← Beranda
8 Tips Mendukung Anak Anda Bila Telah Terjadi Kekerasan di Sekolah Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.18 WIB
seseorang yang mendukung anaknya yang terlibat dalam kekerasan./Magnific/magnific

JawaPos.com - Kekerasan di sekolah bukan sekadar persoalan “anak-anak sedang bertengkar”. Bagi seorang anak, pengalaman dipukul, ditendang, diancam, dihina, dipermalukan, dikucilkan, atau menjadi sasaran perundungan dapat meninggalkan dampak psikologis yang cukup dalam.

Bahkan ketika luka fisik terlihat kecil atau tidak ada sama sekali, pengalaman tersebut tetap dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kemauan anak untuk datang ke sekolah.

Karena itu, ketika orang tua mengetahui bahwa anak telah mengalami kekerasan di sekolah, respons pertama yang diberikan sangat penting.

Anak membutuhkan lebih dari sekadar nasihat untuk “berani melawan”. Ia membutuhkan orang dewasa yang mampu memberikan rasa aman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membantunya memahami bahwa apa yang terjadi bukan kesalahannya.

Dalam perspektif psikologi, dukungan orang tua dapat menjadi salah satu faktor penting yang membantu anak menghadapi pengalaman traumatis atau penuh tekanan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat delapan cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung anak setelah terjadi kekerasan di sekolah.

1. Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memberi ruang kepada anak untuk bercerita.

Ketika mengetahui anak mengalami kekerasan, orang tua mungkin langsung merasa marah, takut, atau ingin segera mencari pihak yang bertanggung jawab. Perasaan tersebut sangat wajar. Namun, bila emosi orang tua langsung muncul dalam bentuk kemarahan atau interogasi, anak justru dapat merasa semakin tertekan.

Cobalah memulai percakapan dengan kalimat sederhana seperti:

“Ayah/Ibu ada di sini untuk mendengarkan kamu.”

“Terima kasih sudah mau cerita.”

“Kamu tidak perlu takut untuk menceritakan apa yang terjadi.”

“Apa yang kamu alami bukan berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.”

Dalam psikologi, mendengarkan secara aktif berarti tidak hanya mendengar kata-kata anak, tetapi juga memperhatikan emosi dan kebutuhan di balik ceritanya. Jangan buru-buru memotong pembicaraan, menyalahkan, atau mencari-cari kesalahan anak.

Hindari pertanyaan seperti:

“Kenapa kamu tidak melawan?”
“Kenapa kamu diam saja?”
“Kamu pasti melakukan sesuatu sampai dia memukulmu.”
“Kenapa baru sekarang cerita?”
“Masa kamu tidak bisa membela diri?”

Pertanyaan seperti itu dapat membuat anak merasa bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya.

Lebih baik gunakan pertanyaan terbuka dan netral, misalnya:

“Bisa ceritakan kepada Ayah/Ibu apa yang terjadi?”

“Apa yang kamu rasakan ketika itu terjadi?”

“Apakah kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya?”

“Apakah kamu merasa aman berada di sekolah sekarang?”

Tujuannya bukan membuat anak mengulang kejadian berkali-kali, melainkan memastikan ia merasa didengar dan dipercaya.

2. Yakinkan anak bahwa kekerasan tersebut bukan kesalahannya

Anak yang mengalami kekerasan terkadang menyimpulkan bahwa dirinya adalah penyebab kejadian tersebut.

Anak mungkin berpikir, “Mungkin aku memang lemah”, “Mungkin aku pantas diperlakukan seperti itu”, atau “Seandainya aku tidak mengatakan sesuatu, ini tidak akan terjadi.”

Pemikiran semacam ini perlu diluruskan.

Orang tua dapat mengatakan:

“Tidak ada alasan yang membenarkan orang lain menyakiti kamu.”

“Kamu tidak pantas dipukul, dihina, diancam, atau dipermalukan.”

“Kamu tidak salah karena meminta bantuan.”

Validasi seperti ini penting karena pengalaman kekerasan dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri.

Namun, orang tua juga perlu membedakan antara memvalidasi emosi anak dan langsung menyimpulkan seluruh situasi tanpa mengetahui faktanya. Orang tua tetap dapat mengatakan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan sambil mencari informasi secara objektif mengenai apa yang terjadi.

Anak membutuhkan pesan yang jelas: bertanggung jawab atas perilaku sendiri tidak sama dengan bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan orang lain.

