang terjadi padamu sebelum aku menilai."

Dan pesan itu bisa melekat seumur hidup.

2. Orang tua yang mengingat hal-hal kecil tentang dirinya

Anak sering merasa sangat dicintai bukan karena orang tuanya melakukan sesuatu yang besar, melainkan karena orang tua memperhatikan detail-detail kecil tentang dirinya.

Misalnya, orang tua tahu bahwa anaknya sebenarnya tidak suka berada di tempat yang terlalu ramai.

Tahu bahwa anaknya gugup sebelum presentasi.

Tahu bahwa ia membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawab.

Tahu makanan favoritnya.

Tahu bahwa ia selalu diam ketika sedang kecewa.

Tahu bahwa ketika ia mengatakan "aku nggak apa-apa", sebenarnya mungkin ada sesuatu yang sedang dipendam.

Perhatian terhadap detail seperti ini memberikan pengalaman psikologis yang sangat kuat:

"Aku dilihat."

Bagi seorang anak, merasa dilihat berarti merasa bahwa keberadaannya memiliki arti.

Dan ada perbedaan besar antara orang tua yang hanya mengetahui anaknya secara umum dengan orang tua yang benar-benar mengenal anaknya sebagai individu.

Orang tua mungkin memiliki beberapa anak, tetapi setiap anak tetap ingin merasa bahwa dirinya dikenal secara khusus.

Bahkan ketika anak sudah dewasa, ia mungkin masih mengingat kalimat sederhana seperti:

"Ibu tahu kamu memang nggak terlalu suka tempat seperti ini."

atau

"Ayah tahu kamu biasanya butuh waktu sebelum memutuskan sesuatu."

Kalimat tersebut mungkin terdengar biasa bagi orang tua.

Tetapi bagi anak, pesan yang diterima bisa sangat dalam:

"Orang tuaku benar-benar mengenalku."

3. Orang tua yang memvalidasi perasaan tanpa selalu membenarkan perilaku

Ini adalah salah satu bentuk pengasuhan yang sering disalahpahami.

Memvalidasi perasaan bukan berarti membenarkan semua perilaku anak.

Misalnya, seorang anak marah karena keinginannya tidak dipenuhi.

Orang tua dapat berkata:

"Kamu memang kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ayah mengerti."

Tetapi orang tua tetap dapat menetapkan batas:

"Tapi kamu tetap tidak boleh memukul orang."

Dua hal dapat benar pada saat yang sama.

Perasaan anak dapat diterima, sementara perilakunya tetap diarahkan.

Bagi perkembangan emosional anak, perbedaan ini sangat penting.

Anak belajar bahwa marah bukan berarti dirinya anak buruk.

Sedih bukan berarti dirinya lemah.

Takut bukan berarti dirinya pengecut.

Kecewa bukan berarti dirinya tidak bersyukur.

Emosi hanyalah informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Anak yang tumbuh dengan pengalaman seperti ini dapat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan emosinya ketika dewasa.

Ia tidak harus selalu melarikan diri dari kesedihan.

Ia tidak harus merasa malu karena menangis.

Ia tidak harus menekan kemarahan sampai akhirnya meledak.

Dan yang paling penting, ia belajar:

"Aku boleh merasakan sesuatu tanpa harus membenci diriku sendiri karena merasakannya."

4. Orang tua yang meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan

Banyak orang mengira bahwa meminta maaf kepada anak akan membuat orang tua kehilangan wibawa.

Justru sebaliknya.

Ketika orang tua mampu berkata:

"Maaf, tadi Ayah terlalu keras."

atau

"Ibu salah karena langsung menuduh kamu sebelum mendengarkan penjelasanmu."

anak mendapatkan pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar tentang kesopanan.

Ia belajar bahwa orang yang memiliki kekuasaan pun dapat mengakui kesalahan.

Dalam hubungan yang sehat, meminta maaf bukan tanda kelemahan.

Itu adalah bentuk tanggung jawab.

Anak mungkin tidak akan mengingat semua kesalahan yang pernah dilakukan orang tuanya.

Tetapi ia dapat mengingat bagaimana orang tuanya memperbaiki kesalahan tersebut.

Ini sangat penting.

Tidak ada orang tua yang sempurna.

Semua orang tua bisa kehilangan kesabaran.

Semua orang tua bisa salah memahami situasi.

Semua orang tua bisa mengatakan sesuatu yang kemudian mereka sesali.

Yang membedakan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Orang tua yang mampu melakukan perbaikan hubungan (repair) mengajarkan kepada anak bahwa konflik tidak selalu berarti hubungan berakhir.

Ada cara untuk kembali berbicara.

Ada cara untuk mengakui kesalahan.

Ada cara untuk memperbaiki luka.

Ketika dewasa, pelajaran ini dapat terbawa ke dalam hubungan pertemanan, pasangan, maupun kehidupan sosialnya.

5. Orang tua yang tetap mencintai dirinya ketika ia gagal

Seorang anak akan mengalami kegagalan berkali-kali.

