← Beranda
Kenali 5 Tahap Ini Ketika Anda Ingin Mulai Mengajari Si Kecil untuk Membaca Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 24 Agustus 2026 | 12.32 WIB
seseorang yang mengajari si kecil membaca./Magnific/juraiwanr

JawaPos.com - Mengajari anak membaca sering kali menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan tumbuh kembangnya. Bagi sebagian orang tua, kemampuan membaca dianggap sebagai tanda bahwa anak sudah siap memasuki dunia belajar yang lebih luas. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, belajar membaca bukan sekadar menghafalkan huruf, mengeja kata, atau mampu membaca kalimat dengan lancar.

Di balik kemampuan membaca terdapat berbagai proses psikologis yang berkembang secara bertahap. Anak perlu memiliki kesiapan bahasa, perhatian, kemampuan membedakan bunyi, memori, koordinasi visual, serta rasa percaya diri. Karena itu, mengajari anak membaca sebaiknya tidak dilakukan dengan terburu-buru.

Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Ada anak yang cepat mengenali huruf sejak usia dini, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami hubungan antara simbol dan bunyi. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti anak yang lambat membaca mengalami masalah. Bisa jadi mereka hanya membutuhkan pendekatan dan pengalaman belajar yang berbeda.

Psikologi perkembangan memberikan satu prinsip penting: anak belajar lebih baik ketika proses belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

Lalu, apa saja tahapan yang sebaiknya dikenali orang tua sebelum mulai mengajari si kecil membaca?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat lima tahap yang dapat menjadi panduan.

1. Tahap Pertama: Bangun Ketertarikan Anak terhadap Bahasa dan Buku

Sebelum anak belajar membaca kata, ia perlu terlebih dahulu memiliki pengalaman positif dengan bahasa.

Pada tahap ini, tujuan utama orang tua bukan membuat anak mampu membaca, melainkan membuat anak menyukai kegiatan yang berkaitan dengan bahasa dan buku.

Orang tua dapat mulai dengan membacakan cerita, mengajak anak berbicara, menyanyikan lagu, memperkenalkan rima, atau melihat gambar di buku bersama-sama.

Misalnya, ketika membuka buku bergambar binatang, orang tua dapat berkata:

"Ini kucing. Kucing berbunyi meong. Menurut kamu, kucingnya sedang apa?"

Percakapan sederhana seperti ini sebenarnya memiliki peran penting. Anak belajar mendengarkan bahasa, memahami makna kata, menghubungkan gambar dengan benda nyata, serta belajar bahwa buku mengandung sesuatu yang menarik.

Dari perspektif psikologi belajar, pengalaman positif dapat membantu membangun asosiasi yang menyenangkan terhadap aktivitas belajar. Jika buku selalu hadir sebagai sumber tekanan, anak dapat mengembangkan persepsi bahwa membaca adalah pekerjaan yang membosankan atau sesuatu yang harus dilakukan agar tidak dimarahi.

Sebaliknya, jika buku hadir melalui pelukan, cerita, permainan, dan interaksi bersama orang tua, anak dapat memandang membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Tidak perlu langsung memberikan lembar kerja membaca.

Cobalah:

Membacakan cerita sebelum tidur.
Mengajak anak memilih buku yang ingin dibaca.
Menunjukkan gambar dan menanyakan pendapat anak.
Mengajak anak menceritakan kembali cerita dengan bahasanya sendiri.
Bermain tebak-tebakan nama benda.
Mengajak anak bernyanyi dan bermain dengan bunyi kata.
Mengunjungi perpustakaan atau toko buku sebagai pengalaman menyenangkan.

Pada tahap ini, minat lebih penting daripada kemampuan membaca secara teknis.

Anak yang menyukai buku memiliki fondasi emosional yang lebih baik untuk memasuki tahap belajar membaca berikutnya.

2. Tahap Kedua: Kenalkan Bunyi Bahasa Sebelum Terlalu Fokus pada Huruf

Banyak orang tua langsung mengajarkan, "Ini huruf A, ini huruf B, ini huruf C."

Mengenalkan huruf tentu penting. Namun, kemampuan membaca tidak hanya bergantung pada kemampuan mengingat bentuk huruf.

Anak juga perlu memahami bahwa bahasa terdiri dari bunyi-bunyi yang dapat dikenali dan dimanipulasi.

