← Beranda
Ingin Mengajarkan Kesadaran Emosional kepada Si Kecil? Lakukan 6 Strategi Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 23 Agustus 2026 | 20.28 WIB
seseorang yang mengajarkan kesadaran emosional./Magnific/user25451090

JawaPos.com - Mengajarkan anak mengenali dan memahami emosinya merupakan salah satu bekal penting yang dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional.

Anak yang mampu memahami apa yang sedang dirasakannya bukan berarti anak yang tidak pernah marah, menangis, kecewa, atau takut. Justru sebaliknya, kesadaran emosional membantu anak memahami bahwa semua emosi tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan dan dapat dikelola dengan cara yang sehat.

Pada usia dini, anak sering kali belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan perasaannya dengan kata-kata. Ketika merasa kecewa, misalnya, mereka mungkin menangis, berteriak, memukul, melempar barang, atau memilih diam.

Perilaku tersebut terkadang dianggap sebagai kenakalan, padahal bisa menjadi bentuk komunikasi karena anak belum tahu bagaimana mengatakan, “Aku sedang kecewa,” atau “Aku merasa tidak didengarkan.”

Dalam psikologi, kemampuan mengenali, memahami, mengekspresikan, dan mengelola emosi berkaitan erat dengan perkembangan sosial dan emosional anak. Karena itu, orang tua tidak hanya perlu mengajarkan anak tentang perilaku yang baik dan buruk, tetapi juga membantu mereka memahami dunia emosional di dalam dirinya.

Kabar baiknya, kesadaran emosional tidak harus diajarkan melalui pelajaran formal. Orang tua dapat menanamkannya melalui percakapan sederhana dan kebiasaan sehari-hari.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat enam strategi yang dapat dilakukan.

1. Bantu Anak Memberi Nama pada Emosinya

Salah satu langkah pertama dalam membangun kesadaran emosional adalah membantu anak mengenali apa yang sedang mereka rasakan.

Anak yang masih kecil mungkin hanya mengetahui bahwa dirinya sedang “tidak enak” atau “kesal”, tetapi belum memahami apakah perasaan tersebut merupakan kemarahan, kesedihan, rasa takut, malu, kecewa, atau frustrasi.

Orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi tersebut.

Misalnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, jangan langsung mengatakan, “Sudah, jangan menangis.” Cobalah mengatakan, “Kamu kelihatannya sedih karena mainanmu rusak, ya?”

Ketika anak marah karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, orang tua dapat mengatakan, “Kamu sedang kecewa karena belum boleh mengambil itu.”

Kalimat sederhana seperti ini membantu anak menghubungkan pengalaman yang mereka rasakan dengan kosakata emosional.

Semakin banyak kosakata emosi yang dimiliki anak, semakin besar kemungkinan mereka dapat menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya. Pada akhirnya, anak tidak hanya bereaksi melalui perilaku, tetapi mulai mampu berkomunikasi menggunakan kata-kata.

Orang tua juga dapat memperkenalkan emosi yang lebih beragam, seperti bangga, gugup, cemas, malu, iri, lega, kecewa, bingung, atau frustrasi.

Namun, hindari memaksa anak untuk langsung menyetujui label yang diberikan. Lebih baik gunakan kalimat seperti, “Apakah kamu sedang sedih?” atau “Mungkin kamu merasa kecewa?”

Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan untuk mengenali perasaannya sendiri.

2. Validasi Perasaan, Bukan Semua Perilaku

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah orang tua menganggap bahwa memvalidasi emosi berarti membenarkan semua perilaku anak.

Padahal keduanya berbeda.

Orang tua dapat mengatakan, “Mama tahu kamu marah,” tanpa berarti membenarkan anak memukul orang lain.

Misalnya, ketika anak marah lalu melempar mainan, orang tua bisa mengatakan:

“Boleh merasa marah. Mama mengerti kamu kecewa. Tapi melempar mainan bisa membuat orang lain terluka.”

Pesan yang diterima anak adalah bahwa emosinya tidak salah, tetapi ada batasan mengenai bagaimana emosi tersebut boleh diekspresikan.

