← Beranda
Ingin Mencegah Anak Tumbuh Menjadi Orang yang Kasar? Lakukan 6 Cara Pengasuhan Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.25 WIB
seseorang yang mendidik anaknya dengan baik./Magnific/magnific

JawaPos.com - Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kasar, mudah merendahkan orang lain, sulit mengendalikan emosi, atau tidak peduli terhadap perasaan orang di sekitarnya.

Namun, perilaku kasar pada anak tidak selalu muncul begitu saja. Cara orang tua berbicara, menetapkan batasan, merespons kesalahan, dan memperlakukan anak setiap hari dapat ikut membentuk cara anak memahami hubungan dengan orang lain.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dan alami secara berulang. Anak mengamati bagaimana orang tuanya menyelesaikan konflik, meminta maaf, menghadapi frustrasi, serta memperlakukan orang yang memiliki posisi berbeda.

Karena itu, mencegah anak tumbuh menjadi pribadi yang kasar bukan berarti membuat anak selalu menurut atau tidak pernah marah. Justru, anak perlu belajar bahwa marah adalah hal yang wajar, tetapi menyakiti dan merendahkan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mengekspresikannya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat enam pola pengasuhan yang dapat membantu membangun anak menjadi pribadi yang lebih empatik, menghargai orang lain, dan mampu mengendalikan perilakunya.

1. Jadilah contoh cara berbicara yang Anda inginkan dari anak

Anak belajar banyak hal melalui pengamatan. Mereka tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga memperhatikan bagaimana orang tua berbicara kepada pasangan, kakek-nenek, tetangga, pekerja pelayanan, bahkan kepada anak itu sendiri.

Jika orang tua sering membentak ketika marah, menggunakan hinaan ketika kecewa, atau meremehkan orang lain saat terjadi konflik, anak dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Sebaliknya, ketika anak melihat orang tuanya mampu mengatakan, "Saya sedang marah, jadi saya perlu menenangkan diri dulu," anak mendapatkan contoh bahwa emosi dapat dikendalikan tanpa harus menyakiti orang lain.

Hal sederhana seperti mengucapkan "tolong", "terima kasih", "maaf", dan "permisi" juga memiliki pengaruh besar. Anak belajar bahwa menghormati orang lain bukan hanya aturan yang berlaku untuk mereka, tetapi merupakan kebiasaan yang dilakukan semua anggota keluarga.

Jadi, jika Anda ingin anak berbicara dengan sopan, mulailah dengan memperhatikan cara Anda berbicara kepadanya.

Anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat panjang yang diberikan orang tua. Namun, mereka sering kali mengingat pola perilaku yang mereka lihat setiap hari.

2. Ajarkan anak mengenali emosinya, bukan melarangnya merasa marah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pengasuhan adalah menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang harus segera dihentikan.

Ketika anak marah, misalnya, orang tua mungkin mengatakan, "Jangan marah!" atau "Anak baik tidak boleh seperti itu."

Padahal, marah merupakan emosi manusia yang normal. Yang perlu diajarkan kepada anak bukanlah bagaimana supaya mereka tidak pernah marah, melainkan bagaimana menghadapi kemarahan tanpa menyakiti orang lain.

Orang tua dapat membantu anak memberi nama pada emosinya.

"Sepertinya kamu kecewa karena mainannya diambil."

"Kamu kelihatan sangat marah karena keinginanmu tidak terpenuhi."

"Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul."

Kalimat seperti ini memberikan dua pesan sekaligus. Pertama, perasaan anak diakui. Kedua, tetap ada batasan terhadap perilakunya.

Ini penting karena anak yang mampu mengenali dan memahami emosinya akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar mengatur responsnya.

Ketika anak mulai memahami perbedaan antara "saya sedang marah" dan "saya boleh menyakiti orang karena saya marah", mereka perlahan belajar bahwa emosi tidak harus menentukan tindakan.

3. Tetapkan batasan yang tegas tanpa mempermalukan anak

Anak tetap membutuhkan aturan. Pengasuhan yang penuh kasih bukan berarti membiarkan semua perilaku anak.

Justru, batasan yang jelas membantu anak memahami mana perilaku yang dapat diterima dan mana yang tidak.

Namun, ada perbedaan besar antara mendisiplinkan perilaku dan merendahkan pribadi anak.

Misalnya, ketika anak memukul temannya, orang tua dapat mengatakan:

"Memukul itu tidak boleh. Kalau kamu marah, kamu bisa bilang kepada temanmu atau minta bantuan."

Ini berbeda dengan:

"Kamu memang anak nakal."

Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi pesan yang diterima anak sangat berbeda.

Kalimat pertama mengoreksi perilaku. Kalimat kedua menyerang identitas anak.

Anak perlu memahami bahwa melakukan kesalahan tidak berarti dirinya adalah orang yang buruk. Ia tetap bertanggung jawab memperbaiki kesalahan, tetapi ia juga memiliki kesempatan untuk belajar dan berubah.

Disiplin yang sehat berfokus pada konsekuensi, tanggung jawab, dan pembelajaran—bukan penghinaan.

4. Ajarkan empati dengan mengajak anak melihat sudut pandang orang lain

Empati tidak selalu muncul secara otomatis. Anak perlu dibantu untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, dan pengalaman yang berbeda.

Ketika anak merebut mainan dari temannya, misalnya, jangan hanya berkata, "Jangan begitu."