Dalam psikologi pendidikan, kemampuan untuk memperhatikan dan membedakan bunyi dalam bahasa sering dikaitkan dengan kesadaran fonologis. Kemampuan ini merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan membaca.

Contohnya, orang tua dapat mengajak anak bermain:

"Kata 'bola' dimulai dengan bunyi apa?"

Atau:

"Kamu dengar tidak, kata 'mata' dan 'mama' sama-sama punya bunyi 'ma'?"

Permainan semacam ini tidak terasa seperti pelajaran formal, tetapi membantu anak menjadi lebih peka terhadap struktur bunyi bahasa.

Orang tua juga dapat memainkan permainan rima.

"Apa yang bunyinya mirip dengan 'kucing'?"

Anak mungkin menjawab dengan benar, salah, atau bahkan memberikan jawaban yang lucu. Tidak masalah. Tujuan awalnya adalah membuat anak memperhatikan bunyi bahasa.

Mengapa bunyi penting?

Ketika kelak anak melihat sebuah kata tertulis, ia perlu memahami bahwa simbol-simbol tersebut mewakili bunyi bahasa.

Misalnya, ketika melihat huruf tertentu, anak perlahan memahami bahwa huruf tersebut memiliki bunyi. Kemudian beberapa bunyi dapat digabungkan menjadi suku kata dan kata.

Karena itu, sebelum menuntut anak membaca banyak kata, orang tua dapat membantu anak menjadi pendengar bahasa yang baik.

Jangan takut bermain

Belajar bunyi tidak harus menggunakan meja belajar.

Orang tua dapat melakukannya ketika:

sedang berjalan-jalan,
memasak,
bermain boneka,
berkendara,
mandi,
atau menjelang tidur.

Misalnya:

"Kita cari benda yang namanya diawali bunyi 'b', yuk!"

Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih alami dan tidak terasa sebagai ujian.

3. Tahap Ketiga: Mulai Menghubungkan Huruf dengan Bunyi

Setelah anak mulai memiliki ketertarikan terhadap buku dan lebih peka terhadap bunyi bahasa, orang tua dapat mulai memperkenalkan hubungan antara simbol tertulis dan bunyi.

Ini merupakan tahap penting dalam proses belajar membaca.

Anak mulai memahami bahwa bentuk yang ia lihat di halaman buku bukan sekadar gambar. Huruf merupakan simbol yang mewakili bunyi tertentu.

Pada awalnya, anak mungkin masih tertukar.

Huruf yang bentuknya mirip bisa membuat anak bingung. Anak juga mungkin lupa huruf yang baru saja dipelajari.

Hal tersebut merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar.

Jangan langsung mengatakan:

"Masa begitu saja tidak bisa?"

Kalimat seperti ini memang terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi pengalaman emosional anak terhadap belajar. Anak bisa mulai merasa bahwa dirinya tidak pintar ketika gagal menjawab.

Lebih baik gunakan pengulangan yang santai.

"Ini huruf M. Kita coba lagi, ya. M seperti di kata 'mama'."

Kemudian gunakan berbagai pengalaman sensorik.

Anak dapat:

melihat bentuk huruf,
mengucapkan bunyinya,
menulisnya dengan jari,
membentuknya menggunakan plastisin,
mencari huruf tersebut dalam buku,
atau menemukan huruf tersebut pada benda di sekitar rumah.

Semakin banyak pengalaman bermakna yang diperoleh, semakin banyak kesempatan bagi anak untuk membangun hubungan antara simbol, bunyi, dan makna.

Jangan mengejar terlalu banyak huruf sekaligus

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua ingin memperkenalkan semua huruf secepat mungkin.

Padahal, belajar bukan perlombaan.

Lebih baik anak mengenali beberapa huruf dengan baik daripada menghafal banyak huruf tetapi cepat lupa.

Gunakan pengulangan.

Hari ini mengenal satu atau dua huruf.

Besok mengulangnya.

Kemudian menemukan huruf tersebut dalam sebuah cerita.

Setelah itu menggunakannya dalam permainan.

Dengan demikian, proses belajar menjadi bertahap.

4. Tahap Keempat: Beralih dari Mengenali Huruf ke Menggabungkan Bunyi

Setelah anak mulai memahami bahwa huruf memiliki bunyi, tahap berikutnya adalah membantu anak menggabungkan bunyi tersebut.

Pada tahap ini, anak mulai bergerak dari sekadar mengenali simbol menuju kemampuan membaca.