Ini merupakan konsep penting dalam perkembangan emosional. Anak perlu mengetahui bahwa perasaan boleh hadir, tetapi perilaku tetap memiliki batas.

Jika orang tua terus mengatakan, “Jangan marah,” “Jangan takut,” atau “Tidak boleh menangis,” anak dapat belajar bahwa emosi tertentu merupakan sesuatu yang harus disembunyikan.

Padahal, tujuan pendidikan emosi bukan membuat anak selalu tenang.

Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa mereka boleh merasakan berbagai macam emosi dan belajar memilih respons yang lebih sehat.

3. Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi

Anak tidak hanya belajar dari nasihat. Mereka juga belajar dengan mengamati bagaimana orang-orang terdekatnya menghadapi emosi.

Karena itu, salah satu strategi yang sangat penting adalah memberikan contoh secara langsung.

Bayangkan seorang ayah sedang mengalami hari yang melelahkan. Daripada langsung membentak ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan, ia dapat mengatakan:

“Ayah sedang lelah dan mulai merasa kesal. Ayah mau tarik napas dulu supaya bisa berpikir dengan tenang.”

Kalimat tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada anak.

Anak belajar bahwa orang dewasa juga mengalami emosi. Namun, mengalami kemarahan tidak otomatis berarti harus berteriak atau menyakiti orang lain.

Orang tua juga dapat menunjukkan cara meminta maaf.

Misalnya:

“Tadi Mama bicara terlalu keras. Mama sedang marah, tetapi seharusnya Mama tidak membentak. Maaf, ya.”

Perilaku seperti ini mengajarkan bahwa mengelola emosi bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Justru, kematangan emosional juga terlihat dari kemampuan seseorang menyadari kesalahan dan memperbaikinya.

Dengan demikian, orang tua tidak harus menjadi sosok yang selalu tenang untuk menjadi teladan. Yang jauh lebih penting adalah menunjukkan kepada anak bagaimana seseorang bertanggung jawab terhadap emosinya.

4. Gunakan Percakapan tentang Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari

Mengajarkan kesadaran emosional tidak harus menunggu sampai anak mengalami tantrum atau masalah.

Orang tua dapat membicarakan emosi dalam situasi sehari-hari.

Saat membaca buku cerita bersama, misalnya, orang tua bisa bertanya:

“Menurutmu, bagaimana perasaan tokoh ini?”

“Kenapa dia terlihat sedih?”

“Kalau kamu berada di posisi dia, kira-kira kamu akan merasa bagaimana?”

Pertanyaan semacam ini membantu anak belajar memahami emosi orang lain sekaligus mengenali pengalaman emosionalnya sendiri.

Percakapan juga dapat dilakukan setelah anak bermain dengan teman, pulang dari sekolah, atau mengalami sesuatu yang menyenangkan.

Tidak perlu membuat sesi khusus yang terasa seperti pelajaran.

Cukup biasakan bertanya:

“Hal apa yang membuatmu senang hari ini?”

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu kesal?”

“Apakah ada kejadian yang membuatmu takut atau khawatir?”

Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi anak untuk bercerita tanpa merasa sedang diinterogasi.

Yang paling penting, ketika anak mulai bercerita, orang tua perlu berusaha mendengarkan sebelum buru-buru memberikan solusi.

Terkadang anak tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

5. Ajarkan Anak Cara Menenangkan Diri

Kesadaran emosional tidak berhenti pada kemampuan mengatakan, “Aku sedang marah.”

Anak juga perlu belajar apa yang dapat dilakukan ketika emosi tersebut terasa sangat kuat.

Orang tua dapat memperkenalkan berbagai strategi sederhana sesuai usia anak.

Misalnya, ketika anak mulai frustrasi, ajarkan mereka untuk mengambil beberapa napas perlahan. Anak juga dapat diajak menjauh sebentar dari situasi yang membuatnya kewalahan, memeluk benda yang membuatnya nyaman, minum air, menggambar, atau berbicara kepada orang yang dipercaya.