3. Utamakan rasa aman sebelum membahas keberanian

Setelah mengalami kekerasan, sebagian anak dapat kehilangan rasa aman di sekolah. Mereka mungkin menjadi takut bertemu pelaku, takut berada di tempat tertentu, atau cemas ketika mendengar nama orang yang terlibat.

Dalam kondisi seperti ini, mengatakan “Kamu harus berani” saja tidak cukup.

Dari perspektif psikologi, rasa aman merupakan fondasi penting sebelum anak dapat kembali berfungsi secara optimal. Oleh karena itu, orang tua perlu membantu memastikan bahwa lingkungan anak benar-benar aman.

Orang tua dapat berkoordinasi dengan sekolah untuk membicarakan:

siapa yang bertanggung jawab menangani kasus tersebut;
bagaimana anak akan dilindungi dari kekerasan berulang;
siapa guru atau konselor yang dapat dihubungi anak ketika merasa tidak aman;
bagaimana pengawasan di area yang rawan terjadi kekerasan;
bagaimana sekolah akan menangani interaksi antara anak dan pelaku;
serta bagaimana perkembangan kondisi anak akan dipantau.

Jika kekerasan melibatkan ancaman serius, cedera fisik, pelecehan seksual, atau kekerasan yang berulang, orang tua sebaiknya tidak mencoba menyelesaikannya sendiri. Libatkan pihak sekolah dan, sesuai tingkat keparahannya, tenaga profesional atau pihak berwenang yang relevan.

Yang terpenting, jangan menjadikan anak sebagai satu-satunya pihak yang harus menyelesaikan masalah.

Kalimat “kalau ada apa-apa, lawan saja” dapat terdengar seperti dukungan, tetapi dalam beberapa situasi justru dapat meningkatkan risiko anak mengalami cedera atau kekerasan yang lebih berat.

4. Bantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya

Tidak semua anak dapat langsung mengatakan, “Saya mengalami trauma” atau “Saya merasa sangat takut.”

Anak mungkin menunjukkan emosinya melalui perubahan perilaku.

Misalnya:

menjadi lebih pendiam;
mudah marah;
menangis lebih sering;
sulit tidur;
kehilangan minat bermain;
sulit berkonsentrasi;
enggan pergi ke sekolah;
sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut;
menjadi lebih bergantung kepada orang tua;
atau tiba-tiba menarik diri dari teman-temannya.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti anak mengalami gangguan psikologis. Namun, perubahan yang muncul setelah kejadian kekerasan perlu diperhatikan.

Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada emosi tanpa memaksakan jawaban.

Contohnya:

“Sepertinya kejadian itu membuat kamu takut.”

“Kamu kelihatannya masih kepikiran tentang kejadian kemarin.”

“Tidak apa-apa kalau kamu merasa marah.”

“Kamu boleh merasa sedih. Ayah/Ibu akan menemani kamu.”

Anak juga dapat dibantu mengekspresikan perasaan melalui aktivitas yang sesuai dengan usianya, seperti menggambar, bermain, menulis jurnal sederhana, berbicara sebelum tidur, atau melakukan aktivitas bersama orang tua.

Tidak semua anak nyaman menceritakan pengalaman secara langsung. Terkadang kedekatan melalui aktivitas sehari-hari justru membuat anak lebih mudah terbuka.

5. Jangan memaksa anak segera “melupakan” kejadian

Orang tua tentu berharap anak dapat segera kembali seperti sebelumnya. Namun, proses pemulihan psikologis tidak selalu berlangsung cepat.

Kalimat seperti:

“Sudahlah, jangan dipikirkan.”

“Lupakan saja.”

“Kamu harus move on.”

mungkin dimaksudkan untuk membantu, tetapi dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak boleh ada.

Lebih baik berikan pesan bahwa pemulihan membutuhkan waktu.

“Kamu tidak harus langsung merasa baik-baik saja.”

“Kalau masih kepikiran, kamu boleh cerita kepada Ayah/Ibu.”

“Kita akan menghadapi ini bersama-sama.”

Orang tua juga sebaiknya tidak memaksa anak menceritakan detail kejadian berulang kali. Bila anak sudah memberikan informasi yang diperlukan untuk memastikan keselamatan, berikan kesempatan baginya untuk beristirahat dari pembicaraan mengenai kejadian tersebut.