Misalnya, anak mengenali beberapa bunyi dan mulai memahami bagaimana bunyi-bunyi tersebut dapat digabungkan menjadi satu kesatuan.

Di sinilah kesabaran orang tua sangat diperlukan.

Anak mungkin membaca dengan sangat perlahan.

Ia berhenti pada setiap huruf.

Ia mengulang.

Ia lupa.

Ia mencoba lagi.

Semua itu merupakan bagian dari proses.

Daripada mengatakan:

"Ayo cepat!"

lebih baik berikan waktu.

"Coba pelan-pelan. Dengarkan bunyinya. Sekarang kita gabungkan."

Dalam proses belajar, anak membutuhkan kesempatan untuk memproses informasi. Kecepatan membaca biasanya berkembang setelah anak semakin terbiasa mengenali pola huruf dan kata.

Gunakan kata-kata yang bermakna

Setelah anak mulai mampu menggabungkan bunyi, gunakan kata yang dekat dengan kehidupannya.

Misalnya nama orang tua, nama anggota keluarga, nama benda kesukaannya, atau kata yang sering ia dengar.

Ketika kemampuan membaca dikaitkan dengan sesuatu yang bermakna, anak lebih mudah memahami alasan mengapa ia perlu belajar membaca.

Contohnya:

"Ini nama kamu. Yuk, kita cari huruf pertama dari namamu."

Anak biasanya memiliki motivasi lebih besar ketika materi pembelajaran berhubungan dengan dirinya.

5. Tahap Kelima: Bangun Kelancaran, Pemahaman, dan Kepercayaan Diri

Mampu mengucapkan kata belum tentu berarti anak sudah benar-benar mampu membaca dalam arti yang lebih luas.

Membaca bukan hanya tentang menyuarakan tulisan.

Tujuan akhirnya adalah memahami makna.

Karena itu, setelah anak mulai mampu membaca kata dan kalimat sederhana, orang tua perlu perlahan mengarahkan perhatian pada pemahaman.

Setelah membaca satu kalimat, tanyakan:

"Menurut kamu, siapa yang melakukan itu?"

Atau:

"Tadi ceritanya tentang apa?"

Pertanyaan sederhana tersebut membantu anak menghubungkan kata-kata yang dibaca dengan makna.

Jangan menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran

Setiap anak memiliki ritme belajar berbeda.

Ada anak yang cepat mengenali kata tetapi belum memahami isi cerita. Ada pula anak yang membaca lebih lambat tetapi mampu menjelaskan isi cerita dengan baik.

Karena itu, jangan hanya melihat:

"Sudah bisa membaca berapa kata per menit?"

Perhatikan juga:

Apakah anak memahami isi bacaan?
Apakah ia mampu menceritakan kembali?
Apakah ia dapat menjawab pertanyaan sederhana?
Apakah ia tertarik dengan cerita?
Apakah ia berani mencoba membaca?
Apakah ia merasa nyaman ketika melakukan kesalahan?

Aspek terakhir sering kali terlupakan.

Padahal, kepercayaan diri merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Anak yang takut salah mungkin memilih diam daripada mencoba. Sebaliknya, anak yang merasa aman untuk melakukan kesalahan akan lebih berani bereksperimen dan belajar dari pengalaman.

Mengapa Orang Tua Sebaiknya Tidak Terlalu Terburu-buru?

Keinginan orang tua agar anak cepat membaca sangat dapat dimengerti.

Orang tua tentu ingin melihat anaknya berkembang.

Namun, masalah dapat muncul ketika target orang tua lebih cepat daripada kesiapan anak.

Belajar membaca melibatkan banyak kemampuan yang saling berkaitan: bahasa, perhatian, memori, pengenalan simbol, kesadaran terhadap bunyi, pemahaman, serta motivasi.

Karena itu, anak tidak selalu dapat "dipaksa" untuk langsung membaca hanya karena orang dewasa merasa sudah waktunya.

Bayangkan seorang anak yang baru belajar naik sepeda.

Kita tidak mungkin membuatnya langsung melaju tanpa terlebih dahulu belajar menjaga keseimbangan.

Begitu pula dengan membaca.

Ada fondasi yang perlu dibangun.

Minat → bahasa → kesadaran bunyi → hubungan huruf dan bunyi → penggabungan bunyi → kelancaran → pemahaman.

Prosesnya tidak selalu lurus. Anak bisa maju, kemudian mengalami kebingungan, lalu maju kembali.