Untuk anak yang lebih besar, orang tua dapat mengajarkan teknik sederhana seperti berhenti sejenak sebelum bereaksi dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sedang aku rasakan?”

“Kenapa aku merasa seperti ini?”

“Apa yang bisa kulakukan tanpa menyakiti orang lain?”

Tentu saja, strategi tersebut perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Jangan berharap anak yang masih kecil langsung mampu mengatur emosinya dengan sempurna. Kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan membutuhkan latihan berulang.

Orang tua dapat membantu dengan menjadi “co-regulator”, yaitu memberikan ketenangan dan dukungan ketika anak belum mampu menenangkan dirinya sendiri.

Misalnya, ketika anak sedang sangat marah, orang tua dapat tetap berada di dekatnya sambil berkata:

“Tarik napas pelan-pelan. Mama ada di sini. Kita tunggu sampai kamu merasa lebih tenang.”

Setelah anak tenang, barulah orang tua mengajak membicarakan apa yang terjadi.

6. Hindari Memberi Label Negatif pada Emosi Anak

Kalimat seperti “Kamu memang anak nakal”, “Cengeng sekali”, atau “Jangan lebay” mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Kamu nakal.”

dan:

“Perilakumu tadi membuat adik terluka.”

Kalimat pertama menyerang identitas anak, sedangkan kalimat kedua membicarakan perilakunya.

Begitu pula ketika anak menangis.

Daripada mengatakan, “Jangan cengeng,” orang tua dapat mengatakan:

“Tidak apa-apa kalau kamu menangis. Kamu sedang merasa sedih.”

Dengan cara ini, anak belajar bahwa menangis bukan berarti dirinya lemah dan marah bukan berarti dirinya anak buruk.

Orang tua tetap dapat menetapkan batasan tanpa mempermalukan emosi anak.

Misalnya:

“Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”

“Kamu boleh kecewa, tetapi kita tidak boleh merusak barang.”

“Kamu boleh menangis. Kalau sudah lebih tenang, kita bisa membicarakannya.”

Pendekatan tersebut membantu anak memisahkan antara emosi, identitas, dan perilaku.

Kesadaran Emosional Dibangun Melalui Kebiasaan Kecil

Mengajarkan kesadaran emosional kepada anak bukanlah proses yang dapat selesai dalam satu atau dua percakapan.

Anak mungkin tetap mengalami tantrum. Mereka masih bisa marah, menangis, takut, cemburu, kecewa, atau bereaksi secara impulsif.

Hal tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan.

Tugas orang tua bukan menghilangkan semua emosi negatif dari kehidupan anak. Tidak realistis jika anak diharapkan selalu bahagia, tenang, dan mampu mengendalikan dirinya.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa setiap emosi memiliki pesan.

Kesedihan mungkin menunjukkan bahwa sesuatu yang penting telah hilang. Kemarahan dapat muncul ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Ketakutan dapat menjadi sinyal bahwa anak merasa tidak aman. Kekecewaan dapat muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Dengan memahami pesan di balik emosi, anak perlahan belajar mengenali kebutuhan dirinya.

Pada akhirnya, anak yang memiliki kesadaran emosional bukanlah anak yang tidak pernah menangis atau marah. Mereka adalah anak yang secara bertahap belajar mengatakan:

“Aku sedang marah.”

“Aku merasa sedih.”

“Aku kecewa.”

“Aku butuh waktu sebentar.”

“Aku tidak suka diperlakukan seperti itu.”

“Aku ingin dibantu.”

Kemampuan sederhana tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi hubungan sosial, kemampuan berkomunikasi, pengambilan keputusan, dan kesehatan psikologis mereka ketika beranjak dewasa.

Karena itu, jika ingin mengajarkan kesadaran emosional kepada si kecil, mulailah dari hal yang paling sederhana: dengarkan emosinya, beri nama pada perasaannya, validasi tanpa membenarkan perilaku yang salah, dan tunjukkan melalui contoh bagaimana emosi dapat dikelola dengan sehat.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia menemani mereka belajar memahami dunia emosionalnya, sedikit demi sedikit, setiap hari.

EDITOR: Hanny Suwindari