Rutinitas sehari-hari juga dapat membantu. Jadwal tidur yang teratur, makan bersama, bermain, berolahraga, belajar, dan melakukan kegiatan yang disukai dapat memberikan kembali rasa normal dan prediktabilitas dalam kehidupan anak.

6. Bangun kembali rasa percaya diri anak

Kekerasan di sekolah dapat membuat anak mempertanyakan nilai dirinya.

Seorang anak yang terus dihina mungkin mulai percaya bahwa dirinya memang “bodoh”. Anak yang dikucilkan dapat merasa dirinya tidak disukai. Anak yang dipukul atau diancam dapat merasa dirinya lemah dan tidak berdaya.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak membangun kembali rasa percaya diri—bukan dengan mengatakan bahwa anak harus selalu kuat, tetapi dengan mengingatkan bahwa identitas anak jauh lebih besar daripada pengalaman buruk yang dialaminya.

Berikan apresiasi yang spesifik.

Daripada hanya mengatakan:

“Kamu hebat.”

cobalah:

“Ayah/Ibu bangga kamu berani menceritakan kejadian ini.”

“Kamu tetap berusaha pergi ke sekolah meskipun kamu sedang takut. Itu tidak mudah.”

“Kamu sudah melakukan hal yang tepat dengan meminta bantuan.”

Selain itu, bantu anak kembali melakukan kegiatan yang membuatnya merasa mampu dan kompeten. Misalnya olahraga, musik, menggambar, membaca, permainan, kegiatan sosial, atau aktivitas lain yang memang disukainya.

Tujuannya bukan untuk “menghapus” pengalaman buruk, melainkan membantu anak menyadari bahwa pengalaman tersebut tidak menentukan seluruh nilai dirinya.

7. Ajarkan keterampilan menghadapi situasi sulit tanpa menyalahkan korban

Anak perlu belajar bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Orang tua dapat mengajarkan beberapa keterampilan praktis, misalnya:

mengenali orang dewasa yang dapat dipercaya;
mengetahui tempat aman di sekolah;
segera melapor ketika terjadi ancaman atau kekerasan;
menggunakan suara tegas untuk mengatakan “berhenti” jika situasinya aman;
menjauh dari situasi yang berbahaya;
mencari teman atau orang dewasa;
dan menyimpan bukti apabila terjadi kekerasan atau perundungan, terutama dalam bentuk digital.

Namun, penting untuk tidak menyampaikan keterampilan tersebut dengan cara yang membuat anak merasa bahwa ia harus bertanggung jawab mencegah orang lain melakukan kekerasan.

Misalnya, hindari:

“Kalau kamu lebih berani, ini tidak akan terjadi.”

Lebih baik:

“Kamu boleh mencoba menjauh dan mencari bantuan. Tugas orang dewasa adalah membantu memastikan kamu aman.”

Pesan ini sangat penting.

Anak boleh diajarkan keterampilan perlindungan diri, tetapi tanggung jawab utama untuk menghentikan kekerasan tidak boleh dibebankan kepada korban.

8. Cari bantuan profesional bila dampaknya mulai mengganggu kehidupan anak

Sebagian anak dapat pulih dengan dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial yang aman. Namun, ada situasi ketika bantuan profesional dari psikolog atau tenaga kesehatan mental diperlukan.

Orang tua perlu lebih waspada jika setelah kejadian anak mengalami perubahan yang menetap atau semakin berat, misalnya:

ketakutan yang sangat kuat untuk pergi ke sekolah;
mimpi buruk atau gangguan tidur yang terus berlangsung;
menarik diri dari keluarga dan teman;
perubahan perilaku yang sangat mencolok;
kesulitan berkonsentrasi yang mengganggu sekolah;
ledakan emosi yang tidak biasa;
terus-menerus merasa bersalah atau tidak berharga;
kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai;
keluhan fisik yang berulang tanpa penjelasan yang jelas;
atau muncul pembicaraan tentang kematian, menyakiti diri sendiri, atau keinginan untuk tidak hidup.

Jika terdapat tanda bahaya seperti yang terakhir, orang tua perlu mencari bantuan profesional segera dan memastikan anak tidak sendirian.

Konsultasi dengan psikolog anak atau remaja bukan berarti anak “bermasalah”. Justru, bantuan profesional dapat memberikan ruang yang aman bagi anak untuk memproses pengalaman, memahami emosinya, serta mengembangkan strategi menghadapi dampak dari kejadian tersebut.