Itu normal.

Hindari Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Salah satu hal yang paling mudah dilakukan orang tua adalah membandingkan.

"Temanmu sudah bisa membaca, kenapa kamu belum?"

Mungkin kalimat tersebut dimaksudkan untuk memotivasi.

Namun, anak dapat menangkap pesan yang berbeda.

Ia mungkin menyimpulkan:

"Aku lebih bodoh daripada teman-temanku."

Perbandingan juga dapat membuat kegiatan membaca berubah dari aktivitas belajar menjadi kompetisi.

Padahal, setiap anak memiliki pengalaman, minat, perkembangan bahasa, dan gaya belajar yang berbeda.

Lebih sehat apabila orang tua membandingkan anak dengan perkembangannya sendiri.

Misalnya:

"Kemarin kamu baru mengenal tiga huruf. Sekarang kamu sudah bisa mengenali lima."

Pujian seperti ini membantu anak melihat bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan.

Bagaimana Jika Anak Tidak Mau Belajar Membaca?

Tidak semua penolakan berarti anak malas.

Anak mungkin sedang lelah.

Materinya mungkin terlalu sulit.

Waktu belajar mungkin terlalu lama.

Metode yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan minatnya.

Atau anak mungkin merasa membaca selalu dikaitkan dengan tekanan.

Cobalah mengubah pendekatan.

Jika anak tidak mau duduk belajar selama 30 menit, mungkin lakukan kegiatan membaca selama 5–10 menit tetapi lebih sering.

Jika anak tidak tertarik pada buku cerita tertentu, biarkan ia memilih buku.

Jika anak senang bermain, masukkan huruf dan bunyi ke dalam permainan.

Prinsipnya sederhana:

Jangan hanya bertanya bagaimana membuat anak mau belajar. Tanyakan juga apa yang membuat pengalaman belajar terasa menyenangkan baginya.

Peran Orang Tua Bukan Menjadi Guru yang Sempurna

Orang tua tidak harus memiliki kemampuan pedagogis seperti seorang guru profesional untuk mendukung perkembangan membaca anak.

Peran yang paling penting justru menciptakan lingkungan yang kaya bahasa dan membuat anak merasa aman untuk belajar.

Bacakan buku.

Ajak berbicara.

Dengarkan pertanyaan anak.

Mainkan permainan bunyi.

Kenalkan huruf secara bertahap.

Berikan kesempatan mencoba.

Dan ketika anak salah, bantu ia mencoba lagi.

Kalimat sederhana seperti:

"Tidak apa-apa kalau belum bisa. Kita coba bersama."

sering kali jauh lebih bermanfaat daripada:

"Kamu harus bisa."

Anak tidak hanya sedang belajar membaca.

Ia juga sedang belajar tentang dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.

Apakah belajar itu menyenangkan?

Apakah kesalahan berarti dirinya tidak pintar?

Apakah ia boleh mencoba lagi?

Apakah orang dewasa akan mendukungnya ketika ia mengalami kesulitan?

Pengalaman-pengalaman tersebut dapat membentuk sikap anak terhadap belajar dalam jangka panjang.

Penutup: Membaca Adalah Perjalanan, Bukan Perlombaan

Mengajari si kecil membaca sebaiknya tidak dipandang sebagai perlombaan untuk menjadi yang paling cepat.

Ada lima tahap penting yang perlu diperhatikan: membangun ketertarikan terhadap bahasa dan buku, mengembangkan kesadaran terhadap bunyi, menghubungkan huruf dengan bunyi, menggabungkan bunyi menjadi kata, lalu mengembangkan kelancaran dan pemahaman.

Setiap tahap membutuhkan waktu.

Ada anak yang melewati tahap tertentu dengan cepat. Ada yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Keduanya tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satunya lebih pintar.

Yang paling penting adalah memastikan anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan perkembangannya.

Jadikan buku sebagai teman.

Jadikan kata-kata sebagai permainan.

Jadikan kesalahan sebagai bagian dari proses.

Dan jadikan orang tua sebagai tempat anak merasa aman untuk mencoba.

Sebab pada akhirnya, tujuan mengajari anak membaca bukan hanya agar ia mampu mengeja tulisan.

Tujuannya adalah membantu anak menemukan bahwa membaca membuka pintu menuju cerita, pengetahuan, imajinasi, dan dunia yang jauh lebih luas.

EDITOR: Hanny Suwindari