Nilainya mungkin buruk.

Ia mungkin kalah dalam pertandingan.

Gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Tidak diterima dalam pekerjaan.

Mengambil keputusan yang salah.

Mengalami patah hati.

Atau membuat kesalahan yang membuatnya malu.

Pada saat seperti itu, respons orang tua bisa menjadi memori yang sangat kuat.

Bayangkan seorang anak pulang membawa hasil ujian yang buruk.

Orang tua bisa mengatakan:

"Kamu memang nggak pernah serius."

Tetapi orang tua juga bisa mengatakan:

"Hasilnya memang belum bagus. Kita lihat bagian mana yang sulit dan coba lagi."

Perbedaannya sangat besar.

Pesan pertama menyerang identitas.

Pesan kedua memisahkan antara kegagalan dan nilai diri.

Anak belajar bahwa:

"Aku bisa gagal tanpa menjadi orang gagal."

Ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan psikologis.

Ketika seseorang dewasa, ia akan menghadapi banyak situasi yang berada di luar kendalinya.

Jika sejak kecil ia memahami bahwa kasih sayang tidak selalu bergantung pada prestasi, ia memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi kegagalan tanpa merasa bahwa seluruh harga dirinya runtuh.

Karena itu, mungkin salah satu kenangan paling berharga bagi anak dewasa bukanlah ketika orang tua merayakan keberhasilannya.

Melainkan ketika orang tua tetap berada di sampingnya ketika ia gagal.

6. Orang tua yang tidak memaksanya menjadi versi dirinya yang mereka inginkan

Setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda.

Ada yang pendiam.

Ada yang sangat aktif.

Ada yang suka berbicara.

Ada yang membutuhkan banyak waktu sendiri.

Ada yang menyukai seni.

Ada yang menyukai matematika.

Ada yang ingin menjadi dokter.

Ada yang ingin menjadi pengusaha.

Ada yang bahkan belum tahu ingin menjadi apa.

Orang tua tentu boleh memberikan arahan.

Namun, ada perbedaan antara membimbing anak dan membentuk anak sesuai ambisi orang tua.

Anak yang merasa dipahami biasanya memiliki pengalaman bahwa orang tuanya berusaha mengenal dirinya, bukan hanya mengejar gambaran tentang "anak ideal".

Misalnya:

"Kamu sebenarnya suka apa?"

"Apa yang membuat kamu tertarik?"

"Kalau tidak ada tekanan dari siapa pun, kamu ingin mencoba apa?"

Pertanyaan seperti ini membantu anak mengembangkan identitasnya.

Ketika dewasa, ia mungkin mengingat bahwa orang tuanya tidak selalu memahami semua pilihannya.

Tetapi orang tuanya memberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Itu merupakan hadiah psikologis yang besar.

Karena menjadi dewasa pada dasarnya adalah proses belajar menjawab pertanyaan:

"Siapa aku sebenarnya?"

Orang tua tidak harus memberikan jawaban tersebut.

Mereka hanya perlu membantu anak merasa aman ketika mencari jawabannya sendiri.

7. Orang tua yang hadir pada saat-saat yang menurut anak penting

Bagi orang dewasa, beberapa peristiwa masa kecil mungkin tampak sangat sederhana.

Tetapi bagi seorang anak, peristiwa tersebut bisa terasa seperti seluruh dunia.

Pertandingan pertamanya.

Pentas sekolah.

Hari pertama masuk sekolah.

Ulang tahun.

Lomba yang ia ikuti.

Pengumuman hasil ujian.

Hari ketika ia mendapatkan penghargaan.

Atau bahkan saat ia hanya ingin menunjukkan sesuatu yang menurutnya sangat menarik.

Anak sering tidak membutuhkan orang tua melakukan sesuatu yang spektakuler.

Mereka hanya ingin melihat bahwa orang tuanya hadir.

"Ayah datang."

"Ibu melihat."

"Orang tuaku tahu aku melakukan ini."

Pengalaman kehadiran seperti itu dapat membentuk perasaan bahwa dirinya layak diperhatikan.

Menariknya, kehadiran bukan hanya soal fisik.

Orang tua bisa berada di ruangan yang sama tetapi secara emosional tidak hadir.

Sebaliknya, beberapa menit percakapan penuh perhatian dapat menjadi pengalaman yang sangat bermakna.

Ketika anak dewasa, ia mungkin tidak ingat berapa jam orang tuanya bekerja.

Namun ia bisa mengingat:

"Ibu selalu berusaha datang ketika aku tampil."

"Ayah selalu bertanya bagaimana hariku."

"Mereka benar-benar peduli dengan hal-hal yang penting bagiku."

Bagi seorang anak, perhatian seperti itu dapat terasa seperti cinta dalam bentuk yang paling konkret.

8. Orang tua yang membuat rumah terasa seperti tempat untuk pulang

Mungkin inilah yang paling dalam dari semuanya.

Pada akhirnya, anak yang sudah dewasa mungkin tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna.

Ia membutuhkan tempat emosional yang terasa aman.