Orang tua juga perlu mengelola emosinya sendiri

Ada satu hal yang sering terlupakan: ketika anak menjadi korban kekerasan, orang tua juga dapat mengalami emosi yang sangat kuat.

Marah, kecewa, takut, merasa bersalah, atau ingin langsung membalas pelaku merupakan reaksi yang dapat dipahami.

Namun, anak membutuhkan orang tua yang dapat menjadi sumber rasa aman.

Bukan berarti orang tua harus menyembunyikan seluruh emosi. Anak justru dapat belajar dari contoh bagaimana orang dewasa mengelola kemarahan secara sehat.

Misalnya:

“Ayah/Ibu marah karena kamu diperlakukan seperti itu. Tapi kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang aman.”

Kalimat tersebut menunjukkan dua hal sekaligus: kekerasan memang serius, tetapi penyelesaiannya tidak harus dilakukan dengan kekerasan baru.

Jika orang tua merasa kemarahannya sangat sulit dikendalikan atau kejadian tersebut membuat dirinya sendiri kewalahan, mencari dukungan dari pasangan, keluarga, konselor, atau profesional juga dapat membantu.

Kapan orang tua perlu bertindak lebih serius?

Tidak semua konflik antaranak memiliki tingkat risiko yang sama. Namun, orang tua sebaiknya bertindak lebih serius apabila terdapat kekerasan fisik yang berulang, ancaman, pemerasan, pelecehan seksual, kekerasan berbasis kebencian atau diskriminasi, penggunaan benda atau senjata, penyebaran konten pribadi, kekerasan digital yang terus berlangsung, atau cedera fisik.

Dalam situasi seperti itu, jangan hanya meminta anak untuk “mengabaikan” pelaku.

Catat informasi penting mengenai kejadian, termasuk waktu, tempat, orang yang terlibat, saksi, bentuk kekerasan, dan bukti yang tersedia. Kemudian komunikasikan dengan pihak sekolah secara terstruktur dan minta langkah perlindungan yang jelas.

Jika anak mengalami cedera, prioritaskan pemeriksaan medis. Jika terdapat dugaan tindak pidana atau bahaya serius, pertimbangkan bantuan dari pihak yang berwenang sesuai hukum dan kondisi setempat.

Yang paling dibutuhkan anak: rasa aman dan seseorang yang berpihak kepadanya

Ketika seorang anak mengalami kekerasan di sekolah, orang tua mungkin tidak dapat menghapus pengalaman tersebut. Namun, orang tua dapat membantu menentukan bagaimana anak menjalani masa setelah kejadian itu.

Delapan hal yang paling penting untuk diingat adalah:

Dengarkan anak tanpa menghakimi.
Tegaskan bahwa kekerasan bukan kesalahan anak.
Pastikan keselamatan anak menjadi prioritas.
Bantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya.
Jangan memaksa anak segera melupakan kejadian.
Bangun kembali rasa percaya dirinya.
Ajarkan keterampilan meminta bantuan dan melindungi diri tanpa menyalahkan korban.
Cari bantuan profesional jika dampaknya menetap atau mengganggu kehidupan anak.

Pada akhirnya, anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang memiliki semua jawaban. Ia membutuhkan orang tua yang mau hadir, mendengarkan, mempercayainya, dan mengambil tindakan untuk membuatnya aman.

Kalimat sederhana seperti “Kamu tidak sendirian. Ini bukan salahmu. Ayah/Ibu akan membantu kamu melewati ini” dapat menjadi pesan yang sangat berarti bagi seorang anak yang sedang berusaha memulihkan rasa aman setelah mengalami kekerasan.

Penutup

Kekerasan di sekolah sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Konflik memang dapat terjadi dalam hubungan sosial, tetapi kekerasan, intimidasi, ancaman, dan perundungan membutuhkan respons orang dewasa.

Dukungan psikologis yang baik bukan hanya tentang membuat anak kembali berani masuk sekolah. Yang lebih penting adalah membantu anak mendapatkan kembali rasa aman, mempertahankan harga dirinya, memahami bahwa dirinya tidak bersalah atas kekerasan yang dilakukan orang lain, serta mengetahui bahwa ada orang dewasa yang dapat dipercaya dan akan membantunya.

Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan bila diperlukan tenaga profesional, anak memiliki kesempatan yang lebih baik untuk pulih dan kembali berkembang secara sehat.

EDITOR: Hanny Suwindari