Cobalah bertanya:

"Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu ketika mainannya diambil?"

"Kalau kamu sedang bermain lalu mainanmu direbut, bagaimana rasanya?"

Pertanyaan seperti ini membantu anak mulai melihat situasi dari perspektif orang lain.

Buku cerita juga dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk mengembangkan empati. Setelah membaca cerita, orang tua dapat bertanya bagaimana perasaan tokoh tertentu, mengapa tokoh tersebut bertindak demikian, dan apa yang mungkin bisa dilakukan untuk membantunya.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua juga dapat menunjukkan empati melalui tindakan sederhana.

Misalnya, ketika melihat seseorang kesulitan membawa barang, orang tua dapat berkata, "Sepertinya dia kesulitan. Menurutmu, apakah kita bisa membantu?"

Dengan begitu, empati tidak hanya menjadi teori yang dibicarakan, tetapi menjadi kebiasaan yang dipraktikkan.

5. Jangan menggunakan kekerasan untuk mengajarkan anak agar tidak kasar

Ini mungkin salah satu hal yang paling penting.

Sulit mengajarkan anak bahwa memukul adalah tindakan yang salah jika orang tua sendiri menggunakan pukulan sebagai cara mendisiplinkan.

Anak dapat menerima pesan yang membingungkan: "Ketika saya marah, saya tidak boleh memukul. Tetapi ketika orang dewasa marah kepada saya, memukul diperbolehkan."

Dalam jangka panjang, pola disiplin yang keras dapat membuat anak belajar bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk memaksa orang lain.

Disiplin tidak harus berarti hukuman yang menakutkan.

Orang tua dapat menggunakan konsekuensi yang masuk akal, mengurangi sementara akses terhadap aktivitas tertentu, meminta anak memperbaiki kesalahan, atau mengajarkan cara alternatif untuk menyelesaikan masalah.

Misalnya, jika anak sengaja merusak mainan saudaranya karena marah, orang tua dapat membantu anak bertanggung jawab dengan meminta mereka memperbaiki atau membereskan kerusakan tersebut, sekaligus membicarakan cara mengungkapkan kemarahan dengan lebih tepat.

Tujuannya bukan membuat anak takut kepada orang tua.

Tujuannya adalah membantu anak memahami hubungan antara tindakan, konsekuensi, dan tanggung jawab.

6. Ajarkan anak bahwa meminta maaf harus disertai dengan memperbaiki kesalahan

Mengucapkan "maaf" memang penting, tetapi anak juga perlu memahami bahwa permintaan maaf bukan sekadar kata untuk mengakhiri masalah.

Jika anak mendorong temannya hingga menangis, misalnya, orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi.

"Kamu mendorongnya dan dia jadi menangis. Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?"

Anak mungkin kemudian meminta maaf, membantu mengambil barang yang jatuh, atau memberi ruang kepada temannya untuk menenangkan diri.

Dengan cara ini, anak belajar tiga hal: mengakui tindakan, memahami dampaknya terhadap orang lain, dan mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya.

Orang tua juga perlu memberikan contoh yang sama.

Jika Anda berteriak kepada anak karena sedang lelah, tidak ada salahnya mengatakan:

"Maaf, tadi Ayah/Ibu berbicara terlalu keras. Ayah/Ibu sedang kesal, tetapi seharusnya tidak membentakmu."

Permintaan maaf dari orang tua bukan tanda kelemahan.

Justru, hal tersebut menunjukkan kepada anak bahwa orang dewasa pun bisa melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas perilakunya.

Yang terpenting bukan membuat anak selalu baik, tetapi mengajarinya memperlakukan orang lain dengan baik

Membesarkan anak yang tidak kasar bukan berarti membesarkan anak yang selalu tenang, selalu patuh, atau tidak pernah membantah.

Anak tetap akan marah. Mereka akan kecewa. Mereka mungkin berteriak, bertengkar dengan saudara, iri kepada teman, atau melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Itu merupakan bagian dari proses perkembangan.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana orang tua merespons momen-momen tersebut.

Apakah anak dipermalukan?

Apakah mereka ditakut-takuti?

Apakah perilakunya dibiarkan begitu saja?

Atau apakah orang tua membantu anak memahami emosinya, menetapkan batasan yang jelas, memperbaiki kesalahan, dan belajar memperlakukan orang lain dengan lebih baik?

Pada akhirnya, anak belajar tentang rasa hormat melalui hubungan yang mereka jalani setiap hari.

Jika mereka diperlakukan dengan hormat sekaligus diberi batasan yang tegas, mereka mendapatkan pengalaman langsung tentang seperti apa hubungan yang sehat.

Enam hal tersebut—menjadi teladan, membantu anak mengenali emosi, menetapkan batasan tanpa penghinaan, menumbuhkan empati, menghindari kekerasan sebagai disiplin, dan mengajarkan tanggung jawab—bukanlah cara instan untuk menjamin anak tidak pernah bersikap kasar.

Namun, semuanya dapat menjadi fondasi penting untuk membantu anak tumbuh dengan kemampuan mengelola emosi, menghargai orang lain, dan memahami bahwa kekuatan tidak harus digunakan untuk merendahkan atau menyakiti.

Karena pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mengajarkan apa yang benar.

Mereka juga membutuhkan orang tua yang menunjukkan seperti apa perilaku yang benar itu dalam kehidupan sehari-hari.

EDITOR: Hanny Suwindari