Tempat di mana ia tidak harus selalu terlihat kuat.

Tempat di mana ia boleh mengatakan bahwa dirinya sedang gagal.

Tempat di mana ia boleh berbeda pendapat.

Tempat di mana ia dapat pulang setelah dunia membuatnya lelah.

Orang tua yang memberikan rasa seperti ini tidak berarti membiarkan anak melakukan apa saja.

Rumah tetap memiliki aturan.

Ada batas.

Ada konsekuensi.

Ada tanggung jawab.

Tetapi di balik semua itu terdapat pesan yang konsisten:

"Kamu tetap anak kami."

"Kamu boleh kembali."

"Kamu tidak harus menjadi sempurna agar kami menyayangimu."

Pesan seperti ini dapat menjadi semacam "rumah emosional" yang dibawa seseorang bahkan ketika ia telah tinggal jauh dari orang tuanya.

Ia mungkin sudah berusia 30, 40, atau 50 tahun.

Ia mungkin sudah memiliki keluarga sendiri.

Tetapi ada bagian dalam dirinya yang masih mengingat bagaimana rasanya memiliki seseorang yang berkata:

"Kalau kamu sedang kesulitan, pulanglah."

Dan terkadang, kalimat sederhana seperti itu jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.

Yang Sebenarnya Diingat Anak Bukan Kesempurnaan Orang Tua

Ada kesalahpahaman yang sering membuat orang tua merasa tertekan.

Mereka mengira bahwa untuk membuat anak bahagia, mereka harus menjadi orang tua yang sempurna.

Padahal tidak demikian.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang tidak pernah marah.

Tidak pernah salah.

Tidak pernah lelah.

Tidak pernah membuat keputusan yang keliru.

Yang lebih penting adalah pola hubungan secara keseluruhan.

Apakah anak merasa didengar?

Apakah ia merasa aman untuk berbicara?

Apakah ia tahu bahwa dirinya tetap dicintai ketika gagal?

Apakah orang tua mampu memperbaiki hubungan setelah konflik?

Apakah emosinya dianggap nyata?

Apakah ia diberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri?

Dengan kata lain, yang sering membekas bukan kesempurnaan.

Melainkan konsistensi.

Seorang anak dapat memaafkan banyak ketidaksempurnaan ketika ia secara umum merasa bahwa orang tuanya berusaha memahami dan memperlakukannya dengan kasih sayang.

Ketika Anak Sudah Dewasa, Mereka Membawa "Suara" Orang Tuanya

Ada sesuatu yang menarik dalam perkembangan manusia.

Suara orang tua perlahan dapat menjadi suara internal anak.

Jika sejak kecil seorang anak sering mendengar:

"Kamu selalu salah."

"Kamu tidak cukup baik."

"Kamu mengecewakan."

suara itu dapat terus hidup dalam pikirannya bahkan ketika orang tua tidak lagi berada di dekatnya.

Namun jika ia tumbuh dengan pesan seperti:

"Coba lagi."

"Kamu boleh melakukan kesalahan."

"Ayah ingin memahami."

"Ibu tetap menyayangimu."

"Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian."

suara tersebut juga dapat menjadi bagian dari cara ia berbicara kepada dirinya sendiri.

Inilah salah satu alasan mengapa respons orang tua terhadap anak memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang terlihat pada saat itu.

Anak bukan hanya mendengar kata-kata.

Ia belajar bagaimana memperlakukan dirinya sendiri.

Pada Akhirnya, Anak Ingin Merasa: "Aku Dipahami"

Tidak semua anak akan mengingat masa kecilnya dengan cara yang sama.

Tidak ada satu formula pengasuhan yang menjamin hubungan sempurna.

Namun, kebutuhan dasar manusia untuk merasa dilihat, didengar, diterima, dan aman merupakan sesuatu yang sangat kuat.

Anak yang sudah dewasa mungkin tidak lagi membutuhkan orang tua untuk menyelesaikan semua masalahnya.

Ia mungkin sudah mampu mengurus kehidupannya sendiri.

Ia mungkin sudah memiliki pekerjaan, pasangan, anak, rumah, dan tanggung jawabnya sendiri.

Tetapi jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang tetap penting:

mengetahui bahwa ketika ia berbicara, seseorang berusaha memahami.

Ketika ia gagal, seseorang tidak langsung merendahkannya.

Ketika ia berbeda, seseorang tidak berhenti menyayanginya.

Ketika ia melakukan kesalahan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

Dan ketika hidup terasa terlalu berat, masih ada tempat untuk pulang.

Karena mungkin, kenangan paling indah tentang orang tua bukanlah:

"Mereka memberiku segalanya."

Melainkan:

"Mereka mengenalku."

"Mereka mendengarkanku."

"Mereka melihat siapa diriku."

"Dan aku tidak pernah merasa harus menjadi orang lain agar pantas dicintai."

Itulah jenis pengalaman masa kecil yang sering kali tetap hidup bahkan setelah seorang anak tumbuh menjadi dewasa.

EDITOR: Hanny Suwindari